Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Rencana
Archio memasuki rumah saat malam telah turun sempurna. Jam menunjukkan pukul sembilan lewat ketika ia akhirnya pulang, setelah seharian dipenuhi jadwal kantor yang nyaris tak memberi jeda. Di belakangnya, Bimo masih setia membawa tas kerja, sementara satu sosok lain menyusul dengan langkah kecil yang nyaris berlari.
“Selamat malam, Bibi Dar,” sapa suara itu riang, kontras dengan rumah besar yang terasa lengang dan aura Archio yang cenderung dingin.
Bibi Darmi yang tengah menyusun piring di atas meja menoleh. Senyum tulus langsung merekah di wajahnya.
“Tuan Sadewa, kamu sejak kapan datang?” tanyanya hangat.
“Tadi, Bi. Sadewa kangen masakan Bibi, jadi harus datang buat mencicipi,” jawab Sadewa santai.
“Wah, kebetulan Bibi masak banyak. Kalau mau makan sekarang, Bibi ambilkan ya?” katanya antusias.
“Nanti dulu, Bi. Saya mau ke kak Archio sebentar,” ucap Sadewa, lalu melangkah lebih dulu ke arah tangga menuju ruang kerja kakaknya.
Sebelum naik, Archio singgah ke meja makan. Ia meneguk segelas air, mengusir dahaga yang sejak tadi mengeringkan tenggorokannya.
“Aulia sudah makan belum, Bi?” tanyanya.
“Belum, Tuan. Tadi Bibi suruh makan duluan, tapi katanya mau menunggu Tuan Archio,” jawab Bibi Dar.
Archio hampir tersedak. Ia menurunkan gelasnya perlahan, dan tanpa disadari, seulas senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Hangat yang asing menjalar pelan di dadanya, hanya karena tahu seseorang memilih menunggunya.
“Bilang Aulia makan dulu, ya, Bi. Saya masih banyak kerjaan di ruang kerja. Dia nggak perlu menunggu,” ucapnya, lalu beranjak pergi.
Langkahnya menaiki tangga hingga terhenti di depan kamar Leonel. Dari balik pintu, terdengar obrolan kecil dan tawa ringan. Pengasuh itu dan Aulia sepertinya sedang mengajak Leonel bermain.
Hatinya menghangat. Ia mendekat, tangannya hampir menyentuh gagang pintu. Namun bayangan kecanggungan yang terjadi pagi tadi menyelinap begitu saja. Archio menarik tangannya, menggeleng pelan, lalu melanjutkan langkah menuju ruang kerja.
...****************...
Di dalam ruang kerja yang dingin, Bimo dan Sadewa duduk berhadapan dengan pria di balik meja besar itu. Tak satu pun dari mereka bersuara. Yang terdengar hanya detak jam dinding yang teratur, menekan suasana semakin kaku.
Archio masih menatap selembar biodata di tangannya. Foto Adrian terpampang jelas di sana. Tatapannya mengeras.
Wajahnya biasa saja, batinnya mendesis. Lalu bagaimana bisa wanita seperti Aulia menikah dengannya?
Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Amarah yang tak jelas asalnya, nyaris meledak hanya karena selembar foto itu. Archio sendiri tak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Ia melempar kertas itu ke atas meja dengan gerakan kasar, lalu menatap Sadewa tajam.
“Ada apa kau datang kemari?” suaranya dingin, penuh tekanan. “Aku tidak menerima laporan tidak penting. Pastikan kau datang membawa informasi yang memuaskan.”
Sadewa menelan ludah. Dengan gerakan kikuk, ia membuka tas yang dibawanya, lalu mengeluarkan setumpuk berkas.
“Saya mau menyerahkan laporan terkait masalah yang terjadi beberapa minggu terakhir di perusahaan cabang,” ujarnya sambil mendorong berkas itu ke arah Archio.
Archio meraihnya. Matanya menyapu lembar demi lembar data dengan cepat. Keningnya mengeryit dalam. Tangannya mengepal di bawah meja.
Brak!
Berkas itu dilempar keras.
“Ke mana perginya dana anggaran sebesar ini?” desisnya tertahan. “Kenapa proyek dibangun dengan bahan murahan?”
“Dari hasil penyelidikan,” Sadewa mulai menjelaskan, suaranya hati-hati, “dan setelah saya mendesak tiga tikus itu untuk membuka suara, akhirnya mereka jujur. Bahan berkualitas rendah dipakai, sementara sebagian besar dana masuk ke kantong pribadi."
"Siapa yang bertanggung jawab—"
"Adrian?" tanyanya dengan mata yang kini melotot, tajam seperti bilah yang siap menerkam. Udara di ruangan terasa mencengkeram. Bimo dan Sadewa nyaris tak bernapas, takut suara sekecil apa pun terdengar di tengah ketegangan itu.
“Lalu,” Archio menyandarkan punggungnya perlahan, “apa tindakanmu?”
“Itu sebabnya saya datang ke sini, Kak,” jawab Sadewa jujur. “Saya tidak mau bertindak sendiri. Peranmu penting untuk langkah selanjutnya. Apakah saya harus memecat Adrian, atau bagaimana menurutmu?”
Archio tak langsung menjawab. Senyum sinis perlahan terukir di sudut bibirnya.
“Kau sudah cari tahu ke mana uang itu digunakan?”
“Lima rumah dibangun untuk pribadi. Beberapa vendor fiktif dipakai membuka usaha kecil,” jawab Sadewa sambil menyerahkan data tambahan. Bukti yang ia kumpulkan selama hampir satu minggu penuh—hari-hari yang memaksanya bekerja serius setelah ancaman Archio membekukan seluruh fasilitasnya.
Archio membaca sekilas, lalu melipat berkas itu rapi. Senyum tipisnya kali ini penuh perhitungan.
“Aku yang akan turun tangan langsung.”
Ucapannya tak memberi ruang bantahan.
Mereka kembali membahas berbagai urusan lain hingga waktu terasa bergeser tanpa sadar. Saat malam semakin larut, Sadewa berpamitan lebih dulu, meninggalkan ruang kerja itu.
“Oh ya, Bimo.”
Langkah sang asisten terhenti di ambang pintu.
“Bagaimana dengan Gracia?”
Bimo berbalik, lalu kembali melangkah masuk.
“Soal itu, saya sudah punya rencana, Tuan.”
“Beberapa bulan lagi, film yang dibintangi Gracia akan tayang. Dari segi cerita dan alur, film itu diprediksi meledak. Pihak entertainment menggelontorkan dana besar untuk promosi dan bayaran artis.” Senyum aneh muncul di sudut bibir Bimo. “Akan lebih efektif jika kita menghancurkannya tepat sebelum itu.”
“Bukankah skandal justru bisa menambah popularitas film?” tanya Archio datar. “Publik bisa mengira itu sekadar strategi marketing.”
“Itulah kenapa kita bergerak lebih awal, Tuan,” jawab Bimo tanpa ragu. “Bukan saat film tayang, tapi sebulan sebelumnya. Publik akan memboikot. Film bisa batal rilis. Gracia akan dikenai denda, penalti besar, dan semua brand yang bekerja sama dengannya kemungkinan besar menarik kontrak.”
Rencana itu jelas sudah matang sejak lama.
Archio terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Baik. Aku serahkan semuanya padamu, Bimo.”
Setelah itu, Archio bangkit dan meninggalkan ruang kerja, meninggalkan udara dingin yang masih sarat dengan rencana dan dendam.
.
.
Archio berdiri di depan pintu kamar Leonel. Pria itu memberanikan diri menekan handle pintu, mendorongnya tanpa suara, lalu melongok ke dalam. Di dalam sana, Tyas, sang pengasuh, masih belum tertidur. Ia menggendong Leonel yang sedang mengoceh dengan bahasa bayi. Bayi kecil itu juga belum menunjukkan tanda-tanda ingin tidur.
“Tuan,” ujar Tyas dengan suara lebih kecil saat menyadari kehadiran Archio.
“Leonel belum tidur?”
“Dia terbangun lagi, Tuan. Tadi sempat tidur setelah di-ASI oleh Mbak Aulia,” jelas Tyas sambil menimang Leonel perlahan.
Archio melirik ke arah ranjang. Aulia tertidur menyamping, napasnya teratur, sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka ataupun suara Leonel.
"Aulia sudah makan belum?"
"Sudah, Tuan."
"Sudah minum obat?" tanyanya memastikan wanita yang sedang tertidur itu benar-benar sudah mengisi perut dan meminum obatnya.
"Sudah, Tuan." jawab Tyas.
Pria itu mengangguk pelan, kemudian mengambil alih Leonel dari gendongan Tyas, “Kamu pergi tidur saja. Biar Leonel sama saya,”
Pengasuh itu mengangguk, lalu keluar dari kamar Leonel dengan langkah pelan. Tinggal Archio di dalam, menggendong Leonel, berbicara pelan dan mengajaknya bermain ringan sebelum meletakkannya di dalam boks.
“Jangan… jangan pergi… maafkan mama, sayang…”
“Aulia, hei… kamu kenapa?”
TBC...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian