NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pengikut Setia Tanpa Menggonggong

Angin malam berembus tajam di koridor asrama yang sepi, membawa hawa dingin yang biasanya membuat orang bergegas masuk ke dalam selimut. Namun, bagi Ji Zhen, udara ini terasa menyegarkan. Lian Shu sudah menghilang ke kegelapan setelah memberikan isyarat singkat, meninggalkan Ji Zhen berdiri di depan Yang Huiqing.

Wanita itu berdiri dengan bahu yang naik turun tidak beraturan. Tanpa riasan tebal dan kemewahan yang biasa ia pamerkan saat bersama Ma Yingjie, ia terlihat seperti orang asing.

“Ji Zhen… aku… aku benar-benar menyesal,” tangisan Yang Huiqing tidak lagi terbendung sempurna. Air mata mulai mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat. “Aku buta. Aku tidak melihat bahwa kau adalah naga sejati, sementara dia hanya pecundang yang bersembunyi di balik nama ayahnya.”

Tanpa peringatan apapun, Yang Huiqing menjatuhkan lututnya ke atas lantai batu yang keras sebelum bersujud, dahinya menyentuh permukaannya tepat di depan ujung sepatu Ji Zhen. Isak tangisnya semakin menjadi, sebuah penyesalan brutal yang dipamerkan tanpa harga diri lagi.

Melihat itu, Ji Zhen tidak bergerak. Ia tidak mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, tidak pula menunjukkan simpati. Pemuda itu justru membisu, membiarkan detik demi detik berlalu sambil menikmati pemandangan di bawah kakinya. Ada rasa kepuasan dahsyat yang merambat di dadanya, lebih manis daripada pil kultivasi mana pun. Melihat wanita yang dulu mencampakkannya dengan hinaan kini memohon ampunan adalah puncak dari keadilan yang ia bangun sendiri.

Senyuman tipis pun muncul di sudut bibir Ji Zhen. Ambisi balas dendamnya terpuaskan sementara, memberikan sensasi kekuasaan yang nyata.

“Bagus,” Zulong berkomentar di dalam kepalanya, suaranya penuh nada bangga yang licik. “Biarkan dia merasakan penderitaan yang kau rasakan dulu. Biarkan dia tahu bahwa di dunia ini, hanya kekuatan yang menentukan siapa yang sujud dan siapa yang berdiri.”

“Maafkan aku, Ji Zhen. Kumohon, maafkan aku,” tangisan Yang Huiqing tidak kunjung berhenti. “Sekte sekarang menatapku dengan jijik. Mereka menyebutku pelacur murahan yang salah memilih tempat bersandar. Aku tidak tahan lagi. Bersihkan namaku, Ji Zhen. Lindungi aku dari tatapan merendahkan itu. Aku akan melakukan apa pun… asalkan kau mau membantuku kembali.”

Ji Zhen menyilangkan tangan di dada, matanya menatap dingin ke arah punggung yang naik turun itu. Ia sengaja mempermainkan momen ini.

“Melakukan apa pun?” tanya Ji Zhen dengan datarnya.

“Ya! Apa pun!” Yang Huiqing mendongak, matanya yang merah menatap Ji Zhen dengan penuh harapan sekaligus keputusasaan.

Ji Zhen pun terdiam lama kala menimbang-nimbang. Ia berjalan mengitari Yang Huiqing perlahan, membiarkan wanita itu terus menunggu dalam ketakutan. “Kenapa aku harus membantumu? Kau tahu, memperbaiki nama yang sudah busuk itu sulit. Dan kau sudah mengkhianatiku sekali. Kenapa aku harus percaya pada pengkhianat?”

“Aku bersumpah! Aku akan membuktikannya!” Yang Huiqing merangkak sedikit maju, tangannya hendak meraih ujung jubah Ji Zhen namun ia ragu.

Ji Zhen mengerutkan kening, pura-pura berpikir keras padahal tentu dia malah merasa jadi penjahatnya sekarang. Keheningan itu ia tahan cukup lama hingga Yang Huiqing terlihat seakan ingin mati saat itu juga karena takut ditolak. Keputusasaan wanita itu sudah mencapai titik jenuh.

“Baiklah,” ucap Ji Zhen, suaranya terdengar lebih santai, hampir ramah namun tersirat sarkasme yang tajam. “Karena aku adalah orang yang baik, aku akan memberimu jalan keluar.”

Yang Huiqing langsung memeluk kaki Ji Zhen, wajahnya penuh rasa syukur yang meluap-luap. “Terima kasih, Ji Zhen! Terima kasih! Kau memang murah hati!”

“Jangan senang dulu,” Ji Zhen menarik kakinya dengan kasar, membuat Yang Huiqing tersungkur lagi. “Aku memaafkanmu bukan untuk menjadikanmu kekasihku kembali. Tapi karena aku membutuhkan alat. Aku butuh seseorang yang patuh tanpa banyak tanya.”

Ji Zhen segera membungkuk, menatap langsung ke dalam mata Yang Huiqing dengan tatapan yang sangat dominan. “Kau ingin perlindunganku? Kau ingin namamu bersih? Maka mulai hari ini, kau bukan lagi Yang Huiqing yang dulu. Kau adalah anjing setiaku. Kau harus taat mutlak padaku. Setiap perintahku adalah hukum bagimu. Kau harus melindungi namaku di depan orang lain, memata-matai setiap gerak-gerik keluarga Ma atau siapapun itu, dan bersedia melakukan tugas sekotor apa pun jika aku memintanya. Jika kau setuju, aku akan memulihkan posisimu. Jika tidak… silakan pergi dan nikmati hinaan murid-murid sekte sampai kau gila.”

Tentu saja Yang Huiqing terbelalak mendengarnya. Wajahnya menunjukkan campuran antara syok, rasa takut yang sangat besar, dan kepasrahan yang pahit. Menjadi “anjing setia” berarti ia menyerahkan seluruh kemerdekaannya. Namun, saat ia membayangkan kembali ejekan murid-murid di turnamen itu, ia tidak punya pilihan lain.

“A-aku setuju,” bisik Yang Huiqing sambil menunduk.

Ji Zhen berdiri tegak kembali, menatap ke arah langit malam yang gelap dengan perasaan puas yang meluap. Ia merasakan kekuasaan baru atas jiwa seseorang yang dulu menghancurkannya.

“Bagus. Sekarang berdiri,” perintah Ji Zhen. “Hapus air matamu. Seorang anjing tidak boleh terlihat cengeng di depan tuannya.”

Yang Huiqing masih berlutut di tanah, menatap Ji Zhen dengan ekspresi campur aduk antara rasa syukur yang terpaksa dan ketakutan akan masa depan yang kini sepenuhnya berada di tangan pria di depannya. Ji Zhen hanya tersenyum lebar, membiarkan hawa dao es naga di tubuhnya mengalir dengan tenang.

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!