Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Rumah Sakit
Malam di kawasan pelabuhan lama seolah membeku. Deru sirene polisi dan decit ban mobil-mobil taktis Januar Suteja membelah kesunyian, menciptakan simfoni keadilan yang datang terlambat namun pasti. Nirmala Dizan duduk di kursi penumpang mobil terdepan, matanya merah karena tangisan yang tertahan, jemarinya mencengkeram erat ponsel yang menampilkan titik koordinat GPS terakhir Ale.
"Di sana! Gudang nomor 4!" teriak Nirmala saat cahaya lampu mobil menyorot bangunan seng yang tampak seperti rongsokan raksasa.
Mobil belum berhenti sempurna ketika Nirmala melompat keluar. Ia tidak peduli pada protokol keamanan atau peringatan dari para pengawal. Di dalam sana, dua nyawa yang paling berharga baginya sedang dipertaruhkan di tangan seorang wanita yang sudah kehilangan jiwanya.
****
Di dalam gudang, van hitam milik Rini baru saja hendak melesat keluar melalui pintu belakang ketika tim taktis Januar memblokade jalan dengan dua mobil armored. Rini Susilowati tersentak, kepalanya menghantam kaca jendela mobil saat sopirnya mengerem mendadak.
"Sialan! Berani-beraninya mereka!" raung Rini. Ia menatap ke luar jendela, melihat puluhan petugas bersenjata lengkap mengepung kendaraannya.
Nirmala berlari mendekat, diikuti oleh Januar. "BIBI RINI! KELUAR! SEKARANG!"
Pintu van terbuka perlahan. Rini keluar dengan menyeret Bu Nurdin yang lemas. Belati karatan itu menempel di leher wanita tua yang sudah bersimbah darah di bagian lengannya. Wajah Rini tampak mengerikan di bawah sorotan lampu sorot; rambut putihnya yang acak-acakan, matanya yang melotot liar, dan seringai yang tidak pernah lepas.
"Mmph... Hmph... Hahahaha!" Rini tertawa, tawa yang terdengar sangat garing dan pecah di tengah kepungan itu. "Selamat datang di pesta perpisahanku, Nirmala! Kau ingin menyelamatkan wanita desa ini? Kemarilah! Biar aku tunjukkan bagaimana rasanya kehilangan ibu untuk kedua kalinya!"
"Cukup, Bibi!" suara Nirmala menggelegar, namun ada isak yang tersembunyi di sana. "Lepaskan dia. Ini antara kau dan aku. Jangan libatkan orang yang tidak bersalah!"
"Tidak bersalah?" Rini meludah ke lantai. "Anaknya telah menghancurkan hidupku! Dia mencuri ketenanganku! Sekarang, biarkan dia merasakan pedihnya kehilangan!"
Namun, kegilaan Rini membuatnya lengah. Ia terlalu sibuk berteriak hingga tidak menyadari tim sniper Januar telah bergerak di balik bayangan kontainer. Sebuah peluru karet ditembakkan dengan presisi, menghantam pergelangan tangan Rini yang memegang belati.
TAK!
Rini menjerit kesakitan, belatinya terlepas ke lantai semen. Dalam sepersekian detik, Nirmala berlari menerjang bibinya dengan kekuatan yang didorong oleh amarah murni. Ia mendorong Rini hingga terjungkal ke belakang, sementara Januar dan petugas lainnya segera mengamankan Bu Nurdin.
"Kau... kau mencuri semuanya dariku!" raung Rini saat ia ditekan ke lantai oleh petugas kepolisian. Ia masih tertawa, tawa histeris yang kini bercampur dengan tangisan amarah. "Hahahaha! Kau tidak akan pernah tenang, Nirmala! Aku akan menghantuimu sampai ke liang lahat!"
Nirmala berdiri di atas bibinya, menatap wanita itu dengan rasa iba sekaligus benci yang mendalam. "Kau sudah mati sejak lama, Bibi. Kau mati saat kau memilih kebencian daripada cinta keluarga kita."
****
Setelah Rini dibawa pergi dengan borgol yang mengikat kencang, Nirmala teringat satu hal yang paling menakutkan. "Ale... di mana Ale?!"
Ia berlari ke dalam kegelapan gudang, mengikuti jejak ceceran darah yang masih basah. Di sudut ruangan, di balik mesin tua yang berdebu, ia menemukan sosok itu. Aleandra Nurdin tergeletak tak berdaya. Kepalanya bersandar pada dinding semen, matanya tertutup rapat, dan genangan darah di sekitarnya tampak menghitam di bawah lampu bohlam yang bergetar.
"ALE!" Nirmala menjerit, suaranya membelah keheningan gudang. Ia jatuh berlutut di samping Ale, merengkuh kepala pemuda itu ke pangkuannya. "Ale, bangun! Kumohon, bangun!"
Tangan Nirmala yang halus kini berlumuran darah Ale yang hangat. Ia mengguncang bahu Ale, namun tidak ada jawaban. Napas Ale terasa sangat tipis, seolah nyawanya sedang bergantung pada seutas benang yang hampir putus.
"Tim medis! Cepat kemari!" teriak Januar dari arah pintu.
Lampu biru ambulans menyambar-nyambar dinding koridor Rumah Sakit Medika Jakarta. Suara deru roda brankar yang dipacu dengan kecepatan tinggi menciptakan ritme jantung yang berpacu. Di atasnya, Ale terbaring dengan masker oksigen yang berembun, menunjukkan bahwa ia masih berjuang untuk setiap embusan napas.
Nirmala berlari di samping brankar itu, tangannya tak lepas menggenggam jemari Ale yang dingin. "Tetaplah bersamaku, Ale. Jangan pergi... kumohon jangan pergi..."
Begitu brankar itu didorong masuk ke dalam ruang IGD, seorang perawat menahan Nirmala di ambang pintu. "Maaf, Nona. Anda harus menunggu di sini."
Pintu ayun itu tertutup dengan bantingan pelan, meninggalkan Nirmala dalam kesendirian yang menyiksa. Di sana, di kursi tunggu yang dingin, Bu Nurdin duduk dengan tangan yang diperban. Wanita tua itu tampak sangat rapuh, pundaknya berguncang oleh isak tangis yang tertahan.
Nirmala melangkah mendekat, lalu berlutut di hadapan ibu Ale. Ia meraih tangan wanita tua itu, tangan yang kasar karena kerja keras demi menyekolahkan putranya.
"Ibu... maafkan aku," bisik Nirmala. Air matanya tumpah tak terbendung, membasahi punggung tangan Bu Nurdin. "Ini semua salahku. Jika bukan karena aku, Ale tidak akan terluka seperti ini."
Bu Nurdin menatap Nirmala dengan mata yang sembab. Ia tidak memarahi, tidak juga menyalahkan. Ia justru menarik Nirmala ke dalam pelukannya. Dua wanita itu saling berpegangan tangan, terisak dalam duka yang sama, di bawah pendar lampu neon rumah sakit yang tak berjiwa.
"Ale anak yang baik, Neng..." suara Bu Nurdin parau. "Dia selalu bilang, Neng Nirmala adalah orang yang harus dia lindungi. Dia bangga bisa berdiri di samping Neng."
Nirmala semakin terisak. Ia membayangkan Ale yang bertarung habis-habisan di gudang itu hanya untuk menyelamatkan ibunya dan menjaga janjinya pada Nirmala. Ia merasa sangat kecil di hadapan pengorbanan sebesar itu.
"Dia harus selamat, Bu. Dia harus melihatku menang..." gumam Nirmala di sela tangisnya.
Malam itu, di koridor IGD yang sunyi, waktu seolah berhenti berputar. Hanya ada derai air mata dan doa yang dipanjatkan dalam diam. Di balik pintu itu, Ale sedang bertarung dengan maut, sementara di luar, Nirmala menyadari bahwa kemenangan atas Rini tidak berarti apa-apa jika ia harus kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupnya.
****
Malam di sel isolasi kepolisian tak pernah benar-benar hening. Ada suara tetesan air yang ritmis, desis angin dari ventilasi kecil, dan suara napas yang tak beraturan dari seorang wanita yang dunianya telah runtuh. Rini Susilowati duduk meringkuk di sudut ruangan yang dingin, memeluk lututnya sendiri. Gaun merah tuanya kini tinggal compang-camping, sewarna dengan dendam yang telah membusuk di dalam dadanya.
Namun, malam ini, tawa histeris yang biasanya membelah kesunyian itu tak terdengar. Yang ada hanyalah bisikan-bisikan parau yang mengerikan.
"Marwan... kau lihat?" Rini menatap dinding beton yang kosong dengan mata melotot. "Putrimu... dia mencuri cahayaku. Dia mencuri tahtaku."
Tiba-tiba, Rini tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada tenggorokan yang kering. "Mmph... Hmph... Hahahaha!"