Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut ,tapi bisa cerita
Malam itu, hujan sudah benar-benar reda. Langit Jakarta berangsur jernih, dan udara malam terasa lebih ringan—meski di dada Kirana masih tersisa beban yang tak mudah larut. Ia baru saja memeriksa kunci pintu untuk ketiga kalinya ketika suara langkah kaki pelan terdengar dari luar.
Bukan derap sepatu bot atau mesin motor yang menggerung. Tapi langkah tenang, seperti orang yang tahu ia tidak perlu buru-buru.
Kirana menegang. Tangannya meraih ponsel, jari siap menekan nomor darurat. Tapi kemudian, suara itu bersahut lembut dari balik pintu.
“Kirana? Ini Arka.”
Ia mengenali suara itu—hangat, rendah, dan selalu datang tepat saat dunia terasa terlalu berat. Arka, Pria yang beberapa kali diam-diam membawakan nasi bungkus saat tahu Kirana kelelahan, atau memperbaiki talang air yang bocor tanpa diminta.Dan Arka satu satunya lelaki yang dekat dengan dia setelah perceraiannya dengan Aris .
Perlahan, Kirana membuka pintu sedikit. Matanya waspada, tapi lega saat melihat wajah Arka yang tenang, dengan jaket tipis basah oleh embun malam dan secangkir teh hangat di tangan.
“Aku lihat lampumu masih nyala,” katanya pelan. “Dan Mbak Yuni bilang ada yang ngintai tadi malam. Aku… cuma pengin pastiin kamu baik-baik aja.”
Kirana menelan ludah. Ia ingin bilang “iya, aku baik”, seperti biasa. Tapi dadanya sesak. Matanya panas. Dan entah kenapa, kali ini, ia tak bisa berpura-pura.
Ia hanya mengangguk, lalu membuka pintu lebih lebar.
Arka masuk tanpa suara berlebihan. Ia meletakkan teh itu di meja kecil, lalu duduk di lantai—menjaga jarak, memberi ruang. Seperti tahu Kirana butuh ruang untuk bernapas.
Beberapa menit mereka diam. Hanya suara jam dinding dan napas Gio yang teratur dari kamar kecil di belakang.
“Kamu nggak harus cerita kalau belum siap,” kata Arka akhirnya, suaranya pelan seperti bisikan angin. “Tapi kalau kamu butuh didengar… aku di sini.”
Kirana menunduk. Tangannya memainkan ujung kaos lusuhnya. Ia ingin diam. Tapi ada sesuatu dalam tatapan Arka—bukan rasa kasihan, bukan penasaran, tapi kehadiran yang tulus—yang membuat temboknya retak.
“Aku… takut,” katanya pelan, suaranya serak. “Aku takut dia datang lagi. Bukan cuma ngintai. Tapi… ambil Gio.”
Arka tak menyela. Ia hanya mendengar.
“Namanya Aris,,” lanjut Kirana, matanya menatap lantai. “Mantan suamiku. Dulu… aku pikir dia baik. Dia bilang mau jadi ayah terbaik buat Gio. Tapi setelah menikah, semuanya berubah. Dia mulai marah-marah karena hal kecil. Bilang aku nggak cukup cantik, nggak cukup pintar, nggak layak jadi istri. Mertuaku… lebih parah. Mereka bilang Gio lebih baik diasuh keluarga ‘berpendidikan’.”
Ia berhenti sejenak, menarik napas gemetar.
“Aku diusir bersama Gio. Cuma bawa Gio dan satu koper. Nggak ada uang, nggak ada tempat. Tapi aku tahu… kalau aku tetap di sana, Gio akan tumbuh dengan rasa takut—seperti aku.”
Arka diam sejenak. Lalu, dengan suara sangat lembut, ia bertanya, “Kenapa sekarang dia cari kamu?”
“Karena aku mulai hidup lagi,” jawab Kirana, suaranya mulai mantap. “Aku buka usaha kecil-kecilan. Punya teman. Gio sekolah. Mungkin… dia nggak terima aku bisa bahagia tanpa dia. Atau mungkin dia cuma ingin kontrol. Seperti dulu.”
Ia menatap Arka untuk pertama kalinya malam itu. Matanya berkaca-kaca, tapi tak ada air mata yang jatuh. “Yang paling aku takutkan… dia akan bilang ke pengadilan kalau aku nggak layak jadi ibu. Bahwa aku kabur seenaknya. Bahwa Gio lebih baik di tangan keluarganya.”
Arka mengangguk perlahan. “Tapi kamu (layak), Kirana. Bahkan lebih dari itu. Kamu bangun dari nol, demi anakmu. Itu bukan tindakan orang yang nggak layak. Itu tindakan pahlawan.”
Kirana tersenyum getir. “Aku bukan pahlawan. Aku cuma… ibu yang nggak mau anaknya ngerasain apa yang aku rasain.”
Mereka diam lagi. Tapi kali ini, keheningannya tidak menakutkan. Malah terasa seperti pelukan diam-diam.
“Kamu sudah bicara sama pengacara?” tanya Arka.
“Iya. Bu Lusi. Dia bilang aku punya cukup bukti. Foto, chat, rekaman… bahkan catatan medis waktu aku ke puskesmas. Tapi tetap… aku takut. Kalau dia datang langsung. Kalau dia paksa bawa Gio pergi.”
Arka menatapnya tegas, tapi tetap lembut. “Kalau itu terjadi, jangan lawan sendirian. Telepon polisi. Telepon Bu Lusi. Telepon… aku. Aku tinggal lima puluh meter dari sini. Aku bisa di sini dalam dua menit.”
Kirana menggigit bibirnya. “Kenapa kamu… peduli?”
Arka tersenyum kecil. “Karena aku lihat kamu setiap pagi masak nasi goreng buat Gio sambil nyanyi lagu anak yang fals. Karena aku lihat kamu kerja sampai jam dua pagi cuma biar bisa bayar les baca buat dia. Karena kamu tersenyum ke Mbak Sari meski matamu masih bengkak. Kamu… berjuang diam-diam. Dan orang-orang kayak kamu nggak boleh sendirian.”
Kirana akhirnya menangis. Bukan tangisan histeris, tapi derai pelan yang lama ditahan. Arka tak mencoba menghibur dengan kata-kata manis. Ia hanya duduk di sampingnya, memberi waktu.
Setelah beberapa menit, Kirana mengusap wajahnya. “Maaf… aku jadi curhat begini.”
“Jangan minta maaf,” kata Arka. “Kamu nggak merepotkan siapa-siapa. Justru… terima kasih sudah percaya.”
Mereka duduk berdampingan, menatap cahaya redup dari lampu gantung. Di luar, kota Jakarta mulai tenang. Suara kendaraan malam mereda, digantikan oleh desir daun dan jangkrik.
“Gio bilang tadi, dia mau jadi polisi,” kata Kirana tiba-tiba, suaranya lebih ringan. “Katanya, biar bisa jaga Mama.”
Arka tertawa pelan. “Dia anak hebat.”
“Iya,” sahut Kirana, matanya bersinar. “Dan aku akan pastikan dia tumbuh jadi anak yang tahu: takut itu wajar. Tapi menyerah? Nggak pernah jadi pilihan.”
Arka menatapnya. “Kamu sudah tahu itu sejak lama, ya?”
Kirana mengangguk. “Tapi baru sekarang aku benar-benar percaya.”
Malam itu, Arka pulang setelah memastikan semua jendela terkunci dan lampu teras menyala. Sebelum pergi, ia menyerahkan kartu kecil berisi nomornya—ditulis manual, dengan tulisan rapi.
“Simpan di dompet. Di samping foto Gio,” katanya sambil tersenyum.
Kirana mengangguk. “Terima kasih, mas Arka.”
“Nggak usah terima kasih. Cuma janji satu hal: kalau kamu butuh bantuan, jangan tunggu sampai besok.”
Setelah Arka pergi, Kirana kembali ke dalam. Ia mengecek Gio,masih tidur pulas, boneka kelinci di pelukannya. Perlahan, ia duduk di lantai dekat ranjang kecil itu, memandangi wajah putranya.
Hatinya masih waspada. Tapi kali ini, di tengah ketakutan, ada sesuatu yang baru: keberanian yang tumbuh pelan, seperti tunas di musim hujan.
Ia bukan lagi korban yang kabur.
Ia adalah ibu yang belajar berdiri,dan kali ini, ia tahu, ia tak sendiri.
Di luar, langit Jakarta mulai memudar ke warna biru fajar. Hari baru akan datang.