Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan mempesona. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Alea mengira, kondisi Athalia belum pulih, sehingga dia kesal dan marah membiarkan Athalia bikin kopi. Sehingga dia terus mengisi wadah dengan batu es, karena melihat tangan Athalia masih merah.
Namun Athalia makin menangis mendengar yang dikatakan Alea. Dia tidak memperdulikan tangannya yang sudah mati rasa. Dia menarik tangannya lalu memeluk Alea. "Lea, tolong aku." Ucap Athalia sambil makin menangis.
"Iya. Aku tolong. Lekas masukan lagi tanganmu." Alea menarik lepas tangan Athalia dari bahunya untuk dicelupkan lagi ke dalam wadah.
Namun Athalia melorot jatuh ke lantai. "Tolong antar aku pulang, Lea." Athalia memohon.
"Iya, aku antar pulang. Atau mau ke rumah sakit?" Alea mengira, Athalia menangis karena rasa sakit di tangannya. Athalia menggeleng dan makin menangis.
"Sssstttt... Berhenti menangis. Nanti ada yang masuk ke pentri dan lihat kau begini. Masukan lagi tanganmu. Itu sudah mulai hilang merahnya." Alea menarik Athalia berdiri dan memasukan kembali tangannya ke wadah.
"Lea, tolong cari tahu info kecelakaan boss kita. Please..." Bisik Athalia memohon di sela tangisnya.
"Kecelakaan CEO?" Alea terkejut dengar permintaan Athalia. Dia menatap heran sambil menahan tangan Athalia tidak keluar dari wadah.
"Iya, Lea." Ucap Athalia sambil mengangguk berkali-kali untuk meyakinkan Alea.
"Tadi aku mau cerita, tapi hilang karna nyinyiran dua orang julid itu." Alea jadi ingat saat masuk ruangan administrasi.
"Jadi benar, beliau kecelakaan?" Athalia bertanya sambil menatap Alea dengan mata membesar dan basah.
"Iya. Ada beritanya di berbagai media. Kau tidak baca?" Alea makin heran melihat Athalia geleng kepala.
"Apa beliau tidak apa-apa?" Athalia berbisik sambil menangis.
"Menurut pengacara keluarga Pak Kendrick tadi malam, beliau tidak apa-apa. Beliau sedang dalam perawatan dokter...." Alea menjelaskan sambil ikut berbisik.
"Aku gak bawa HP. Nanti di ruangan, baru kita lihat infonya yang jelas. Ada apa?" Alea heran dengan pertanyaan Athalia yang sangat khawatir, cendrung takut.
"Oh, iya, Lea. Kita kembali ke ruangan saja. Aku mau lihat infonya." Ucap Athalia sambil menarik tangan begitu saja, tanpa mempedulikan kondsi tangannya.
"E eh, tunggu. Tahan sedikit lagi. Kalau kau kembali dengan matamu seperti ini dan tanganmu belum aman, aku bisa diomelin Mas Tony." Alea menahan tangan Athalia.
"Ada apa? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Alea heran dengan sikap dan reaksi Athalia yang panik dan gelisah. Dia curiga, karena reaksi Athalia bukan karena kondisi tangannya.
Athalia memiringkan wajahnya ke pipi Alea, karena tangannya sedang dipegang Alea. "Lea, aku percaya padamu. Jangan sebarkan buat yang lain, ya." Pinta Athalia sambil berbisik
"Iya, aku janji. Jangan bikin aku kedinginan karna penasaran. Ada apa?"
"Beliau adalah pria itu..."
"Pria itu? Maksudmu, pria kacamata yang menunggumu itu?" Alea tanpa sadar bertanya dengan suara keras, karena terkejut. Sehingga Athalia menarik tangannya dari wadah dan menutup mulutnya.
"Nah, basah, kan. Aku sudah minta tolong jangan..."
"Iya, iya. Sorry. Tadi aku kaget tingkat dewa." Alea memasukan lagi tangan Athalia ke wadah.
"Benar? Kau tahu dari mana? Masa itu beliau? Beda kali, Talia." Alea tanya beruntun, seakan tidak percaya.
Athalia mengangguk kuat berulang kali. Alea jadi ingat pria yang menunggu Athalia di lobby dan membandingkan dengan CEO yang masuk di karpet merah. "Beda, Talia. Masa ..." Alea tidak meneruskan karena Athalia kembali menutup mulutnya dengan tangan.
"Sini, kita kembali ke ruangan sebelum aku mati penasaran dan bajuku basah." Alea menarik tangan Athalia tanpa mempedulikan tangan mereka sedang basah. Mereka berjalan cepat ke ruangan tanpa peduli diperhatikan orang sepanjang jalan.
"Talia, gimana tanganmu?" Mereka disambut pertanyaan Tony saat masuk ke dalam ruangan.
"Terima kasih, Mas." Ucap Athalia dan Alea bersamaan sambil mengambil tissu untuk mengeringkan tangan dan wajah.
"Kalau belum sembuh, ke rumah sakit saja, Talia." Ucap Vicky yang melihat wajah Athalia sembab, habis menangis.
"Athalia, kenapa masuk? Bukannya kau harus istirahat hari ini?" Tanya supervisor yang baru masuk dan melihat Athalia sedang dipegang Alea.
"Maaf, Pak. Talia belum sembuh, ini tadi alami kecelakaan lagi. Saya minta ijin untuk antar dia pulang, Pak." Alea pergunakan kesempatan atas pertanyaan supervisor untuk minta izin. Dia ingin bicara dengan Athalia berdua, karena makin penasaran.
"Iya. Tolong antar. Kalau belum sembuh, jangan dipaksakan." Supervisor mengiyakan, tanpa bertanya lagi.
"Terima kasih, Pak." Ucap Alea dan Athalia bersamaan.
Alea segera pakai jaket, lalu mengambil tas dan paper bag Athalia. "Ayo, aku antar." Alea menarik tangan Athalia.
Rekan kerja tidak ada yang berkomentar melihat sikap supervisor. Apa lagi Alea terlihat panik dan wajah Athalia basah.
Mereka yakin, Athalia benar sakit. Sehingga semua menahan diri untuk berkomentar. Termasuk Merci dan Sita yang hanya memandang punggung Athalia.
~••
Setelah tiba di tempat kost, Athalia mengajak Alea masuk. "Oh, kau tinggal di kost. Pantas bilang dekat dengan kantor." Alea berkomentar saat masuk ke tempat parkir kost
"Masuk dulu, Lea. Aku mau minta tolong yang tadi."
"Iya. Tanpa kau ajak juga, aku akan masuk. Kau pingin isi kepalaku rontok karna penasaran?"
"Duduk di tempat tidur saja, ya. Gak punya kursi." Athalia menunjuk ranjang lalu mengambil minuman buat mereka.
"Trims. Jadi benar, pria kaca mata itu CEO kita?" Alea tidak sabar bertanya sambil mengambil gelas dari tangan Athalia.
"Iya. Itu beliau."
"Kau sudah tahu dari awal?" Alea ingat Athalia sudah membahasakan beliau kepada Ethan sejak awal.
"Gak. Aku baru tahu hari itu saat perkenalan beliau."
"Oh, jadi hari itu yang kau oleng karna terkejut mengetahui beliau CEO kita?" Alea bertanya ingat kondisi Athalia, hingga dia harus memegang tangannya.
"Iya. Apa lagi tahu beliau sudah punya pendamping. Aku merasa seperti ..." Athalia tidak meneruskan, tapi air matanya kembali menetes ingat Niel digandeng oleh seorang wanita.
"Eh, Talia. Sepertinya kau salah paham soal pendamping beliau." Alea meletakan gelas dan memegang tangan Alea dengan wajah serius.
"Maksudmu, Lea?" Athalia bingung melihat Alea yang sangat serius memegang tangannya.
"Aku yakin wanita itu bukan pendamping beliau. Apa kau gak lihat wajah beliau seperti batako saat wanita itu tiba-tiba menggandeng beliau?" Athalia menggeleng.
"Oh. Aku yakin beliau sangat marah, karena wajahnya berubah keras dan kaku." Athalia terkejut mendengar keterangan Alea.
"Dan bukan itu saja. Sepertinya beliau lakukan sesuatu pada tangan wanita itu, karena dia langsung melepaskan tangan dan wajahnya berubah, walau berusaha tersenyum."
"Apa kau marah beliau, karna itu?" Alea bertanya sambil menggoyang tangan Athalia. Dia curiga kondisi Athalia berkaitkan dengan kejadian itu.
Athalia tidak menjawab, tapi melihat Alea sambil menghapus air mata dengan tangan gemetar. Perasaannya campur aduk.
"Talia, aku tidak tahu hubunganmu dengan beliau seperti apa. Tapi kalau kau marah dan sedih karena kejadian itu, sepertinya kau salah paham."
...~•••~...
...~•○♡○•~...
. menyelesaikan solusi masalah