NovelToon NovelToon
Suster Kesayangan CEO Lumpuh

Suster Kesayangan CEO Lumpuh

Status: tamat
Genre:Ketos / CEO / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Pengasuh / Tamat
Popularitas:3.6M
Nilai: 4.7
Nama Author: Ra za

Sebuah peristiwa nahas menghancurkan hidup Leon dalam sekejap. Bukan hanya tubuhnya yang kehilangan fungsi, tapi juga harga diri, masa depan, dan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sosok yang dulu dikenal sebagai CEO muda paling gemilang di kota itu kini terkurung di balik dinding kamar, duduk di kursi roda, ditemani amarah dan rasa hampa yang tak pernah pergi.
Kepribadiannya berubah menjadi dingin dan kasar. Setiap perawat yang ditugaskan akhirnya menyerah, tak satu pun sanggup bertahan menghadapi kata-kata sinis dan ledakan emosinya. Hingga suatu hari, hadir seorang suster baru. Gadis muda dengan sikap lembut, namun menyimpan keteguhan yang tak mudah runtuh.
Ia merawat Leon bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menghadirkan kesabaran, kehangatan, dan secercah cahaya di tengah hidupnya yang gelap. Namun, akankah ketulusannya cukup untuk meruntuhkan benteng hati Leon yang telah membeku? Ataukah ia akan bernasib sama. Pergi, meninggalkan Leon. dalam keterpurukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Pertama Kali Merawat Tuan Muda

Penolakan Leon terdengar lebih keras dari sebelumnya.

“Aku tidak perlu perawat. Titik.”

Nada suaranya dingin, hampir tak tersentuh, seolah tak memberi ruang untuk dibantah.

Gaby berdiri di hadapannya, menahan kelelahan yang sudah sejak lama bersarang dadanya. Ia menarik napas pelan, lalu mendekat beberapa langkah.

“Kalau memang begitu,” ucapnya tenang, “jelaskan kenapa tadi kamu bisa jatuh dari kursi roda, itu tandanya kamu tidak bisa sendiri nak,kamu butuh orang lain. Tapi meskipun begitu bukan menandakan kamu lemah.” Gaby masih terus membujuk Leon.

Leon memalingkan wajah. Rahangnya mengeras.

“Kamu kehilangan keseimbangan. Untung Paman Juan cepat masuk,” lanjut Gaby. “Kalau tidak, kamu mungkin masih tergeletak di lantai sampai sekarang.”

Leon menggerakkan kursi rodanya menjauh, berhenti tepat di depan jendela. Dari sana, halaman belakang tampak hijau dan tenang, kontras dengan pikirannya yang berantakan.

“Aku bisa mengurus diriku sendiri,” katanya pelan, tapi penuh perlawanan.

Gaby berdiri di sampingnya. Suaranya melembut, nyaris bergetar.

“Tolong lah nak, kali ini dengar kan Mama. Mama hanya ingin kamu aman.”

Leon hendak menepis tangan Gaby yang menyentuh lengannya. Namun gerakannya terlalu kasar. Tangannya membentur sandaran kursi roda.

“Ah...!”

Ia menahan erangan, wajahnya menegang.

Rasa nyeri langsung menjalar.

Saat itulah langkah ringan terdengar dari arah belakang.

“Maaf, Tuan.”

Suara itu tenang, tidak terburu-buru.

Leon menoleh tajam. Seorang wanita muda berdiri tak jauh darinya. Mengenakan Seragam perawat menambah kesan rapi, wajahnya terlihat waspada tapi tidak takut.

“Tangan Anda membengkak,” lanjutnya. “Kalau boleh, saya ingin memeriksanya.”

“Apa urusanmu?” bentak Leon. “Jangan sentuh aku!”

Namun Nayla sudah berlutut di hadapannya, memegang pergelangan tangan Leon dengan sangat hati-hati, tidak mencengkeram, hanya menopang.

Sentuhannya ringan, hangat.

Leon terkejut. Ia refleks ingin menarik tangannya, tapi rasa sakit yang mulai terasa membuatnya berhenti.

“Tahan sedikit tuan,” ujar Nayla pelan. “Kalau saya salah, Anda boleh memarahi saya.”

Ia mulai memijat perlahan, menekan titik-titik tertentu dengan ritme teratur.

Leon meringis. Menahan sakit.

“Bengkaknya karena benturan dan posisi jatuh yang salah,” kata Nayla tanpa menatap wajah Leon. “Ditahan dulu. Rasa nyerinya akan berkurang.”

“Kau sok pintar,” gumam Leon, tapi tangannya tetap diam.

“Ada kalanya tubuh lebih jujur daripada kata-kata,” balas Nayla datar.

Gaby memperhatikan pemandangan itu dengan napas tertahan. Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, Leon tidak mengamuk… tidak mengusir orang yang merawatnya.

Gaby segera memberi isyarat pada Bibi Eli dan Paman Juan. Mereka mengangguk paham dan keluar tanpa suara. Gaby menyusul perlahan, menutup pintu dari luar.

Tinggal mereka berdua.

“Bagaimana sekarang, apa masih sakit?” tanya Nayla setelah beberapa saat.

Leon berdehem. “Tidak separah tadi.” ucapnya tanpa menoleh pada Nayla

“Lebih baik diberi minyak urut.”

Leon hendak memanggil Mamanya atau bibi Eli, seketika ia tersadar kamar itu sunyi. Ia menghela napas kesal.

“Ambil di laci meja.”

Nayla berdiri, mengambil botol kecil itu.

Leon menatapnya sebentar sebelum berkata, “Aku ingin berbaring. Duduk seperti ini membuat bahuku nyeri.”

Nayla mengangguk. “Baik tuan, mari saya bantu.”

Ia mendorong kursi roda ke sisi ranjang dan bersiap membantu Leon berpindah. Saat memapah tubuh pria itu, Nayla nyaris kehilangan keseimbangan.

"Berat sekali…" gumam Nayla dalam hati.

Ia menahan napas, mengerahkan seluruh tenaganya

Leon menangkap ekspresi tegang di wajah Nayla dan nyaris tersenyum.

Ternyata tidak semudah yang dibayangkan, pikir Nayla.

Namun Nayla tidak menyerah. Dengan usaha keras, Leon berhasil dibaringkan.

Nayla mengatur posisi kaki Leon secara bergantian. Saat itu ia menyadari pergelangan kaki Leon juga tampak bengkak.

“Kaki Anda juga cedera,” ucapnya serius. “Nanti akan saya urut juga.”

Leon tidak membantah. Ia menatap langit-langit kamar, membiarkan rasa nyaman yang asing menyusup perlahan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian.

 

Suara Leon terdengar rendah dan tenang, namun ada ketegasan yang membuat Nayla tahu ia tidak sedang meminta.

“Kemejaku perlu dibuka sedikit,” ucapnya singkat. “ Akan sulit bagi mu menyapu minyak itu kalau aku masih memakai baju.”

Nayla terdiam sejenak. Matanya tanpa sadar melirik ke arah tangan Leon yang sebenarnya masih bisa digerakkan. Sebuah pikiran spontan melintas dipikirannya, namun segera ia tepis jauh-jauh.

Ia mengangguk kecil. “Baik, Tuan Leon.”

Dengan gerakan hati-hati, Nayla merapikan posisi Leon terlebih dahulu. Ia menarik bantal agar leher pria itu lebih nyaman, lalu membuka beberapa kancing bagian atas kemeja yang Leon kenakan. Itu sudah cukup agar area yang perlu ditangani tidak tertutup kain.

Meski begitu, jarak di antara mereka tetap terasa begitu dekat.

Nayla menjaga pandangannya tetap pada jemarinya sendiri, fokus pada apa yang sedang ia lakukan. Ia bekerja perlahan, memastikan setiap gerakan tidak membuat Leon merasa terganggu.

Leon memperhatikan dalam diam.

Dari sudut pandangnya, Nayla tampak serius, terlalu serius untuk ukuran seorang perawat baru. Dahi gadis itu sedikit berkerut, bibirnya terkatup rapat seolah menahan sesuatu. Ada kehati-hatian yang tulus dalam setiap sentuhannya, dan entah mengapa itu membuat Leon merasa… nyaman sekaligus sulit berpaling.

“Kau sangat berhati-hati,” ucap Leon tiba-tiba.

Nayla tersentak kecil, namun tidak menghentikan tangannya.

“Saya hanya memastikan tidak ada gerakan yang salah,” jawabnya pelan. “Kondisi Anda masih sensitif.”

Leon mendengus pelan. “Kebanyakan orang terlalu takut menyentuh.”

Nayla tidak menanggapi. Ia menuangkan sedikit minyak ke telapak tangannya, menggosokkan nya sebentar, lalu mulai mengoleskannya ke lengan Leon dengan tekanan yang terukur. Gerakannya mantap, jelas terlatih.

Sesekali Leon mengernyit ketika sentuhan Nayla mengenai bagian yang masih nyeri. Biarpun begitu Leon menikmati setiap setiap sentuhan Nayla, sungguh membuatnya terasa nyaman.

“Di sini, apa tuan merasakan sakit ?” tanya Nayla saat tangan menyentuh lengan besar Leon, nadanya berubah lebih waspada.

“Sedikit,” jawab Leon jujur.

Namun ia tidak meminta Nayla berhenti. Dia ingin Nayla terus mengurutnya.

Setelah memastikan lengan Leon ditangani dengan baik, Nayla melanjutkan ke bagian kaki. Ia menyesuaikan selimut, menjaga privasi dan kenyamanan pria itu. Fokusnya kembali penuh pada apa yang akan dia lakukan, menekan titik sakit, sirkulasi, dan reaksi otot.

Hari pertamanya belum genap setengah hari.

Namun Nayla sudah berhadapan dengan pasien yang menuntut kesabaran, ketelitian, dan kendali emosi yang tinggi. Tapi Nayla yakin dengan kesabaran dan keyakinan nya, ia bisa melewati ini. Semua, Apa lagi saat ia teringat apa tujuannya bekerja. Bukan semata-mata untuk dirinya. Ayah, ya ada ayah yang begitu ia sayangi yang harus ia biayai agar sakit yang diderita ayah nya sembuh.

Dan Nayla menyadari hal yang harus ia takuti bukan sekadar sikap Leon yang dingin atau ucapannya yang tajam dan kasar.

Melainkan detak jantungnya sendiri, yang entah mengapa selalu terasa lebih cepat setiap kali Leon menatapnya terlalu lama.

1
YULIEN KANTOHE
ayo leon,buktikan ke clarissa kalau kau tidak terpuruk ,langsung move on dari hidupnya clarissa.kan sudah ada Nayla yg selama ini menemanimu leon. 💪💪💪
YULIEN KANTOHE
🤣🤣🤣 di hati leon hanya ada nama nayla yg tersemat.
YULIEN KANTOHE
🤣🤣🤣 itu lagi,baru sentuhan tangan itu.nayla.belum yg laeng.🤭
YULIEN KANTOHE
panggilah kerumah mu mom gaby,si cantik jelita itu.siapa tahu hati leon terpikat dgn nya.🤣
YULIEN KANTOHE
ada yg cuma modal gaya ya.?.🤣🤣🤣 si mery sok berani,laste lari karena di cekik lehernya.🤭
YULIEN KANTOHE
seru ceritanya.leon di tinggal pergi oleh clarisa hanya karna lron lumpuh karena kecelakaan.
Marina Tarigan
kalau kau suka sm Rafa dekati saja yuni semoga kepalamu jgn terpisah dr tubuhmu karena Rafa itu dr dulu tdk pernah mau dekat sm wanita kecuali Tia istrinys mknya jgn pupul nalurimu
Marina Tarigan
yuni kamu belum tahu siapa Rafa jgn pikir kamu bisa dekati Rafa sgt kejam kalau niatmu mengganggu rmh tgga mereka
Marina Tarigan
kenapa clarisa kok pucat kamu salah lawan malu dendiri jadinya loyo malu takut leon. Rafa tdk tandinganmu kamu mempermalukan dirimu didepan petinggi psrusahaan keok kan
Marina Tarigan
semoga berhasil niat jahatmu memenangi tender itu dan kau bisa dpt Leon palsu
Marina Tarigan
tunggu Sam kamu diperalat clarisa gatal itu hati bersekutu dgn orang gila kamu akan hancur biasanya Rafa luar biasa instinknya menjagaLeon bos dan sahabatnya bodoh
Marina Tarigan
mata2 vlarisa Rafa sdh tahu dan Leon juga menunggu waktu saja
Marina Tarigan
semoga berhasil clarisa jatuhnya kamu keliang kubur perusahaan Leon sangat besar asisten Rafa sdh tahu gerak gerik suruhanmu itu
Marina Tarigan
manejer kasihan deh lo diperalat gadis gatal dan serakah akibatnya kamu akan hancur karena Rafa sdh tahu gerak gerikmu kamu adek Davin sungguh sadar melawan Leon hidupmu sdh hancur hiduplah dgn tenang dgn perusahaan yg ada
Marina Tarigan
tadi pura2 biasa saja ya takut Nayla kepikiran kamu Lisa terlampau tinggi hasratmu smpi mencintai Leon kemurahan hati mereka kau hanvurkan tunggu akibat ulahmu
Marina Tarigan
kenapa gak curiga mkn di restoran tadi Leon sdh dikasih dr minum obat pencahar dosis tinghi kok curiga sm restoran itu
Marina Tarigan
juga dulu terlampau ringan dulu hukuman Lisa yg menjebak Dika dan Naila yg ingin melecehkan Naila dan sekarang berulah lagi semoga Naila tdk kenapa2
Marina Tarigan
gimana keadaan Rika sekaranh
Marina Tarigan
semoga Rafa jd penyelamat Tia anak yatim piatu dan menolongmya
Marina Tarigan
haha orang dekah jadi ompong dan cacat seumur hidup dikurung sampai dead
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!