NovelToon NovelToon
A Killer Reborn

A Killer Reborn

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.

Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKR 03 — Hari Pertama

Elizabeth tersentak bangun dengan napas tercekik, tubuhnya refleks menegang seperti binatang yang diserang mendadak saat tiba-tiba ia merasakan tubuhnya disiram air dingin. Tangannya bergerak cepat ke samping bantal, mencari senjata yang sama sekali tak ada. 

“Bangun! Dasar pemalas!” Suara parau itu terasa menusuk telinganya.

Elizabeth bangun dengan malas dan di hadapannya berdiri seorang perempuan tua dengan rambut memutih tak rapi dan wajah yang dipenuhi kerutan tajam. Tangannya masih memegang ember plastik kosong, air menetes dari bibir ember itu ke lantai kayu yang lapuk. Tatapannya penuh kesal, seolah Elizabeth bukan manusia, melainkan beban.

Untuk beberapa detik, Elizabeth hanya menatapnya.

Insting lamanya bekerja otomatis, Elizabeth berpikir untuk langsung mencekik perempuan di depannya itu. Membunuh adalah keahliannya. Ia bahkan pernah membunuh pria bersenjata hanya dengan sendok makan. Perempuan tua itu bahkan tak akan sempat berteriak.

Tangannya sempat terangkat ke atas. Namun potongan ingatan Elijah menyelinap masuk, pelan dan menyakitkan. ia tak bisa membunuh perempuan di hadapannya itu, karena meskipun kejam, bibi Elijah itu cukup sudi untuk menampung Elijah dan adiknya di rumah.

Elizabeth mengembuskan napas panjang. Ia jengkel sekali karena sudah diperlakukan buruk. Di kehidupan lamanya, tak ada seorang pun yang berani membangunkannya, apalagi menyiram air dingin padanya. Tapi Elizabeth harus segera sadar, ia bukanlah Elizabeth, melainkan Elijah. Gadis malang yang menyedihkan. 

“Sudah siang begini kau masih tidur?!” bentak perempuan itu. “Cepat pergi bekerja dan hasilkan banyak uang! Rumah besar itu sudah menunggumu. Kau pikir bisa makan gratis di sini, ha?”

Perempuan tua bernama Margareta itu terus menggerutu panjang, ia melemparkan embernya asal hingga meninggalkan bunyi yang nyaring sebelum akhirnya suara jeleknya hilang ditelan kejauhan. 

Kamar itu kembali sunyi. Elizabeth duduk diam beberapa saat, rambutnya yang kusut basah, air dingin merembes ke punggungnya. “Di kehidupan lamaku, tak ada yang berani memperlakukanku seperti ini. Orang-orang gemetar hanya dengan mendengar namaku. Tapi bibi tua jelek itu bahkan berani menyiramku seperti tikus got. Sialan.”

Amarah itu muncul lagi, panas dan familiar. Namun kali ini ia menelannya. Membunuh perempuan tua itu tidak akan mengubah apa pun. Ia bukan musuh. Hanya seseorang yang keras karena hidup terlalu lama dipukul kenyataan.

Elizabeth bangkit perlahan. Jemarinya mengepal. Kalau ia harus hidup di tubuh ini, maka ia punya satu tujuan penting, yaitu mencari para pelaku kejahatan yang sudah membuat hidup Elijah begitu menderita dan memastikan tak ada satupun yang lolos.

Gang-gang sempit menyambut langkahnya dengan bau sampah dan air selokan. Dinding kusam dipenuhi cat mengelupas, atap seng berderit tertiup angin pagi. Anak-anak kecil berlari tanpa alas kaki, suara tangis bercampur teriakan pedagang keliling. Dunia Elijah terasa kecil, padat, dan pengap. 

Tempat tinggalnya itu begitu kumuh. Elizabeth ragu apakah lingkungan itu masih pantas disebut lingkungan atau tempat pembuangan. 

Elizabeth berjalan tanpa suara, kepalanya sedikit menunduk, namun matanya mengamati segalanya. Semakin jauh ia melangkah, pemandangan perlahan berubah. Gang reyot berganti jalan beraspal halus. Rumah-rumah petak berubah menjadi pagar besi tinggi dan taman terawat. Gundukan sampah menghilang, digantikan bunga-bunga mahal yang terawat dengan baik.

Lalu, langkah Elizabeth terhenti di depan bangunan yang seperti istana. Bangunan itu begitu besar dan megah, dindingnya terbuat dari marmer krem yang berkilau saat tertimpa cahaya pagi. Air mancur kecil berdesis pelan di tengah halaman. Jendela-jendela tinggi memantulkan bayangan langit seperti cermin.

Elizabeth berhenti. Rumah itu memang megah, tapi terlihat biasa baginya. Bangunan itu bahkan mengingatkannya pada beberapa safe house miliknya dulu, tempat para elit menyembunyikan rahasia kotor mereka.

Bibirnya melengkung tipis. Pengalamannya mengajarkan satu hal, semakin megah sebuah rumah, semakin busuk dosa penghuninya.

Gerbang berderit terbuka dan seorang penjaga tua keluar menyambutnya. Punggungnya bungkuk, rambutnya memutih rapi, senyumnya tipis dan aneh, terlalu ramah untuk tempat seperti ini.

“Kau terlambat lagi, Elijah?” tanyanya pelan.

Elizabeth hanya mengangguk tipis. Ada sesuatu dari pria tua itu yang membuatnya merasa jijik. 

Pria itu mendekatinya, lalu berbisik pelan hingga nyaris tak terdengar, “Jangan lupa temui aku di gudang biasa, kita akan bersenang-senang setelah pekerjaanmu selesai.” 

Elizabeth mengernyit, kalimat yang diucapkan pria itu terasa seperti sebuah perintah yang ambigu. Tepat saat itulah, instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi antara pria penjaga itu dan Elijah. 

Jika ingin memastikannya, aku harus menemuinya, kan? Aku yakin pria tua bangka mesum ini mengetahui sesuatu, pikirnya lalu mengangguk kecil. 

Elizabeth kemudian berjalan masuk lewat pintu belakang rumah itu sambil mengamati jalanan, pintu masuk, taman dan apapun yang bisa dilihatnya. 

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, sebuah ember dan sapu dilempar ke lantai di depannya, tepat begitu kakinya menjejak masuk. Elizabeth terkejut, namun hanya bisa terdiam. 

Seorang perempuan paruh baya berkacamata tajam, yang merupakan kepala pelayan rumah itu menatapnya sinis.

“Bersihkan kamar tuan muda sekarang juga. Dan ingat, jangan sampai ada satu debu pun yang tertinggal jika kau tidak mau kena hukuman lagi!” tegasnya. 

Elizabeth memungut peralatan itu tanpa protes. “Kadang, untuk membunuh mangsa, kau harus masuk dulu ke sarangnya,” gumamnya pada diri sendiri. 

Ia melewati lorong panjang yang dipenuhi lukisan mahal, vas porselen, dan karpet tebal. Setiap sudut memamerkan kekayaan yang berlebihan. Benda-benda itu berkilau, namun baginya semuanya terasa biasa saja. Dalam sekali lihat saja, ia bahkan tahu semua itu adalah imitasi. 

“Ini bukan rumah, tapi lebih seperti panggung kesombongan.” Elizabeth kemudian terhenti tepat di depan sebuah kamar. 

Saat ia membuka pintu kamar sang tuan muda itu, aroma-aroma asam langsung menyerangnya. Alkohol, asap rokok, dan sesuatu yang asam bercampur menjadi bau yang menjijikkan. 

Elizabeth refleks menutup hidungnya, mengamati kamar yang terlihat seperti kandang binatang itu dengan perasaan jijik dan mual. Ada banyak sekali botol-botol anggur yang kosong berserakan di meja dan lantai, pakaian kotor menumpuk di ujung ranjang, bubuk putih yang ia kenali sebagai obat terlarang tergeletak terang-terangan di meja. 

Ia melangkah masuk perlahan, rasa muak merayapi tenggorokannya. Lalu pandangannya jatuh pada sebuah foto di meja samping tempat tidur. Beberapa pria muda tertawa di sebuah pesta. Wajah-wajah muda yang penuh kesombongan dan merasa paling berkuasa.

Elizabeth sudah sering menemui anak-anak muda seperti mereka. Anak-anak muda itu sama sekali tidak takut dengan apapun, karena orang tua mereka memiliki kekuasaan dan kekayaan yang membuat mereka berani berbuat onar. 

“Cih, berandalan.” Elizabeth menatap foto itu lama, mengingat dengan baik wajah-wajah itu. Lalu ingatan Elijah meledak di kepalanya, membuat sensasi pusing yang menghantamnya berkali-kali 

“Sedang apa kau di sana?” 

1
awesome moment
mesti mengumpulkan ingatan utk merangkai cerita meski cm sekedar baca
Night Watcher
mood ku mulai hilang tor, karna terlalu lama teka teki sulivan.
kalo bab berikutnya masih gak terungkap, kyknya mending gak lanjut deh..😇
❤️⃟Wᵃf༄SNѕ⍣⃝✰🥑⃟ᴢͣʏᷮᴀͬɴͥ🦀
mulai curiga.
awesome moment
smg eliz ttp tersamar dlm tubuh elijah
awesome moment
d yg jd stalker eliz
awesome moment
eliz sdg bermain. spt mrk mempermainkan elijah dlu. melecehkan elijah. merekam dan menjual. bahkan dajjalpun spt.nya hrs berguru ke mrk soal kekejian
awesome moment
good. kehadiran eliz jd bukti kesakitan yg slama n elijah derita
awesome moment
bikin perkara n manusia buzuk 1
awesome moment
smg eli tdk dihalangi
awesome moment
😄😄😄mrk butuh disiksa, eli
Night Watcher
sayangnya elij gak bisa menyamarkan sikapnya agar gak menimbulkan kecurigaan, utk memuluskan langkah selanjutnya.
awesome moment
👍👍👍cerdik
awesome moment
duh...kasihan bgts ternyata elijah..
awesome moment
duh...smg elijah bukan sasaran pelecehan berkali2
Night Watcher
sudah saatnya ikutan sukreb..👌
Night Watcher
hingga bab ini, alurnya bagus & penyajiannya simpel dan asyik diikuti.👌💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ada, Elijah buktinya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Fisik nya sama tapi roh nya beda 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang sudah berubah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
dan sekarang akan balas dendam 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!