Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 Perlahan
"Ada rasa yang Allah titipkan perlahan, bukan untuk mengguncang hati, melainkan mengajarinya tenang sebelum jatuh sepenuhnya."
—Alya Azzura—
Pendekatan Aldivano tidak pernah datang dengan langkah besar. Ia tidak mengubah caranya berbicara secara drastis, tidak pula tiba-tiba menjadi sosok yang terlalu hadir. Semua berlangsung perlahan—nyaris seperti kebiasaan yang tumbuh sendiri, tanpa paksaan.
Celine adalah orang terakhir yang menyadari perubahan itu.
Pagi itu, udara kampus terasa lebih sejuk dari biasanya. Langit cerah, awan tipis berarak pelan, dan langkah kaki mahasiswa terdengar bersahut-sahutan di sepanjang koridor. Celine berjalan bersama sahabat-sahabatnya, membawa beberapa buku tebal yang dipeluk erat di dada. Wajahnya tampak lelah, namun matanya masih menyimpan semangat.
“Aku serius capek,” keluhnya sambil tertawa kecil. “Dosen satu ini kayaknya nggak kenal kata cukup.”
Alya—sahabat terdekatnya—mengangguk sambil mengaduk minumannya. “Tapi kamu tetap kerjain semua.”
“Ya mau gimana,” jawab Celine ringan. “Kalau nggak sekarang, nanti makin numpuk.”
Mereka duduk di bangku taman kecil tak jauh dari gedung fakultas. Angin berembus lembut, menggerakkan dedaunan. Suasana terasa biasa saja—hingga sebuah motor berhenti perlahan di sisi jalan.
Alya adalah yang pertama menoleh.
Lalu matanya sedikit membesar.
Aldivano turun dari motor dengan gerakan tenang. Tidak terburu-buru, tidak mencuri perhatian. Seperti biasa, kehadirannya membawa aura yang berbeda—tenang, stabil, seolah tidak pernah tergesa oleh waktu.
Celine menoleh menyusul.
“Mas Aldi?” panggilnya spontan, nada suaranya terdengar wajar. Terlalu wajar untuk seseorang yang sedang didekati.
Aldivano tersenyum kecil. “Kebetulan lewat.”
Kalimat yang sama.
Alasan yang selalu terdengar masuk akal.
Ia mendekat, menjaga jarak yang sopan. “Kalian lagi istirahat?”
“Iya,” jawab Celine. “Nunggu kelas selanjutnya.”
Aldivano mengangguk. “Aku cuma mau nganter ini.”
Ia mengulurkan sebuah botol minum dan satu kotak kecil berisi roti. Tidak berlebihan. Tidak berkesan romantis. Bahkan terlalu sederhana untuk dicurigai.
“Kamu tadi lupa bawa minum,” tambahnya pelan.
Celine terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. “Masih inget aja.”
“Hal kecil,” jawab Aldivano singkat.
Bagi Celine, itu hanya perhatian seorang abang. Baginya, Aldivano memang selalu seperti itu—ingat, peduli, dan tidak banyak bicara.
Namun bagi Alya, momen itu terasa berbeda.
Ia menangkap cara Aldivano menatap Celine saat menyerahkan botol itu. Tatapan yang tidak terburu-buru berpaling. Tatapan yang terlalu lembut untuk sekadar perhatian biasa.
Alya meneguk minumannya, lalu berdiri. “Aku ke perpustakaan bentar, ya.”
Sahabat Celine yang lain ikut berdiri, seolah mengerti isyarat tak terucap itu.
Celine menoleh bingung. “Loh, katanya mau bareng?”
“Nanti nyusul,” jawab Alya sambil tersenyum kecil—senyum yang penuh arti.
Mereka pun pergi, meninggalkan Celine dan Aldivano berdua.
Celine sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.
Ia duduk kembali, membuka botol minumnya. “Terima kasih, Mas.”
Aldivano mengangguk. Ia tidak duduk terlalu dekat. Tidak pula berdiri terlalu jauh. Jarak itu dijaganya dengan penuh kesadaran.
“Kamu kelihatan capek,” katanya.
“Sedikit,” jawab Celine jujur. “Tapi masih bisa.”
Aldivano menatapnya sejenak. “Jangan memaksakan diri.”
Nada suaranya datar, tapi kalimat itu mengandung perhatian yang tidak dibuat-buat.
Celine tersenyum. “Iya, Mas.”
Percakapan mereka singkat. Tidak ada topik berat. Tidak pula pembahasan yang terlalu pribadi. Aldivano hanya memastikan Celine baik-baik saja, lalu pamit sebelum kelas dimulai.
Namun setelah ia pergi, Alya menoleh dari kejauhan.
“Dia serius,” gumamnya pelan.
Hari-hari berikutnya, pendekatan itu terus berlangsung—dengan cara yang sama halusnya.
Aldivano tidak pernah tiba-tiba muncul tanpa alasan. Selalu ada konteks. Selalu ada kepentingan kecil yang masuk akal. Mengantar buku. Mengingatkan jadwal. Menanyakan kabar sekadar seperlunya.
Celine menerima semua itu tanpa curiga. Baginya, Aldivano memang selalu hadir sebagai sosok yang bisa diandalkan. Tidak lebih.
Namun sahabat-sahabatnya semakin yakin.
“Dia beda,” ujar Alya suatu sore saat mereka nongkrong di kafe kampus. “Perhatiannya konsisten.”
Celine mengangkat alis. “Siapa?”
“Aldivano.”
Celine tertawa kecil. “Ya emang dari dulu dia gitu.”
“Bukan,” Alya menggeleng. “Sekarang lebih terarah.”
Celine menyesap minumannya. “Kamu kebanyakan mikir.”
Alya tersenyum. Ia tidak membantah. Karena ia tahu—Celine memang belum sampai di titik itu.
Dan mungkin, Aldivano pun tahu.
Ia tidak mempercepat langkah. Tidak menuntut perasaan. Ia membiarkan Celine tetap berada di ruang aman yang ia kenal. Karena baginya, mencintai bukan tentang membuat seseorang terkejut, melainkan membuatnya merasa tenang.
Suatu sore, Aldivano menjemput Celine setelah kelas terakhirnya. Kali ini, Alya dan yang lain ikut.
“Mas Aldi baik banget,” ujar salah satu sahabat Celine setengah bercanda.
Aldivano hanya tersenyum tipis. “Kebetulan searah.”
Alya menahan senyum.
Dalam hati, ia memberi lampu hijau—bukan dengan kata, melainkan dengan kepercayaan. Ia tahu Aldivano bukan tipe yang bermain-main. Ia juga tahu, Celine akan aman bersamanya.
Namun ia juga tahu satu hal lain:
Celine belum menyadari apa pun.
Di perjalanan pulang, Celine duduk di belakang Aldivano, menjaga jarak, tangannya berpegangan ringan. Angin sore menyapu wajahnya, dan untuk sesaat, ia merasa tenang.
Tidak ada debar berlebihan. Tidak ada kegugupan.
Hanya rasa aman.
Dan justru itulah yang paling berbahaya.
Karena cinta yang datang tanpa disadari sering kali menetap paling lama.
Di depan, Aldivano mengemudi dengan fokus. Namun pikirannya penuh oleh satu doa yang tak pernah ia ucapkan keras-keras.
Jika memang ia adalah titipan-Mu,
maka izinkan aku menjaganya
hingga ia sendiri siap menyadari.
Dan di antara langkah-langkah kecil yang tidak diumumkan itu, sebuah perasaan tumbuh—perlahan, diam-diam, dan penuh kehati-hatian.
Belum dinamai.
Belum diakui.
Namun nyata.
***
Ada perasaan yang tidak datang dengan gegap gempita.
Ia hadir tanpa suara, menempati ruang hati sedikit demi sedikit,
hingga suatu hari—kita tersadar bahwa ia sudah terlalu dalam
untuk disebut sekadar biasa.
Hari itu langit menggantung rendah, seolah menahan hujan yang belum jatuh. Celine berjalan di antara Reina, Alya, dan Nadhifa menuju sebuah kafe kecil di sudut kota. Langkah mereka santai, percakapan ringan mengalir begitu saja. Namun di balik tawa yang terdengar, ada sesuatu yang tak sepenuhnya terucap.
Reina berjalan sedikit di depan. Wajahnya tenang, namun pikirannya sibuk. Ia terlalu sering menyimpan rahasia akhir-akhir ini. Tentang Aldivano. Tentang perhatian yang semakin jelas. Tentang perasaan yang mulai tumbuh—bukan hanya pada Aldivano, tetapi juga pada Celine yang belum menyadarinya.
Alya berjalan di samping Celine. Ia sesekali melirik sahabatnya itu, memperhatikan setiap detail kecil—cara Celine memegang ponsel, cara ia menoleh setiap kali notifikasi berbunyi, cara senyumnya berubah saat nama tertentu muncul di layar.
Nadhifa, yang paling pendiam di antara mereka, justru paling peka. Ia jarang bicara, tapi sekali membuka suara, selalu tepat sasaran.
Mereka masuk ke kafe. Suasana hangat menyambut, aroma kopi dan kayu berpadu lembut. Mereka memilih meja dekat jendela. Celine duduk menghadap keluar, menatap lalu-lalang kendaraan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Kamu bengong,” ujar Alya akhirnya, sambil membuka menu.
Celine tersenyum kecil. “Capek aja.”
Reina menahan napas. Itu bukan wajah orang capek, batinnya.
Nadhifa memesan minuman, lalu menatap Celine lekat-lekat. “Kamu nunggu siapa?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, polos namun tajam.
Celine terkejut kecil. “Nggak nunggu siapa-siapa.”
Alya mengaduk minumannya pelan. “Tapi kamu sering lihat ponsel.”
Celine mengangkat bahu. “Kebiasaan.”
Reina menunduk, menahan senyum getir. Ia tahu kebiasaan macam apa itu.
Percakapan beralih ke hal lain—tentang tugas kuliah, tentang rencana akhir pekan. Namun setiap kali hening menyela, nama Aldivano seolah mengambang di udara, siap jatuh kapan saja.
Hingga akhirnya, ponsel Celine bergetar.
Satu pesan masuk.
Celine menoleh cepat, lalu menahan diri agar tidak terlalu terlihat antusias. Namun gerakan kecil itu tak luput dari perhatian ketiga sahabatnya.
Alya dan Nadhifa saling pandang.
Reina meneguk minumnya, lebih lama dari biasanya.
“Siapa?” tanya Nadhifa ringan, seolah tak ada maksud apa pun.
Celine menjawab cepat, “Mas Aldi.”
Kalimat itu terucap terlalu refleks.
Reina hampir tersedak.
Alya menutup mulutnya, menahan reaksi spontan.
Nadhifa terdiam—lalu tersenyum kecil.
“Mas Aldi sering banget ya,” ujar Alya akhirnya, nada suaranya dibuat santai.
Celine mengangguk. “Iya. Dia… perhatian.”
Dan saat kalimat itu meluncur, Celine sendiri tersentak kecil.
Perhatian.
Kata itu terasa asing di lidahnya. Terlalu jujur.
Reina meletakkan gelasnya pelan. “Cel,” katanya hati-hati. “Kamu pernah kepikiran nggak…”
Ia berhenti.
Alya langsung menendang kaki Reina di bawah meja.
Reina terdiam. Jantungnya berdetak cepat. Ia nyaris saja keceplosan.
“Kepikiran apa?” tanya Celine, menoleh.
Reina menggeleng cepat. “Nggak. Lanjutin minum aja.”
Namun keheningan yang menyusul terasa lebih berat dari sebelumnya.
Nadhifa menyandarkan punggungnya. “Kadang,” ucapnya pelan, “ada hal yang terasa biasa karena kita belum siap menyadarinya.”
Celine menatap Nadhifa. “Maksud kamu?”
Nadhifa tersenyum lembut. “Nggak apa-apa. Anggap aja angin lewat.”
Celine tidak memaksa. Namun kalimat itu menempel di pikirannya.
Malamnya, Celine pulang dengan perasaan yang tidak utuh. Rumah terasa terlalu sunyi. Ia masuk ke kamar, merebahkan diri tanpa menyalakan lampu. Hanya cahaya lampu jalan yang menyelinap lewat celah tirai.
Ia teringat kembali percakapan di kafe.
Tatapan Reina yang ragu.
Gerakan Alya yang terlalu cepat menahan sesuatu.
Kalimat Nadhifa yang seperti teka-teki.
Dan tanpa diminta, ingatannya melayang pada Aldivano.
Cara ia selalu menghubungi di waktu yang tepat.
Cara ia tidak pernah memaksa.
Cara kehadirannya justru terasa aman.
Ponselnya kembali bergetar.
Aldivano: Sudah sampai rumah?
Celine menatap layar cukup lama sebelum membalas.
Celine: Sudah.
Aldivano: Hujan di sana?
Celine: Iya. Sedikit.
Aldivano: Hati-hati. Jangan lupa istirahat.
Pesan itu sederhana. Namun dada Celine terasa sesak.
Ia meletakkan ponsel di dada, memejamkan mata.
Detaknya terasa cepat.
Tidak wajar.
Celine membuka mata, duduk perlahan. Tangannya menekan dada.
“Kenapa aku begini?” bisiknya.
Ia mencoba menarik napas, namun jantungnya tak kunjung tenang.
Dan di sanalah—untuk pertama kalinya—ia tidak lagi menyangkal.
Ini bukan rasa nyaman biasa.
Ini bukan sekadar kebiasaan.
Ini adalah sesuatu yang berubah.
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi di kampus. Reina, Alya, dan Nadhifa memperhatikan perubahan kecil pada Celine. Ia lebih pendiam. Lebih sering melamun. Lebih sering tersenyum tanpa alasan.
Alya mendekat saat Celine duduk sendiri di taman kampus.
“Cel,” panggilnya lembut.
Celine menoleh. “Hm?”
Alya duduk di sampingnya. “Kalau aku tanya jujur, kamu jawab jujur?”
Celine terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Kalau Mas Aldi tiba-tiba menjauh… kamu akan biasa saja?”
Pertanyaan itu menancap.
Celine menelan ludah. “Kenapa nanya gitu?”
Alya mengangkat bahu. “Jawab aja.”
Celine menatap rerumputan. Lama. Lalu ia menggeleng pelan.
"Enggak,” jawabnya lirih. “Aku… kayaknya enggak akan biasa aja.”
Alya tersenyum tipis. Matanya berkaca-kaca.
“Itu jawabannya,” ucapnya.
Celine menoleh cepat. “Jawaban apa?”
Alya menggenggam tangan Celine. “Jawaban yang dari kemarin pengin kamu dengar.”
Air mata Celine jatuh tanpa suara.
Di kejauhan, Reina dan Nadhifa memperhatikan. Reina menghela napas panjang—lega sekaligus haru. Nadhifa tersenyum kecil, seolah sudah tahu semuanya sejak awal.
Dan di antara detak jantung yang akhirnya jujur pada dirinya sendiri, Celine menyadari satu hal penting:
Perasaan tidak selalu datang untuk mengganggu.
Kadang ia datang untuk mengajarkan keberanian—
mengakui apa yang selama ini kita simpan sendiri.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...