Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 - Kereta Kencana
Gujes... Gujes... Gujes...
Suara khas roda itu saat bergesekan langsung dengan sambungan rel. Ya. Karina sedang duduk dipinggir bangunan dekat dengan rel kereta api, tempat itulah menjadi pelarian Karina saat pekerjaan membuatnya hampir gila.
Kepala selalu bergumam,
"Kapan semuanya akan berakhir?"
"Ingin sekali kabur dengan kereta kencana sejauh mungkin"
Ya, Karina sejak kecil memang memiliki impian ingin menaiki kereta kencana. Katanya kereta kencana adalah simbol dari kemewahan dan kekuasaan, dirinya seringkali bermimpi suatu saat nanti saati dirinya sukses... Bisa menaiki kereta mewah tersebut.
...----------------...
Matahari saat itu sudah berubah warna menjadi oranye gelap, menandakan malam akan tiba, tapi Karina sudah duduk disana sejak langit masih biru muda. Ia sengaja tidak masuk kantor hari ini karena yaa... Ingin kabur sejenak dari pekerjaan yang hampir membuat kewarasannya hilang.
Pukul sudah menunjukkan 8 malam, Karina pun berpamitan dengan tempat penenang sementaranya itu. Ia melangkah menjauh, namun agak berat karena setiap kali melangkah dia terus memikirkan perkataan Antono kepadanya waktu itu.
Kamu ini bekerja dengan tulus
Atau
Bekerja untuk dipuji
Pertanyaan singkat tapi nyelekit didengar, Karina tidak bisa menghapus pertanyaan yang selalu berputar-putar di otaknya. Mau menangis, tapi menangis tidak menyelesaikan masalah. Tapi Karina tetaplah Karina, ia memperkuat tekad agar bisa menyelesaikan kasus demi kasus.
...****************...
Tujuh tahun lalu.....
Hujan turun rintik-rintik di luar gedung kepolisian malam itu. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela ruang interogasi kosong, menciptakan bayangan yang bergerak pelan seperti napas yang tertahan. Di dalam ruangan, hanya ada dua orang.
Karina Intan, detektif muda, duduk dengan punggung sedikit tegang. Seragamnya masih rapi, tapi kerah bajunya basah oleh keringat yang belum sempat ia sadari. Di hadapannya, Antono Wijaya berdiri sambil memandang papan bukti: foto seorang anak laki-laki, usia sekitar sembilan tahun, wajahnya tampak polos—terlalu polos untuk menjadi korban.
Anak tunggal wali kota.
Kasus itu sudah membuat kota gemetar selama tiga hari.
Antono tidak langsung berbicara. Ia menyalakan sebatang rokok—tidak dihisap, hanya dibiarkan menyala di antara jarinya. Kebiasaan lama saat berpikir.
“Kamu tahu kenapa kasus ini berbahaya, Karina?” tanya Antono akhirnya, suaranya rendah dan tenang.
Karina menelan ludah. “Karena… korbannya anak pejabat publik, Pak. Tekanan politik besar. Media—”
Antono menggeleng pelan. “Itu permukaannya.”
Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di samping meja Karina. Jarak mereka cukup dekat hingga Karina bisa mencium aroma kopi pahit di bajunya.
“Yang berbahaya,” lanjut Antono, “bukan karena siapa ayahnya. Tapi karena semua orang ingin cepat. Dalam kasus seperti ini, kecepatan sering disalahartikan sebagai kebenaran.”
Karina mengangguk, mencatat dalam benaknya. “Tapi kalau kita lambat, Pak… mereka akan bilang polisi tidak kompeten.”
Antono tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu sering melihat kesalahan yang sama diulang.
“Dan kalau kita cepat tapi salah,” katanya pelan, “seorang anak mati untuk kedua kalinya.”
Kalimat itu menghantam Karina lebih keras dari yang ia perkirakan.
Ia terdiam.
Beberapa detik berlalu, hanya suara hujan dan dengung lampu neon.
Antono akhirnya duduk di kursi seberang. Ia mematikan rokok di asbak tanpa pernah menghisapnya.
“Kamu ambisius,” kata Antono tiba-tiba.
Karina terkejut. “Maaf, Pak?”
“Ambisius,” ulang Antono. “Dan itu bukan hinaan.”
Karina ragu menjawab. “Saya hanya… ingin melakukan yang terbaik.”
“Semua orang bilang begitu,” balas Antono. “Tapi tidak semua orang jujur pada dirinya sendiri.”
Ia menatap Karina lekat-lekat, seolah mencoba membaca sesuatu yang lebih dalam dari sekadar jawaban.
“Karina,” katanya kemudian, dengan nada yang lebih lembut tapi justru lebih serius,
“apa impian kamu?”
Pertanyaan itu membuat Karina terpaku.
Bukan karena ia tidak punya jawaban—justru karena ia tidak pernah mengucapkannya dengan suara keras.
Beberapa detik ia ragu. Tapi tatapan Antono tidak menghakimi. Ia hanya menunggu.
Karina menarik napas. “Aku ingin menaiki kereta kencana, Pak.”
Antono mengangkat alisnya sedikit. “Kereta kencana?”
“Iya,” jawab Karina, kali ini lebih yakin. “Kereta kencana itu… simbol. Kemewahan. Kekuasaan. Orang melihatnya, langsung tahu: yang duduk di dalamnya punya posisi, punya kendali.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan jujur, “Saya ingin diakui. Saya ingin berada di posisi di mana keputusan saya didengar.”
Ruangan kembali sunyi.
Antono tidak tertawa. Tidak juga mencibir. Ia hanya menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit seolah sedang menyusun kata-kata dengan hati-hati.
“Ambisi yang jujur,” katanya akhirnya. “Dan itu langka.”
Karina sedikit lega.
Tapi Antono belum selesai.
“Kereta kencana,” lanjutnya, “adalah kendaraan yang indah. Tapi juga berat. Ditarik oleh banyak kuda. Dan semakin mewah keretanya, semakin banyak mata yang mengawasi ke mana ia melaju.”
Ia mencondongkan tubuh ke depan.
“Dengarkan baik-baik, Karina. Kemewahan dan kekuasaan itu alat. Bukan tujuan. Kalau kamu salah pegang kendali—satu tarikan tali yang keliru—kereta itu bisa terguling. Dan yang pertama kali jatuh bukan penumpangnya, tapi orang-orang di sekitarnya.”
Karina merasakan tenggorokannya mengering.
“Gunakan dua hal itu,” Antono melanjutkan, “untuk melindungi. Bukan untuk membuktikan. Karena begitu kamu mulai ingin dipuji, kamu akan mulai menutup mata pada kebenaran yang tidak nyaman.”
Kata-kata itu menancap dalam-dalam.
Karina mengangguk pelan. “Saya mengerti, Pak.”
Antono menatapnya lama. “Tidak. Kamu akan mengerti. Suatu hari.”
Ia berdiri, mengambil map kasus, lalu menyerahkannya ke Karina.
“Kita tidak akan cari pelaku yang paling cepat,” katanya tegas. “Kita cari yang paling masuk akal. Mulai dari lingkaran terdekat anak itu. Bukan politikus. Bukan musuh ayahnya. Tapi seseorang yang merasa memiliki anak itu.”
Karina membuka map tersebut. Matanya membesar sedikit. “Pengasuh?”
Antono mengangguk. “Seseorang yang tahu rutinitas. Yang tahu jam tidur. Yang tahu pintu mana yang tidak berderit.”
Malam itu mereka bekerja tanpa tidur.
Karina mengikuti setiap langkah Antono: cara ia bertanya tanpa menekan, cara ia diam terlalu lama hingga lawan bicara mulai bicara sendiri, cara ia tidak pernah menuduh sebelum bukti benar-benar terkunci.
Dua hari kemudian, mereka menemukannya.
Bukan pembunuh bayaran. Bukan lawan politik.
Melainkan seseorang yang merasa dikhianati, merasa tidak diakui—dan melampiaskan frustrasinya pada satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan.
Kasus itu selesai tanpa konferensi pers besar. Tanpa drama berlebihan.
Tapi nama Karina Intan mulai disebut.
“Detektif muda yang teliti.”
“Anak didikan Antono Wijaya.”
“Wajah baru kepolisian.”
Saat itu, Karina berdiri di lorong kantor, membaca namanya di layar ponsel dengan perasaan campur aduk: bangga, takut, dan—untuk pertama kalinya—sadar.
Ia teringat kata-kata Antono malam itu.
Tentang kereta kencana.
Tentang kendali.
Tentang satu langkah yang salah.
...****************...
Karina teringat dengan impian sejak kecil, kereta kencana. Ia memang sangat ambisius ingin menyelesaikan kasus dengan cepat tanpa melupakan ketepatan. Selama perjalanan pulang, dia selalu terpikir dengan, kereta kencana.
Sesampainya di rumah, dia tidak langsung tidur, dia masih terbangun memikirkan, kereta kencana. Sampai akhirnya.... Dia terlelap dengan sendirinya. Besoknya, Karina bersiap untuk bekerja seperti biasa namun, ada satu hal yang selalu terngiang-ngiang, kereta kencana. Dia pun bergegas ke kantor.
...----------------...
Kantor kepolisian siang itu terasa berbeda.
Bukan karena ramai—justru sebaliknya.
Lorong-lorong terlihat lengang, langkah kaki terdengar terlalu jelas, dan suara pintu yang tertutup bergema lebih lama dari biasanya. Seolah bangunan itu menyimpan gema dari hal-hal yang tidak diucapkan.
Karina berdiri di depan mesin kopi otomatis. Tangannya menggenggam gelas kertas terlalu lama, sampai panasnya merambat ke telapak. Ia tidak langsung menekan tombol apa pun.
Di belakangnya, Arga menyandarkan punggung ke dinding.
“Kamu nggak minum dari tadi pagi,” ucap Arga akhirnya.
Karina tidak menoleh. “Aku lupa.”
“Kamu bohong.”
Karina tersenyum tipis, tapi tidak ada hangat di sana. “Mungkin.”
Mesin kopi berbunyi. Karina mengambil gelasnya, berjalan beberapa langkah, lalu berhenti lagi. Ia menatap cairan hitam itu seolah berharap permukaannya bisa memberi jawaban.
Arga memperhatikannya.
“Kamu kenapa sejak kemarin diam?” tanya Arga. “Biasanya kamu—”
“Biasanya aku apa?” potong Karina.
Arga terdiam sejenak. “Biasanya kamu yakin.”
Kata itu menggantung di udara.
Karina akhirnya menoleh. “Dan sekarang?”
“Sekarang kamu kayak… orang yang lagi nunggu sesuatu jatuh,” jawab Arga pelan.
Karina tertawa kecil, singkat. “Lucu. Padahal yang jatuh itu orang lain.”
Mereka sama-sama tahu maksudnya.
Korban-korban itu.
Kasus-kasus yang belum selesai.
Dan fakta bahwa hari ini—untuk pertama kalinya—tidak ada laporan baru, tapi justru itulah yang membuat semuanya terasa salah.
Dari ujung lorong, Antono muncul. Langkahnya tenang, nyaris tanpa suara. Ia membawa map tipis, tidak tebal seperti biasanya.
“Kalian sadar nggak,” ucap Antono sambil berjalan mendekat, “hari ini terlalu sepi?”
Arga mengangguk. “Saya juga ngerasa aneh, Pak.”
“Pelaku tidak berhenti,” lanjut Antono. “Dia hanya menunggu.”
Karina menatapnya. “Menunggu apa?”
Antono berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tidak tertuju pada siapa pun secara spesifik.
“Menunggu kita membuat kesalahan.”
Kalimat itu membuat udara terasa lebih berat.
Karina menghela napas. “Pak, tanpa kasus baru, tanpa TKP, tanpa arah… kita mau ngapain?”
Antono menatap Karina lama. Terlalu lama.
“Kamu gelisah karena tidak bergerak,” katanya. “Padahal diam juga bagian dari permainan.”
Karina mengerutkan kening. “Permainan?”
“Pelaku sudah mengatur ritme,” jawab Antono. “Sekarang dia menguji: apakah kita panik saat tidak terjadi apa-apa.”
Sunyi kembali turun.
Karina merasakan sesuatu di dadanya—bukan takut, bukan marah. Lebih seperti rasa ditinggalkan di ruangan gelap dengan lampu menyala terlalu terang.
...----------------...
Ruang rapat siang itu dipenuhi cahaya putih lampu neon. Terlalu terang. Terlalu dingin.
Semua duduk di tempat masing-masing, tapi tidak ada yang membuka mulut lebih dulu. Beberapa berkas tergeletak di meja—foto TKP lama, catatan lama, hasil analisis yang sudah dibaca berkali-kali.
Karina duduk dengan tangan saling bertaut. Jarinya dingin.
Antono berdiri di depan papan, tidak menulis apa pun. Ia hanya menatap foto-foto yang terpampang, seperti seseorang menatap wajah lama yang sudah dikenalnya terlalu baik.
“Kalau tidak ada kasus baru,” kata salah satu anggota tim dengan ragu, “apakah kita… menunggu saja, Pak?”
Antono tidak langsung menjawab.
“Menunggu adalah bentuk keputusan,” katanya akhirnya. “Dan setiap keputusan punya harga.”
Karina menelan ludah. “Harga seperti apa, Pak?”
Antono menoleh padanya. Tatapannya tajam, tapi tidak menghakimi.
“Harga kepercayaan publik,” jawabnya. “Dan harga yang lebih mahal: kepercayaan pada diri sendiri.”
Karina menggeser tubuhnya di kursi. “Jadi apa langkah kita?”
Antono mendekat ke meja. “Evaluasi ulang. Bukan kasusnya—tapi kita.”
Arga mengangkat kepala. “Maksud Bapak?”
“Kalian tidur nyenyak nggak akhir-akhir ini?” tanya Antono tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat semua terdiam.
Tidak ada yang menjawab.
Antono tersenyum tipis. “Jawaban kalian ada di situ.”
Karina akhirnya bersuara. “Pak… kalau boleh jujur, saya ngerasa pelaku ini bukan cuma main di luar. Dia kayak… masuk ke kepala kita satu-satu.”
Antono mengangguk. “Itu tujuan utamanya.”
“Terus?” tanya Karina, suaranya sedikit bergetar. “Kalau dia sudah sampai sejauh itu, apa kita masih pegang kendali?”
Antono mendekat satu langkah.
“Kendali bukan soal siapa yang bergerak dulu,” katanya pelan. “Tapi siapa yang tidak tergoda untuk bergerak salah.”
Karina terdiam. Ia teringat percakapan tujuh tahun lalu. Tentang kereta kencana. Tentang kendali.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia bertanya dalam hati:
Apakah aku masih mengemudi… atau hanya duduk, menikmati kecepatan?
Lampu neon berdengung pelan di atas kepala mereka.
Tidak ada darah.
Tidak ada jeritan.
Tidak ada pembunuhan.
Tapi rasa tidak nyaman itu tumbuh—perlahan, pasti, dan tidak bisa dihindari.
...----------------...
Malam turun tanpa hujan.
Lampu-lampu kota menyala seperti biasa, tapi bagi Karina, semuanya terasa sedikit terlalu terang—seolah dunia tidak memberi ruang untuk gelapnya pikiran.
Ia duduk sendirian di mobil, mesin mati, tangan masih menggenggam setir. Sudah lima menit berlalu sejak ia parkir, tapi ia belum juga turun.
Radio mobil mati. Ponselnya diletakkan terbalik.
Sunyi.
Karina memejamkan mata sebentar. Hanya sebentar, pikirnya.
Namun potongan-potongan gambar justru bermunculan:
ruang tamu berantakan,
bau darah yang menempel di tenggorokan,
suara Antono—“pelaku menunggu kita salah langkah.”
Karina membuka mata cepat.
“Napas,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia keluar dari mobil, mengunci pintu dua kali—padahal ia tahu satu kali sudah cukup.
Di dalam rumah, semuanya rapi. Terlalu rapi.
Karina menyalakan lampu ruang tamu, lalu dapur, lalu kamar—seolah memastikan tidak ada yang berubah selama ia pergi. Saat melewati cermin di lorong, ia berhenti.
Pantulan wajahnya tampak… asing.
Matanya cekung. Rahangnya tegang.
“Kamu cuma capek,” ucapnya pelan pada bayangan sendiri.
Namun bayangan itu tidak meyakinkan.
...----------------...
Karina tidak langsung tidur.
Ia duduk di tepi ranjang, membuka laci meja kecil, mengeluarkan sebuah foto lama. Foto dirinya berseragam akademi—tersenyum, tegak, yakin.
Ia menatapnya lama.
“Apa kamu masih orang yang sama?” tanyanya lirih.
Suara itu terdengar terlalu keras di ruangan kosong.
Ia mematikan lampu, berbaring, tapi matanya tetap terbuka. Setiap bunyi kecil—kipas, detak jam—terasa seperti gangguan.
Tiba-tiba ia teringat kalimat Antono bertahun-tahun lalu:
“Begitu kamu mulai ingin dipuji, kamu akan mulai menutup mata pada kebenaran.”
Karina menelan ludah.
Apakah aku menutup mata?
Atau aku justru melihat terlalu banyak?
Ia terlelap dengan napas tidak teratur.
Mimpi datang tidak utuh—potongan-potongan tanpa urutan. Ia berdiri di tengah ruangan gelap. Ada suara langkah, tapi bukan mendekat. Menjauh.
Saat ia ingin mengejar, kakinya terasa berat.
Dan suara itu berbisik:
“Kamu terlambat.”
Karina terbangun dengan napas terengah.
Jam menunjukkan pukul 03.17.
...----------------...
Pagi datang tanpa kejadian.
Tidak ada laporan baru. Tidak ada panggilan darurat.
Di kantor, suasana justru lebih tegang dari hari sebelumnya.
Karina duduk di mejanya, menatap layar kosong. Arga meliriknya dari seberang.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Arga.
Karina mengangguk terlalu cepat. “Aku baik.”
Arga mengerutkan kening. “Kamu mimpi buruk lagi?”
Karina terdiam.
Itu cukup sebagai jawaban.
Tak lama kemudian, Antono berjalan melewati meja mereka. Ia berhenti, menoleh ke Karina.
“Kamu tidur?” tanyanya singkat.
“Tidur,” jawab Karina.
Antono menatapnya satu detik lebih lama dari perlu. “Tidur bukan berarti istirahat.”
Kalimat itu menancap.
Saat Antono pergi, Karina merasakan dorongan aneh—ingin menjelaskan, ingin membela diri, ingin berkata bahwa ia masih mampu.
Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya, Arga melihat sesuatu yang jarang:
Keraguan di mata Karina.
...----------------...
Sore hari, Antono memanggil Karina sendirian ke ruangannya.
Tidak ada foto TKP. Tidak ada papan analisis.
Hanya dua kursi dan jendela besar menghadap langit mendung.
“Kamu tahu kenapa hari ini tidak terjadi apa-apa?” tanya Antono.
Karina menggeleng pelan.
“Karena pelaku ingin kita fokus ke dalam,” lanjut Antono. “Bukan ke dia.”
Karina menatap lantai. “Pak… kalau suatu hari saya salah—”
“Kamu akan salah,” potong Antono tenang. “Semua orang salah.”
Karina mengangkat kepala.
“Yang penting,” lanjut Antono, “apakah kamu menyadarinya sebelum orang lain yang membayar.”
Sunyi kembali turun.
Karina merasakan sesuatu bergeser dalam dirinya. Bukan patah—tapi retak.
Retakan kecil.
Retakan itu akan menjadi jalan masuk-- entah bagi kebenaran....
Atau kehancuran.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y