Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.
Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.
Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.
Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.
Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUNTUHNYA DINASTI SANG PENINDAS
POV Maria Joanna
Lampu sorot dari langit begitu menyilaukan, membuatku harus menyipitkan mata di tengah kerikil tajam yang masih menusuk lututku. Suara gemuruh baling-baling helikopter itu begitu memekakkan telinga, menciptakan badai angin kecil yang menerbangkan debu di halaman belakang mansion Adrian.
"Apa-apaan ini?! Adrian, siapa mereka?!" teriak Evelyn histeris. Ia menutupi wajahnya dengan lengan, cambuk kecil yang tadi hendak ia gunakan untuk menyiksaku kini jatuh tergeletak di tanah yang berdebu.
Aku menoleh ke arah Adrian. Pria yang tadi begitu angkuh kini tampak seperti orang linglung. Ponselnya jatuh ke atas kerikil, layarnya retak, namun masih menunjukkan notifikasi berwarna merah yang menyala-nyala. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot menatap ke arah helikopter hitam legam tanpa logo perusahaan mana pun yang kini mulai mendarat dengan gagah di halaman rumahnya yang luas.
"Asetku... semua rekeningku diblokir..." gumam Adrian lirih, suaranya nyaris hilang ditelan deru mesin. "Bagaimana mungkin konsorsium Spanyol bisa menjangkau bisnisku di Jakarta dalam sekejap?"
Aku hanya bisa terdiam, memeluk diriku sendiri yang gemetar kedinginan. Di tengah kekacauan itu, pintu helikopter terbuka. Sekelompok pria berseragam hitam dengan perlengkapan taktis lengkap melompat turun. Mereka bergerak cepat dan terorganisir, tidak terlihat seperti polisi lokal. Mereka memiliki postur tegap dengan lambang Singa Emas yang disulam rapi di lengan kiri mereka—lambang yang sangat kukenali, sama persis dengan liontin ibuku.
Apakah ini nyata? Apakah ini semua mimpi buruk lainnya? Jantungku berdegup kencang di balik jas Adrian yang kini menyelimuti bahuku.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi keluar dari helikopter, memegang sebuah map kulit hitam. Langkah kakinya begitu mantap, memancarkan wibawa yang membuat para pengawal Adrian mundur ketakutan tanpa perlu diancam. Pria itu adalah Sebastian, tangan kanan kepercayaan Raja Arthur yang dikirim langsung dari Madrid.
"Tuan Adrian," suara Sebastian terdengar tenang namun mengandung otoritas yang mematikan. Ia berhenti tepat di depan Adrian yang masih terpaku. "Anda telah melakukan kesalahan fatal. Anda telah menyentuh sesuatu yang harganya jauh lebih mahal daripada seluruh keturunan dan harta yang Anda miliki."
"Siapa kalian?! Pergi dari rumahku! Aku akan menelepon polisi!" Evelyn berteriak gila, mencoba mempertahankan sisa-sisa kesombongannya yang kini sudah hancur lebur.
Sebastian melirik Evelyn sekilas, tatapan yang cukup untuk membuat wanita itu bungkam seketika. "Rumah ini? Nyonya, sejak tiga menit yang lalu, tanah tempat Anda berdiri ini sudah berpindah tangan. Seluruh sertifikat aset Anda telah dibeli secara sah oleh Royal Crown Holdings dari Spanyol. Secara hukum, Anda berdua adalah gelandangan di rumah ini."
Aku terperangah. Adrian bangkrut? Dalam hitungan menit? Pria yang tadi menyiksaku kini tidak lebih dari seorang pengemis tanpa rumah.
Sebastian tidak membuang waktu untuk berdebat dengan "tikus-tikus kecil" itu. Ia segera membalikkan badannya, mencari sosok yang menjadi alasan utama ia melintasi setengah bola dunia. Matanya menangkap sosok wanita muda yang sedang berlutut di atas kerikil, dengan pakaian robek dan wajah yang memar.
Hati Sebastian mencelos. Ia segera berjalan mendekat dan ikut berlutut di depan Maria Joanna, mengabaikan kerikil tajam yang menusuk lutut celana mahalnya.
"Yang Mulia Putri Maria..." ucap Sebastian dengan nada yang sangat hormat, hampir menyentuh tanah. Bahasa Indonesianya terdengar fasih dengan aksen Eropa yang kental.
Maria menatapnya dengan bingung, air matanya masih mengalir. "Siapa... siapa Anda? Kenapa Anda memanggilku begitu?"
"Nama saya Sebastian, pelayan setia ayahanda Anda, Raja Arthur dari Spanyol. Kami telah mencari Anda selama dua puluh tahun, Yang Mulia. Dan hari ini, pencarian itu berakhir," Sebastian mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan putih. "Mohon maafkan keterlambatan kami. Ayah Anda sedang dalam perjalanan dengan jet pribadi dan akan tiba beberapa jam lagi. Beliau bersumpah akan meratakan siapa pun yang membuat Anda terluka."
Di saat yang sama, melalui sambungan satelit di telinga Sebastian, suara berat Raja Arthur terdengar. "Sebastian, apakah kau sudah menemukannya? Apakah dia terluka?"
"Sudah, Yang Mulia. Namun... hamba harus melaporkan bahwa putri Anda telah disiksa secara fisik oleh mereka," lapor Sebastian, matanya melirik sinis ke arah Adrian dan Evelyn.
Suasana di seberang sana mendadak senyap, namun Sebastian bisa merasakan hawa membunuh yang terpancar bahkan melalui sinyal satelit. "Bawa dia ke hotel terbaik. Amankan. Dan untuk pria itu... jangan biarkan dia mati dulu. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya sebelum aku sendiri yang mengakhiri napasnya."
POV Maria Joanna
Aku tidak tahu harus merasa apa. Rasa sakit di lututku seolah hilang digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa. Putri? Aku seorang Putri Raja?
Sebastian membantuku berdiri dengan sangat lembut. Ia kemudian melepaskan jas mahalnya dan menyampirkannya ke bahuku yang terbuka. Kehangatan jas itu meresap ke kulitku, seolah memberikan perlindungan dan martabat yang selama ini tak pernah kudapatkan.
"Tunggu! Ini pasti salah paham! Maria hanyalah pelayan simpananku! Dia orang miskin!" Adrian mencoba mendekat, namun dua pria berseragam hitam langsung menahannya dan menekannya ke tanah, wajahnya mencium debu kerikil.
"Diam, Tuan Adrian," desis Sebastian. "Mulai detik ini, Anda dilarang menyebut nama beliau dengan mulut kotor Anda. Anda telah menyabotase bisnis Pak Bambang, ayah angkat Putri Maria, dan menghancurkan hidup mereka. Semua bukti kejahatan finansial Anda telah kami serahkan ke pihak berwenang internasional. Anda tidak hanya bangkrut, Anda akan menghabiskan sisa hidup Anda di balik jeruji besi."
Evelyn mulai menangis meraung-raung, menyadari bahwa kehidupan mewahnya telah berakhir. Ia mencoba merangkak ke arahku, memohon ampun dengan air mata buaya yang menjijikkan. "Maria... tolong aku... aku tidak tahu kalau kamu putri raja..."
Aku menatapnya dengan dingin. Benih kebencian yang tadi tumbuh di truk kini telah mekar menjadi pohon dendam. Aku teringat tamparannya, aku teringat bagaimana ia menyeretku. "Kau bilang aku debu di bawah sepatumu, Evelyn? Sekarang, lihatlah siapa yang sebenarnya berada di tanah."
Aku berbalik, melangkah menuju helikopter dengan bantuan Sebastian. Aku tidak menoleh lagi. Penderitaan Maria Joanna yang miskin telah berakhir malam ini. Namun, perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Perang antara Ayahku—pria yang paling berkuasa di Eropa—dan Adrian, dalang di balik semua penderitaan keluarga angkatku.
Saat helikopter mulai naik, Maria melihat sebuah iring-iringan mobil mewah hitam masuk ke halaman mansion. Di mobil paling depan, seorang pria dengan aura penguasa turun dengan wajah penuh amarah. Itu adalah Arthur. Adrian yang melihat sosok itu langsung pingsan karena tahu siapa yang datang untuk mencabut nyawanya.