NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tumbal Keberuntungan

"Abah punya firasat," ucap Abah Kosasih tenang sambil menyulut rokok klobotnya.

"Dia bukan lagi bagian dari keluarga Wibowo yang panas itu. Dia sekarang Hidayat, petunjuk bagi kita."

Bocah kecil berusia lima tahun itu, yang selama ini dipanggil dengan nama yang diberikan keluarga ayahnya yang sombong, kini tersenyum lebar hingga matanya menyipit.

Ia memeluk lutut Abah Kosasih.

"Tari suka, Bah! Tari suka nama itu!" serunya riang.

"Rasanya adem di hati."

Dia adalah Sri, energi kesuburan itu sendiri, dan nama barunya, "Sri Lestari" adalah kunci yang membuka pintu keberkahannya.

Abah Kosasih tertawa terkekeh.

"Tuh, bocah saja ngerti. Ya sudah, besok Abah urus ke Pak Lurah biar ganti kartu keluarga. Kita buang sial nama Wibowo itu."

Tari mengangguk mantap.

Dalam hati kecilnya, ia berikrar: Aku bukan lagi anak pembawa sial keluarga Wibowo. Aku Sri Lestari Hidayat, cucu Abah Kosasih.

Keesokan harinya, Kang Jaka meminjam mobil pick-up bak terbuka milik tetangga untuk mengantar Kinar dan Tari ke kota kabupaten.

Mereka harus ke dokter spesialis karena Tari masih sering terlihat pucat dan lemas.

Sepanjang perjalanan melintasi jalan berbatu yang membelah persawahan, Tari tertidur di pangkuan ibunya.

Angin semilir membuat rambut tipisnya melambai.

Sementara itu, di sebuah lapangan pacuan kuda elit di pinggiran Jakarta Selatan...

Suryo Wibowo memacu kuda impor Australia kesayangannya dengan brutal.

Wajahnya merah padam, penuh amarah.

Sejak Kinar dan anak itu pergi, bisnisnya macet total. Izin usahanya dipersulit anggota dewan, dan ibunya, Bu Darmi, mendadak sakit-sakitan tanpa sebab jelas.

"Lari! Saya bayar mahal buat beli kamu, bukan buat jalan santai!" hardik Suryo sambil mengayunkan cambuk kulitnya.

Ia tak peduli pada ringkikan kuda yang terdengar memilukan.

Ia tak melihat air mata yang menggenang di mata hewan gagah itu.

Baginya, kuda itu sama seperti Kinar dan anaknya, aset yang harus menurut. Jika membangkang, harus dicambuk.

Tapi hari ini berbeda.

Kuda itu merasakan aura gelap Suryo.

Saat Suryo melayangkan cambukan ketiga, kuda itu meronta liar.

Rasa sakit dan kepanikan membuatnya melompat tak terkendali.

Suryo, sang Juragan Besar yang biasa duduk nyaman di kursi empuk kantornya, terpelanting jatuh ke tanah berumput.

Bruk!

Ia berguling dua kali, kemeja sutranya kotor oleh tanah.

Kuda itu berdiri terengah-engah tak jauh darinya, matanya basah.

Suryo bangkit dengan napas memburu.

Ia merasa alam semesta sedang mempermainkannya.

Badannya sakit semua, padahal dulu ia jago tenis dan berkuda. Sejak "anak pembawa sial" itu pergi, energinya seperti terkuras.

Tiba-tiba ia teringat ucapan ibunya, Bu Darmi, semalam.

"Yo, mending kamu jemput anak itu. Kata orang pintar, anak itu tumbal keberuntunganmu. Biar dia jelek atau sakit-sakitan, kalau dia ada di rumah, rejeki kita lancar. Kasih saja makan enak, anggap sedekah, biar bisnis keluarga kita lancar lagi."

Suryo meludah ke tanah, jijik dengan ide itu.

"Saya ini Suryo Wibowo! Nasib saya di tangan saya, bukan di tangan bocah ingusan!"

Ia menatap kudanya dengan tatapan membunuh.

"Binatang sialan! Sekali lagi kau menjatuhkan saya, saya jual kau ke tukang jagal!"

Ancaman itu membuat kuda itu mundur ketakutan.

Suryo tersenyum sinis.

Ia merasa benar. Semua yang tidak patuh harus dihancurkan. Ia akan pulang, menjual kuda "pembangkang" ini, dan membeli yang baru. Semudah itu. Baginya, nyawa tak ada harganya.

Di kota kabupaten, Kinar dan Kang Jaka membawa Tari ke tempat praktik Dokter Gunawan, dokter paling terkenal di sana.

Tari terbangun, menatap sekeliling ruang tunggu yang berbau obat.

Ia tahu tubuhnya butuh obat mahal.

Tapi ia juga tahu uang pesangon ibunya terbatas. "Ibu jangan sedih..." batinnya.

Setelah diperiksa, Dokter Gunawan menulis resep.

"Anaknya kurang gizi dan stres, Bu Kinar. Ini saya kasih vitamin bagus dan obat racikan. Harus diminum rutin."

Di apotek, Kinar merogoh dompet kainnya.

Tiga ratus ribu rupiah, melayang begitu saja.

Kinar tak berkedip. Demi Tari.

Keluar dari apotek, Kinar ingin menghibur anaknya.

"Nduk, mau jajan apa? Tuh ada gulali, ada roti gambang, atau mau es krim?"

Kinar berjongkok, menatap wajah putrinya dengan sayang.

Ia rela tak makan asal Tari senang.

Tapi Tari menggeleng.

Ia melihat dompet ibunya yang makin tipis.

"Tari nggak mau yang manis-manis, Bu. Eneg."

"Lho? Kok gitu? Anak kecil kan sukanya manis," bujuk Kinar.

"Tari pengen yang gurih, Bu. Yang pedas-pedas kayak masakan Ibu. Kripik atau apa gitu..." Tari beralasan.

Padahal ia hanya ingin ibunya tak keluar uang lagi.

Mata Kinar berkaca-kaca.

Ia paham anaknya sedang berbohong demi menghemat uang.

Hatinya perih. Anak sekecil ini dipaksa dewasa oleh keadaan.

"Ya sudah," Kinar mengelus pipi Tari.

"Kita ke pasar ya. Ibu beli ikan sama tepung. Nanti Ibu bikinkan camilan pedas paling enak sedunia buat Nduk."

"Hore! Asyik!" Tari bersorak, kali ini senyumnya tulus.

Ia membayangkan masakan ibunya.

Aroma bumbu dapur di tangan Kinar selalu terasa ajaib, mungkin karena ada cinta di sana.

Sementara itu, Kang Jaka yang sedang menunggu di warung kopi dekat parkiran pick-up, tak sengaja mendengar percakapan menarik.

Di meja sebelah, duduk Kang Iwan, bekas tukang kebun di kompleks perumahan elit tempat keluarga Wibowo tinggal di Jakarta.

Kang Iwan sedang mudik.

"Eh, Kang Jaka? Pripun kabare?" sapa Kang Iwan.

Setelah basa-basi, Kang Iwan berbisik, "Kang, untung adik sampeyan, Dik Kinar, sudah cabut dari rumah Gedong itu. Sampeyan tahu? Keluarga Wibowo lagi 'panas'."

"Panas gimana, Kang?" tanya Jaka sambil menyeruput kopi hitamnya.

"Sial mulu. Kemarin gudangnya kebakar dikit, terus si Juragan Suryo jatuh dari kuda. Kata orang pinter yang dipanggil Bu Darmi, penolak balanya ilang. Rumah itu katanya 'kosong', nggak ada yang nahan energi jahat."

Jaka terdiam, tangannya mengepal di bawah meja.

Berita dari Kang Iwan itu membuat dada Kang Jaka bergemuruh sepanjang perjalanan pulang.

Mobil pick-up tua itu terguncang-guncang melewati jalanan desa yang mulai gelap.

Jaka melirik Tari yang tertidur lagi di bak belakang beralaskan tikar bersama Kinar.

Jadi selama ini keponakanku cuma dijadikan jimat? Dijadikan sapi perah buat keberuntungan si Suryo brengsek itu? batin Jaka geram.

Sesampainya di rumah Abah Kosasih, hari sudah senja.

Langit berwarna jingga kemerahan.

"Nduk tidur ya, capek," bisik Kinar sambil menggendong Tari masuk ke kamar.

Di dapur, Mira yang sedang hamil muda menyambut Kinar.

"Dik Kinar, gimana dokternya?"

"Alhamdulillah, Mbak. Cuma butuh istirahat sama makan enak," jawab Kinar sambil meletakkan bungkusan belanjaan dari pasar.

"Ini aku beli ikan tenggiri sama tepung kanji. Si Nduk nggak mau jajan, minta dibikinin camilan pedas."

Mira tersenyum.

"Walah, seleranya kok sama kayak Bapaknya... eh maksudku, kayak Pakdhe Jaka. Suka yang pedes-pedes."

Kinar tersenyum tipis, lalu mulai menyiangi ikan.

"Mbak Mira istirahat aja, biar aku yang ngerjain. Bau amis nanti enek lho."

"Nggak apa-apa, Dik. Si jabang bayi anteng kok. Malah aku pengen nyium bau bumbu masakanmu."

Dua wanita itu bekerja sama di dapur yang masih berlantai tanah namun bersih.

Kinar dengan cekatan memisahkan daging ikan dari tulangnya.

Anehnya, ikan yang dibeli Kinar terlihat biasa saja di pasar, tapi begitu tangan Kinar menyentuhnya, mungkin karena sisa energi Tari yang menempel di baju ibunya, daging ikan itu tampak sangat segar dan kenyal.

Kinar mengolah daging ikan menjadi adonan bakso goreng dan otak-otak.

Tulang ikannya tidak dibuang, tapi dibumbui bawang putih, ketumbar, dan cabai, lalu digoreng kering sampai krispi.

Aroma gurih dan pedas menguar memenuhi rumah kayu itu, bahkan tercium sampai ke jalan desa.

Tetangga yang lewat sampai menelan ludah.

"Baunya enak banget, Dik. Ini kalau dijual di depan SD atau di pasar kaget, pasti laku keras," celetuk Mira sambil mencicipi keripik tulang ikan yang baru matang.

"Kriuk banget!"

Kinar tertegun.

"Masak sih, Mbak? Apa laku jualan ginian di desa?"

"Laku, Dik! Di sini orang bosen makan singkong rebus. Kalau ada yang gurih-pedas murah meriah, pasti diserbu," Mira meyakinkan dengan semangat.

Mata Kinar berbinar.

Ide itu mulai tumbuh.

Dia tidak bisa terus-terusan mengandalkan tabungan. Dia harus mandiri demi Tari.

Malam harinya, Tari terbangun karena perut keroncongan mencium bau sedap.

Ia lari ke dapur dan melihat setoples penuh keripik tulang ikan dan bakso goreng.

"Ibu! Mau!"

Kinar menyuapi anaknya.

Tari mengunyah dengan lahap.

"Enak! Ibu jualan ini aja! Pasti Pakdhe, Budhe, sama tetangga suka!"

Melihat Tari makan dengan lahap, hati Kinar lega.

Wajah pucat anaknya mulai bersemu merah.

Tanpa sadar, setiap gigitan makanan yang dibuat dengan cinta itu memulihkan energi 'Dewi Sri' dalam diri Tari.

Saat makan malam, seluruh keluarga berkumpul di atas tikar, makan dengan menu sederhana tapi nikmat.

Abah Kosasih, Mak Sari, Jaka, Mira, Kinar, dan Tari.

Suasana hangat itu tiba-tiba berubah serius saat Jaka meletakkan piringnya.

"Bah, Mak, Dik Kinar... ada yang mau saya omongin," suara Jaka memberat.

Semua mata tertuju padanya.

"Tadi di kota, saya ketemu Kang Iwan. Dia bilang keluarga Wibowo lagi kena banyak musibah. Bisnis macet, Suryo jatuh dari kuda," Jaka menarik napas panjang.

"Mereka percaya itu karena Tari pergi. Mereka nganggap Tari itu 'tumbal keberuntungan'."

Sendok di tangan Kinar berdenting jatuh ke piring.

Wajahnya memucat.

"Maksud Kang Jaka?"

"Mereka mau ambil Tari lagi, Kin," ujar Jaka geram.

"Bukan karena sayang. Tapi buat jadi tameng sial mereka lagi. Biar bisnisnya lancar lagi."

Hening yang mencekam menyelimuti ruangan itu.

Di luar, angin menderu kencang, membuat api lampu petromaks bergoyang liar.

Tari yang sedang asyik mengunyah keripik ikan tiba-tiba berhenti. Matanya yang polos berubah tajam sesaat.

Di halaman belakang, pohon nangka tua mendadak menjatuhkan satu buahnya dengan suara berdebum keras, seolah alam pun marah mendengar niat jahat keluarga Wibowo.

Kinar memeluk Tari erat-erat.

"Langkahi dulu mayatku kalau mereka mau ambil anakku lagi."

1
mom SRA
mengikuti alur nya dr awal upah segitu untuk buruh tani kemahalan Thor..itu upah buruh tani di desaku sekarang
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!