NovelToon NovelToon
A Story'Of Us

A Story'Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Cintapertama
Popularitas:7
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 7

Sasha berdiri di depan gerbang raksasa rumahnya, menatap pantulan dirinya di kaca pos penjagaan yang gelap.

Noda darah yang mulai mengering di *hoodie* putihnya tampak seperti peta kekacauan yang baru saja ia lalui. Dengan gerakan kasar, ia melepas *hoodie* tersebut, meremasnya menjadi gumpalan tak berbentuk, dan membuangnya ke tempat sampah besar di pinggir gerbang.

Kini ia hanya mengenakan seragam sekolah—kemeja putih yang berantakan dengan kerah terbuka.

Ia melangkah masuk, melewati halaman luas yang sunyi, berharap bisa menyelinap ke kamarnya tanpa harus berinteraksi dengan siapa pun.

Namun, saat kakinya baru saja menginjak lantai marmer di ruang tengah, sebuah suara berat dan berwibawa menghentikannya.

"Sasha. Ke sini sebentar."

Sasha mematung. Ia menoleh dan mendapati ayahnya sudah duduk di sofa ruang tamu yang megah, masih mengenakan kemeja formal namun tanpa jas.

Kepulangannya yang jauh lebih awal dari biasanya adalah pertanda buruk. Sasha menghela napas panjang, lalu berjalan dengan langkah malas menuju sumber suara.

"Ada apa?" tanya Sasha, berdiri dengan satu kaki bertumpu, menunjukkan sikap tidak hormat yang kentara.

Ayahnya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara amarah yang tertahan dan kekecewaan yang mendalam. "Tadi pagi ayah menerima telepon dari sekolahmu. Aria, Ketua OSIS itu, memberikan laporan yang sangat detail melalui wali kelas. Dia bilang kau terlihat merokok di area umum kemarin sore dengan anak-anak dari sekolah lain."

Sasha hanya diam. Ia menatap ke arah lampu kristal di langit-langit, wajahnya datar seolah sedang mendengarkan laporan statistik yang tidak penting.

"Bukan itu saja," lanjut ayahnya, suaranya mulai meninggi sambil meletakkan selembar kertas hasil evaluasi nilai di atas meja kaca. "Nilai-nilaimu... apa-apaan ini, Sasha? Hancur semuanya. Tidak ada satu pun yang berada di atas rata-rata. Kau mau jadi apa jika terus-terusan seperti ini?"

Sasha mendengus, matanya kini beralih menatap tajam ke arah sang ayah. "Jika kau hanya ingin marah-marah seperti ini, kenapa tidak kau berhentikan saja aku sekolah? Toh, aku juga tidak merasa butuh pendidikan di sana. Lagipula, kau punya cukup uang untuk membuatku tidak perlu bekerja seumur hidup, kan?" ucapnya dengan nada yang sangat cuek dan dingin.

Ayah Sasha seketika berdiri, tubuhnya yang tegap tampak gemetar karena emosi. "Jaga bicaramu! Untuk apa kau berkata seperti itu? Ayah menyekolahkanmu di sana demi kebaikanmu sendiri, agar kau punya masa depan yang terhormat, bukan menjadi berandalan jalanan!"

"Kebaikan?" Sasha tertawa sinis, tawa yang terdengar menyakitkan. Ia melangkah maju, menantang tatapan ayahnya. "Kau bicara soal kebaikan untukku? Kau saja selalu datang terlambat ke kehidupanku, Ayah. Kau lebih sering berada di ruang rapat atau di luar negeri daripada di rumah ini. Sekarang, tiba-tiba kau ingin mengatur masa depanku?"

"Sasha, dengarkan Ayah—"

"Tidak!" potong Sasha dengan nada meledak. "Jangan bicarakan soal kebaikan denganku saat kau bahkan tidak tahu apa yang aku lalui setiap harinya. Urusi saja perusahaanmu itu!"

Tanpa menunggu balasan lagi, Sasha berbalik dan berlari menaiki tangga dengan amarah yang membuncah.

Suara pintu kamarnya yang dibanting dengan keras bergema di seluruh penjuru rumah mewah yang hampa itu.

Ayah Sasha terdiam membeku di ruang tamu. Ia perlahan duduk kembali, menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.

Helaan napasnya terdengar sangat berat, sarat akan rasa bersalah yang selama ini ia kubur dalam-dalam di balik kesibukan dunianya. Ia tahu, kata-kata Sasha adalah kebenaran yang pahit—bahwa harta sebanyak apa pun tidak mampu membeli waktu yang telah ia lewatkan sebagai seorang ayah.

---

Malam itu di kamar mewahnya yang luas, Sasha meledak. Ia membanting bantal ke dinding, menendang kursi belajar, dan berteriak sekeras-kerasnya untuk melepaskan sesak di dadanya.

Namun, sebanyak apa pun barang yang ia rusak, rasa sepi di hatinya tetap tidak bergeming. Ia membenci ayahnya, ia membenci sekolahnya, dan di atas segalanya, ia membenci Aria Putri yang telah menyeret urusan pribadinya ke meja makan ayahnya.

---

Keesokan harinya, hari Minggu yang seharusnya menjadi waktu bagi para murid untuk bersantai, tampak berbeda bagi Aria Putri. Ia mengenakan pakaian yang rapi dan sopan, tas berisi buku-buku paket dan lembar soal sudah tersampir di bahunya.

Kemarin malam, sebuah panggilan dari nomor asing masuk ke ponselnya. Itu adalah ayah Sasha. Pria itu terdengar sangat lelah dan memohon bantuan Aria untuk menjalankan rencananya memberikan les privat bagi Sasha.

Sang ayah bahkan berkata bahwa ia mendukung penuh setiap langkah Aria untuk mendisiplinkan putrinya.

Kini, Aria berdiri tepat di depan gerbang raksasa yang kemarin ia ancam akan ia datangi. Saat gerbang itu terbuka pelan, langkah kaki Aria seketika terhenti. Matanya membulat sempurna, mulutnya sedikit terbuka karena tidak percaya.

"Ini... rumah tinggal atau istana?" bisiknya pada diri sendiri.

Ia dipersilahkan masuk oleh penjaga keamanan dan menyusuri jalan setapak yang sangat panjang. Semakin ia melangkah masuk, semakin ia merasa asing.

Rumah seluas 15 hektar itu benar-benar mengintimidasi dirinya yang hanya berasal dari rumah dua lantai sederhana. Aria melihat taman yang didesain secara arsitektural, kolam renang yang berkilau, dan bangunan megah dengan pilar-pilar raksasa.

Di depan pintu utama, Kepala Pelayan dengan setelan jas rapi sudah menunggu. "Selamat pagi, Nona Aria. Tuan Besar sudah mengabari saya tentang kedatangan Anda. Mari, silakan masuk dan tunggu di ruang tamu utama."

Aria melangkah di atas lantai granit yang begitu mengkilap hingga ia bisa melihat bayangan wajahnya yang cemas.

Ruang tamu itu dipenuhi dengan furnitur klasik yang harganya mungkin setara dengan biaya sekolahnya selama sepuluh tahun. Ia duduk di sofa beludru, merasa sangat kecil di tengah kemewahan ini.

---

Kepala Pelayan kemudian menaiki tangga menuju kamar Sasha. "Nona Sasha, ada tamu untuk Anda di bawah."

"Siapa? Suruh dia pergi! Aku sedang tidur!" teriak Sasha dari dalam kamar.

"Nona Aria Putri, Nona. Tuan Besar yang memintanya datang."

Mendengar nama itu, pintu kamar terbuka dengan kasar. Sasha muncul dengan rambut acak-acak dan wajah penuh amarah.

Ia berjalan cepat menuju balkon lantai dua yang menghadap langsung ke ruang tamu bawah.

Begitu matanya menangkap sosok Aria yang duduk manis dengan buku di pangkuannya, darah Sasha mendidih.

Ia tidak jadi turun, melainkan berbalik kembali ke arah koridor lantai dua sambil berteriak pada pelayannya. "Siapa yang menyuruhmu membiarkan orang asing itu masuk, hah?! Ini rumahku, bukan sekolah!"

Kepala Pelayan itu membungkuk tenang, namun suaranya tegas. "Ini adalah perintah langsung dari ayah Anda, Nona Sasha. Beliau yang meminta Nona Aria datang untuk membantu studi Anda."

Sasha tertegun. Ia mencengkeram pagar pembatas lantai dua dengan kuat hingga buku jarinya memutih.

Ia menatap ke bawah sekali lagi, ke arah Aria yang kini juga sedang menatapnya balik dengan tatapan yang seolah berkata, *'Aku tidak akan pergi sampai kau belajar.'*

Sasha hanya bisa menghela napas panjang yang penuh dengan rasa frustrasi dan kekalahan. Ia merasa terjebak di rumahnya sendiri.

Dengan langkah yang sangat berat dan wajah yang masih menunjukkan rasa kesal luar biasa, ia mulai menuruni tangga selangkah demi selangkah, bersiap menghadapi konfrontasi paling menyebalkan dalam hidupnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!