NovelToon NovelToon
Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Nafkah 500 Ribu Yang Selalu Diungkit

Status: tamat
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:75.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takut ,tapi bisa cerita

Malam itu, hujan sudah benar-benar reda. Langit Jakarta berangsur jernih, dan udara malam terasa lebih ringan—meski di dada Kirana masih tersisa beban yang tak mudah larut. Ia baru saja memeriksa kunci pintu untuk ketiga kalinya ketika suara langkah kaki pelan terdengar dari luar.

Bukan derap sepatu bot atau mesin motor yang menggerung. Tapi langkah tenang, seperti orang yang tahu ia tidak perlu buru-buru.

Kirana menegang. Tangannya meraih ponsel, jari siap menekan nomor darurat. Tapi kemudian, suara itu bersahut lembut dari balik pintu.

“Kirana? Ini Arka.”

Ia mengenali suara itu—hangat, rendah, dan selalu datang tepat saat dunia terasa terlalu berat. Arka, Pria yang beberapa kali diam-diam membawakan nasi bungkus saat tahu Kirana kelelahan, atau memperbaiki talang air yang bocor tanpa diminta.Dan Arka satu satunya lelaki yang dekat dengan dia setelah perceraiannya dengan Aris .

Perlahan, Kirana membuka pintu sedikit. Matanya waspada, tapi lega saat melihat wajah Arka yang tenang, dengan jaket tipis basah oleh embun malam dan secangkir teh hangat di tangan.

“Aku lihat lampumu masih nyala,” katanya pelan. “Dan Mbak Yuni bilang ada yang ngintai tadi malam. Aku… cuma pengin pastiin kamu baik-baik aja.”

Kirana menelan ludah. Ia ingin bilang “iya, aku baik”, seperti biasa. Tapi dadanya sesak. Matanya panas. Dan entah kenapa, kali ini, ia tak bisa berpura-pura.

Ia hanya mengangguk, lalu membuka pintu lebih lebar.

Arka masuk tanpa suara berlebihan. Ia meletakkan teh itu di meja kecil, lalu duduk di lantai—menjaga jarak, memberi ruang. Seperti tahu Kirana butuh ruang untuk bernapas.

Beberapa menit mereka diam. Hanya suara jam dinding dan napas Gio yang teratur dari kamar kecil di belakang.

“Kamu nggak harus cerita kalau belum siap,” kata Arka akhirnya, suaranya pelan seperti bisikan angin. “Tapi kalau kamu butuh didengar… aku di sini.”

Kirana menunduk. Tangannya memainkan ujung kaos lusuhnya. Ia ingin diam. Tapi ada sesuatu dalam tatapan Arka—bukan rasa kasihan, bukan penasaran, tapi kehadiran yang tulus—yang membuat temboknya retak.

“Aku… takut,” katanya pelan, suaranya serak. “Aku takut dia datang lagi. Bukan cuma ngintai. Tapi… ambil Gio.”

Arka tak menyela. Ia hanya mendengar.

“Namanya Aris,,” lanjut Kirana, matanya menatap lantai. “Mantan suamiku. Dulu… aku pikir dia baik. Dia bilang mau jadi ayah terbaik buat Gio. Tapi setelah menikah, semuanya berubah. Dia mulai marah-marah karena hal kecil. Bilang aku nggak cukup cantik, nggak cukup pintar, nggak layak jadi istri. Mertuaku… lebih parah. Mereka bilang Gio lebih baik diasuh keluarga ‘berpendidikan’.”

Ia berhenti sejenak, menarik napas gemetar.

“Aku diusir bersama Gio. Cuma bawa Gio dan satu koper. Nggak ada uang, nggak ada tempat. Tapi aku tahu… kalau aku tetap di sana, Gio akan tumbuh dengan rasa takut—seperti aku.”

Arka diam sejenak. Lalu, dengan suara sangat lembut, ia bertanya, “Kenapa sekarang dia cari kamu?”

“Karena aku mulai hidup lagi,” jawab Kirana, suaranya mulai mantap. “Aku buka usaha kecil-kecilan. Punya teman. Gio sekolah. Mungkin… dia nggak terima aku bisa bahagia tanpa dia. Atau mungkin dia cuma ingin kontrol. Seperti dulu.”

Ia menatap Arka untuk pertama kalinya malam itu. Matanya berkaca-kaca, tapi tak ada air mata yang jatuh. “Yang paling aku takutkan… dia akan bilang ke pengadilan kalau aku nggak layak jadi ibu. Bahwa aku kabur seenaknya. Bahwa Gio lebih baik di tangan keluarganya.”

Arka mengangguk perlahan. “Tapi kamu (layak), Kirana. Bahkan lebih dari itu. Kamu bangun dari nol, demi anakmu. Itu bukan tindakan orang yang nggak layak. Itu tindakan pahlawan.”

Kirana tersenyum getir. “Aku bukan pahlawan. Aku cuma… ibu yang nggak mau anaknya ngerasain apa yang aku rasain.”

Mereka diam lagi. Tapi kali ini, keheningannya tidak menakutkan. Malah terasa seperti pelukan diam-diam.

“Kamu sudah bicara sama pengacara?” tanya Arka.

“Iya. Bu Lusi. Dia bilang aku punya cukup bukti. Foto, chat, rekaman… bahkan catatan medis waktu aku ke puskesmas. Tapi tetap… aku takut. Kalau dia datang langsung. Kalau dia paksa bawa Gio pergi.”

Arka menatapnya tegas, tapi tetap lembut. “Kalau itu terjadi, jangan lawan sendirian. Telepon polisi. Telepon Bu Lusi. Telepon… aku. Aku tinggal lima puluh meter dari sini. Aku bisa di sini dalam dua menit.”

Kirana menggigit bibirnya. “Kenapa kamu… peduli?”

Arka tersenyum kecil. “Karena aku lihat kamu setiap pagi masak nasi goreng buat Gio sambil nyanyi lagu anak yang fals. Karena aku lihat kamu kerja sampai jam dua pagi cuma biar bisa bayar les baca buat dia. Karena kamu tersenyum ke Mbak Sari meski matamu masih bengkak. Kamu… berjuang diam-diam. Dan orang-orang kayak kamu nggak boleh sendirian.”

Kirana akhirnya menangis. Bukan tangisan histeris, tapi derai pelan yang lama ditahan. Arka tak mencoba menghibur dengan kata-kata manis. Ia hanya duduk di sampingnya, memberi waktu.

Setelah beberapa menit, Kirana mengusap wajahnya. “Maaf… aku jadi curhat begini.”

“Jangan minta maaf,” kata Arka. “Kamu nggak merepotkan siapa-siapa. Justru… terima kasih sudah percaya.”

Mereka duduk berdampingan, menatap cahaya redup dari lampu gantung. Di luar, kota Jakarta mulai tenang. Suara kendaraan malam mereda, digantikan oleh desir daun dan jangkrik.

“Gio bilang tadi, dia mau jadi polisi,” kata Kirana tiba-tiba, suaranya lebih ringan. “Katanya, biar bisa jaga Mama.”

Arka tertawa pelan. “Dia anak hebat.”

“Iya,” sahut Kirana, matanya bersinar. “Dan aku akan pastikan dia tumbuh jadi anak yang tahu: takut itu wajar. Tapi menyerah? Nggak pernah jadi pilihan.”

Arka menatapnya. “Kamu sudah tahu itu sejak lama, ya?”

Kirana mengangguk. “Tapi baru sekarang aku benar-benar percaya.”

Malam itu, Arka pulang setelah memastikan semua jendela terkunci dan lampu teras menyala. Sebelum pergi, ia menyerahkan kartu kecil berisi nomornya—ditulis manual, dengan tulisan rapi.

“Simpan di dompet. Di samping foto Gio,” katanya sambil tersenyum.

Kirana mengangguk. “Terima kasih, mas Arka.”

“Nggak usah terima kasih. Cuma janji satu hal: kalau kamu butuh bantuan, jangan tunggu sampai besok.”

Setelah Arka pergi, Kirana kembali ke dalam. Ia mengecek Gio,masih tidur pulas, boneka kelinci di pelukannya. Perlahan, ia duduk di lantai dekat ranjang kecil itu, memandangi wajah putranya.

Hatinya masih waspada. Tapi kali ini, di tengah ketakutan, ada sesuatu yang baru: keberanian yang tumbuh pelan, seperti tunas di musim hujan.

Ia bukan lagi korban yang kabur.

Ia adalah ibu yang belajar berdiri,dan kali ini, ia tahu, ia tak sendiri.

Di luar, langit Jakarta mulai memudar ke warna biru fajar. Hari baru akan datang.

1
Omah Tien
petgi aja gapain bertahan sdh di hn gt
MayAyunda: masih sabar kak😁
total 1 replies
Maryani Maryani
gmn nasib dapur kirana..gmn nasin mantan mertua sombongnya
MayAyunda: dapur Kirana off dulu kak ..meretua sombong buang kelaut kak😁😁🙏
total 1 replies
Anonim
Aneh tadi katanya punya uang 3 juta lah sekarang g punya uang kek mana sih thor cerita nya
MayAyunda: he he
total 1 replies
ceuceu
Ini kirana udah ga dapet orderan catering?
bukan nya rame ya cateringnya tiap hari ada orderan,kenapa jadi ke jahit catering ngilang
MayAyunda: sudah menikah kak suruh jadi ibu rumah tangga aja 🤭😁😁
total 1 replies
ceuceu
Pas pergi di tas ada uang 3jt sama 800,kenapa di ruko sisa uang cuma buat makan 2 hati?
MayAyunda: he..he
total 1 replies
ceuceu
Gaji pembantu aj ga 500.
iini buat masak beli susu mana cukup,ibunya aris ga pernah belanja kebutuhan dapur apa
MayAyunda: iya kak😄
total 1 replies
Wiwik Susilowati
usaha cateringny kirana gmn?
MayAyunda: sudah off kak😁
total 1 replies
Nanik Arifin
kapok loe Wid.... sukanya nyolot Mulu. udah tua nek, perbanyak ibadah, bukan perbanyak nyari kekurangan orang lain. nyari aj tuh kekurangan Tante, perbaiki biar hasilnya prima kayak tampilan nenek Widya 🤭
MayAyunda: he he ..betul kak
total 1 replies
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
buang aja kelaut suami model gini. lima ratus ribu sebulan dapat apa?
MayAyunda: he he 😁🙏
total 1 replies
🔵 🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
cih suami macam ini yang bikin naik darah. di pikir kita pembantu
MayAyunda: iya kak ..😁
total 1 replies
Nanik Arifin
gaji buta ?? klo gaji pembantu yg ngerjain semua pekerjaan berapa ? gaji pengasuh anak kamu berapa ? ganti materiil & non materiil karena hamilin anak gadis orang berapa ? punya otak dipakai dong.... jangan ky binatang, sekedar punya otak doang, g bisa mikir
fatmiatun sahono: terlalu extrim ya...sebulan 500 rb...
total 2 replies
Nanik Arifin
500 RB buat makan ayam goreng bareng teman dirumah kan, Ris ? katamu bayar 500 rb buat bayar makan ayam yg kurang gurih dirumah. berarti buat belanja sebulan blm ada duitnya. kan yg 500 kemarin. kasih buat belanja sebulan SDH buat jamu teman ?
MayAyunda: he he
total 2 replies
Wanita Aries
aw aw mulai menggombal si arka
MayAyunda: he he 😁
total 1 replies
Wanita Aries
makin seru
MayAyunda: terimkasih kak baca ceritaku yang lain kak 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
ya ampun 3thn menghadapi toxic
MayAyunda: sangat sabar ya kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
mantap
akhirnya keluar jg dari rmh tangga neraka
Wanita Aries
nah gtu dong jgn jd bodoh trus
Wanita Aries
suka karyamu thor gk ngebosenin
MayAyunda: terimkasih kak🙏
total 1 replies
Wanita Aries
ya ampun ngasih istri cm 500rb aja bangga bgt
Wanita Aries
dasar laki bajigur
MayAyunda: he he
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!