Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Laporan Autopsi
BERHENTI ✋
Tunggu dulu sebentar ✋
Mulai dari bab ini dan di bab tertentu kedepan, tulisannya akan mengandung konten sensitif 🛑 Jadi, mohon kebijaksanaan temen-temen untuk memahami kisah yang diceritakan di sini ya. Terima kasih.
#
#
#
Addam terbangun ketika terik cahaya matahari telah menerobos masuk melewati lubang ventilasi yang berada di atas pintu dan jendela.
Sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya, lengan Addam bergerak mencari keberadaan ponsel untuk mengecek waktu yang telah berlalu ketika dirinya terlelap. Dilihatnya jam di layar ponselnya telah menunjukkan angka 10:28.
“Ya ampun!” Addam mengerjapkan kedua matanya dengan cepat. Ia beberapa kali mengucek kedua matanya itu seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Sebab selain melihat waktu yang terpampang di sana, Addam juga melihat beberapa panggilan tidak terjawab dan pesan masuk dari Mahesa.
Addam bergegas untuk bangkit dari tempat tidurnya sambil menyusun kembali rencana yang pernah tercatat dalam memorinya.
Addam mendadak teringat sebuah hal penting yang sempat luput dari pikirannya. Hari itu seharusnya Addam memastikan konten yang sudah disiapkannya telah benar-benar siap diunggah ke sosial media miliknya.
Namun sebelum memulai semua itu, Addam terlebih dulu berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Yah, setidaknya percikan air yang mengenai wajahnya bisa membantunya berpikir lebih baik.
Mengingat kejadian yang sudah dilaluinya sampai tadi malam, sebenarnya Addam merasa energinya masih belum pulih dengan benar. Kepalanya masih terasa berdenyut hebat ketika bayangan tentang nasib Astrid muncul dalam pikirannya.
Selesai membasuh wajahnya, Addam berjalan pelan mendekati pintu dan membukanya perlahan. Cahaya matahari yang menyilaukan pandangan seperti berebut masuk hingga membuat Addam memejamkan kedua matanya sesaat.
Melangkah lebih depan ke arah balkon, Addam bisa melihat tetangga-tetangga barunya–yang saat itu didominasi oleh ibu rumah tangga–tengah berkumpul di teras Bu Lela di bawah sana.
Saat itu Addam berpikir bahwa mungkin sudah menjadi hukum alam jika kebanyakan wanita memang senang berkumpul dan bercengkrama.
Namun diantara sejumlah orang yang berlalu lalang di sekitar sana, pandangan mata Addam menangkap sosok pria yang sudah sangat ia kenal dengan baik. Terlebih lagi jaket kulit yang dipakainya itu, masih segar ingatan Addam tentang bagaimana kerennya jaket itu diantara lampu kafe yang temaram tadi malam.
“Mahesa?” gumam Addam.
Ia terus memperhatikan Mahesa yang saat itu tampak menghampiri kumpulan tetangganya dan terlihat jelas telah terjadi perbincangan yang sangat singkat.
Dari sana, Addam bisa melihat Mahesa mendongak ke arahnya hingga tatapan mereka akhirnya bertemu. Tampaklah kini Mahesa berjalan dengan langkah yang lebih cepat.
“Dam,” Mahesa memanggil Addam yang masih berdiri di tempatnya.
Dari cara Addam menatap Mahesa yang berjalan ke arahnya, jelas sekali telah muncul banyak pertanyaan dalam benak Addam.
Terlebih ketika ia menyadari bahwa Mahesa datang membawa sepucuk amplop coklat dalam genggamannya.
“Sa? Lo ke sini?” tanya Addam tepat setelah Mahesa menghentikan langkahnya. Kedua pria jangkung itu kini berhadapan di depan pintu kontrakan Addam.
“Sorry kalau gue lancang, Dam. Tapi setelah gue tahu cerita lo, gue gak bisa tidur dan akhirnya gue mutusin buat balik lagi ke kantor,” tutur Mahesa.
“Terus gimana, Sa?” Addam yakin bahwa Mahesa pasti telah menemukan sesuatu yang luar biasa sampai membawa Mahesa datang langsung menemuinya.
“Pertama, gue minta maaf kalau kedatangan gue cukup bikin lo terkejut. Kedua, gue emang nemu sesuatu. Tapi sayangnya temuan gue ini belum ada kaitan yang pasti sama Astrid. Masih sebatas dugaan gue aja, Dam,” Mahesa mengistirahatkan lengannya di tepi pagar balkon.
“Eh bentar. Ayo masuk. Kita ngobrol di dalem,” ajak Addam.
Dalam kontrakan sederhana dengan dua petak itu, sebagian besar barang pribadi Addam ditempatkan pada lemari yang ia simpan di petak kedua, tak jauh dari tempat tidurnya.
Tak heran jika petak pertama kontrakan miliknya masih memiliki area kosong yang cukup luas. Addam hanya meletakkan sebuah helem berwarna hitam di sudut ruangan itu untuk mengisi kekosongan yang terlalu nyata.
Addam dan Mahesa kini duduk bersila di lantai. Amplop coklat yang menarik perhatian Addam itu akhirnya Mahesa keluarkan isinya.
Dari sana, Mahesa menunjukkan beberapa lembar kertas dengan gambar yang tercetak rapi.
Tatapan Addam kala itu jelas sekali tengah bertanya tentang apa sebenarnya semua gambar yang Mahesa bawa saat itu.
“Gue udah cetak lagi foto barang bukti dari kasus yang sempat lo tanyain. Gak mungkin kan gue bawa barangnya ke sini?” kata Mahesa sambil melihat lagi kertas-kertas yang ia bawa.
Jika diperhatikan lagi, kertas itu telah Mahesa bagi menjadi dua kelompok yang dipisah menggunakan klip kertas.
“Ini kasus yang pertama,” Mahesa meletakkan satu set kertas itu di sebelah kanannya, dan satu lagi di sebelah kiri. “Ini kasus yang baru kejadian beberapa hari lalu.”
Kemudian, Mahesa memperlihatkan sebuah potret dari masing-masing set kertas itu pada Addam tanpa membuka klipnya.
“Lo lihat ini, deh.” Mahesa menunjukkan kedua gambar itu pada Addam.
Addam bergidik ngeri seketika kala ia melihat gambar yang tercetak di sana. Bagaimana tidak, gambar yang Mahesa tunjukan adalah potret mengerikan yang baru Addam lihat pertama kali seumur hidupnya.
Pada gambar pertama, Addam melihat sesosok jasad wanita berbalut gaun putih yang tubuhnya telah sangat membengkak karena terus berada di dalam air.
Jasadnya memang sudah hampir rusak tetapi masih bisa dikenali walaupun cukup sulit. Namun mengingat bahwa hal itu adalah sebuah kenyataan yang benar-benar terjadi, tetap saja Addam merasa sangat terkejut.
Lalu pada gambar kedua yang berada di set kedua, Addam melihat sesosok wanita yang terbujur kaku dan meringkuk di dalam sebuah koper.
Foto yang ditunjukkan Mahesa saat ini tak kalah seram dari foto pertama. Sebab di sana, kepala wanita berbalut gaun putih itu tampak terbungkus plastik bening yang bagian lehernya dililit solasi. Addam ikut merasa sesak melihat foto jasad wanita malang itu.
Ia kini hanya bisa meringis melihat gambar-gambar yang telah Mahesa tunjukan padanya.
“Menurut lo, penyebab kedua korban ini kehilangan nyawa mereka karena apa, Dam?”
“Yah… Yang pertama karena tenggelam, yang kedua karena kehabisan nafas, mungkin?” Addam mengendikkan bahunya. Ia mengatakan hal itu dengan sangat ragu.
Tak membiarkan Addam larut dalam pertanyaan membingungkan itu, Mahesa lanjut menunjukkan lembaran kertas lain pada Addam.
Kali ini, baik set pertama maupun set kedua sama-sama menunjukkan sebuah tulisan dengan keterangan ‘Laporan Autopsi’ di bagian atasnya.
“Eh bentar...” Addam menahan Mahesa melanjutkan ucapannya.
“Kenapa, Dam?” Mahesa balik bertanya.
“Gue mau lihat foto yang tadi lagi, Sa. Korban yang kedua,” kata Addam.
Melihat raut wajah Addam yang berubah tegang, Mahesa bisa menebak bahwa pasti ada sesuatu yang tengah melaju cepat dalam isi kepala sahabatnya itu.
“Nih...” Mahesa mengulurkan dokumen tentang korban dari kasus kedua. “Kenapa, Dam?”
Addam tampak mengoperasikan ponselnya seraya menerima dokumen pemberian Mahesa. Lalu pria itu mensejajarkan kedua benda yang ada ditangannya.
“SA!” kedua mata Addam melebar. Dokumen kasus dan ponselnya itu kini Addam tunjukkan pada Mahesa.
“Dam?! Ini?!”