Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Safira
Tiga hari setelah konfrontasi itu, rumah mereka jadi sepi. Sepi yang menyesakkan. Tidak ada lagi warga yang menyapa saat Arga keluar rumah. Tidak ada lagi anak-anak kecil yang bermain di depan gerbang. Bahkan Pak Burhan yang biasanya ramah, kini hanya mengangguk kaku dari kejauhan kalau berpapasan.
Arga mencoba tidak peduli. Dia bilang pada dirinya sendiri bahwa dia tidak butuh pengakuan orang lain. Tapi bohong kalau dia bilang tidak sakit. Dikucilkan seperti ini... rasanya seperti dicabut dari akar kehidupan sosial yang selama ini dia jalani.
Tapi yang paling menderita bukan Arga.
Tapi Safira.
Arga menemukannya di mushala kecil di sudut kamar setiap tengah malam. Duduk bersimpuh dengan tangan terangkat. Menangis dalam diam. Bibir bergetar membaca doa yang Arga tidak bisa dengar tapi bisa dia rasakan betapa sakitnya.
Malam itu, Arga tidak bisa tidur lagi. Dia duduk di ambang pintu mushala, menatap punggung Safira yang gemetar. Sudah dua jam istrinya bertahan dalam posisi itu. Tidak bergerak. Hanya menangis dan berdoa.
"Safira..." panggil Arga pelan.
Safira tersentak. Tangannya langsung turun, mengusap wajahnya yang basah dengan cepat. "A... Arga? Kamu belum tidur?"
"Bagaimana aku bisa tidur kalau istriku nangis sendirian di sini?" Arga masuk, duduk di samping Safira. "Sudah berapa malam kamu begini? Aku tahu kamu tidak tidur. Aku tahu kamu menangis setiap malam."
Safira menunduk. Tangannya meremas-remas kain telekung di pangkuannya. "Maafkan aku..."
"Kenapa kamu minta maaf?"
"Karena aku..." suara Safira tercekat. "Karena aku hanya membawa masalah untukmu, Arga. Gara-gara aku, kamu dikucilkan warga. Gara-gara aku, kamu jadi sakit. Gara-gara aku, hidupmu hancur. Aku... aku bukan berkah. Aku... aku kutukan."
Air matanya jatuh lagi. Mengalir deras sampai membasahi telekung di pangkuannya.
Arga merasakan dadanya sesak mendengar itu. Tangannya langsung meraih Safira, menariknya ke dalam pelukan yang erat.
"Jangan... jangan pernah bilang begitu lagi," bisik Arga dengan suara yang bergetar. "Kamu bukan kutukan. Kamu berkah. Berkah terbesar dalam hidupku."
"Tapi lihat apa yang terjadi, Arga!" Safira mendorong Arga pelan, menatap mata suaminya dengan tatapan yang hancur. "Kamu sakit setiap hari! Tubuhmu semakin kurus! Wajahmu semakin pucat! Dan aku... aku tahu ini karena aku! Ikatanku denganmu menguras nyawamu perlahan! Aku... aku membunuhmu, Arga! Perlahan tapi pasti!"
"Aku tidak peduli!"
"TAPI AKU PEDULI!" Safira berteriak untuk pertama kalinya sejak mereka menikah. Suaranya bergema di ruangan kecil itu. "Aku peduli kalau kamu mati! Aku peduli kalau kamu sakit! Aku peduli kalau kamu menderita! Karena aku... aku mencintaimu, Arga. Sangat mencintaimu. Dan justru karena cinta itu, aku tidak sanggup melihatmu sekarat perlahan karenaku."
Safira jatuh ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Tubuhnya membungkuk sampai dahinya menyentuh sajadah. Isak tangisnya pecah, memenuhi ruangan dengan kepedihan yang sangat dalam.
Arga terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa. Karena apa yang Safira bilang... itu benar.
Tubuhnya memang semakin lemah. Setiap hari dia merasakan energinya seperti tersedot perlahan. Bangun tidur terasa berat. Berjalan beberapa meter saja sudah ngos-ngosan. Makan tidak nafsu. Bahkan untuk tersenyum pun terasa melelahkan.
Tapi dia tidak mau mengakui itu di depan Safira. Karena dia tahu, kalau dia mengakui, Safira akan semakin tersiksa oleh rasa bersalah.
"Safira..." Arga berlutut di samping istrinya, tangannya mengusap punggung Safira yang gemetar. "Dengarkan aku."
Safira mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Mata merah, hidung meler, wajah hancur. Tapi tetap cantik di mata Arga.
"Aku tahu aku sakit," Arga mulai bicara dengan suara yang tenang meski hatinya remuk. "Aku tahu tubuhku semakin lemah. Tapi kamu tahu apa yang lebih menyakitkan dari sakit fisik ini?"
Safira menggeleng pelan.
"Kehilangan kamu," jawab Arga sambil mengusap air mata di pipi Safira dengan lembut. "Kalau aku harus memilih antara hidup lama tanpa kamu atau hidup sebentar bersamamu, aku akan pilih yang kedua. Tanpa ragu."
"Tapi itu bodoh, Arga!" Safira membalas dengan frustasi. "Itu keputusan yang bodoh! Nyawa itu... nyawa itu titipan Allah! Kamu tidak boleh sia-siakan hanya untuk cinta yang... yang bahkan tidak seharusnya ada!"
"Cinta kita seharusnya ada!" Arga bersikeras. "Allah menyaksikan pernikahan kita! Pak Haji Ahmad menikahkan kita dengan restu-Nya! Jadi jangan bilang cinta kita tidak seharusnya ada!"
"Tapi kenapa kalau memang cinta ini direstui, aku malah menyakitimu?!" Safira berteriak dengan putus asa. "Kenapa kalau cinta ini benar, kamu malah sekarat perlahan?! Kenapa?!"
Arga tidak bisa menjawab.
Karena dia sendiri tidak tahu jawabannya.
Mereka terdiam cukup lama. Hanya suara isak tangis Safira yang memecah keheningan.
Lalu Safira menarik napas dalam. Mengusap air matanya kasar. "Arga... mungkin... mungkin kita memang tidak seharusnya bersama."
Jantung Arga langsung berhenti sedetik. "A... apa?"
"Mungkin ini salah sejak awal," Safira melanjutkan dengan suara yang gemetar tapi penuh tekad. "Mungkin aku... aku harus pergi. Sebelum terlambat. Sebelum kamu benar-benar mati."
"JANGAN!" Arga langsung memeluk Safira dengan sangat erat. Sangat erat sampai Safira hampir tidak bisa bernapas. "Jangan bilang begitu! Jangan... jangan tinggalkan aku, Safira. Kumohon. Aku... aku tidak sanggup hidup tanpa kamu."
Safira menangis di pelukan Arga. Tangannya balas memeluk suaminya yang tubuhnya sudah semakin kurus. "Tapi aku juga tidak sanggup melihatmu mati karenaku, Arga. Aku tidak sanggup..."
Mereka berpelukan lama di lantai mushala itu. Menangis bersama. Menderita bersama.
Sampai akhirnya Arga melepaskan pelukan, menatap wajah Safira yang basah. "Safira... kita berdoa saja. Kita minta petunjuk pada Allah. Dia yang tahu jalan terbaik untuk kita."
Safira mengangguk pelan. "Ya... kita berdoa."
Mereka berdiri, berdampingan menghadap kiblat. Arga menjadi imam. Mereka shalat malam bersama dengan khusyuk yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Setiap rakaat terasa berat. Bukan karena lelah fisik. Tapi karena beban emosi yang mereka pikul.
Setelah salam, mereka duduk bersimpuh. Tangan terangkat tinggi.
Arga memulai doanya dengan suara yang gemetar. "Ya Allah... hamba tidak tahu lagi harus bagaimana. Hamba mencintai Safira. Sangat mencintainya. Tapi kalau cinta ini salah, kalau cinta ini membawa hamba pada kehancuran, hamba mohon... hamba mohon berilah hamba kekuatan untuk melepaskannya. Atau... atau berilah hamba jalan untuk tetap bersamanya tanpa harus mati. Hamba serahkan semuanya pada-Mu, ya Allah. Hanya pada-Mu."
Arga menangis di akhir doanya. Air matanya mengalir deras, membasahi pipi dan jatuh ke sajadah.
Safira yang mendengar doa suaminya menangis lebih keras. Tangannya yang terangkat gemetar hebat.
Lalu dia mulai berdoa.
Dengan suara yang sangat pelan. Sangat lirih. Tapi keluar dari lubuk hati yang paling dalam.
"Ya Allah..." suara Safira bergetar hebat. "Hamba yang hina ini... hamba yang tidak layak ini... memohon pada-Mu."
Air matanya mengalir seperti air terjun. Tubuhnya gemetar sampai Arga yang di sampingnya bisa merasakannya.
"Hamba tahu... hamba tahu hamba jin. Hamba tahu hamba berbeda dengan Arga. Hamba tahu... hamba tidak seharusnya mencintai manusia. Tapi Engkau yang membuat hamba mencintainya, ya Allah. Engkau yang mempertemukan kami. Engkau yang... yang membuat hamba merasakan cinta ini."
Safira terisak di sela-sela doanya. Suaranya nyaris tidak terdengar.
"Tapi sekarang... sekarang hamba bingung, ya Allah. Hamba mencintai Arga. Sangat mencintainya. Lebih dari nyawa hamba sendiri. Tapi... tapi hamba juga tidak mau dia mati karena hamba. Hamba tidak mau dia menderita karena hamba."
Safira membungkuk, dahinya hampir menyentuh sajadah tapi tangannya masih terangkat tinggi.
"Ya Allah... kalau memang Arga bukan untuk hamba... kalau memang hamba tidak boleh bersamanya... hamba mohon... hamba mohon berilah hamba kekuatan untuk melepaskannya."
Suara Safira pecah di kalimat itu. Isak tangisnya meledak.
"Tapi kalau... kalau dia jodoh hamba... kalau Engkau meridhai cinta kami... hamba mohon... hamba mohon tunjukkanlah jalan, ya Allah. Jalan untuk kami tetap bersama tanpa harus saling menyakiti. Tanpa harus kehilangan satu sama lain. Hamba mohon... hamba sangat mohon pada-Mu."
Safira jatuh tersungkur setelah doa itu. Menangis dengan sangat keras. Seluruh tubuhnya gemetar hebat.
"Dan kalau memang tidak ada jalan, ya Allah..." bisik Safira dengan suara yang nyaris tidak terdengar. "Ambil saja nyawa hamba. Jangan ambil nyawa Arga. Dia... dia masih banyak yang harus dilakukan di dunia ini. Sementara hamba... hamba sudah lelah, ya Allah. Hamba sudah lima puluh tahun di dunia ini tanpa tujuan. Jadi kalau memang harus ada yang pergi... ambil hamba saja. Jangan dia."
Arga yang mendengar doa terakhir itu langsung memeluk Safira dari samping. "Jangan berdoa seperti itu! Kumohon!"
"Tapi itu yang terbaik, Arga," Safira membalas sambil menangis di pelukan suaminya. "Kalau aku yang pergi, kamu bisa hidup lagi. Bisa menikah lagi dengan manusia biasa. Bisa punya anak. Bisa bahagia dengan cara yang normal."
"Aku tidak mau bahagia dengan cara yang normal kalau itu tanpa kamu!" Arga berteriak sambil menangis. "Aku mau kamu! Hanya kamu!"
Mereka berpelukan erat di lantai mushala itu. Menangis dengan sangat keras. Meratapi takdir yang sangat kejam pada mereka.
Dua jiwa yang saling mencintai tapi dipisahkan oleh aturan alam yang tidak bisa mereka lawan.
Dan di luar jendela, hujan mulai turun. Deras. Seolah langit ikut menangisi kepedihan mereka.
Malam itu, Safira dan Arga tertidur di lantai mushala dengan posisi masih berpelukan. Lelah karena menangis terlalu lama.
Dan saat fajar menyingsing, Safira membuka matanya lebih dulu. Menatap wajah Arga yang tertidur dengan damai di pelukannya.
Wajah yang dia cintai.
Wajah yang perlahan memudar karena dia.
Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini tanpa isak. Hanya mengalir pelan.
Dia mengusap wajah Arga dengan lembut. Sangat lembut. Seperti takut membangunkannya.
"Maafkan aku, Arga," bisiknya sangat pelan. "Maafkan aku karena mencintaimu. Maafkan aku karena egois. Maafkan aku karena... karena tidak cukup kuat untuk melepasmu."
Safira mencium kening Arga untuk terakhir kalinya pagi itu.
Lalu dia menutup matanya, berdoa dalam hati.
Memohon pada Allah untuk memberikan jawaban.
Sebelum semuanya terlambat.
Sebelum Arga benar-benar mati di pelukannya.