NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / Psikopat itu cintaku / Mafia / Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

Alice mematikan sambungan teleponnya dengan gerakan tenang. Ia berbalik, melangkah mendekat ke arah Arthur yang tampak sedang menahan kabut amarah.

"Kau bicara apa, Sayang?" bisik Alice manja.

"Itu tadi Sean. Dia meneleponku untuk menanyakan data Megan," lanjut Alice dengan suara yang mengalun.

"Aku mendengarnya, Alice. Kau…"

Arthur kehilangan kata-kata. Ia terdiam saat Alice mulai menjelajahi dadanya dengan gerakan yang membakar napas.

"Kau meragukanku, Sayang? Sean hanya khawatir pada Megan. Dia hanya membicarakan Megan" ucap Alice sambil menatap dalam ke netra Arthur.

Perdebatan di kepala Arthur seketika lenyap. Matanya sayu, menatap Alice penuh damba sebelum akhirnya ia membalikkan tubuh wanita itu dan menghempaskannya ke sofa dengan kasar.

Di dalam hati, Alice merutuki kesialannya. Namun, wajahnya tetap menampilkan senyum menggoda. Saat Arthur merangkak mendekat, Alice dengan cepat menahan dada pria itu menggunakan kakinya. Gerakannya terlihat nakal sekaligus sensual.

"Jangan di sini, Sayang. Kita ke kamar saja," tantang Alice dengan nada provokatif.

Arthur mengangguk patuh, seperti singa yang kehilangan taringnya. Namun, saat ia hendak mengangkat tubuh Alice, gadis itu kembali menahannya.

"Kita minum dulu, Sayang."

Alice berjalan gemulai menuju mini bar. Ia mengambil botol wine, lalu dengan gerakan secepat kilat, ia merogoh sesuatu dari balik gaunnya. Bubuk putih itu tertuang sempurna ke dalam gelas Arthur tanpa sisa.

Mereka bersulang, menyesap cairan merah itu bersama sebelum melangkah masuk ke kamar mewah sang Direktur.

Begitu pintu tertutup, Arthur meraih pinggang Alice, dan mendorongnya ke atas ranjang, ia pun melempar pakaiannya ke sembarang arah lalu mengukungnya di bawah tubuhnya yang kekar dalam hitungan detik.

Namun, sebelum Arthur sempat melakukan apa pun, dunianya mendadak berputar. Rasa pusing yang hebat menghantam kepalanya, diikuti rasa kantuk yang tak tertahankan.

Bruk!

Alice mendorong tubuh Arthur yang tak berdaya dengan tatapan jijik. Setelah memastikan napas pria itu teratur karena efek obat bius, Alice turun dari ranjang. Ia tak punya waktu lama.

Ia merogoh saku, mengeluarkan sarung tangan latex dan mengenakannya dengan cepat. “Aku harus cepat dan tak boleh ada satu pun sidik jari tertinggal di sarung singa ini.”

Alice melangkah keluar kamar menuju ruang kerja pribadi sang Direktur. Ruangan itu luas, didominasi rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit. Ia menggeledah laci meja satu per satu, namun nihil.

Matanya kemudian tertuju pada lemari kayu jati besar di sudut ruangan yang tampak mencolok. Alice membukanya. Di balik pintu kayu itu, tersembunyi sebuah brankas besi berat. Sebagai orang kepercayaan, menebak sandi Arthur adalah perkara mudah.

Klik.

Pintu brankas terbuka. Mata Alice membelalak. "Astaga, ini...?"

Bukan tumpukan uang atau batangan emas yang ada di sana. Alice menemukan sebuah ID card, lencana, seragam, dan sepasang cincin dengan ukiran nama yang sangat ia kenal. Nama yang selama ini ia tangisi.

Tubuh Alice luruh ke lantai. Napasnya tercekat, namun amarahnya jauh lebih besar daripada rasa sedihnya. Di antara barang-barang itu, terselip sebuah flashdisk.

Tanpa membuang waktu, Alice menyalakan laptop di meja Arthur dan memasukkan flashdisk tersebut. Sebuah video percakapan dua orang pria terputar otomatis.

"Bangsat kau, Arthur! Kau bukan hanya membunuh, tapi kau merekayasa semuanya!" desis Alice dengan gigi terkatup. Ia tak sanggup lagi menonton sisa video yang membongkar kekejian Arthur.

Layar laptop dimatikan kasar. "Kau akan membayar mahal untuk ini, Tua Bangka."

Alice menyapu semua barang bukti itu ke dalam paperbag. Saat itulah, pintu belakang ruangan terbuka pelan. Seorang pria masuk dengan waspada.

"Alice, kau baik-baik saja?" bisik Jasper.

"Aku menemukan semuanya, Jasper. Dia dalangnya. Arthur adalah orang di balik kematian Edward," ucap Alice dengan suara bergetar karena emosi.

Jasper mengumpat pelan. "Kecurigaan kita selama ini benar. Tapi dia licin, kita butuh lebih dari sekadar video untuk menjeratnya secara hukum."

"Bawa saja ini dulu," perintah Alice tegas. "Kau pulanglah. Aku harus tetap di sini sampai pagi agar dia tidak curiga."

Jasper menerima paperbag itu dengan berat hati. "Kau jaga diri baik-baik, Alice. Jangan sampai dia bangun sebelum waktunya."

Setelah Jasper menghilang di kegelapan, Alice mengirimkan salinan file data Megan ke London. Setelahnya ia duduk sendirian. Di tengah keheningan ruang kerja yang dingin itu, ia menatap kosong ke arah pintu kamar, merencanakan kehancuran untuk sang direktur.

****

Pagi hari di London terasa dingin, tapi suasana di ruang makan mansion Bradley Brown jauh lebih membeku.

Bradley menghampiri Megan. Kemeja mahalnya membungkus tubuh tegap itu tanpa celah. Ia lalu duduk di seberang Megan yang tampak pucat. Bukan hanya karena ia membenci pria di depannya, tapi morning sickness sialan itu sedang menguras tenaganya habis-habisan.

"Malam nanti, aku akan membawamu ke dokter, Meg. Sudah sebulan kau di sini, aku tidak mau ada masalah dengan kandungamu," ucap Bradley datar, matanya tak lepas dari Megan. “Kau harus sudah siap saat aku kembali, aku ada urusan sebentar.”

Megan hanya menyesap smoothies-nya dengan malas. Namun, di balik wajah lesu itu, otaknya bekerja. Rumah sakit? Itu celah. Aku bisa kabur di sana, pikirnya.

"Terserah kau saja, Brad," jawab Megan singkat.

Tak lama, Peter datang dengan langkah tegap. Ia meletakkan sebuah map merah di hadapan Bradley. "Maaf Tuan, ini berkas yang Anda minta."

Bradley membuka map itu perlahan. Sudut bibirnya terangkat tipis saat melihat isinya. "Megan Laurencia Ford."

Ia mengeja nama itu seolah sedang mencicipi hidangan mewah. "Nama yang cantik, secantik pemiliknya."

Mata Megan membelalak. Ia mendongak, menatap tajam ke arah Bradley. "Dari mana kau mendapatkan itu, Brad?!"

Bradley tertawa, suara yang terdengar seperti peringatan bahaya. Ia melempar map berisi identitas asli Megan ke meja. "Aku bisa menghancurkan dunia hanya dengan membalikkan telapak tanganku, Meg. Jangan pikir karena aku membuang tasmu ke Sungai Thames, aku akan kehilangan akses datamu."

Brak!

Megan menggebrak meja dengan emosi yang meledak. Ia menghantamkan piring ke tengah meja hingga pecahan beling berhamburan ke mana-mana. Napasnya memburu.

Bradley bahkan tidak berkedip. "Aku tidak akan jatuh miskin hanya karena kau menghancurkan barang-barang receh ini, Meg."

Namun, saat matanya menangkap cairan merah pekat mulai membasahi tangan Megan yang menggenggam pecahan kaca, raut wajah Bradley berubah. Ia berdiri seketika. "Peter! Ambil kotak obat!"

Bradley menarik Megan dengan paksa, membawanya duduk di sofa ruang tengah.

Setelah menyerahkan kotak obat Jasper kembali duduk di ujung sofa. Ia kembali fokus pada tablet di tangannya, Jasper hanya bisa membatin, Dasar pasangan aneh.

Karena hanya di depan Megan, seorang Bradley Brown si hantu yang tak tersentuh bisa berubah menjadi bunglon sedetik kasar, sedetik kemudian sangat protektif.

"Dengar, Meg. Jangan pernah ulangi kesalahanmu. Jangan menyakiti dirimu sendiri tanpa seizinku," ucap Bradley sambil membersihkan luka di tangan Megan dengan telaten.

"Apa pedulimu?!" Megan berusaha menarik tangannya, tapi Bradley mencengkeramnya lebih erat.

"Peduli? Aku tidak peduli padamu. Aku hanya peduli pada bayi ini. Hanya kau harapanku agar dia lahir dengan selamat," desis Bradley dingin.

Suara Megan pecah menjadi tangis. "Brad, aku bahkan tidak tahu siapa kau sebenarnya. Dosa apa yang pernah kuperbuat sampai kau menyiksaku seperti ini? Jika aku salah, maafkan aku... tapi tolong, jangan sakiti aku lebih dari ini"

Melihat tangisan Megan, memori Bradley terseret paksa ke masa lalu. Lagi-lagi Ia melihat bayangan seorang gadis belia yang menangis di pusara ibunya persis seperti Megan saat ini.

Bradley meraih dagu Megan, membingkai wajah cantik yang basah itu dengan tangannya yang dingin. "Kau tidak salah, Meg. Kau tidak pernah melakukan kesalahan apa pun."

Ia mengusap air mata Megan dengan ibu jarinya, tapi tatapannya tetap kelam. "Aku hanya ingin kau tahu... rasanya tidak memiliki siapa pun di dunia ini. Jangan pernah bertanya kenapa, karena aku sudah menanggung rasa sakit ini selama puluhan tahun."

Di saat yang sama, Jasper menerima email masuk dari Alice: [Jasper, aku sudah menemukan sebagian buktinya. Tolong katakan pada Brad.]

Jasper melirik Bradley yang masih terhanyut dalam emosi bersama Megan. Ia tahu, jika ia menyampaikan kabar dari Alice sekarang, Megan akan menjadi pelampiasan kemarahan Bradley yang mengerikan.

Maaf, Bos... bukan sekarang, batin Jasper pelan sambil menghapus pesan itu.

1
Senja
eh kali ini bener kata Bradley
Senja
sekarang aja udah stress mala jadi ibu dari anak2, katanya 😔 bener kata Matthew& Clara, emang gila Bradley 😭
Senja
Aduh😭😭😭😭
Bintang Kejora
wah gila sih Arthur Ford... beneran megan menyelamatkam kehormatan ayahnya dengan memgorbankan dirinya
😔
Bintang Kejora
kayak nonton film action hollywood 🤭
Bintang Kejora
Tuh kan bener jadi begini kan? Bradley ga tau megan mempertaruhkan nyawanya demi mencari jawaban tapi bradley tetap ga mau kasih tahu. teka teki banget sih thor
Bintang Kejora
Nekat amat Megan. memilih nyelamitin bradley dari pada Bayinya 😪
Senja
Astaga... Megan benar2 benci sama Bradley sampe2 dia ga mikirin nyawanya sendiri. lebih baik mati 😭
Senja
Apalah Bradley selalu punya cara buat ngikat Megan...😔
Senja
ya ampun ini dari drama ngidam mangga muda sampe ngidam rawon... rawon go international 🤭😄 Anaknya Brad emang agak lain..
Senja
😄😄😄 Hantu London takluk sama mangga muda...
Senja
Ayo kesempatan kabur Megan 😄
Senja
Jadi gadis yang ada di bayangan Bradley itu, Alice kah? Tadi Alice nangis juga di rumah Arthur... benangnya kusut banget. Aku beneran ga bisa nebak. 🤭
Mawar Berduri
kamu itu sebenarnya siapa nya Megan sih Brad? kadang kalem kadang garang🤔🤔
Mawar Berduri
Megan mati❎
Megan hamil ✅
🤭🤭
Bintang Kejora
Ihh Bradley ini siapa sih? misterius banget. kamu kenal megan?
SarSari_
baca juga ceritaku ya kak, suamiku ternyata janji masa kecilku.🙏
Mawar Berduri
Wah ada apa dengan Bradley? kenapa mendadak berubah setelah mendengar cerita Megan?
Senja
Alpha Male si Bradley, bagus aku suka novel dengan genre mafia psikopat. Semoga ke depan lebih menantang.
Mawar Berduri
Bagus untuk openingnya, melibatkan Agen dan Mafia. Lanjut author untuk aksi menegangkan di next chapter. Semangat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!