Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 18: Pendatang masa lalu
Reggiano mengambil napas dalam, merasakan sisa-sisa energi dari penyembuhan Vince yang masih bergetar halus di ujung jarinya. Meskipun toko sedang sepi di jam makan siang yang hangat, instingnya sebagai mantan eksekutor, yang kini diperkuat oleh intuisi Penjaga, berbisik bahwa ketenangan ini hanyalah selimut tipis yang menutupi bara api yang siap menyalak.
"Nona Florence," panggil Reggiano dengan nada formal yang tenang namun sangat tegas. "Saya akan memastikan keamanan terlebih dahulu. Tamu terakhir yang anda sebutkan... saya ingin dia tahu bahwa dia sedang memasuki wilayah yang dijaga ketat, bukan sekadar toko bunga biasa."
Seraphine hanya mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan, terus memoles etalase kaca hingga berkilau.
"Lakukan apa yang harus anda lakukan, Tuan Herbert. Pastikan saja mawar-mawar itu tidak menggigit pelanggan yang salah."
Reggiano kemudian melangkah ke pintu depan dan berdiri sejenak di ambang pintu, berpura-pura sedang memeriksa cuaca sore yang cerah. Namun, jauh di bawah permukaan, kesadarannya menyelam ke dalam aspal dan tanah di bawah fondasi Flower’s Patisserie. Melalui tanda mawar emas di pergelangan tangannya, ia mengirimkan perintah yang presisi untuk membangun jaring tak terlihat.
Ia memerintahkan akar pohon ek kuno di bawah trotoar untuk membentuk jalinan silang yang disebut Akar Penjerat. Jika seseorang dengan niat membunuh atau aura merah pekat melangkah di atasnya, akar ini akan mengeras seketika dan mengunci kaki mereka ke bumi dalam hitungan milidetik.
Di sela-sela tanaman merambat yang menghiasi dinding luar toko, Reggiano menumbuhkan Sensor Duri, duri-duri mikroskopis yang mengandung Darah Bumi yang akan bergetar hebat jika mendeteksi frekuensi sihir musuh atau teknologi sensor Organisasi.
Sebagai lapisan pertahanan terakhir, ia menanamkan energi penenang pada bunga-bunga di pot depan, menciptakan Kabut Penenang yang membuat pelanggan biasa merasa damai, namun akan membuat mereka yang berniat buruk merasa pusing dan kehilangan fokus sebelum sempat menyentuh gagang pintu.
Setelah selesai, Reggiano kembali masuk ke dalam. Di mata manusia biasa, tidak ada yang berubah sedikit pun, namun bagi Reggiano, toko itu kini dikelilingi oleh jaring emas yang siap meledak jika dipicu oleh ancaman. Ia kembali mengenakan celemek cadangan dan membantu Seraphine menjalankan rutinitas toko, sebuah sisi manusia sang Penjaga yang terasa hampir surealis.
"Kakak, bisa bantu aku angkat nampan croissant ini?" seru Elena dengan riang dari arah dapur.
Reggiano tersenyum kecil, sebuah ekspresi yang sangat jarang ia tunjukkan di masa lalu yang kelam.
"Tentu saja, Elena."
Ia mengangkat nampan panas itu dengan tangan yang biasanya memegang senapan runduk dengan dingin.
Aroma mentega yang gurih dan ragi yang mengembang memenuhi udara, memberikan rasa hangat yang asing namun sangat menyenangkan di dadanya. Selama beberapa jam berikutnya, ia benar-benar menjadi Tuan Herbert sang pelayan toko yang teladan, Ia melayani seorang ibu muda dengan sabar, menjelaskan perbedaan selai mawar organik dan selai beri hutan, bahkan memberikan diskon kecil saat anak ibu itu menatap kagum pada mawar di etalase.
Sore harinya, seorang sastrawan tua datang untuk menulis di sudut ruangan, dan Reggiano memastikan suasana tetap tenang dengan secara halus memerintahkan akar di bawah lantai untuk berhenti bergeser agar meja sang sastrawan tidak bergoyang sedikit pun. Saat Vince terbangun dari istirahatnya, Reggiano memberinya sepotong roti gandum hangat.
"Kau tampak lebih bahagia menjadi tukang roti daripada pembunuh, kawan," bisik Vince sambil menatap Reggiano lama.
"Aku tidak hanya memanggang roti, Vince," jawab Reggiano sambil mengelap meja dengan telaten. "Aku sedang melakukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara logika."
"Ya, seorang pembunuh menjadi tukang roti... " gumam Vince sembari memakan roti miliknya.
Matahari mulai condong ke barat, melemparkan bayangan panjang yang dramatis di atas lantai kayu toko. Cahaya oranye keemasan menyentuh tanda mawar di tangan Reggiano, membuatnya tampak seperti perhiasan mewah daripada tanda kutukan. Keadaan benar-benar tenang, tidak ada ledakan, tidak ada intelijen yang mengintai, hanya suara detak jam dinding yang berirama. Namun, Reggiano tahu bahwa ini adalah ketenangan sebelum badai besar.
"Nona Florence," ucap Reggiano sambil melepas celemek nya saat jam menunjukkan pukul enam sore tepat.
"Toko hampir tutup. Persiapan saya sudah selesai sepenuhnya."
Seraphine menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat dengan tatapan yang dalam.
"Bagus, Tuan Herbert. Karena matahari sudah tenggelam, dan pelanggan terakhir kita baru saja menginjakkan kaki di jaring akar anda."
Reggiano merasakan getaran halus yang konstan di pergelangan tangannya. Seseorang sedang berdiri tepat di depan toko.
Aura orang itu terasa sangat berat, dan penuh wibawa, sama sekali bukan tipe orang yang membawa niat membunuh yang kasar, namun kehadirannya sanggup membuat udara di dalam toko mendadak menjadi statis.
Lonceng pintu berdenting pelan saat gagang pintu mulai berputar. Pria tua berjubah abu-abu dengan mata yang menyerupai mata Reggiano melangkah masuk, memecah keheningan.
"Jadi, kau benar-benar masih hidup, Reggiano," suara pria itu berat dan berwibawa. "Dan kau mengenakan tanda mawar emas itu seolah-olah kau adalah pemiliknya sejak lahir."
Reggiano tidak mengendurkan kewaspadaannya sedikit pun, tangannya siap memanggil sabit emasnya. "Siapa anda? Dan bagaimana anda bisa melewati jebakan akar saya tanpa memicu satu pun duri?"
Pria tua itu, yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Malachai, tersenyum tipis. "Jebakan mu sangat rapi untuk seorang pemula, Tuan Herbert. Tapi kau tidak bisa menjerat seseorang yang mengajari ibumu cara menanam benih pertama di taman ini."
Reggiano tertegun, amarah dan rasa penasaran bergejolak di dadanya. "Jika anda mengenal ibu saya, maka anda tahu mengapa dia harus mati secara tragis. Katakan pada saya, apakah anda di sini untuk mengambil kunci yang dia tinggalkan, atau untuk membalas dendam atas pengkhianatan nya?"
"Ibumu tidak berkhianat, Reggiano," sahut Malachai dengan nada sedih.
"Dia melarikan diri karena membawa Benih Fajar yang asli. Aku di sini karena merasakan Darah Bumi telah terbangun, ancaman sebenarnya adalah mereka yang ingin memanen darahmu untuk menyirami pohon yang layu di bawah sana."
Reggiano menatap tanda di tangannya yang kini berdenyut kencang. "Jadi, selama ini saya adalah kunci hidupnya?"
"Dan sekarang, kau baru saja memutar kuncinya di depan semua orang," jawab Malachai sambil menyerahkan sebuah kristal hijau yang berdenyut.
"Gunakan ini untuk memperkuat bilah emasmu. Kau akan membutuhkannya malam ini."
Reggiano menerima kristal itu, merasakan aliran listrik dingin menyambar lengannya. Ia menatap Malachai dengan tajam.
"Jika mereka ingin memanen darah saya, mereka harus bersiap untuk menjadi pupuk bagi taman ini."
Reggiano menggenggam kristal hijau pemberian Malachai itu dengan erat, merasakan energi dingin yang seolah mencoba menyatu dengan Darah Bumi di dalam nadinya. Namun, alih-alih langsung menelan kekuatan itu atau segera bergerak menuju ruang bawah tanah, ia justru memasukkan kristal tersebut ke dalam saku jasnya. Ketegangan yang baru saja memuncak itu mendadak ia redam dengan sebuah hembusan napas yang panjang dan terkontrol.
"Tuan Malachai," ucap Seraphine dengan nada yang lembut.
"Meskipun berita yang anda bawa sangat mendesak, jam operasional Flower’s Patisserie belum sepenuhnya berakhir. Kami masih memiliki sepuluh menit sebelum gerbang pintu benar-benar diturunkan. Di taman ini, kedisiplinan terhadap rutinitas adalah cara kami menjaga kewarasan."
Malachai tampak sedikit tertegun, alisnya yang memutih terangkat karena terkejut. Namun, melihat ketenangan di wajah Seraphine, pria tua itu tertawa pendek dengan suara yang menyerupai gesekan ranting kering.
"Hahaha! Baiklah, kamu begitu mirip dengan seseorang.. Dia juga selalu bersikeras menyiram mawar-mawarnya tepat waktu, bahkan ketika badai salju sedang menghantam jendela."
Seraphine tidak membalas pujian itu. Ia berbalik, melangkah kembali ke balik meja kasir kayu yang beraroma kayu manis dan mentega. Reggiano, yang sejak tadi hanya mengamati, memberikan anggukan samar yang penuh makna. Ia mengerti bahwa bagi Seraphine, menjalankan toko di saat-saat terakhir ini adalah bentuk meditasi, sebuah cara untuk menstabilkan aura emasnya yang liar sebelum ia benar-benar harus menghadapi kegelapan yang sesungguhnya.
TING!
Denting lonceng pintu kembali berbunyi.
Seorang pelanggan masuk, seorang wanita muda yang tampak sangat letih dengan tas belanjaan berat di tangannya. Ia tampak seperti warga kota biasa yang tidak memiliki sangkut paut dengan dunia mistis, namun bagi Seraphine, wanita itu tampak sedang dikelilingi oleh asap kelabu tipis, stres dan keputusasaan kota besar yang perlahan menggerogoti jiwanya.
"Selamat malam. Masih ada roti sisa untuk hari ini?" tanya wanita itu dengan suara serak.
Seraphine menatap etalase. Hanya tersisa dua buah brioche madu dan satu loyang kecil pai apel yang masih hangat.
"Tentu, Nyonya. Kebetulan ini adalah panggangan terakhir kami hari ini, anda datang di waktu yang sangat tepat."
Dengan gerakan tangan yang luar biasa tenang dan elegan, Seraphine mengambil roti-roti itu. Ia tidak hanya membungkusnya, saat tangannya bergerak di atas roti, ia secara halus menyalurkan sedikit, sangat sedikit, energi penenang dari tanda mawar emasnya ke dalam bungkus kertas cokelat tersebut. Ia ingin pelanggan terakhir ini mendapatkan tidur yang paling nyenyak yang pernah ia rasakan, bebas dari asap kelabu yang menghantuinya.
"Ini untuk anda. Tidak perlu membayar penuh, anggap saja ini hadiah penutupan toko dari kami," ucap Seraphine sambil menyerahkan bungkusan itu.
Wanita itu tampak terkejut, namun senyum tulus perlahan mengembang di wajahnya yang lelah.
"Terima kasih banyak, Nona... Anda sangat baik."
Saat wanita itu keluar, Reggiano melirik Seraphine dan menatap punggung wanita itu hingga menghilang di balik kegelapan jalanan. Ia merasa bahwa tugasnya untuk hari ini sebagai pelayan harus mengamati setiap pembeli yang berbeda.
Seraphine kemudian melangkah ke pintu, memutar papan tanda dari OPEN menjadi CLOSED, dan menurunkan gerendel besi dengan bunyi dentang yang berat dan final.
Suasana di dalam toko mendadak berubah. Cahaya lampu yang tadinya hangat kini tampak lebih tajam, menyoroti Malachai yang masih berdiri di sudut ruangan seperti sebuah patung kuno. Vince, yang sejak tadi hanya menyimak dari pojok dapur dengan mata membelalak, akhirnya angkat bicara dengan suara gemetar.
"Reggiano... jadi kau benar-benar akan turun ke bawah sana? Bersama kakek penyihir ini?"
Reggiano menoleh ke arah Vince. "Vince, kau sudah aman di sini. Nona Florence telah memasang perlindungan yang tidak akan bisa ditembus oleh siapa pun dari Organisasi. Tetaplah di atas bersama Elena. Jika kau mendengar suara gemuruh dari bawah lantai, jangan takut. Itu hanya bumi yang sedang bernapas."
Reggiano kemudian melepas celemek nya untuk terakhir kali hari itu, melipatnya dengan rapi di atas meja. Ia mengeluarkan kristal hijau dari sakunya dan memegangnya di depan dadanya.
Seketika, tanda mawar emas di lengannya bereaksi, sulur-sulurnya memanjang keluar dari kulit, melilit kristal itu dengan gerakan lapar.
Cahaya hijau dan emas menyatu di dalam kepalan tangan Reggiano, menciptakan pijar yang menerangi seluruh ruangan hingga ke sudut-sudut paling gelap. Sabit emas raksasanya, The Reaper’s Thorn, termanifestasi kembali, namun kali ini ukurannya sedikit lebih ramping dengan bilah yang lebih tajam dan berpendar dengan aura dua warna yang mengerikan.
"Persiapan saya sebagai manusia telah selesai, Malachai," ucap Reggiano, suaranya kini sepenuhnya berubah menjadi suara seorang Penjaga yang siap berperang.
"Sekarang, mari kita bicara tentang Gerbang Eden. Apa yang harus saya lakukan pertama kali saat kaki saya menyentuh akar pohon yang kau katakan layu itu?"
Seraphine melangkah ke tengah ruangan, tepat di atas lingkaran kayu rahasia. Ia meletakkan tangannya di atas lantai, dan seketika, kayu-kayu itu mulai bergeser, membuka sebuah lubang yang menampakkan tangga spiral yang terbuat dari jalinan akar pohon raksasa yang seolah menembus inti dunia.
"Pertama-tama," sahut Malachai sambil melangkah menuju lubang itu,
"Kau harus memastikan bahwa hatimu tidak memiliki keraguan. Karena di bawah sana, pohon itu tidak hanya akan menguji kekuatan fisikmu, ia akan membedah setiap dosamu di masa lalu untuk melihat apakah darahmu cukup murni untuk menyembuhkannya."
Reggiano menatap tangga yang gelap dan tak berujung itu. Ia memikirkan ibunya, ia memikirkan Elena yang sedang tertidur di atas, dan ia memikirkan setiap nyawa yang pernah ia cabut di masa lalunya yang kelam. Ia menggenggam erat sabit emasnya, merasakan beratnya takdir yang kini benar-benar ia pikul.
"Jika dosa saya bisa menjadi pupuk yang menghidupkan kembali pohon itu," ucap Reggiano dengan tatapan yang sangat dingin dan bertekad, "maka biarkan pohon itu memakan semua masa lalu saya."
Reggiano Herbert melangkah maju, kakinya menginjak anak tangga pertama dari akar purba itu. Ia mulai turun ke kegelapan, diikuti oleh Seraphine dan Malachai, meninggalkan cahaya lampu toko yang hangat menuju rahasia terdalam bumi yang telah menunggunya selama tiga puluh tahun.