Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di hadapan publik
"Perusahaan Anderson Group Internasional sudah menjadi milik saya!"
Suara Ares menggema lantang dan tegas, memecah keheningan yang sempat membeku di ruangan itu.
Maya dan Amelia saling berpandangan sejenak. Ada kilas kaget yang cepat mereka sembunyikan. Mereka hampir lupa bahwa Ares telah menyewa seseorang, untuk mengalihkan perusahaan ini ke tangannya.
Sementara itu, Arman menyungging senyum puas. Inilah saat ia tunggu, Elina akan dipermalukan di depan umum, dibalas setimpal atas rasa malu yang menurutnya telah ia berikan pada putranya.
Di sisi lain, para karyawan dan tamu mulai berbisik-bisik. Suara riuh rendah menyebar cepat, bahkan beberapa ponsel sudah terangkat, menyiarkan kejadian itu secara live.
"Apa kamu bilang, Mas? Perusahaan ini milik kamu?" Elina terkekeh, tawanya terdengar jahat dan menusuk. "Apa aku nggak salah dengar?"
"Elina... Elina..." Ares melangkah sedikit ke depan, nada suaranya penuh tekanan. “Sebelum kamu membuat aku jatuh dan malu, aku sudah lebih dulu menjatuhkan kamu!”
Elina berhenti tertawa.
Bukan karena takut.
Justru karena terlalu terhibur.
Ia menepuk mikrofon pelan, seperti memastikan suaranya masih tersambung dengan baik ke seluruh ruangan dan ke ribuan pasang mata di balik layar live streaming.
“Mas Ares…” ucapnya sambil menggeleng kecil, senyumnya miring dan tajam,
“kamu selalu punya satu kebiasaan buruk.”
Ia menatap Ares lurus, tanpa gentar.
“Terlalu percaya diri… sebelum memastikan pijakanmu benar-benar kokoh.”
Bisik-bisik semakin liar. Kamera ponsel terangkat lebih tinggi, sebagian tamu bahkan mundur beberapa langkah, tak percaya menyaksikan perdebatan terbuka antara suami dan istri di hadapan publik.
Ares terkekeh sinis. “Restu!” panggilnya lantang.
Restu yang berdiri tak jauh darinya segera mendekat, lalu menyerahkan sebuah map cokelat ke tangan Ares. Dengan gerakan mantap, Ares membuka map itu dan menarik keluar selembar kertas.
"Kamera, lihat ini." Ares mengangkat kertas tersebut. Kamera langsung menyorot dokumen itu dan terhubung ke layar besar, memastikan semua mata tertuju pada satu titik yang sama. "Lihat baik-baik! Perusahaan Anderson Group Internasional sudah sah milik saya!" ucap Ares dengan tegas, penuh kemenangan.
Para tamu serentak menatap layar. Di sana tertulis perpindahan kepemilikan atas nama Ares.
Di sisi lain, Maya dan Amelia saling melirik, lalu tersenyum puas, yakin permainan ini telah berakhir sesuai rencana mereka.
Maya menutup mulutnya yang sempat tegang, lalu tertawa kecil. Tawa yang dibuat-buat, namun cukup nyaring untuk didengar orang di sekitarnya.
Ia melangkah selangkah ke depan, menatap Elina dari ujung rambut hingga kaki. "Kasihan sekali," ucap Maya sambil menggeleng pelan, seolah iba. "Dari tadi bicara soal integritas, soal dewan, soal etika..." ia tersenyum miring. “Ternyata semua itu tidak ada artinya kalau secara hukum perusahaan ini bukan lagi milikmu.”
Beberapa tamu terdiam.
Ada yang mengernyit.
Ada pula yang mulai tersenyum canggung.
Amelia ikut tertawa, lalu bertepuk tangan pelan, pura-pura kagum.
“Wah… luar biasa,” ucapnya sinis.
Ia menatap Elina dengan sorot meremehkan, dari ujung rambut sampai ujung gaun.
“Begini jadinya kalau istri kebanyakan berani sama suami sendiri.”
Amelia menggeleng, lidahnya berdecak.
“Kamu pikir perempuan yang melawan suami itu bakal dapat apa? Pujian?”
Senyumnya melebar, tajam.
“Yang ada jatuhnya malah lebih memalukan.”
Ia mendekat sedikit, suara direndahkan tapi cukup keras untuk didengar orang-orang sekitar.
“Perempuan itu tugasnya mendampingi, bukan menjatuhkan.”
Amelia menegakkan dagu.
“Sekarang rasakan sendiri akibatnya.”
Sementara itu, Albert dan Aurelia masih berdiri di tempat mereka. Wajah keduanya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan, terlalu tenang untuk situasi yang seharusnya mengguncang siapa pun.
"Tuan Albert, kenapa Tuan hanya diam?" tanya Dimas, salah satu rekan bisnis Albert. "Apa benar perusahaan ini sudah menjadi milik menantu Anda?"
Albert menoleh perlahan ke arah Dimas. "Apa Tuan Dimas percaya?" tanyanya balik, tenang.
Dimas langsung terdiam. Ia memang sulit mempercayainya, namun bukti yang ditunjukkan Ares barusan membuat pikirannya kacau.
Melihat Dimas terdiam dan tampak bingung, Albert kembali berbicara. "Kita tonton saja pertunjukan ini, Tuan Dimas. Saya yakin putri saya tahu apa yang akan dia lakukan."
Kembali ke Elina...
Elina masih berdiri dengan wajah tenang, nyaris tanpa ekspresi panik sedikit pun. Sikap itu justru membuat para tamu semakin bingung. Ia melangkah perlahan mendekati Ares, tak lupa melemparkan tatapan sinis pada Maya dan Amelia—dua orang yang tampak yakin mereka telah menang.
Elina berhenti tepat di depan Ares. Jarak mereka begitu dekat. Dengan gerakan elegan, ia mengambil kertas yang masih berada di tangan Ares.
“Mas… Mas…” ucap Elina sambil menggeleng pelan. “Kamu terlalu percaya diri untuk merebut perusahaan yang jelas-jelas milik aku dan keluargaku.”
Ares terdiam.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup lama untuk ditangkap kamera.
Cukup untuk membuat bisik-bisik kembali pecah.
“Apa maksud kamu?” tanya Ares, nadanya meninggi, terlalu cepat.
Elina menatapnya tajam. “Kamu pikir hanya dengan kertas ini kamu bisa seenaknya mengalihkan perusahaan aku?” ucap Elina dingin. “Mas, apa kamu tahu atau pura-pura tidak tahu? Mengalihkan perusahaan itu tidak semudah membalik telapak tangan.”
“Aku tahu itu, Elina!” bantah Ares lantang. “Kamu pikir saya bodoh, hah? Atau kamu yang tidak terima kalau perusahaan ini sudah jadi milik aku. Jadi kamu tidak bisa seenaknya jadi CEO tanpa persetujuan aku!”
Elina tertawa. Tawa rendah, pelan, namun menusuk.
"Merebut dengan cara curang maksud kamu?" tanyanya sambil menatap Ares lekat-lekat. "Dengan menyewa seseorang untuk mengalihkannya, itu maksud kamu?"
"Tutup mulut kamu, Elina! Surat ini resmi!" bentak Ares.
"Tidak ada yang tidak resmi, Mas," balas Elina, suaranya justru meninggi dan tegas. "Ini palsu."
"Pah, bagaimana ini?" bisik Amelia panik pada suaminya.
"Tenang, Mah. Ares pasti benar," ucap Arman berusaha menenangkan, meski suaranya tak sepenuhnya yakin.
Sementara itu, Maya menatap Elina dengan amarah membara. Ia ingin sekali menyerang wanita itu, namun hanya bisa menahan diri.
"Elina, diam. Kamu harus terima kalau perusahaan ini sudah jadi milik aku!" ucap Ares tegas.
"Baik-baiklah," jawab Elina tenang. "Kalau memang surat tipis kamu ini resmi." Ia memberi kode pada salah satu pengawal.
Pengawal itu langsung paham. Tak lama kemudian, ia kembali membawa sebuah alat dan berdiri di samping Elina.
“Para tamu hadirin, mohon maaf atas kendala pada acara malam ini,” ucap Elina dengan suara tenang namun berwibawa. “Namun sebagai CEO, saya akan meluruskannya sampai selesai.”
Ia menunjuk alat di sampingnya. “Kalian tahu alat apa yang ada di samping saya?”
Para tamu mengangguk. Mereka mengenali alat tersebut, alat pendeteksi keaslian dokumen.
“Bagus kalau kalian paham,” lanjut Elina. “Jadi saya tidak perlu menjelaskannya lagi.”
Ia menoleh ke arah Ares. “Mas, kamu juga harus lihat. Milik kamu ini resmi atau tidak.”
Elina menyerahkan kertas itu pada pengawal, yang segera memasukkannya ke dalam alat tersebut.
Tak selang lama, lampu merah menyala.
Palsu.
Elina tersenyum puas, lalu menatap Ares dengan tatapan mengejek.
“Tidak mungkin…” gumam Ares.
“Astaga, mana mungkin ini bisa terjadi,” gumam Amelia pucat.
“Nggak mungkin… ini tidak mungkin,” batin Maya, menolak percaya.
“Bagaimana? Kamu masih mau mengelak lagi?” ucap Elina remeh.
“Nggak! Ini asli! Alat ini yang palsu!” bentak Ares tak terima.
“Bukan alat aku yang palsu,” balas Elina dingin. “Tapi berkas kamu.”
Ia melanjutkan tanpa memberi Ares celah. “Jangan pikir karena kamu sudah mengeluarkan uang sampai miliaran, kamu otomatis jadi pemilik segalanya.”
Elina mengangkat dagunya sedikit, menatap Ares seolah menilai sesuatu yang jauh di bawah standar.
“Kamu lupa satu hal paling dasar, Mas,” lanjutnya.
“Uang bisa membeli orang. Tapi tidak bisa mengubah fakta hukum.”
Ia menoleh sekilas ke layar besar, lalu kembali menatap Ares.
“Setiap lembar saham, setiap akta, setiap perubahan kepemilikan di Anderson Group…”
Elina berhenti sejenak, memberi tekanan.
“harus melalui tanda tangan yang sah, persetujuan dewan, dan registrasi resmi.”
Senyumnya tipis. Berbahaya.
“Dan lucunya,” katanya sambil menggeleng kecil,
“semua itu tidak pernah kamu miliki.”
Elina menghela napas pendek, seolah lelah menjelaskan hal yang terlalu sederhana.
“Kamu tertipu, Mas.”
Nada suaranya datar.
“Entah oleh orang yang kamu sewa… atau oleh kepercayaan dirimu sendiri.”
Ia menatap Ares lurus, tanpa ampun.
“Jadi berhentilah berteriak soal hak.”
“Karena sejak awal…”
Elina mendekat sedikit, suaranya diturunkan namun tetap terdengar jelas ke seluruh ruangan.
“kamu tidak pernah punya apa-apa untuk direbut.”
“Tidak! Tidak mungkin!” teriak Ares panik. “Kamu bohong, Elina! Aku akan menelepon seseorang… agar kamu dan semua orang di sini percaya!”
Ia segera mengangkat ponselnya.
“Tak usah,” potong Elina tenang. “Orang yang mau kamu ingin telepon… sudah ada di sini.”
Gerakan tangan Ares terhenti. Ia menoleh ke depan.
Dua orang menaiki podium.
Wajah Ares langsung berubah.
Deg!