NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:648
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: SENYUMAN DI BALIK DURJA

​Pagi terakhir sebelum hari yang disebut Adrian sebagai "pernikahan" tiba dengan kabut tebal yang menyelimuti hutan pinus di sekitar villa. Di dalam kamar, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecahkan oleh denting ritmis rantai emas setiap kali Ghea menggeser posisi duduknya di lantai.

​Ghea menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya tidak lagi sembab. Wajahnya datar, namun pikirannya bekerja lebih cepat dari mesin mana pun. Di tangannya, ia memegang sepotong kecil kain sisa jahitan bantal yang ia gunakan untuk membersihkan Kunci Titanium. Logam itu kini berkilau, ujungnya begitu runcing—siap untuk menembus kulit kapan saja.

​Klik.

​Suara kunci pintu terbuka. Ghea dengan sigap menyelipkan kunci itu ke balik lipatan stokingnya, lalu segera naik ke atas tempat tidur dan meringkuk, membelakangi pintu.

​Adrian masuk dengan langkah pelan. Ia tidak membawa nampan makanan kali ini; ia hanya membawa sekuntum mawar putih tanpa duri. Pria itu berdiri di tepi ranjang, menatap punggung Ghea selama beberapa menit sebelum akhirnya menghela napas panjang.

​"Ghea," panggilnya lembut. "Sampai kapan kau akan menghukum dirimu sendiri dengan diam seperti ini?"

​Ghea tidak menjawab. Ia membiarkan bahunya sedikit berguncang, seolah ia sedang menahan isak tangis yang hebat. Ini adalah awal dari sandiwara besarnya.

​Adrian duduk di sisi ranjang. Ia menyentuh bahu Ghea, dan kali ini, Ghea tidak membeku atau melawan. Ia justru membalikkan tubuhnya dan langsung menghambur ke pelukan Adrian. Ghea menyembunyikan wajahnya di dada pria itu, membiarkan air matanya membasahi kemeja mahal Adrian.

​Adrian tampak tersentak. Tangannya yang sempat ragu kini melingkar erat di pinggang Ghea. "Sayang? Ada apa?"

​"Maafkan aku... maafkan aku, Adrian," isak Ghea, suaranya terdengar sangat parau dan hancur. "Semalam... di gerbang itu... aku melihat caramu melindungiku. Aku melihat caramu mempertahankan apa yang kau anggap milikmu."

​Adrian mengelus rambut Ghea dengan penuh kasih sayang, wajahnya memancarkan kepuasan yang luar biasa. "Kau akhirnya mengerti, Ghea?"

​"Aku hanya takut," bisik Ghea sambil mendongak, menatap mata gelap Adrian dengan pandangan yang dibuat seolah-olah penuh dengan ketergantungan. "Aku takut pada dunia luar, aku takut pada rekan-rekanku yang mengkhianatiku... dan aku takut jika aku pergi, tidak akan ada lagi orang yang mencintaiku segila dirimu."

​Adrian terpaku. Kalimat itu adalah musik paling indah yang pernah ia dengar. Selama ini ia memburu validasi dari Ghea, dan kini, ia merasa telah mendapatkannya. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian, Ghea. Tidak akan pernah."

​Ghea mengusap air matanya dengan jemari yang gemetar, lalu tangannya perlahan turun dan menyentuh rantai emas di pergelangan kakinya. "Tapi ini... ini membuatku merasa seperti binatang, Adrian. Jika kau benar-benar mencintaiku, jika kau percaya bahwa aku sudah menerima takdirku di sini... tolong, jangan biarkan aku berdiri di altar besok dengan belenggu ini."

​Adrian menatap rantai itu, lalu menatap Ghea. Ada keraguan di matanya. Sisi posesifnya berteriak untuk tetap mengunci Ghea, namun sisi narsistiknya ingin dipercaya sebagai pahlawan yang dicintai.

​"Aku akan melepasnya besok pagi, tepat sebelum kau mengenakan gaunmu," janji Adrian. Ia mengambil tangan Ghea dan mencium telapak tangannya. "Asalkan kau berjanji untuk tidak pernah lagi mencari jalan keluar dari rumah ini."

​"Rumah ini adalah satu-satunya tempatku sekarang," jawab Ghea dengan nada yang sangat meyakinkan.

​Di dalam hatinya, Ghea merasa ingin muntah. Setiap kata manis yang ia ucapkan terasa seperti menelan beling. Namun, ia melihat tangan Adrian bergerak menuju saku celananya—tempat ia menyimpan kunci kecil untuk borgol emas tersebut. Ghea memperhatikan letak saku itu dengan sangat teliti.

​Target terkunci.

​"Aku ingin kita memulai semuanya dari awal besok," ujar Ghea lagi, kali ini ia memberanikan diri untuk mengecup rahang Adrian secara singkat. "Hanya kau dan aku. Tanpa rahasia. Tanpa kebencian."

​Adrian memejamkan mata, terbuai dalam manipulasi emosional yang dilakukan Ghea. Ia merasa bahwa ia telah berhasil "memurnikan" Ghea, bahwa detektif yang keras kepala itu akhirnya menyerah pada pesona sang predator.

​"Aku akan menyiapkan makan malam spesial untukmu malam ini di balkon kamar," ucap Adrian dengan suara yang jauh lebih hangat. "Kita akan menatap bintang dan merencanakan masa depan kita di pulau itu."

​Begitu Adrian keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam, Ghea langsung duduk tegak. Wajahnya yang tadi nampak penuh kasih seketika berubah menjadi dingin dan tanpa ampun. Ia meludah ke lantai, menghapus bekas ciumannya pada Adrian dengan kasar menggunakan punggung tangannya.

​"Kau sangat bodoh, Adrian," desis Ghea.

​Ghea menyadari bahwa kekuatannya bukan lagi pada lencana atau senjata api, melainkan pada kerapuhan yang ia tunjukkan. Ia telah menemukan titik lemah Adrian: kebutuhan pria itu untuk dicintai oleh korbannya sendiri.

​Ia turun dari tempat tidur, berdiri di batas jangkauan rantainya, dan menatap ke luar jendela. Persiapan altar di taman sudah selesai. Lusa, dunia akan menganggap ia telah menikah dengan seorang pria kaya misterius di sebuah villa terpencil. Tapi Ghea tahu, besok malam adalah saat di mana ia akan menggunakan Kunci Titaniumnya untuk merobek topeng kebahagiaan Adrian.

​Ia meraba kunci di balik stokingnya. Senjata itu terasa hangat, seolah-olah logam itu juga tidak sabar untuk menjalankan tugasnya.

​"Aku tidak akan lari darimu, Adrian," gumam Ghea sambil menatap bayangannya di kaca yang kini nampak seperti sosok asing—seorang detektif yang telah berubah menjadi pembunuh yang lebih dingin dari mangsanya. "Aku akan membawamu bersamaku ke neraka."

​Ghea kembali ke atas kasur dan mulai merencanakan setiap detik dari perjamuan makan malam nanti. Ia harus memastikan Adrian minum cukup banyak anggur, ia harus memastikan Adrian merasa sangat aman, sampai pria itu sendiri yang akan menyerahkan lehernya pada belati kecil Ghea.

​Semuanya berakhir di sini, di mana sang burung dalam sangkar telah berhenti mengepakkan sayap untuk terbang, dan mulai mengasah paruhnya untuk mencabik jantung sang pemilik sangkar.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!