Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di antara dua panggilan
...****************...
Pikiranku tidak tenang.
Sejak kejadian pagi tadi, dadaku terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa kusebutkan namanya.
Sepulang kerja, aku berdiri cukup lama di parkiran.
Tanganku sudah memegang kunci mobil.
Niatku satu ke rumah Linda.
Aku merasa belum selesai.
Belum menutup apa pun dengan benar.
Saat mesin mobil belum sempat dinyalakan, ponselku bergetar.
Hana calling.
Aku terdiam beberapa detik, lalu mengangkatnya.
“Assalamualaikum… iya, Han?”
“Ada apa? Tumben nelpon.”
“Waalaikumsalam, Ka…” suaranya terdengar pelan.
“Nggak kenapa-kenapa sih. Cuma mau ngobrol ringan aja. Kamu sibuk ya?”
“Nggak kok,” jawabku.
“Baru siap-siap mau pulang aja, hehe.”
Ia menarik napas di seberang sana.
“Ka… tanah kuburan belum juga kering, tapi WA-ku udah banyak yang aneh-aneh.”
Aku mengernyit.
“Aneh gimana?”
“Hmm… kayak orang-orang lagi ngedeketin gitu,” katanya ragu.
“Agak risih, hiks.”
“Siapa aja emangnya, Han?”
“Hmmm… ada temen bisnis suamiku dulu,” ia tertawa kecil, hambar.
“Dia udah punya istri loh, Ka. Ih… gila kali.”
Aku terdiam, membiarkannya melanjutkan.
“Ada juga temen suamiku,” lanjutnya.
“Tapi…”
“Tapi apa?” tanyaku pelan.
“Dia bokek orangnya,” katanya cepat, lalu tertawa kecil.
“Sampai sekarang aja belum nikah. Hmzzz… matre ya aku, Ka? Wkakakak.”
Matre?
Kata itu membuatku refleks menggeleng, meski ia tak bisa melihatku. Di kepalaku justru terlintas satu hal sederhana.
Ia perempuan.
Ia ibu dari tiga anak.
Ia baru kehilangan sandaran hidupnya.
Wajar.
“Ya gapapa lah,” kataku akhirnya sambil tersenyum tipis.
“Manusiawi. Berarti kamu perempuan asli,” candaku.
Hana tertawa kecil.
Tawanya singkat.
“Nah terus ya, Ka…” suaranya kembali menurun.
“Tadi juga ada yang tiba-tiba datang ke rumah. Sok perhatian gitu ke anak-anak.”
Dadaku mengeras.
“Aku malah jadi aneh sendiri,” lanjutnya.
“Karena nggak biasa kan ya? Ih… gimana ya Allah, risih banget.”
Ia terdiam sejenak.
“Aku tuh, Ka… masih keinget suamiku.”
“Nggak ada lah aku secepat itu lupain dia. Ya Allah…”
Suaranya pecah di ujung kalimat.
Aku menggenggam ponselku lebih erat.
Mulutku terbuka, tapi tak ada kata yang langsung keluar.
Di satu sisi kota, ada Linda marah, terluka, menungguku datang.
Di sisi lain, ada Hana rapuh, jujur, bahkan tak sadar betapa kata-katanya menahan langkahku.
“Han…” kataku pelan.
“Kamu nggak salah ngerasa kayak gitu.”
Ia terdiam.
“Kamu nggak perlu buru-buru apa pun,” lanjutku.
“Yang penting kamu dan anak-anak aman dulu. Itu aja.”
“Iya, Ka…” jawabnya lirih.
“Makasih ya… udah dengerin.” Katanya sedikit ceria.
Telepon ditutup.
Aku menatap layar ponsel yang kini gelap.
Mobil masih terparkir.
Mesin belum menyala.
...----------------...
Aku memarkir mobil tepat di depan rumahnya.
Lampu teras menyala, tapi rumah itu terasa sepi.
Saat aku menengadah, kulihat Linda di balkon kamarnya.
Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, ponsel di tangannya. Wajahnya terlihat kosong bukan marah, tapi lelah. Aku langsung menelponnya.
“Sayang, turun. Aku di bawah.”
Ia mengangkat telepon tanpa berdiri.
Hanya melirik ke bawah, memastikan aku benar-benar ada di sana.
“Ngapain kamu ke sini?” suaranya datar, ketus.
“Aku mau ketemu kamu. Kita ngobrol baik-baik,” jawabku.
Hening beberapa detik.
“Sayang… buka pintunya dulu,” lanjutku, nadaku ditahan supaya tetap tenang.
“Tinggal panggil aja si mba,” katanya dingin.
“Nanti mba yang bukain pintu. Kamu langsung naik ke atas.”
Aku terdiam sejenak.
Biasanya, ia akan turun.
Biasanya, ia akan membuka pintu sendiri.
Biasanya, ada sambutan sekecil apa pun.
“Linda…” panggilku pelan lewat telepon.
“Aku ke sini karena aku peduli.”
Ia tertawa kecil. Bukan tawa senang.
“Peduli?”
“Kalau peduli, kamu nggak bakal ninggalin aku pagi tadi.”
Aku mengusap wajahku.
“Kita sama-sama emosi. Aku cuma pengen ngobrol.”
“Ngobrol itu dari kemarin bisa,” balasnya cepat.
“Tapi kamu lebih milih ke sana.”
Kalimat itu seperti garis batas.
Aku menarik napas panjang.
“Baik. Aku naik.”
Aku memutuskan telepon dan menekan bel rumah. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.
Bukan Linda. Mbak rumah tangga itu tersenyum sopan.
“Silakan Mas Raka.”
Aku melangkah masuk.
Tangga ke lantai atas terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap anak tangga seperti membawa satu pertanyaan.
Aku datang untuk memperbaiki atau hanya untuk memastikan bahwa semuanya memang sudah berubah?
Saat aku sampai di depan kamar, pintunya terbuka setengah. Linda masih duduk di balkon, membelakangiku.
Tidak langsung menoleh.
Tidak menyapaku. Dan di detik itu aku sadar aku sudah datang, tapi belum tentu diterima.
“Aku nggak ada apa-apa kok sama Hana, sayang…” kataku pelan.
“Kamu cemburu ya?”
Aku tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana.
“Baru kali ini aku lihat kamu secemburu ini. Takut juga lihat Linda marah.”
Ia akhirnya menoleh. Dan tersenyum Tapi senyumnya bukan senyum manja melainkan sinis.
“Hmzz… mau coba goda aku?” katanya pelan.
“Kamu aja belum bisa jelasin semalam ngapain.”
“Aku udah bilang kan,” jawabku, mendekat sedikit.
“Aku cuma bantu dia sedikit aja.”
“Sedikit apa?” tanyanya cepat.
“Aku cuma dengerin dia curhat,” kataku jujur.
“Nggak lebih. Nggak ngapa-ngapain.”
Ia menatapku lama.
Seolah mencoba membaca sesuatu yang bahkan aku sendiri belum sepenuhnya pahami. Aku menunduk, lalu mengecup keningnya singkat.
Gerakan kecil tapi cukup untuk membuat jarak di antara kami menghilang.
“Udah ya ngambeknya,” bisikku.
“Sekarang udah gelap. Aku pulang ya.”
“Jangan…” katanya cepat.
Tangannya meraih lenganku.
Nada suaranya berubah lebih lembut, lebih manja.
“Ih… aku kangen kamu. Udah lama.”
Aku terdiam.
Kami masih duduk di balkon. Angin malam menggerakkan rambutnya pelan. Lampu kamar menyala redup dari dalam, memantulkan bayangan kami di kaca pintu geser.
“Aku kangen kamu…” bisiknya lagi.
Kali ini aku tidak menjawab dengan kata-kata.
Aku berdiri, menggenggam tangannya perlahan. Ia ikut bangkit tanpa perlawanan. Tatapannya berubah tidak lagi sinis, tidak lagi marah. Ada sesuatu yang lebih lembut, tapi juga lebih menuntut.
Aku menariknya masuk ke kamar. Pintu balkon kututup perlahan. Suara gesernya terdengar pelan namun tegas.
Lalu aku mengunci jendelanya, memutar gagang hingga benar-benar rapat. Angin malam berhenti masuk. Linda memperhatikanku tanpa berkedip.
Aku melangkah ke arah pintu kamar dan menutupnya.
Klik.
Sunyi.
Lampu utama kupadamkan.
Yang tersisa hanya cahaya temaram dari lampu tidur di sudut ruangan.
Suasana berubah.
Lebih dekat.
Lebih hangat.
Lebih pribadi.
Linda berjalan mendekat. Tangannya menyentuh dadaku pelan, merapikan kerah bajuku seolah mencari alasan untuk menyentuh lebih lama.
“Kamu masih mau pulang?” tanyanya pelan.
Aku menggeleng kecil.
Tanganku naik ke wajahnya. Ibu jariku menyentuh pipinya, mengusap lembut sisa ketegangan yang tadi ada. Lalu aku menunduk. Ciuman pertama malam itu pelan. Tidak tergesa. Seperti memastikan satu sama lain masih di tempat yang sama.
Linda membalasnya lebih dalam. Tangannya melingkar di leherku, menarikku lebih dekat. Jarak di antara kami benar-benar hilang.
Napas kami mulai tidak teratur. Aku merasakan jemarinya menggenggam punggungku, seolah takut aku akan pergi lagi. Sentuhan itu bukan hanya rindu itu tuntutan. Itu kepemilikan.
Aku membalasnya dengan lebih hangat. Mencium keningnya. Pipi. Lalu kembali ke bibirnya yang kini tidak lagi menahan diri.
Tubuhnya terasa hangat di pelukanku.
Dan untuk beberapa saat… dunia di luar kamar itu tidak ada.
Tidak ada Hana.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada pilihan.
Hanya kami.
Malam itu bukan tentang siapa yang benar.
Bukan tentang siapa yang akan dipilih.
Malam itu tentang dua orang yang sama-sama takut kehilangan. dan memilih saling menguatkan dengan cara yang paling dekat yang mereka tahu.
Dan sekali lagi, aku membiarkan diriku tenggelam dalam hangatnya.
Linda sangat menikmatinya hingga ia membuat erangan berkali kali dan meremas kepalaku. Ia begitu agresif dan aktif. Rasa lelah sepanjang hari kini tidak terasa. Kami mencapai klimaks kenikmatan malam ini.
Arghhhhshhh arghhccchhh cup cup.. Lagiii.. Arghhh sampai mentokk sayang.....