Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 : Ingatan melekat
Ainur kenal aroma manis bunga Kenanga, milik wanita yang malam ini tidur di kamar tamu sayap kanan. ‘Apa kamu dan dia juga sama seperti bapak dengan mbak Neng, mas?’
Dadanya sesak, sulit menerima tapi tadi dia baru saja melihat sesuatu yang kalau tidak menyaksikan sendiri hanya dianggap mimpi, mengada-ada.
Dia teringat petuah sekaligus teguran Daryo sore hari tadi. Intinya menyuruh dia diam. Apa ini maksudnya? agar dirinya tidak tahu rahasia kebusukan yang dibalut perlakuan manis, bak suami sangat mencintai istrinya.
‘Jangan tidur Inur! Kamu harus terjaga, agar ingatan ini tidak sirna,' batinnya memaksanya untuk terus membuka mata.
‘Apa saja yang sudah kulupakan? Apa aku pernah memergoki salah satu dari penghuni rumah ini? Kenapa rasanya menyakitkan sekali,' dalam diam dia menangis, air matanya mengalir deras.
Disampingnya, Daryo sudah terbuai mimpi. Tidak tahu kalau sang istri masih terjaga, berbaring meringkuk memeluk lututnya sendiri sembari menangis hampir sesunggukan.
‘Harus dimulai dari mana? Tanya ke siapa?’ ia bingung. Setelah kejadian tadi, dan semenjak merasa kehilangan bayinya yang ketiga kali – Ainur mulai waspada terhadap sekitar. Setiap tindakan diperhitungkan, lisannya dikunci. Tidak berani sembarangan bertanya, biasanya dia sering menanyakan banyak hal ke suami dan keluarganya.
‘Rahasia apa yang kalian sembunyikan? Kenapa aku ndak boleh tahu. Kupikir kita keluarga, bersaudara – harus saling mengasihi, berbagi cerita,' bibirnya terasa perih kala digigit kuat-kuat.
Ainur merasa sendirian, tidak mengenali keluarganya. Para orang yang selama ini memanjakan dia, memberi tanpa dipinta sampai dirinya tak memiliki keinginan pribadi, kini seperti asing, tidak ia kenali.
***
Sebuah tepukan lembut membuat empunya membuka mata, Ainur berbalik – bertemu tatap dengan wajah terlalu tenang.
Kenangan semalam ternyata masih melekat. Ingatan tentang pintu terbuka, suara-suara menjijikan, membuat Ainur bergerak otomatis menepis tangan mba Neng.
Netra mba Neng bergetar samar. Sepertinya dia terkejut mendapatkan perlakuan tidak biasa dari majikan muda yang selalu bersikap ramah, sopan.
Ainur menyadari perubahan sikapnya, ia menetralkan ekspresi agar tidak mengundang curiga. Untuk sekarang, semua hal terasa aneh, meresahkan sekaligus mencurigakan.
“Maaf mbak, aku terkejut. Tak kira siapa.” Ainur berusaha duduk. Kepalanya sedikit pusing.
Mba Neng mengangguk, memaklumi. Dia menulis sesuatu di kertas.
“Nyonya sudah ditunggui ki Ageng. Waktunya pijat badan.”
Ainur menghela napas panjang, satu nama berhasil membuatnya tidak nyaman, gelisah tapi anehnya tidak dapat menolak pijitan tangan kapalan nyaris singgah di sekujur tubuhnya.
“Mas Daryo dan lainnya dimana, mbak?” Ainur melirik jam dinding, pukul sebelas siang. Tadi, entah jam berapa akhirnya dia terlelap, yang jelas sudah mendengar ayam jago berkokok.
“Ada di ruang santai. Mengobrol dengan ki Ageng.” Mba Neng menurunkan pena, memandang tenang sang nyonya muda.
Malas-malasan Ainur masuk ke kamar mandi, membersihkan diri. Rasanya dia ingin menangis kencang, meluapkan semua rasa layaknya beban menghimpit membuat dadanya sesak.
‘Kemana aku harus mencari bantuan? Kepada siapa meminta pertolongan?’ Gayung dalam genggaman dipukulkan ke permukaan air bak mandi.
Pertahanannya mulai runtuh. Logika mengikis keyakinan hati, dia tak lagi melihat dari segi sempurna, tapi mencari celah dari sudut pandang lain arah yang ternyata penuh kecacatan.
Ainur mulai kritis, berusaha mempertahankan kewarasan dengan meyakini kalau dia benar-benar pernah hamil. Tiga kali. Pun, kejadian semalam adalah nyata, bukan delusi ataupun tekanan batin yang membuatnya berpikiran liar, tak masuk akal.
Jemarinya menyenggol kran air, bunyi gemericik terjatuh menghantam permukaan yang berisi setengah bak – mengingatkan pada suara menenangkan tirai kerang saling bergesekan tertiup angin, dan sepasang warna mata langka yang sesaat menghipnotisnya.
“Mata itu mirip hewan yang mengejarku. Cuma beda sedikit, pupil Dwipangga tidak ada campuran hijau, sedangkan binatang mirip kucing tapi lebih ganas, menyeramkan berbadan raksasa itu terdapat warna hijau. Apa aku harus ke tempat pembibitan lagi, siapa tahu ada petunjuk,” ada dorongan kuat memaksanya untuk pergi ke sana.
***
Ainur membuka kain jarik yang ujungnya diselipkan dibawah ketiak. Terlihatlah bra kemben hampir mencapai pertengahan perut, serta dalaman androk celana diatas lutut.
Ki Ageng, menatap lekat secara terang-terangan badan kurus seperti tengkorak dibalut kulit.
“Berbaringlah Inur!” suaranya rendah, tegas tak terbantahkan.
Hati Ainur tidak terima, merasa dilecehkan oleh tatapan mata, ditelanjangi. Apalagi cuma ada mereka berdua di ruangan khusus pijat refleksi.
Ragu-ragu dia berbaring. Sekuat tenaga menahan tangis, agar matanya tetap kering.
“Saya periksa dulu perutnya. Kata suamimu, kamu mengeluh sakit, benar?” tanpa menunggu persetujuan – telapak tangan licin sudah dilumuri minyak sereh campur zaitun itu meraba-raba area perut mulus Ainur.
“Apa kamu kembali merasa hamil lagi?” Dia menekan bagian perut sedikit kebawah.
Ainur mengernyit, alisnya hampir menyatu, menahan rasa sedikit nyeri. Dia cuma mengangguk pelan tanpa mau memandang wajah beralis tebal, mata besar, kumis melintang, dan rahang berjambang lebat.
“Wong disini kosong. Ndak ada tanda-tanda bekas dihuni jabang bayi – lagi-lagi kamu berhalusinasi.” Ki Ageng menyuruh Ainur duduk sebentar, dipaksa minum jamu yang biasa diberikan saat sesi pijat.
Ainur menurut, tidak memiliki kesempatan untuk menolak. Dari sini, dia bisa merasakan kalau suami dan keluarganya ikut mencuri lihat serta dengar.
Seraya menahan mual dikarenakan bau ramuan herbal menyengat, Ainur menghabiskan satu gelas kecil jamu yang katanya berkhasiat memulihkan tenaga, menjaga daya tahan tubuh, menambah nafsu makan, membuat rileks serta pikiran tenang.
Kemudian Ainur kembali berbaring. Ki Ageng bergegas mengurut lengannya, tanpa sungkan menatap wajah wanita yang sudah dia pijat sedari berumur empat tahun.
“Coba ceritakan, apa saja yang kamu lihat, dengar belakangan ini. Baik dalam keadaan terjaga maupun tengah bermimpi.”
Mata sayu itu perlahan tertutup, dia merasa seperti melayang, badan ringan, tidak mendengar apapun selain titah dukun pijat langganan tiga keluarga terhormat.
“Beberapa hari ini, aku bermimpi hal yang sama ….”
.
.
Bersambung.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??
semoga Raden Dwipangga datang menolong istrinya
tp jgm pula aq di bikin misuh2 ya 🤣🤣🤣
jal
arep piye meneh nur nasib mu apes temen
apa.yg sudah di lakukan dgm iblis itu sehinga merubah sosok.bayi layak nya monster