Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mekar sempurna
Alderic Zefiro. Pria ambisius serta pemimpin perusahaan besar. Sudah menghabiskan berapa botol alkohol di meja bartender. Tatapannya sayu akibat melayang pengaruh alkohol.
"Aku tidak menyesal."
Kanaga menarik nafas panjang. "Sudah cukup ayo pulang."
...----------------...
Lampu kamar sudah dipadamkan, menyisakan pendar temaram dari lampu tidur di sudut ruangan. Di balkon kecil yang terhubung langsung dengan kamar mereka, dua bersaudara— Sebria dan Keona. Duduk beralaskan karpet bulu tipis. Angin malam berembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi.
Keona menyandarkan punggungnya ke pagar besi, sementara Sebria sibuk memandangi langit yang hanya menyisakan beberapa bintang. Tidak ada gawai di tangan mereka hanya ada dua cangkir cokelat panas yang uapnya perlahan menghilang ditelan udara dingin.
"Kak," panggil Keona pelan, suaranya hampir berbisik. "Menurut kakak, kita bakal tetap begini tidak kalau sudah punya hidup masing-masing nanti?"
Sebria menoleh, tersenyum tipis melihat adiknya yang tampak melankolis. "Ya tetap begini. Paling bedanya nanti kita memiliki waktu yang sedikit."
Keona mengangguk. "Tadi pergi kemana sama Byan?"
"Ke taman saja. Byan belum pulih total jadi tidak bisa jauh."
Keona menghela nafas lalu berkata. "Tadi siang aku melihat Kak Deric sama Kak Naga."
Sebria tersentak kecil sedikit bereaksi. "Kakak sama dia sudah selesai, Keo. Misal pun dia ada disini tidak masalah kalau ketemu. Kakak sudah tidak punya urusan lagi sama dia."
Hening kembali menyelimuti, tapi bukan keheningan yang canggung. Itu adalah jenis sunyi yang nyaman, di mana kata-kata tidak lagi diperlukan untuk menjelaskan betapa kuatnya ikatan mereka. Di bawah langit malam yang luas, kamar itu menjadi saksi bisu bahwa meski mereka tumbuh dewasa dan menempuh jalan yang berbeda, mereka akan selalu memiliki satu sama lain untuk sekadar berbagi secangkir cokelat dan cerita sebelum tidur.
...----------------...
Pintu kaca putih itu terbuka dengan denting lonceng yang renyah, menyambut sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela kaca besar.
Udara di dalam toko seketika berubah segar, lembap, dan dipenuhi aroma manis yang bercampur antara mawar, sedap malam, dan wangi tanah dari pot-pot tanah liat.
Di sudut ruangan, ember-ember plastik berisi bunga potong baru saja tiba. Kelopak mawar yang masih menguncup tampak berkilau oleh sisa embun, sementara jajaran bunga matahari di dekat jendela seolah sedang berebut menyerap cahaya pertama. Di atas meja etalase panjang, beberapa tangkai eukaliptus berserakan, menunggu untuk dirangkai menjadi buket yang cantik.
Suara gunting tanaman yang beradu dengan batang bunga menjadi ritme pembuka hari. Air dalam vas bening memantulkan cahaya ke dinding, menciptakan pola-pola air yang menari lembut. Pagi di toko bunga bukan sekadar tentang berjualan, melainkan tentang menyiapkan pesan-pesan tanpa kata yang akan diantar kepada seseorang. Entah itu permintaan maaf, ucapan selamat atau sekadar ungkapan rindu yang mekar bersama matahari.
Lonceng di atas pintu berdenting lagi, kali ini dengan irama yang sudah sangat dikenal oleh sang pemilik toko. Tanpa perlu menoleh dari rangkaian krisan yang sedang ia susun, Sebria tahu siapa yang datang. Langkah kaki itu berhenti tepat di depan meja etalase, membawa aroma parfum maskulin yang samar di antara wangi melati.
"Masih sepagi ini dan kamu sudah sibuk dengan duri-duri itu?" suara berat itu menyapa, hangat dan akrab.
Sebria mendongak, menyisipkan anak rambut ke balik telinga sambil menyunggingkan senyum tipis. "Bunga-bunga ini tidak bisa menunggu sampai siang, mereka ingin segera tampil cantik. Je..."
Jehan tidak langsung memesan. Ia justru bersandar pada pinggiran meja, memperhatikan jemari terampil Sebria yang bergerak lincah mengikat pita.
Ada percakapan tak kasat mata yang mengalir di antara sela-sela kelopak bunga. Sebuah kedekatan yang tumbuh perlahan, persis seperti kuncup mawar di sudut ruangan yang mulai merekah karena hangatnya matahari pagi. Di toko bunga yang harum itu, mereka tidak hanya berbagi ruang, tapi juga berbagi hening yang mulai terasa seperti rumah.
"Aku mau bunga matahari."
Sebria menatap sekilas. "Kamu yang antar Byan ke sekolah?"
"Hm, aku mau minta tolong nanti pulang sekolah bisa antar Byan ke kantor ku. Bi Merry dan Pak Adi ada urusan di kota nya."
"Bisa." Sebria mengambil beberapa tangkai bunga matahari. "Tidak usah di bayar. Semangat bekerja."
Jehan mematung. Wajahnya yang biasa tenang kini menampakkan rona tipis di sekitar tulang pipi. Ia salah tingkah tangannya tiba-tiba merasa kikuk, berpindah dari saku celana ke tengkuk leher, lalu berakhir dengan merapikan kerah kemejanya yang sebenarnya sudah rapi. Ia berusaha membalas senyuman itu, tapi yang muncul justru senyum simpul yang tampak sedikit dipaksakan karena ia sedang sekuat tenaga menahan debar jantung yang mendadak liar.
"Ah, iya... kamu juga. Semangat... jaga bunganya," Jawabnya terbata, merutuki dirinya sendiri karena kalimatnya terdengar sangat kaku.
Sebria tersenyum. "Nanti aku antar Byan kesana. Hati-hati dijalan."
Jehan segera berbalik menuju pintu, namun langkahnya tidak lagi berat seperti saat ia datang tadi. Ada perasaan ringan yang membuncah di dadanya, seolah-olah ribuan kelopak bunga yang ada di toko itu kini berpindah dan mekar di dalam hatinya. Saat mendorong pintu dan kembali ke bisingnya jalanan, ia tidak bisa berhenti memandangi setangkai bunga di tangannya.
Dunia yang tadinya abu-abu karena beban pekerjaan, mendadak berubah warna hanya karena satu kalimat penyemangat dari balik meja etalase penuh bunga itu.
Jehan melangkah keluar dengan senyum yang sulit disembunyikan, seolah-olah tanah yang ia injak berubah menjadi hamparan awan. Bunyi lonceng pintu di belakangnya masih terngiang, semanis ucapan semangat yang baru saja ia terima. Tangannya menggenggam beberapa tangkai bunga matahari pemberian Sebria dengan sangat hati-hati, seakan sedang memegang harta paling berharga di dunia.
Sepanjang jalan. Senyum Jehan tidak pudar hingga tanpa terasa sudah tiba di kantor. Beberapa orang yang berpapasan dengannya mungkin mengernyit heran melihat seorang atasan berjalan sambil sesekali menunduk menatap bunga matahari dan tersenyum sendiri.
Namun, ia tidak peduli. Udara pagi yang biasanya terasa gerah, kini terasa sejuk dan menyegarkan. Beban pekerjaan yang menantinya di lantai tiga puluh seolah menguap begitu saja, digantikan oleh bayangan wajah sang mantan kekasih yang masih membekas di benaknya.
Jehan berjalan menuju lift khusus dengan langkah ringan, hampir seperti melompat kecil. Di dalam hatinya, sebuah narasi manis sedang berputar ulang—mengulang setiap detik interaksi singkat tadi. Pagi ini bukan lagi tentang rutinitas yang membosankan. Pagi ini adalah tentang perasaan yang mekar sempurna, tepat saat ia melintasi pintu keluar toko bunga itu.
"Wow, ada apa dengan wajah ini?"
Jehan tersentak mundur saat memasuki ruangannya. Disana Arkan duduk manis menatap penuh selidik melihat wajah sahabatnya yang tidak seperti biasa nya.
"Kenapa sepagi ini kamu sudah disini." Jehan menaruh bunga matahari ke dalam vas penuh hati-hati.
"Bunga matahari lagi?"
"Hm, apa aku sudah cerita." Senyum masih mengembang di bibir Jehan sambil menatap penuh cinta pada bunga matahari.
"Cerita?"
"Iya, pemilik toko bunga depan sekolah Byan adalah Sebria." Jehan memutar tumitnya duduk di sofa. "Bunga ini dari dia." Rona merah tipis masih membekas di tulang pipi pria dewasa itu.
Arkan menatap sinis. "Jatuh cinta diusia ini ternyata cukup mengerikan ya..."