Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Kembali Ke rutinitas
Setelah bulan madu yang penuh keindahan dan inspirasi di Pulau Bunaken dan Togean, Khatulistiwa dan Tenggara kembali ke Makassar dengan hati yang penuh semangat dan tas yang dipenuhi buku catatan serta foto dokumentasi.
Tak berapa lama setelah mereka tiba, jadwal kuliah baru semester ganjil mulai berjalan, dan pasangan muda itu kembali menyambut rutinitas sebagai mahasiswa jurusan Sejarah di salah satu universitas ternama di Sulawesi Selatan.
Hari pertama kuliah mereka dimulai dengan mata kuliah Sejarah Perdagangan Nusantara Abad XVI-XVIII, yang menjadi salah satu mata kuliah favorit keduanya. Pukul 07.30 pagi, mereka sudah duduk di barisan depan kelas, buku catatan siap di depan mereka dan pulpen sudah terpasang di telinga.
Ruangan kuliah yang ber-AC dingin dipenuhi oleh teman-teman sekelas yang juga baru kembali dari liburan panjang, dengan suara obrolan riang yang mengisi udara sebelum dosen masuk.
“Bagaimana bulan madunya? Kelihatan sangat menyenangkan dari foto-fotonya di media sosial,” ujar Rina, teman sekelas Khatulistiwa, sambil menepuk bahunya. Khatulistiwa tersenyum hangat
. “Betul sekali! Kita menemukan banyak hal menarik tentang sejarah dan budaya masyarakat pesisir yang bisa kita bahas di kelas, terutama tentang hubungan perdagangan antarwilayah,” jawabnya sambil menunjuk ke arah buku catatan yang penuh dengan catatan tangan.
Tak lama kemudian, dosen yang mengajar mata kuliah tersebut—Pak Profesor Suryoatmojo—memasuki kelas dengan membawa tumpukan buku tebal dan beberapa slide presentasi. Setelah membuka kelas dengan salam dan ucapan selamat kembali, ia langsung masuk ke materi utama tentang jalur perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan wilayah Sulawesi dengan daerah Tenggara Indonesia.
“Salah satu bukti hubungan perdagangan tersebut bisa dilihat dari artefak-artefak yang ditemukan di berbagai situs arkeologi di pesisir Makassar dan beberapa pulau di wilayah Tenggara,” ujar Pak Profesor sambil menampilkan gambar artefak porselen kuno di layar proyektor.
Tenggara langsung mengangkat tangan. “Pak, saya dan istri saya baru saja mengunjungi Kepulauan Togean dan Bunaken, dan menemukan bahwa banyak masyarakat lokal masih menjaga tradisi perdagangan yang sama seperti yang terjadi ratusan tahun yang lalu,” jelasnya dengan semangat. Pak Profesor mengangguk dengan senyum puas. “Itu adalah contoh yang sangat baik, Tenggara. Mungkin kamu bisa berbagi lebih banyak tentang itu dalam presentasi kelompok minggu depan?”
Setelah selesai kuliah pagi, mereka pergi ke kantin kampus untuk makan siang sambil membahas tugas yang diberikan dosen. Mereka memutuskan untuk membuat presentasi kelompok tentang “Hubungan Sejarah dan Budaya antara Sulawesi Selatan dan Wilayah Tenggara Indonesia Melalui Jalur Perdagangan”—topik yang sangat dekat dengan hati mereka setelah bulan madu dan pengalaman mengelola usaha “Nusantara Bersejarah”.
“Kita bisa menggunakan foto-foto yang kita ambil saat bulan madu sebagai bahan visual dalam presentasi,” ujar Khatulistiwa sambil menyantap nasi goreng kampus yang gurih.
“Juga cerita-cerita rakyat yang kita kumpulkan dari masyarakat lokal—itu akan membuat presentasi kita lebih hidup dan berwarna.” Tenggara mengangguk, sambil mencatat ide-ide tersebut di buku catatannya. “Kita juga bisa menghubungkan materi kuliah dengan usaha kita, bagaimana tradisi lama bisa dihidupkan kembali dalam bentuk yang relevan dengan zaman sekarang,” tambahnya.
Pada sore hari, mereka menghadiri mata kuliah Metodologi Penelitian Sejarah, yang mengajarkan cara mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan data sejarah dengan benar. Saat dosen menjelaskan tentang cara melakukan penelitian lapangan, Khatulistiwa dan Tenggara saling melihat dan tersenyum—mereka sudah memiliki pengalaman langsung tentang hal itu saat melakukan penelitian untuk usaha mereka dan selama bulan madu.
Setelah selesai semua jadwal kuliah hari itu, mereka pergi langsung ke usaha “Nusantara Bersejarah” yang terletak tidak jauh dari kampus. Tempat usaha yang mereka bangun bersama sudah mulai ramai dengan pengunjung, sebagian besar mahasiswa lain yang ingin belajar lebih banyak tentang sejarah nusantara. Mereka langsung membantu staf yang sedang melayani pengunjung, sambil menyempatkan diri untuk menyusun materi presentasi kelompok mereka.
“Kuliah memang membuat kita lebih sibuk,” ujar Tenggara sambil menata buku-buku sejarah di rak. “Tapi setiap materi yang kita pelajari hanya semakin memperkuat keyakinan kita bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga tentang bagaimana kita membangun masa depan yang lebih baik.” Khatulistiwa mengangguk, sambil menempelkan poster acara workshop sejarah yang akan mereka gelar minggu depan.
“Benar sekali. Kita punya tanggung jawab untuk menyampaikan pentingnya sejarah dan budaya kepada lebih banyak orang, terutama generasi muda,” jawabnya dengan penuh semangat.
Saat malam mulai menjelang dan lampu-lampu di usaha mereka menyala lembut, Khatulistiwa dan Tenggara duduk bersandar pada rak buku, tangan saling bertaut. Mereka melihat sekeliling pada tempat usaha yang penuh dengan buku, artefak replika, dan produk kerajinan tradisional—semua hasil dari kerja keras dan cinta mereka terhadap sejarah. Meskipun rutinitas kuliah dan mengelola usaha memang melelahkan, mereka tahu bahwa setiap langkah yang mereka tempuh adalah bagian dari perjalanan untuk menghidupkan kembali sejarah dan menghubungkan hati rakyat nusantara