NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perburuan di Balik Bayangan

Gelas kristal berisi sampanye di tangan Arkan bergetar pelan, menciptakan riak kecil yang memantulkan cahaya lampu gantung aula yang menyilaukan. Meski wajahnya tetap setenang telaga beku, badai sedang mengamuk di dalam dadanya. Kabar yang baru saja dibisikkan oleh pelayan kepercayaannya bagaikan vonis mati yang datang tanpa peringatan. Elena—wanita yang seharusnya terbaring tak berdaya dalam koma di paviliun rahasia—telah menghilang dari ranjang perawatannya.

Arkan melirik ke arah Alana yang sedang terjebak dalam percakapan kaku dengan beberapa istri pemegang saham. Ia bisa melihat kegelisahan yang coba disembunyikan Alana melalui gerakan jemarinya yang terus meremas kain gaun merah marunnya. Dalam kondisi fisik yang sangat lemah dan mental yang hancur setelah berbulan-bulan koma, Elena yang asli adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Jika dia muncul di tengah pesta ini dengan kondisi kacau, seluruh dunia akan melihat dua wajah yang identik, dan takhta Arkananta akan runtuh dalam hitungan detik.

"Cari dia. Sekarang. Kerahkan seluruh tim keamanan berpakaian preman untuk menyisir setiap sudut hotel," perintah Arkan dengan suara rendah yang sarat akan ancaman kepada kepala keamanannya. "Tutup semua akses keluar tanpa menarik perhatian media. Jika ada wartawan yang melihatnya, pastikan rekaman mereka tidak pernah sampai ke kantor redaksi."

Arkan melangkah mendekati Alana, menyelip di antara para tamu dengan keanggunan seorang predator, lalu menggenggam jemari Alana dengan erat. Alana tersentak, merasakan dingin yang menjalar dari tangan Arkan ke seluruh tubuhnya.

"Ada apa, Tuan?" bisik Alana, wajahnya memucat saat melihat kilat kemarahan dan kecemasan di mata Arkan.

"Dia hilang, Alana. Elena menghilang dari paviliun," jawab Arkan tepat di telinga Alana, napasnya terasa hangat namun kata-katanya mendinginkan suasana.

Alana merasa dunianya seolah berhenti berputar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa oksigen di aula mewah itu mendadak habis. "Bagaimana mungkin? Dia baru saja bangun, dia bahkan belum bisa berdiri tanpa bantuan!"

"Seseorang membantunya keluar. Dan aku yakin itu adalah orang suruhan Kevin," Arkan menatap tajam ke arah sudut ruangan di mana Kevin sedang tertawa, seolah-olah adiknya itu sedang merayakan kemenangan yang belum sah. "Kau harus tetap di sini. Tetaplah menjadi Elena yang sempurna. Tersenyumlah, berdansalah, dan jangan biarkan siapa pun curiga. Aku akan turun tangan sendiri mencari dia sebelum terlambat."

"Tapi Tuan—"

"Lakukan, Alana! Ini bukan lagi sekadar soal uang kontrakmu. Ini adalah soal nyawa dan harga diri kita berdua," Arkan menatapnya lekat untuk terakhir kalinya sebelum berbalik dan menghilang di balik pintu samping, meninggalkan Alana sendirian di tengah medan perang yang penuh kepalsuan.

Alana mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal. Ia mengambil segelas air putih dari nampan pelayan yang lewat, mencoba membasahi tenggorokannya yang terasa kering kerontang. Setiap pasang mata yang menatapnya terasa seperti pisau yang siap menguliti identitas palsunya. Di kejauhan, ia melihat Kevin mulai bergerak mendekat dengan langkah santai, namun matanya mengunci Alana seperti mangsa.

"Kau tampak pucat, Kakak Ipar. Apakah beban berlian di lehermu itu terlalu berat?" tanya Kevin dengan nada provokatif yang halus.

Alana mencoba tersenyum elegan, persis seperti yang diajarkan Arkan selama berminggu-minggu. "Hanya sedikit kelelahan, Kevin. Pesta ini sangat megah, Kakek pasti sangat bangga dengan pencapaian keluarga ini."

"Oh, Kakek pasti akan lebih bangga jika dia melihat 'kejutan' yang akan segera muncul," sahut Kevin sambil melirik jam tangannya. "Kejutan yang akan membuat semua orang di ruangan ini berhenti bernapas dan mempertanyakan apa yang nyata dan apa yang palsu."

Sementara itu, di lorong-lorong servis hotel yang remang-remang dan berbau pembersih lantai, Arkan bergerak secepat bayangan. Ia mengabaikan panggilan telepon masuk dari asistennya dan langsung menuju ruang monitor CCTV pusat. Ia mendobrak pintu ruangan itu, membuat dua petugas operator tersentak kaget hingga menjatuhkan kopi mereka.

"Tampilkan rekaman area lift servis dan tangga darurat sepuluh menit terakhir! Sekarang juga!" gertak Arkan dengan suara yang menggelegar.

Layar-layar monitor menampilkan puluhan sudut hotel yang dingin. Di salah satu layar yang menangkap gambar lorong lantai dasar, Arkan melihat sesosok wanita dengan gaun putih polos—pakaian pasien yang ditutupi oleh mantel wol besar yang tampak kebesaran dan lusuh. Wanita itu berjalan gontai, satu tangannya berpegangan pada dinding untuk menjaga keseimbangan. Rambutnya yang panjang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang cekung.

"Itu dia! Dia menuju ke arah mana?" tanya Arkan geram, jemarinya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.

"Dia masuk ke lift barang nomor empat, Tuan. Sepertinya... dia menuju lantai aula utama!" lapor petugas CCTV dengan suara gemetar ketakutan.

Arkan mengumpat dengan keras, sebuah kata kasar yang jarang keluar dari bibirnya yang terdidik. Ia segera berlari keluar dari ruangan itu. Di kepalanya, ia membayangkan skenario terburuk: Elena muncul di tengah aula, berteriak bahwa Alana adalah pencuri identitasnya, sementara kamera wartawan menangkap setiap detik kehancuran dinasti Arkananta.

Di aula utama, Alana mencoba menghindar dari radar Kevin dengan berjalan menuju area tirai beludru besar di dekat balkon yang sepi. Namun, langkahnya terhenti ketika Tuan Besar Arkananta memanggil namanya dengan suara yang tidak bisa dibantah.

"Elena! Kemarilah, cucuku. Ada kolega dari London yang ingin menyapamu," suara berat Kakek menggema di antara denting gelas.

Alana terpaksa berbalik dan mendekat dengan kaki yang terasa seberat timah. "Iya, Kakek?"

Tuan Besar menatapnya dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam, seolah-olah dia bisa melihat menembus kebohongan yang disembunyikan Alana. "Kau memakai kalung warisan ibunya Arkan. Itu berarti kau sudah memegang kunci hati cucuku sepenuhnya. Tapi ingat satu hal, Elena... pengkhianatan dalam keluarga ini tidak pernah berakhir dengan maaf."

Alana menelan ludah, dadanya sesak oleh rasa bersalah. "Saya mengerti, Kakek. Saya tidak akan mengecewakan keluarga ini."

Tepat saat itu, Alana melihat sebuah gerakan di sudut matanya. Di balik tirai beludru raksasa yang menutupi pintu akses pelayan, ia melihat sekelebat kain putih yang kontras dengan kegelapan lorong di belakangnya. Sebuah wajah yang sangat ia kenal muncul dari balik kain itu—wajah yang merupakan cerminan dirinya sendiri, namun tampak hancur, pucat, dan penuh amarah yang terpendam selama berbulan-bulan.

Elena ada di sana. Berdiri hanya beberapa meter dari posisi Tuan Besar Arkananta duduk.

Darah Alana terasa membeku seketika. Elena tampak seperti hantu yang bangkit dari makam untuk menuntut haknya yang dicuri. Matanya yang besar dan cekung menatap ke arah keramaian aula dengan kebingungan yang bercampur dengan kebencian murni. Jika Elena melangkah satu meter saja ke depan, semua orang akan melihat dua "Elena" di satu ruangan yang sama.

"Kakek! Lihat itu!" Alana tiba-tiba menunjuk ke arah panggung utama di mana kue ulang tahun raksasa sedang dipersiapkan, suaranya sengaja dikeraskan agar orang-orang berpaling. "Sepertinya ada masalah dengan kembang api di atas kue itu, bukankah itu berbahaya?"

Tuan Besar dan para tamu di sekitarnya menoleh dengan panik ke arah panggung. Dalam detik-detik berharga itu, Alana berlari sekencang mungkin menuju arah tirai, mengabaikan tatapan heran dari tamu-tamu yang melihat "istri CEO" itu berlari dengan gaun mewahnya yang panjang.

Di balik tirai yang dingin, Alana menemukan Elena yang hampir jatuh tersungkur karena sisa tenaganya telah habis.

"Siapa... siapa kau?" bisik Elena dengan suara yang pecah dan parau, nyaris seperti gesekan amplas. Ia menatap Alana dengan ngeri, melihat kemewahan merah marun dan berlian yang dikenakan adiknya. "Kenapa kau... memakai wajahku? Kenapa kau mencuri hidupku?"

"Elena, ini aku, Alana! Adikmu!" Alana berlutut di lantai yang berdebu, tidak peduli gaun seharga ratusan juta itu kotor. "Kak, kumohon, kau harus pergi dari sini. Aku melakukan ini untuk membiayai pengobatan Ibu dan dirimu. Arkan akan menjagamu, tapi tidak di sini!"

"Kau penipu! Kau mengambil Arkan dariku!" Elena menjerit kecil, suaranya teredam oleh dentuman musik orkestra yang sedang memainkan lagu klasik di aula, namun ia mencoba mencakar tangan Alana dengan kuku-kukunya yang tajam.

Kegaduhan kecil di balik tirai itu menarik perhatian seorang pelayan muda yang sedang membawa baki berisi belasan gelas kristal berisi sampanye. Pelayan itu mematung, matanya terbelalak melihat dua wanita berwajah identik sedang bergulat di lantai. Baki di tangannya miring, dan belasan gelas itu jatuh menghantam lantai marmer dengan suara dentuman logam dan pecahan kaca yang sangat keras.

Suara itu bergema ke seluruh aula, mematikan musik sesaat. Kevin, yang memang sedang memata-matai setiap gerak-gerik Alana, langsung bergerak cepat menuju sumber suara dengan senyum kemenangan yang mekar di wajahnya.

"Sepertinya 'kejutan' itu sudah tiba," gumam Kevin sambil menyibak kerumunan tamu.

Arkan tiba di lorong servis tersebut tepat saat Kevin hendak menyibak tirai beludru yang menyembunyikan rahasia mereka. Dengan gerakan yang sangat cepat dan penuh tenaga, Arkan menarik kerah jas Kevin dari belakang dan menyentaknya hingga Kevin terhuyung menjauh.

"Jangan pernah berani menyentuh apa pun yang menjadi milikku, Kevin," geram Arkan dengan nada yang bisa membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

Namun, Kevin tidak merasa terancam. Ia justru tertawa sinis sambil merapikan jasnya. "Milikmu? Atau rahasia kotormu, Kak? Aku sudah melihat apa yang ada di balik tirai itu lewat celah tadi. Dan aku punya rekaman videonya di ponsel ini. Dua wajah yang sama di satu tempat... bukankah itu berita utama yang sangat menarik untuk besok pagi?"

Kevin mengangkat ponselnya dengan bangga, memperlihatkan cuplikan buram Alana yang sedang mendekap Elena di lantai.

Arkan mengepalkan tangannya hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia melihat Alana yang sedang menangis sambil terus memeluk kakaknya yang meracau tidak jelas. Situasi ini adalah definisi dari "berjalan di atas ladang ranjau". Satu langkah salah, satu detik terlambat, dan takhta Arkananta yang sudah berlumuran dosa itu akan hancur menjadi debu yang tak berharga di hadapan publik.

"Bawa dia keluar lewat pintu basemen sekarang juga!" perintah Arkan pada Baskara yang baru saja tiba dengan tim medis berpakaian sipil. "Dan kau, Kevin... mari kita lihat seberapa lama kau bisa mempertahankan senyum bodohmu itu."

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!