Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden.
Beberapa bulan kemudian Arka memutuskan untuk menikahi Alana hanya untuk melindunginya dari perjodohan orang tuanya.
Tanpa penjelasan Alana diusir oleh orang tua Arka. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana memutuskan selamanya pergi dari hidup Arka. Akhirnya dia kembali ke rumah Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Delapan
Revan keluar dari kamar Alana dengan langkah goyah. Tangannya mengepal kecil, kukunya menekan telapak sendiri tanpa ia sadari. Napasnya pendek-pendek, seperti orang yang baru saja berlari jauh, padahal jarak yang ia tempuh tidak seberapa. Dadanya terasa sesak oleh rasa takut yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
“Mbak Alana …,” gumamnya lagi, lirih, nyaris seperti doa.
Ia berdiri sebentar di ambang pintu kamar itu, menoleh ke dalam seolah berharap perempuan itu tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi. Tapi yang menyambutnya hanya keheningan.
Revan menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Matanya panas.
Tanpa menunggu Bi Marni, ia berbalik dan berlari menyusuri lorong. Kakinya yang kecil menghantam lantai marmer dengan suara tergesa. Beberapa kali hampir terpeleset, tapi ia tidak peduli. Air mata mulai mengaburkan pandangannya, tapi ia tidak berhenti.
Satu-satunya nama yang berputar di kepalanya hanya satu. Arka. Pintu kamar Arka terbuka tanpa diketuk.
“Oom!” teriak Revan sambil masuk.
Arka yang baru saja mengenakan jam tangan langsung menoleh. Gerakannya terhenti di tengah-tengah. Alisnya mengernyit begitu melihat Revan berlari ke arahnya dengan wajah basah oleh air mata dan napas terengah.
“Revan?” Arka berdiri cepat. “Kenapa kamu ....”
Belum sempat kalimat itu selesai, Revan sudah memeluk kakinya erat-erat. Tubuh kecil itu bergetar.
“Oom … Mbak Alana hilang!” Tangis Revan pecah. Suaranya naik-turun, tak beraturan. “Kamarnya kosong! Mbak Alana nggak ada!”
Kalimat itu menghantam Arka seperti peluru. Otaknya seakan berhenti sepersekian detik.
“Apa?” Suaranya langsung berubah tajam, dan tegang. “Apa maksudmu hilang?”
Revan mendongak. Wajahnya memerah, hidungnya basah, matanya sembab dan penuh ketakutan. “Mbak Alana nggak ada di kamar. Biasanya dia bangunin aku. Tapi sekarang nggak ada siapa-siapa, Oom.”
Ada sesuatu yang mengencang di dada Arka. Dia berlutut di depan Revan, memegang kedua bahu kecil itu. Sentuhannya tegas tapi hati-hati, seolah takut bocah itu pecah di tangannya.
“Tenang,” ucapnya rendah. “Cerita pelan-pelan sama Oom.”
“Aku cari ke dapur ….” Revan terisak. “Ke kamarnya lagi … kosong. Semua kosong.” Dia menarik napas tersengal. “Oom, cari Mbak Alana. Tolong.”
Permohonan itu sederhana. Tapi beratnya seperti beban yang langsung jatuh ke bahu Arka.
Perasaan tak nyaman yang sejak semalam menempel kini berubah bentuk. Tidak lagi samar. Tidak lagi sekadar firasat. Ini bahaya.
Tanpa berpikir panjang, Arka mengangkat tubuh Revan ke dalam gendongannya.
“Oom janji,” ucapnya tegas, hampir seperti sumpah. “Oom akan cari.”
Ia melangkah keluar kamar dengan langkah cepat dan berat. Bahunya menegang, rahangnya mengeras. Aura di sekelilingnya berubah drastis, dingin, menekan, seperti badai yang ditahan agar tidak langsung meledak.
Tangannya mencengkeram tubuh Revan sedikit lebih erat, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya tetap terkendali.
Tangga menuju lantai bawah dilaluinya hampir berlari. Para pelayan yang berpapasan langsung menunduk. Mereka mengenal ekspresi itu. Ekspresi Arka saat sesuatu tidak berjalan sesuai kehendaknya, saat kesabaran tinggal satu lapis tipis.
Begitu tiba di lantai bawah, Arka langsung menyapu pandangan. Matanya bergerak cepat, mencari, menghitung.
“Bi Marni!” suaranya menggema, memantul di dinding-dinding besar rumah itu.
Bi Marni yang sedang di dapur terlonjak kaget dan segera keluar. “Iya, Tuan Arka?”
“Di mana Alana?” tanya Arka tanpa basa-basi.
Bi Marni terdiam. Wajahnya langsung berubah pucat, bibirnya sedikit bergetar. “Saya … saya juga sedang mencarinya, Tuan,” jawabnya ragu. “Tadi Tuan kecil yang bilang Mbak Alana tidak ada di kamar.”
Revan memeluk leher Arka semakin erat. “Bi, Mbak Alana pergi ya?”
Bi Marni menelan ludah. “Bi tidak tahu, Tuan kecil.”
Rahang Arka mengeras. Otot di pelipisnya berdenyut pelan.
“Semalam dia ada di rumah?” tanya Arka lagi. Suaranya lebih rendah, tapi justru lebih mengancam.
“Iya, Tuan,” jawab Bi Marni cepat. “Habis makan malam masih ada. Mbak Alana masuk kamar seperti biasa. Tapi setelah itu … Bibi tidak tahu.”
“Tidak ada yang melihat dia keluar?”
Bi Marni menggeleng cepat. “Tidak, Tuan.”
Arka menghela napas perlahan. Dadanya terasa berat. Ada potongan-potongan yang mulai tersusun, tapi ia tidak menyukai gambarnya. Saat dia memaksa Alana melakukan hubungan badan.
Arka teringat dengan tangisan Alana. Dia masih merasa bersalah.
Saat itulah langkah kaki terdengar dari arah tangga. Mama Ratna muncul dari atas. Rambutnya tersanggul rapi, pakaiannya terlalu sempurna untuk situasi sepagi itu. Wajahnya tenang, datar, nyaris tanpa ekspresi.
Ia berhenti ketika melihat Revan menangis dalam gendongan Arka. “Kenapa pagi-pagi sudah ribut?” tanyanya. Nadanya dingin. “Revan kenapa?”
Revan terisak lebih keras. “Oma … Mbak Alana hilang.”
Mama Ratna mengernyit tipis. Bukan kaget. Lebih seperti heran kecil yang disengaja.
Arka menoleh padanya. Tatapannya langsung tajam. “Ma, Alana tidak ada di kamar. Apa Mama tahu sesuatu?”
Mama Ratna mendesah pelan, lalu melangkah mendekat. Tatapannya jatuh sebentar pada Revan, lalu kembali ke Arka.
“Kenapa kamu mencarinya?” tanya mama Ratna. “Bukannya dia memang sudah pergi?”
Langkah Arka terhenti. “Apa maksud Mama?” tanya Arka pelan, tapi suaranya berisi tekanan.
Mama Ratna menyilangkan tangan di depan dada. “Ya pergi. Orang seperti dia memang tidak pantas terlalu lama di rumah ini.”
Revan mendongak. Wajah polosnya penuh luka dan kebingungan. “Oma jahat … Mbak Alana baik.”
“Revan,” tegur Mama Ratna singkat. Nada suaranya dingin, memotong.
Arka mengencangkan gendongannya. Ada sesuatu yang mulai bergetar di nadinya, amarah yang merambat pelan, mencari jalan keluar. “Ma,” ucapnya, suaranya ditahan agar tetap terkendali. “Apa Mama tahu Alana pergi?”
Mama Ratna mengangkat bahu. “Pergi atau diusir, apa bedanya?”
Detik itu juga, udara di ruang makan terasa berubah. Para pelayan menunduk lebih dalam. Bi Marni menahan napas, dadanya sesak.
Arka menatap ibunya lekat-lekat. Tatapan yang jarang ia perlihatkan, tajam, dingin, dan penuh tekanan.
“Kemana Alana?” tanya Arka lagi.
Mama Ratna tersenyum tipis. “Kenapa kamu begitu peduli?” tanyanya balik. “Dia itu siapa, Arka? Hanya pembantu. Orang luar.”
Revan kembali menangis. “Oom … Mbak Alana tak boleh pergi!”
“Tutup mulutmu!" bentak Mama Ratna tajam.
Arka melangkah satu tapak maju. Lantainya berdecit pelan di bawah sepatunya.
“Jangan bentak dia, Ma,” ucap Arka pelan. Suaranya rendah, berbahaya. “Jawab pertanyaanku.”
Mama Ratna menatap putranya lama. Untuk sesaat, sorot matanya berubah keras, penuh perhitungan.
“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya,” ujar Mama Ratna akhirnya. “Perempuan itu membawa masalah.”
“Masalah apa?” Arka bertanya dengan penuh penekanan.
Mama Ratna tertawa kecil, tanpa humor. “Kamu terlalu lembek. Terlalu bermain dengan perasaan.”
Rahang Arka mengeras. Napasnya terasa berat.
“Ma,” ucapnya lebih dingin dari sebelumnya. “Apa kepergian Alana ada hubungan dengan Mama?”
Mama Ratna menatap Arka lama. Senyumnya perlahan menghilang. “Kenapa kamu bertanya seolah Mama pelakunya?”
Arka tidak berkedip. “Karena aku tahu dan kenal siapa Mama.”
Ruangan itu jadi sunyi. Bahkan suara napas Revan terdengar jelas.
Mama Ratna akhirnya berkata dengan nada datar, “Dia keluar tadi malam.”
“Tadi malam?” Arka mengulang. Detak jantungnya mengeras di telinga. “Jam berapa?”
“Setelah kamu pergi.”
Kalimat itu menancap. Arka menghela napas panjang. “Pergi sendiri atau Mama usir?”
Mama Ratna menatapnya tajam. “Kenapa kamu masih menuduh Mama?” tanyanya dingin. “Sebenarnya … apa hubungan kamu dengan dia, Arka?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Arka menatap ibunya lama. Tangannya mengusap punggung Revan pelan, menenangkan bocah yang masih terisak di dadanya. Dia tampak menarik napas, seperti berat untuk menjawab.
Semangaaat Alana,,semogah selamatdan sehat kalian ber dua,,,,setelah ITU balas Dendam Sama Arka,,,,,gimana sakit nya di pangil om sama anak sendiri....
enyah saja kau arka
😡