NovelToon NovelToon
Pesona Kakak Posesif Season 2

Pesona Kakak Posesif Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Keluarga / Cintamanis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dwi Asti A

Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.

Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.

Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.

Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bantuan Daniyal

Awalnya Sabrina terlihat percaya dengan cerita Hanin, tapi mendadak dia berubah. Wanita itu menatap sinis pada Hanin.

“Kau pikir aku akan percaya, Samir itu pria baik, kaya dan loyal, tidak pelit seperti ayahmu,” kata Sabrina memuji selingkuhannya. Dia tampak bangga saat mengungkapkannya.

“Terserah apa pendapatmu, yang terpenting saat ini kembalikan perhiasannya dan uang milik ayah, karena kalau tidak aku akan melaporkan Luna dengan tuduhan perampokan.”

Sabrina terkekeh.

“Apa buktinya?” tanya Sabrina.

“Kalau aku menunjukkannya maka kau akan merebut dan membuangnya, jadi pikirkan saja, kau mau peduli dengan anakmu atau tidak?”

Apakah ucapan Hanin benar atau tidak, Sabrina tak berani mengambil risiko. Dia memberikan isyarat pada teman-temannya untuk menyergap Hanin. Dua wanita segera bangkit dan bergerak menghampiri Hanin.

“Kalian berdua mau apa?” tanya Hanin. Sedetik kemudian dua wanita itu memegangi kedua tangan Hanin.

“Kita apakah dia Sabrina?” tanya salah satu wanita itu.

Sabrina mengambil segelas minuman berada di atas meja lalu menghampiri Hanin. Meminta dua temannya untuk mencekal tangan Hanin dengan kuat.

“Sayangnya aku tidak bisa membantumu Hanin, ayahmu sudah menceraikanku untuk apa membantunya, biarkan saja dia tiada, dengan begitu dia tidak akan kesakitan lagi.”

“Wanita tidak tahu terima kasih, tidak tahu malu ...”

Plak!!

“Diam dan jangan mengoceh lagi!” bentak Sabrina. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya hidup menjadi orang kedua. Ayahmu itu tidak pernah benar-benar tulus menerimaku sebagai istrinya. Setelah bertahun-tahun dia tetap saja memikirkan wanita kampung ibumu itu. Aku pikir dengan menjauhkan ayahmu dengan wanita itu ayahmu bisa melupakannya, ternyata tidak.”

“Maksudmu kau yang menyebabkan ibu tidak pernah kembali kemari?”

Sabrina tersenyum meremehkan.

“Kau pintar juga, tapi sudahlah, aku bosan main drama kebaikan bersama kalian. Sekarang aku sudah menemukan pengganti ayahmu yang lebih baik, aku pikir akan bisa hidup dengan tenang, tapi kau datang kemari membawa masalah baru. Aku berikan ini untuk menyambutmu.”

Sabrina memasukkan minuman itu ke dalam mulut Hanin dengan paksa. Hanin berusaha menolaknya membuat gelas jatuh dan pecah. Kejadian itu menambah kemarahan Sabrina, tak cukup sekali, dia mengulanginya lagi mengambil minuman itu dan memaksa Hanin.

Hanin merasakan cairan itu masuk ke dalam tenggorokannya, entah minuman apa yang rasanya sangat asing, tapi kedua tangan dicengkeram kuat dan kepala di tekan membuat Hanin tak bisa bergerak.

‘Aku tidak bisa seperti ini, aku datang untuk membuatnya memberikan uang itu, bukan untuk menjadi bulan-bulanannya. Aku harus melakukan sesuatu,’ batin Hanin. Sebelum mereka berhasil membuatnya hilang kesadaran karena minuman itu, Hanin melakukan gerakan refleks menendang wanita di hadapannya itu hingga membuatnya jatuh terlentang. Hanin juga menggigit tangan wanita di samping kanannya, baru dia bisa melepaskan diri dan menyandera salah satu teman Sabrina dengan pecahan kaca gelas.

“Kalau tidak ingin wajah temanmu ini terluka segera berikan uang ayahku yang kalian ambil!” pinta Hanin.

Sabrina diam berpikir, wanita temannya memohon untuk dilepaskan tidak mau wajahnya terluka.

“Uang apa? Aku tidak tahu apa-apa soal uang itu,” balas Sabrina.

“Kalau begitu hubungi Luna sekarang dan suruh dia membawa uang itu segera!”

Melihat temannya disandera, Sabrina tidak ingin disalahkan jika ada kejadian buruk menimpa mereka. Dia tidak punya pilihan lain, saat ini hanya bisa menuruti kemauan Hanin. Dia dengan tangan gemetar menelepon Luna.

Saat itu pemilik tempat datang dan melihat ruang yang berantakan. Dia juga menjerit kaget saat melihat Hanin menyandera seseorang. Pria itu memanggil anak buahnya dan menyuruh mereka mengusir Hanin keluar, Hanin semakin kuat menekan sanderanya.

“Kalau kalian macam-macam jangan salahkan aku melukainya!” tekan Hanin.

“Hai dengar, Nak, aku sudah ingatkan untuk jangan buat keributan di sini. Lepaskan wanita itu dan pergilah, aku tidak mau usahaku menjadi kacau dan ditutup gara-gara insiden berdarah yang kalian buat. Kalian punya masalah jangan dibawa kemari.”

“Aku akan pergi setelah Sabrina memberikan permintaanku,” sahut Hanin.

Mendengar kata-kata Hanin, pria itu menghela nafas lalu menghampiri Sabrina dan berbicara dengannya. Saat yang sama muncul Daniyal di tempat itu.

Melihat kehadiran pria dengan penampilan rapi di tempat itu, pemilik tempat langsung menyambutnya dan menanyakan kedatangan, berusaha menjelaskan situasi yang terjadi di tempat itu.

“Aku datang bukan untuk berkunjung.” Daniyal kemudian berjalan ke arah Hanin yang masih menyandera wanita itu.

“Nona, kenapa sampai seperti ini? Jika ada yang melihat kejadian ini, Anda akan semakin sulit mendapatkan kepercayaan orang-orang di luar sana,” kata Daniyal mengingatkan.

“Aku hanya ingin membuat Sabrina mengembalikan uang yang Luna ambil, untuk pengobatan ayah,” jawab Hanin masih tak melepas tangan dari wanita itu.

“Saya tahu, Nona. Sekarang lepaskan dia dan ikut saya sekarang, ada sesuatu yang ingin saya beritahu kepada Anda.”

“Apa? Apa lebih penting dari ini?”

“Tentu saja.”

“Tapi ...,”

Daniyal perlahan menyingkirkan tangan Hanin dari wanita yang sudah pucat wajahnya itu dan berusaha membujuknya.

Setelah dibujuk Daniyal, akhirnya Hanin melepaskan wanita itu. Sebelum pergi, Daniyal mengingatkan pemilik tempat untuk menutup masalah yang terjadi hari itu, dan memberikan uang ganti rugi kepada pemilik tempat. Hanin merasa tidak enak sudah menyusahkan Daniyal.

“Aku akan mengganti uangmu setelah aku bekerja nanti, Kak,” ucap Hanin di dalam mobil.

“Uang apa? Itu adalah uang Tuan Aariz, Nona tidak perlu memikirkan untuk menggantinya.”

“Benarkah?”

Daniyal mengangguk, dia mana mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa uang itu uang pribadinya. Hanin tidak mungkin mau menerimanya.

“Kak Daniyal ingin mengatakan hal penting apa?” Hanin mengingatkan ucapan Daniyal.

“Mengenai biaya operasi Tuan Aariz.”

“Aku sedang mengusahakannya, Kak,s besok uang itu sudah harus ada baru proses operasi dimulai. Aku terpaksa mendatangi Ibu Sabrina meminta uang milik ayah yang diambil Luna.”

“Ini terakhir kali Nona menemuinya, saya ada uang seratus juta jika Nona bersedia menerima bantuan saya.” Daniyal mengatakannya dengan ragu-ragu.

“Kau punya uang sebanyak itu pasti tidak mudah mengumpulkannya, kalau untuk keperluan penting jangan berikan padaku. Aku juga tidak bisa menerimanya,” tolak Hanin secara halus, meskipun dia membutuhkan uang itu saat ini.

“Tidak apa-apa, Nona, uang itu memang saya kumpulkan, tapi bukan dipakai untuk saat ini, masih lama. Saya pikir Nona bisa menggunakannya dan menggantinya lain waktu.”

“Tidak, Kak, aku tidak enak. Uang itu tidak sedikit bagaimana aku bisa menggantinya.”

“Jangan dipikirkan sekarang, yang penting operasi Tuan berjalan dengan lancar.”

“Aku perlu memikirkannya terlebih dahulu,” jelas Hanin.

Daniyal merasa lega, setidaknya Hanin tidak berniat menolak bantuannya. Dia merasa kasihan melihat keadaan gadis itu yang pontang-panting mencari uang, pasti tidak semua orang bisa menghadapi situasi itu.

Ketika mereka tiba di rumah sakit, Satya baru keluar dari ruangan tempat Aariz dirawat bersama seorang dokter. Dari dokter itu Satya akhirnya tahu kondisi Aariz yang sebenarnya.

Satya dan Rio meninggalkan tempat itu menuju arah lain, membuatnya tak bertemu dengan Hanin saat baru tiba di ruang ICU.

1
Muhammad Raihan
Rasain Satya ditinggal pergi😄
Muhammad Raihan
Nekat kabur juga Hanin, posisinya serba salah juga. Selalu dianggap anak nggak jelas
falea sezi
kalah pinter ma Luna hadeh oon lu nin
Muhammad Raihan
Sudah sampai seperti itu masih saja tidak mau ngaku suka, Satya breng*** juga
Muhammad Raihan
Semangat Kakak 👍🏻
D Asti
Selamat datang di novel ke dua aku, ayo kakak pembaca yang terkasih beri author dukungannya dengan like, komentar, saran dan ulasannya ya, terima kasih😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!