*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 - Dualisme Pucuk Perampok
Kepalaku berdenyut hebat saat kesadaran perlahan kembali.
Kegelapan di belakang mataku memudar, digantikan oleh cahaya redup yang menyakitkan. Hal pertama yang menyambutku adalah bau busuk—campuran antara kayu lapuk, tanah lembap, dan keringat masam yang tak terbasuh.
Aku mencoba menggerakkan tangan, namun nihil. Pergelangan tanganku terikat kencang di belakang punggung. Punggungku bersandar dingin pada sebuah tiang kayu kasar—penyangga struktur sel ini—membuatku tidak bisa bergerak bebas. Hal berikutnya yang kuperiksa adalah Daya-ku. Rasanya hampa. Saluran Daya di tubuhku terasa kering kerontang, seolah diperas habis tanpa sisa.
Aku mengerjapkan mata, memaksa pandanganku untuk fokus.
Di dalam sel kayu yang dibangun asal-asalan ini, tiga orang lainnya terduduk gelisah. Tangan mereka juga terikat di belakang, namun beruntung tidak terikat ke tiang sepertiku. Fiora sedang berlutut di sudut, memeriksa kondisi pedagang laki-laki muda yang masih pingsan. Wajah pria itu membiru lebam dengan empat garis gelap sejajar—tanda mata dari "belaian" Mist Panther. Di sisi lain, pedagang gempal dan pedagang perempuan duduk berdempetan, saling membagi rasa takut dalam diam.
Sel kami berada di bawah bangunan tua yang dinding bagian depan dan samping kanannya sudah roboh, dengan beratapkan kulit hewan.
Aku mengamati tempat penahanan kami. Ini bukan sekadar kamp; ini adalah pemukiman kumuh yang dibangun di atas bangkai desa yang gagal.
Di tengah-tengah area terbuka, berdiri satu-satunya Pohon Palliton yang masih hidup. Daun-daunnya memancarkan pendar cahaya biru pucat yang suram, menjadi satu-satunya penerangan di tempat ini.
Bangunan-bangunan reyot dan tenda tambal sulam mengelilinginya seperti jamur liar. Di beberapa sudut, menara pengawas dari kayu sisa berdiri miring, sementara barikade kayu runcing menjaga jalur masuk. Pemandangan itu diperparah oleh keberadaan tunggul-tunggul Pohon Palliton lain yang besar, hitam, dan mati di lingkar luar kamp—seperti nisan raksasa bagi komunitas yang pernah mencoba bertahan hidup di sini, dan kalah.
"Zane? Kau sudah sadar?" bisik Fiora di sampingku. Wajahnya tampak lelah, ada goresan lumpur di pipinya.
"Apa yang terjadi?" tanyaku serak, suaraku terdengar asing.
"Mereka memukulmu hingga pingsan," jelasnya pelan. "Mereka mengikat kita dan membawa kita ke sini. Sejak tadi mereka terus berdebat di dalam sana."
Fiora mengarahkan dagunya ke arah bangunan utama yang beratap terpal.
Saat ia selesai berbicara, suara perdebatan sengit terdengar lagi dari bangunan utama, kadang terdengar hilang timbul.
"... ide buruk dari awal, Urgon! Apa tujuanmu sebenarnya? Kenapa malah jadi menghancurkan sarang Mist Panther?!" Itu suara seorang pria, terdengar frustrasi.
"Rencananya berhasil, kan?!" balas suara pria yang kasar dan berat. "... dan kita bisa bertahan beberapa minggu ke depan!"
"Berhasil?! Kau bahkan hampir membunuh orang!" sergah si suara frustasi. "Kita bukan Bandit Urgon!!!"
"Lantas kau mau apa, hah?!" potong suara kasar dengan raungan marah. "Kau mau kita mati lapar di lubang sampah ini? Hanya mengoceh penuh ragu dan tidak bergerak sepertimu?! Aku sudah hati-hati, Ewan! Sudah kuperhitungkan semuanya!"
"Hati-hati?! Kau bicara soal hati-hati setelah apa yang terjadi di Cragspire?! Karena otak Gora-mu yang gegabah itu, Ketua jadi tertangkap! Dan sekarang kau mengulangi kesalahan yang sama!"
BRAK!!
Terdengar bunyi menggebrak meja yang begitu keras, membuat bangunan reyot itu bergetar seolah akan runtuh.
Pintu kain terpal dari bangunan utama itu disibak dengan kasar.
Seorang pria dengan perawakan yang besar melangkah keluar ke dalam cahaya biru pucat dari Pohon Palliton. Kulitnya putih pucat dan rambutnya pirang kusam, dengan rahang persegi yang kokoh. Ia menggeram marah, menendang sebuah ember kosong hingga penyok, lalu berjalan dengan menghentak-hentak menjauh dari bangunan itu, menghilang di antara tenda-tenda lain.
Suasana kembali hening.
"Pria itu sepertinya yang berteriak paling keras tadi..." bisik Fiora, matanya mengikuti arah pria itu pergi.
"Dia seorang Gora, kan? mereka terkenal sangat temperamen."
Aku mengangguk pelan. "Ya. Saat seluruh dunia terus-menerus menyalahkanmu atas kesalahan nenek moyangmu dan tidak memberimu kesempatan untuk hidup layak, kurasa siapapun akan jadi temperamen."
Fiora terdiam, mencerna kata-kataku. Ada perubahan di matanya, dari rasa takut menjadi pemahaman.
"Jadi... menurutmu ada jalan untuk kita keluar dari sini?" katanya, mengubah topik.
"Kelompok mereka sepertinya tidak terlalu solid. Jika kita bisa memanfaatkannya."
Fiora menatapku lamat-lamat. "Kau tenang sekali Zane." Ia berhenti sejenak, tatapannya melembut.
"Zane... kau pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya?"
Aku tidak langsung menjawab. Pandanganku jatuh ke lantai tanah yang lembap.
"Tidak pas seperti ini, tapi rasa putus asanya hampir mirip," bisikku.
"Bagaimana caramu selamat waktu itu?"
Aku tidak menatapnya, masih melihat tanah lembap di bawah sepatuku. "Kau belajar," kataku pelan, "untuk tidak berharap pada siapa pun kecuali dirimu sendiri. Belajar untuk tahu kalau berharap pada orang lain itu bukan pilihan."
Kata-kataku menggantung di udara yang lembap.
"Zane..." Panggilnya lagi, memecah hening. "Kau baik-baik saja?"
Aku hanya mengangguk singkat.
"Jadi... bagaimana rasanya?" tanyanya, jelas mencoba mengalihkan topik agar suasana tidak semakin suram. "Menjadi Tarker sungguhan?"
Aku menatapnya. Ada binar penasaran yang tulus di matanya.
"Aku selalu membayangkannya," lanjutnya, matanya menerawang menatap langit-langit sel yang berlubang. "Melihat matahari terbit dari puncak gunung yang belum pernah diinjak siapa pun, memberi nama pada sungai baru, atau menemukan spesies bunga yang bisa jadi elixir. Bebas, dan... penuh makna."
Aku mendengus pelan, sudut bibirku terangkat sedikit.
"Bagian melihat mataharinya benar," aku mengakui. "Tapi kau lupa bagian mengunyah biskuit Tarker yang lebih keras dari batu selama tiga minggu, kecuali kalau kau cukup beruntung menangkap hewan buruan sebagai lauknya. Dan yang terpenting..." Aku mencondongkan tubuh sedikit ke arahnya. "...menulis laporan. Laporan yang sangat, sangat tebal."
Fiora mengerjap, lalu sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. Suara tawanya yang lembut terasa asing di tempat ini.
Kami kembali terdiam, namun keheningan kali ini terasa lebih ringan.
Aku berdeham, merasa sedikit canggung. Keheningan yang nyaman adalah hal yang biasa bagiku, tapi keheningan setelah berbagi tawa terasa berbeda, seolah menuntut untuk diisi.
"Jadi... toko Elixir itu," aku memulai, suaraku terdengar lebih kaku dari yang kumaksud. "Apa saja yang kau lakukan di sana? Selain membeli bahan di Wayford."
Fiora tersenyum, kali ini lebih lebar.
"Oh, hal-hal yang sangat membosankan, sungguh," katanya, namun matanya berbinar saat ia mulai bercerita. "Pagi hari aku 'berburu' herbal di tepi hutan. Kau tahu, mencari Akar Umbi Manis yang paling besar, atau menemukan bunga Lilia Air Tenang dengan kelopak yang sempurna. Lalu menggiling serbuk Moonstone hingga kehalusannya pas, itu bagian paling lama. Tapi, saat kau berhasil menyeimbangkan ekstraknya, dan Elixir itu berpendar biru lembut... rasanya seperti memenangkan pertarungan.”
“Lalu tentu saja, membantu warga. Kemarin aku baru saja mengobati luka memar seorang anak yang jatuh di pinggir sungai. Melihatnya bisa kembali berlari mengejar Tupai Pendar... rasanya menyenangkan."
Aku tidak menjawab, hanya mendengarkan ceritanya yang penuh semangat tentang kehidupan yang ia sebut "membosankan". Justru dialah yang terlihat seperti seekor Tupai Pendar, yang mencoba meyakinkanku bahwa mengumpulkan kacang adalah pekerjaan paling membosankan di dunia, padahal ekornya bergoyang girang setiap kali menemukan kacang besar.
Aneh. Tangan terikat, ditawan bandit, tapi otakku masih sempat membuat perumpamaan konyol. Mungkin ini efek samping dari terlalu banyak bicara dengan diri sendiri di hutan.
Atau mungkin, melihat Fiora menemukan petualangan di balik lumpang dan perban memberiku perspektif baru tentang arti ‘cita-cita’.
KRIEET...
Suara engsel usang yang mau lepas memutus percakapan kami.
Pintu kayu berderit terbuka, dan seorang pria berwajah masam masuk membawa wadah air. Ia langsung berjalan mendekat untuk memeriksa kami. Matanya menyapu para pedagang yang ketakutan, berhenti sejenak saat menatapku, dan akhirnya mendarat di wajah Fiora.
Pria itu membeku. Wadah air di tangannya nyaris terjatuh.
Ekspresi masam di wajahnya runtuh, digantikan oleh keterkejutan luar biasa. Matanya membelalak tak percaya, seolah melihat hantu.
"Fio... Fiora?"
Fiora, yang terkejut namanya disebut, mendongak. Matanya menyipit mengenali wajah di balik keremangan cahaya biru itu, lalu membulat sempurna.
"Kak... Ewan?"
Pas kita lari, dia datang
Mau betumbuk kah mereka?😭