NovelToon NovelToon
WAJAH BERBAYAR: KONTRAK KEMBARAN

WAJAH BERBAYAR: KONTRAK KEMBARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.

Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Rahasia Elena dan Sengatan Ayam Geprek

Di dalam ruang kerja pribadinya yang sempit di rumah jahit, Aruna menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras. Matanya terasa pedas setelah berjam-jam menatap barisan kode. Satu kartu as Julian sudah di tangannya, sebuah bukti aliran dana ke perusahaan cangkang yang cukup untuk menyeret pria itu ke meja hijau. Namun, Aruna belum puas. Julian hanyalah bidak, sementara otak di balik semua ini adalah Elena.

Siapakah sebenarnya Elena?

Aruna memijat pelipisnya. Selama bertahun-tahun ia meretas berbagai basis data, namun asal-usul ibu tirinya itu seolah-olah ditelan bumi. Ia menemukan data pernikahan Elena dengan ayah kandung Julian dan Clarissa, tapi sebelum itu? Kosong. Tidak ada catatan kelahiran yang valid, tidak ada riwayat sekolah yang jelas.

Elena seolah-olah baru "lahir" ke dunia saat ia menikah pertama kali. Data itu bukan sekadar hilang, tapi dihapus secara profesional.

Hanya ada satu tempat di mana data itu mungkin disimpan, batin Aruna. Laptop pribadi Elena.

Namun, Elena jauh lebih waspada daripada Julian. Wanita itu tidak pernah meninggalkan laptopnya sembarangan, dan sistem keamanannya diduga menggunakan enkripsi tingkat militer yang berbeda dengan sistem perusahaan. Aruna butuh rencana yang jauh lebih matang, dan itu berarti ia harus kembali mengandalkan Alisha untuk menjadi mata-matanya di dalam kamar Elena.

"Untuk sekarang, ini dulu," gumam Aruna sembari mencabut flashdisk dan menyembunyikannya di tempat yang sangat aman. Ia menukar laptop canggihnya dengan tablet milik Alisha yang penuh dengan gambar sketsa baju, agar jika ada yang masuk, ia hanya terlihat seperti seorang penjahit yang sedang bekerja.

Tepat saat itu, ponsel Alisha di atas meja bergetar. Nama Aliando terpampang. Aruna menarik napas panjang, bersiap memasang topeng kakaknya.

"Halo, Kak. Masih di rumah jahit?" tanya Aliando dari seberang telepon.

"Iya, Li. Kenapa?"

"Udah makan belum?" suara Aliando terdengar penuh perhatian di seberang sana.

Aruna terdiam sejenak. Ia baru sadar perutnya keroncongan. Ajakan makan dari Rendy tadi ia tolak mentah-mentah demi data Julian.

"Belum," jawabnya jujur.

"Tuh kan, udah Ali tebak! Kakak kalau sudah sibuk sama jarum dan benang pasti lupa segalanya. Ya sudah, ini Ali ke sana bawa nasi ayam geprek kesukaan Kakak. Level pedas langganan kita!"

Ayam geprek? Level pedas langganan? Aruna menelan ludah. Ia sama sekali tidak akrab dengan makanan jalanan yang ekstrem. Namun, demi menjaga penyamaran, ia hanya bisa mengiyakan.

Sepuluh menit kemudian, Aliando muncul dengan kantong plastik berminyak yang mengeluarkan aroma cabai menyengat. Ia meletakkan kotak sterofom itu di depan Aruna.

"Ayo makan, Kak. Keburu dingin," ujar Aliando sembari memperhatikan kakaknya.

Aliando sempat mengernyitkan dahi. Biasanya, jika melihat ayam geprek, mata Alisha akan berbinar seolah melihat harta karun. Tapi kakaknya yang ini justru menatap kotak itu seperti sedang menatap bom yang siap meledak.

"Kenapa, Kak? Kok bengong?" tanya Aliando curiga.

"Ah, tidak... cuma kaget kamu cepat sekali sampainya. Terima kasih ya," sahut Aruna cepat.

Ia membuka kotak itu. Aroma cabai merah yang diulek kasar langsung menusuk hidungnya. Dengan tangan sedikit ragu, Aruna mengambil suapan pertama. Rasanya gurih di awal, namun detik berikutnya, ledakan rasa pedas menghantam lidahnya seperti ribuan jarum panas.

Aruna tersedak kecil. Wajahnya yang biasanya pucat dan tenang mendadak berubah merah padam. Keringat mulai muncul di pelipisnya. Ia ingin sekali berteriak mencari air, tapi ia harus menahan diri. Alisha asli adalah "Ratu Cabai", ia tidak boleh terlihat lemah di depan adiknya sendiri.

"Gimana... gimana kuliah kamu, Li?" tanya Aruna berusaha mengalihkan perhatian Aliando, suaranya sedikit parau karena menahan panas di tenggorokan.

"Lancar, Kak. Eh, Kakak kok makannya pelan banget? Biasanya dua menit langsung ludes," Aliando memperhatikan kakaknya yang mulai mengipas-ngipas mulutnya dengan tangan secara tidak sadar.

Beruntung bagi Aruna, lonceng pintu toko berbunyi. Seorang pelanggan masuk untuk mengambil jahitan yang sudah dijanjikan.

Aruna segera berdiri dengan lega. "Bentar ya, Li. Kakak layani pelanggan dulu."

Aruna sengaja melama-lamakan urusan dengan pelanggan tersebut, menjelaskan detail jahitan dengan sangat rinci hingga Aliando merasa bosan. Melihat kakaknya yang tampak sangat sibuk dan tidak enak diganggu, Aliando akhirnya berdiri.

"Ya sudah deh, Kak. Ali pulang duluan ya, ada tugas kelompok. Jangan lupa dihabiskan itu ayamnya, mumpung masih panas!" pesan Aliando sembari melambai.

Aruna tersenyum kaku dan mengangkat jempol sebagai jawaban. Begitu pintu tertutup dan sosok Aliando menjauh, dan pelanggannya pamit pergi setelah membayar jahitannya Aruna langsung menyambar botol air mineral dan meminumnya sampai habis dalam satu tarikan napas.

"Gila... Aku tidak menyangka Alisha menyukai makanan yang menyiksa lidah seperti ini," gumam Aruna sembari mengusap bibirnya yang masih terasa panas.

Ia menatap sisa ayam geprek itu dengan ngeri. Ia tidak sanggup menghabiskannya. Ia membawa kotak itu ke ruang belakang, tempat Ranu masih sibuk dengan mesin jahitnya.

"Ranu, kamu sudah makan?" tanya Aruna.

"Belum, Na. Kenapa?"

"Ini, adik Alisha membelikan ayam geprek. Aku sudah kenyang, baru makan sepotong. Sayang kalau dibuang, kamu mau?"

Ranu langsung menyambar kotak itu dengan semangat. Begitu mencicipi sambalnya, wajah Ranu berbinar. "Wah! Ini enak banget, Na! Pedasnya pas, gurihnya dapet. Beli di mana ini?"

Aruna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat Ranu yang makan dengan sangat lahap. Apa cuma dia satu-satunya orang di dunia ini yang merasa sambal itu adalah alat penyiksaan?

"Nanti aku tanyakan adiknya Alisha lokasinya di mana," jawab Aruna sembari kembali ke mejanya.

"Sekarang, telan makananmu itu dan selesaikan tugasmu! Kita punya banyak pesanan yang harus dikirim besok!"

Ranu terkekeh, tidak menyadari bahwa wanita di depannya baru saja melewati "perang" melawan sepotong ayam pedas demi menjaga rahasia besar mereka. Aruna kembali menatap tabletnya, pikirannya sudah terbang kembali ke kediaman Ardiansyah. Ia harus segera memikirkan cara agar Alisha bisa menyelinap ke laptop Elena tanpa mengundang kecurigaan Julian yang kini pasti sedang mengawasi setiap langkah adiknya.

1
Anisa Muliana
🔥🔥
Anisa Muliana
seru banget thor🔥🔥
Ai_Li: Terima kasih kak
Semoga betah bacanya yaa hehehe
total 1 replies
Rania Venus Aurora
Hallo..👋🏻
Ai_Li: Mohon saran dan kritikannya ya kak
Supaya bisa jadi lebih baik
total 3 replies
Anisa Muliana
domisili Jember kak..😊
Ai_Li: Masya Allah jauh ya
Salam dari Medan ya😇
total 1 replies
Ai_Li
Yukk komen para daerah asal kalian dimana 🤭🥰
Anisa Muliana
seruuuuu banget ceritanya thor😍
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊
Ai_Li: Oiya kak, terima kasih sarannya 🥰
total 3 replies
Ai_Li
Jangan lupa like yaa dan tinggalkan komentar
Ai_Li
🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!