NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta dan pengkhianatan

Malam itu, ruang makan di kediaman mewah Keluarga Dokter Reza Rahardjo terasa begitu emosional. Setelah puluhan tahun rumah itu terasa sunyi karena kehilangan anak pertama, kini kehadiran Anindya—atau Nayla Rahardjo—seolah memberikan nyawa baru pada dinding-dinding rumah tersebut.

Mama Kanaya Dewi dan Dokter Reza Rahardjo tidak bisa berhenti menatap putri sulung mereka. Ada rasa syukur yang luar biasa karena ternyata putri yang mereka cari selama ini berada di dekat mereka, dijaga oleh orang yang juga sangat mereka sayangi, Yoga.

"Nayla, Sayang..." Mama Kanaya memegang jemari Anindya di atas meja makan. "Mama mohon, tinggallah di sini. Biarkan Mama menebus waktu 25 tahun yang hilang. Mama ingin memanjakanmu, menjagamu, dan melihatmu setiap hari di rumah ini."

Anindya menatap wajah ibunya yang penuh harap, lalu beralih menatap Yoga yang duduk di sampingnya. Dengan lembut, Anindya menjawab, "Mama, terima kasih banyak. Anin sangat bahagia akhirnya bisa menemukan orang tua kandung Anin. Tapi... rumah Anin sekarang ada di Surabaya bersama Mas Yoga. Sebagai seorang istri, Anin ingin tetap mendampingi suami Anin di sana."

Dokter Reza menghela napas panjang, ada rasa bangga melihat kemandirian putrinya. Ia kemudian menoleh ke arah Yoga.

"Yoga," puji Dokter Reza. "Papa tahu kualitasmu. Sekarang, sebagai menantu sekaligus bagian dari keluarga Rahardjo, Papa ingin kamu kembali ke Rumah Sakit Sentral Medika. Papa ingin kamu menjabat sebagai Direktur Operasional. Papa sudah saatnya beristirahat, dan hanya kamu yang Papa percayai untuk memimpin rumah sakit ini."

Yoga terdiam sejenak, menunjukkan rasa hormatnya sebelum menjawab. "Papa, Yoga sangat berterima kasih atas kepercayaan besar ini. Namun, dengan segala kerendahan hati, Yoga belum bisa kembali ke Jakarta. Yoga harus fokus mengurus perusahaan Yoga di Surabaya, dan Yoga ingin Anindya hidup dengan tenang di sana, jauh dari hiruk-pikuk masa lalu."

Dokter Reza tersenyum bijak, tidak merasa tersinggung sama sekali. "Papa tidak akan memaksamu, Yoga. Keputusanmu menunjukkan bahwa kamu pria yang bertanggung jawab pada keluargamu sendiri.

Tapi ingat, kapan pun kamu siap, pintu Sentral Medika dan rumah keluarga Rahardjo ini selalu terbuka lebar untukmu. Bagaimanapun, semua ini nantinya juga akan jatuh ke tangan kalian."

Di sudut meja, Dinda Rahardjo hanya bisa terdiam membisu. Ia melihat betapa kini perhatian penuh tertuju pada kakaknya. Nama marga "Rahardjo" yang selama ini ia banggakan sendirian, kini harus ia bagi dengan Anindya. Ia merasa sangat terasing di tengah kebahagiaan orang tuanya.

"Sepertinya keberadaanku sudah tidak dianggap lagi di sini," batin Dinda dengan perasaan berkecamuk.

Setelah perjamuan malam yang hangat itu selesai, Yoga dan Anindya berpamitan untuk kembali ke hotel sebelum terbang ke Surabaya keesokan paginya.

"Jaga putri Papa baik-baik, Yoga. Dia adalah harta paling berharga yang baru saja kembali ke pelukan kami," pesan Dokter Reza sambil memeluk menantunya itu.

"Pasti, Pa. Yoga akan menjaga Nayla dengan seluruh hidup Yoga," janji Yoga.

Dalam perjalanan menuju hotel, Anindya menyandarkan kepalanya di bahu Yoga. "Terima kasih ya, Mas. Kalau bukan karena kamu yang membawaku ke Jakarta, aku mungkin tidak akan pernah tahu siapa orang tua kandungku."

Yoga mengecup kening istrinya. "Semua sudah diatur oleh-Nya, Sayang. Sekarang, mari kita pulang ke Surabaya dan memulai babak baru hidup kita."

*****

Anindya masih terpaku di kursinya, jemarinya yang gemetar hebat mencoba menekan nomor Yoga. Ia merasa seperti melihat hantu. Bagaimana mungkin? Nenek Lastri pernah bercerita bahwa Reno, pria yang menculiknya, telah tewas dalam kecelakaan maut saat ia masih kecil. Kejadian itulah yang membuat Anindya akhirnya dirawat oleh Nenek Lastri di Yogyakarta.

Namun, pria yang baru saja datang tadi menyebut nama Reno dengan begitu akrab.

Begitu Yoga tiba di butik, ia langsung mendekap Anindya yang pucat pasi. "Sayang, tenanglah. Aku di sini. Katakan padaku, apa yang terjadi?"

"Ada pria datang, Mas... Dia menyebut nama Reno. Tapi Reno sudah meninggal belasan tahun lalu, Mas. Nenek Lastri sendiri yang melihat jasadnya setelah kecelakaan itu. Siapa pria tadi?" bisik Anindya dengan nada ketakutan.

Yoga mengernyitkan dahi. Rahangnya mengeras. "Jika Reno sudah mati, berarti ada orang lain yang sedang mencoba membangkitkan trauma masa lalumu.

Seseorang yang tahu sejarah penculikan itu."

Yoga segera menghubungi Cakra melalui hands-free. "Cakra! Ambil rekaman CCTV butik sekarang. Ada penyusup yang menggunakan identitas Reno. Cari tahu siapa pria itu dan siapa yang membayarnya!"

Di sebuah klub malam eksklusif di Surabaya, Kenzi Kaziro duduk dengan santai sambil menyesap minuman mahalnya. Di depannya, Dinda Rahardjo tampak gelisah, terus-menerus menyesap rokok elektriknya.

Kenzi Kaziro bukan sekadar pria hidung belang biasa. Ia adalah putra dari keluarga pengusaha yang jatuh bangkrut, dan kini ia hidup dengan memanfaatkan kekayaan wanita-wanita kaya. Dinda adalah "sumber dana" sekaligus tiketnya untuk kembali ke puncak.

"Tenanglah, Dinda. Marah-marah hanya akan merusak kecantikanmu," ucap Kenzi dengan suara bariton yang manipulatif. Ia mengusap pipi Dinda dengan ujung jarinya.

"Bagaimana aku bisa tenang, Kenzi? Yoga dan Anindya sekarang sudah mendapatkan restu penuh dari Papa. Aku seperti sampah yang dibuang! Dan pria yang kamu kirim tadi... apakah dia berhasil menakut-nakuti Anindya?"

Kenzi Kaziro tersenyum licik. "Tentu saja.

Menggunakan nama mendiang Reno adalah ide cemerlang untuk mengguncang mentalnya. Biarkan dia merasa dihantui. Sementara itu, perhatian Yoga akan teralih untuk mencari 'hantu' itu, dan saat itulah kita menyerang titik terlemahnya."

"Apa rencanamu selanjutnya, Kenzi?"

"Aku sudah menyiapkan orang dalam di gudang farmasi Aditama Yoga Medika. Kita akan menyabotase stok obat-obatan bedah saraf. Bayangkan skandalnya jika dokter jenius Yoga Aditama kedapatan malpraktik karena obat-obatan di rumah sakitnya sendiri bermasalah." Kenzi tertawa rendah, sebuah rencana yang bisa menjebloskan Yoga ke penjara dan menghancurkan kariernya selamanya.

Malam itu, di rumah mereka yang asri, Yoga memperhatikan Anindya yang akhirnya tertidur setelah ditenangkan. Yoga keluar ke balkon dan menghubungi Cakra.

"Sudah ada hasil, Cakra?"

"Pria di CCTV itu bernama Hadi, mantan narapidana kasus penipuan. Tapi yang menarik, Bos... kami melacak aliran dana ke rekeningnya berasal dari salah satu perusahaan cangkang milik keluarga Kenzi Kaziro."

Yoga terdiam sejenak, matanya berkilat tajam menatap lampu kota Surabaya. "Jadi Kenzi yang bermain di belakang ini? Dia menggunakan nama orang mati untuk menakuti istriku?"

"Sepertinya begitu, Bos. Dan ada selentingan bahwa mereka juga mengincar operasional rumah sakit."

Yoga menyeringai tipis, sebuah seringai yang mematikan. "Kenzi Kaziro mengira dia sedang bermain catur denganku. Dia lupa bahwa sebagai ahli bedah, aku tahu persis di mana bagian tubuh yang paling sakit saat diiris. Biarkan mereka bergerak sedikit lagi. Aku ingin memancing mereka sampai ke permukaan sebelum aku menghancurkan mereka sekaligus."

Suasana di gudang farmasi Aditama Yoga Medika tampak tenang di bawah temaram lampu malam. Namun, di balik bayangan rak-rak besar berisi obat-obatan mahal, seorang petugas gudang bernama Bagus—yang telah disuap oleh Kenzi Kaziro—sedang menukar beberapa dus obat anestesi dengan produk palsu berkualitas rendah.

Dari dalam mobil mewah yang terparkir tak jauh dari sana, Kenzi Kaziro memantau melalui tabletnya. Ia menyeringai puas sambil mengusap pundak Dinda yang duduk di sampingnya.

"Besok pagi, Yoga akan melakukan operasi bedah saraf pada seorang pejabat penting. Bayangkan jika obat anestesinya gagal bekerja di tengah operasi. Itu bukan lagi skandal, Dinda. Itu adalah akhir dari karir emasnya," bisik Kenzi dengan nada penuh kemenangan.

Dinda tersenyum sinis. "Aku ingin melihat wajah angkuhnya hancur saat ia diseret keluar dari ruang operasi dengan borgol."

Keesokan paginya, seluruh rumah sakit terasa tegang. Yoga sudah bersiap dengan baju operasinya. Namun, sebelum ia melangkah masuk ke ruang sterilisasi, Cakra mendekat dan membisikkan sesuatu di telinganya.

"Umpan sudah dimakan, Bos. Bagus sudah menukar obatnya semalam. Rekaman tersembunyi sudah kita amankan."

Yoga hanya mengangguk kecil. Wajahnya tetap datar, tanpa emosi. "Pastikan tim medis asli sudah menyiapkan stok obat cadangan yang asli di dalam ruang operasi. Biarkan mereka mengira aku menggunakan obat palsu itu."

Operasi dimulai. Dari ruang observasi di balik kaca transparan, Kenzi Kaziro menyamar sebagai kerabat pasien untuk menyaksikan "kejatuhan" Yoga. Ia menunggu saat di mana monitor detak jantung pasien akan berbunyi kacau karena reaksi obat palsu tersebut.

Di dalam ruangan, Yoga sengaja berakting. Ia tampak sedikit "panik" saat melihat botol obat yang diberikan asistennya (yang juga sudah diajak bekerja sama).

"Kenapa tekanan darah pasien tidak stabil? Periksa obatnya!" bentak Yoga, suaranya terdengar sampai ke ruang observasi.

Kenzi yang mendengar itu hampir tertawa keras. Satu... dua... tiga... hancurlah kau, Yoga, batinnya.

Tiba-tiba, pintu ruang observasi terbuka kasar. Beberapa petugas keamanan rumah sakit masuk bersama dua orang polisi berpakaian preman. Kenzi Kaziro tersentak dan mencoba berdiri, namun bahunya ditekan kuat oleh Cakra yang muncul entah dari mana.

"Mau ke mana, Tuan Kaziro? Acaranya baru saja dimulai," ujar Cakra dengan seringai tajam.

"Apa-apaan ini?! Saya tamu di sini!" teriak Kenzi mencoba mengelak.

Di saat yang sama, di ruang operasi, Yoga dengan tenang melanjutkan bedahnya. Monitor pasien kembali stabil—karena sejak awal ia tidak pernah menggunakan obat palsu tersebut. Setelah menutup jahitan terakhir dengan sempurna, Yoga melepas masker bedahnya dan menatap ke arah kaca observasi, tepat ke arah mata Kenzi yang kini pucat pasi.

Setengah jam kemudian, Yoga berjalan keluar dengan jas dokter putihnya yang tersampir gagah. Di lobi utama, Kenzi dan Dinda sudah dicegat.

"Yoga! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan Kenzi!" teriak Dinda histeris.

Yoga berjalan mendekat, langkah kakinya terdengar menggema. Ia berhenti tepat di depan Kenzi Kaziro. "Kau bermain dengan nyawa pasien di rumah sakitku, Kenzi? Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu."

Yoga mengeluarkan sebuah kantong plastik berisi botol obat palsu yang tadi ditukar. "Ini adalah bukti sabotase. Dan Cakra sudah memiliki rekaman CCTV saat anak buahmu masuk ke gudang farmasiku semalam. Oh, dan jangan lupakan aliran dana dari rekening perusahaanmu ke pria bernama 'Hadi' yang meneror istriku."

Kenzi Kaziro gemetar, keringat dingin membanjiri wajahnya. "Kau... kau sudah tahu?"

"Aku adalah dokter bedah saraf, Kenzi," ucap Yoga dengan suara rendah yang sangat mengintimidasi. "Aku terbiasa melihat apa yang tersembunyi di balik lapisan terdalam. Menghancurkan parasit sepertimu jauh lebih mudah daripada mengangkat tumor otak."

Polisi mulai memborgol tangan Kenzi. Dinda hanya bisa terpaku, menyadari bahwa rencananya justru menjadi bumerang yang akan menghancurkan nama baiknya juga.

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!