NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh
Popularitas:246.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Lena Cari Muka

Lorong rumah itu terasa lengang ketika Lena melangkah keluar dari kamar tamu. Pintu ia tutup perlahan, tanpa suara. Di balik ketenangan langkahnya, pikirannya bergerak cepat. Berdebat dengan Raisa hanya akan membuatnya tampak buruk. Ia butuh strategi lain—strategi yang lebih halus, lebih mengena.

Ia mengatur napas sebelum berbelok menuju ruang keluarga.

Dari kejauhan, ia melihat Krisna duduk seorang diri di sofa panjang. Tubuh pria itu sedikit membungkuk, kedua tangannya bertaut di depan, tatapannya kosong mengarah ke lantai. Wajahnya terlihat lelah. Lingkar gelap samar di bawah matanya menandakan kurang tidur beberapa malam terakhir.

Lena berhenti sejenak di sudut lorong.

Perlahan, ia mengubah raut wajahnya. Sudut bibir yang semula netral mulai turun. Alisnya berkerut tipis. Ia mengedip beberapa kali, memaksa air mata berkumpul di pelupuk. Dalam hitungan detik, ekspresinya berubah menjadi sendu—rapuh—seolah baru saja menerima pukulan yang menyakitkan.

Ia melangkah mendekat.

“Permisi Pak Krisna, maaf, mau mengganggu sebentar,” ucapnya pelan.

Lamunan Krisna buyar. Ia mengangkat kepala, sedikit terkejut.

“Ya,” jawabnya singkat, suaranya rendah.

Lena berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam di depan perut. Bahunya sedikit terkulai.

“Pak Krisna ... bagaimana dengan nasib saya?” tanyanya lirih.

Krisna mengernyit. “Maksudnya?”

“Saya baru saja bekerja sebagai pengasuh anak Bapak,” lanjut Lena, suaranya mulai bergetar. “Lalu tiba-tiba sekarang ada pengasuh baru untuk anak Bapak.”

Air matanya jatuh. Satu tetes, lalu menyusul yang lain. Ia tidak menyeka. Ia membiarkannya mengalir, memberi efek dramatis yang diharapkannya.

“Pengasuh baru itu pun meminta saya undur diri,” katanya lagi, tersendat. “Karena dengan alasan dia yang lebih dekat dengan anak Bapak. Saya jelas terkejut mendengarnya. Dia telah lancang.”

Krisna yang semula hanya mendengar dengan datar, kini menegakkan tubuhnya. “Benarkah? Raisa berkata seperti itu?”

Nada suaranya terdengar tegas, bahkan ada sedikit kemarahan yang menyelinap.

Lena mengangguk pelan. “Benar, Pak. Saya tidak berani membantah. Saya hanya ... saya hanya bingung harus bagaimana.”

Ia terisak, suaranya sengaja dibuat tertahan.

“Makanya saya mencari Bapak untuk menanyakan kejelasan status saya. Sejujurnya saya sangat butuh pekerjaan ini agar anak saya tetap bisa makan, Pak.”

Kalimat itu ia ucapkan dengan penekanan yang tepat. Tentang anak. Tentang kebutuhan. Tentang belas kasihan.

Krisna berdiri.

Rahangnya mengeras. “Keterlaluan dia, makin berani saja!” serunya.

Di balik wajah yang tampak tersakiti, Lena menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Umpannya termakan.

“Iya, Pak,” lanjut Lena, cepat-cepat menambahkan. “Tapi ... tolong Bapak pura-pura tidak tahu saja. Nanti takutnya disangka saya menuduh, telah menjelek-jelekkannya. Saya tidak mau seperti itu.”

Ia menunduk, seolah tak ingin menjadi penyebab keributan.

“Saya hanya berharap Bapak bisa mengambil keputusan yang lebih baik. Apalagi dalam pengasuhan anak itu butuh orang yang berpengalaman. Bukan hanya sekadar bisa mendiamkan anak menangis.”

Kata-kata itu meluncur halus, namun tajam.

Krisna terdiam.

Ucapan ibunya siang tadi terlintas di kepalanya. Tentang Raisa yang sudah mengenal Ezio sejak lahir. Tentang bagaimana bayi itu bisa tenang dalam gendongannya.

Ia juga mengingat beberapa menit lalu—Ezio yang langsung berhenti menangis saat Raisa menggendongnya. Sementara sebelumnya, tangisan itu sulit diredakan.

Ia menatap Lena yang masih berdiri dengan wajah sendu.

“Ibu saya telah memilih Raisa,” ucap Krisna akhirnya, suaranya lebih tenang tapi tegas. “Pasti ada alasan kuat.”

Lena sedikit mengangkat wajahnya.

“Dan saya sudah melihat sendiri kalau anak saya memang tenang saat sama Raisa. Saya tidak bisa menampiknya.”

Wajah Lena menegang sesaat.

“Dan ... sekarang anak saya sedang sakit,” lanjut Krisna. “Saya tidak mau mengambil keputusan tergesa-gesa.”

Ia menarik napas panjang.

“Keputusan saya, kamu saya ujian coba selama sebulan ini. Saya akan menilai kamu dan Raisa. Mana yang paling cocok akan menjadi pengasuh anak saya selanjutnya.”

Keheningan menggantung.

Lena tersenyum kecut. Ini jauh dari harapannya. Ia ingin Krisna langsung memecat Raisa hari ini juga.

“Jika kamu tidak terima keputusan saya,” sambung Krisna, “saya akan menyiapkan upah kerja kamu dua hari ini.”

Nada suaranya tidak mengancam, tetapi jelas memberi pilihan.

Lena cepat-cepat menggeleng. “Eh, saya ikut aturan Bapak saja. Saya akan menunjukkan kalau saya bisa mengasuh anak Bapak dengan baik!”

Ia menegakkan tubuh, seolah bertekad.

Krisna mengangguk singkat. “Baik. Saya akan melihat.”

Setelah itu, ia berjalan melewati Lena, meninggalkannya di ruang keluarga.

Begitu langkah kaki Krisna menjauh, ekspresi Lena berubah drastis. Kesedihan yang tadi begitu meyakinkan kini lenyap. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut tipis.

“Sebulan?” gumamnya pelan. “Baiklah.”

Ia tidak takut bersaing. Ia hanya perlu memastikan Raisa terlihat gagal.

***

Sementara itu, di kamar tamu, suasana jauh lebih hening.

Ezio tertidur pulas di atas ranjang. Nafasnya teratur, pipinya yang bulat terlihat semakin menggemaskan saat damai seperti itu. Raisa duduk di tepi ranjang, memperhatikan bayi enam bulan itu dengan tatapan lembut. Ia baru saja memastikan dua bantal kecil tersusun di sisi kanan dan kiri, menghalangi tubuh mungil Ezio agar tidak terguling.

Tangannya masih terangkat di udara beberapa detik, seperti enggan melepas sentuhan terakhir.

“Tidur yang nyenyak, ya, De,” bisiknya lirih.

Ia bangkit perlahan, menarik kursi kayu dan mendekatkannya ke sisi ranjang. Rambut panjangnya yang dikuncir tinggi sedikit bergoyang ketika ia menoleh ke arah pintu. Celana bahan yang dikenakannya membuat geraknya leluasa, sederhana namun rapi.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Lena masuk dengan langkah terkontrol. Wajahnya tidak lagi sendu seperti tadi. Kini lebih datar—bahkan cenderung dingin.

“Dia masih tidur?” tanyanya singkat.

“Masih, Mbak,” jawab Raisa pelan. “Tadi sempat gelisah sedikit, tapi sudah tenang kembali.”

Lena melirik ke arah Ezio, lalu kembali menatap Raisa. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Hanya berdiri dengan kedua tangan bersedekap, memperhatikan seolah menilai.

Raisa merasa tatapan itu, tapi ia memilih tidak memperpanjang. Ia duduk kembali, mengambil kain kecil dari tasnya untuk mengelap keringat tipis di pelipis.

Hening merambat.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki di lorong. Tegas. Pasti.

Krisna.

Raisa spontan berdiri saat pria itu muncul di ambang pintu. Ekspresinya serius.

“Ezio tidur?” tanyanya.

“Iya, Mas,” jawab Raisa lembut. “Sudah lumayan lama.”

Krisna mengangguk, lalu mendekat. Ia berdiri di sisi ranjang, memandang wajah anaknya yang damai. Dadanya menghangat, namun ada ketegangan tipis di garis rahangnya.

Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya menoleh pada Raisa.

“Kamu bilang sesuatu pada Lena?” tanyanya tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Raisa sedikit terkejut. “Maksudnya?”

“Kamu menyuruh dia mundur?”

Sunyi sejenak. Raisa mengerjap pelan, mencoba mencerna.

“Saya tidak pernah menyuruh Mbak Lena mundur, Mas,” jawabnya tenang. “Saya hanya menjelaskan kalau saya bekerja di sini karena diminta Bu Lita. Itu saja.”

Bersambung .... ✍️

1
Mulaini
Raisa memang aneh tuh si Krisna pingin di hentikan biar gak ketemu sama tamunya sama kamu hehehe...
nesha
lena kalah saing lagi 🤣🤣
nesha
ho’o benar bgtt 😂😂😂
kaylla salsabella
🕺🕺🕺🕺🕺🕺🕺 yeyeye... makan nasi goreng😚😚😚
Mommy El
O, berarti Lena sudah tahu banget dg seluk beluk nya si Wirda.
Takut aja Lena kerjasama dg Wirda untuk menyerang Raisa. Walaupun mereka punya misi yang sama untuk mendapatkan cinta Krisna. Bakal rame ini konfliknya,,, Ezio bantuin kak Raisa ya. TOS dulu kita Dek Ezio.🫸🫷🍻
Puput Assyfa
karena tamu tak di undang ini pak dokter ini bukan yg sreg di hatinya makanya mukanya asem n kayak ngajak perang tegang
Henry Cavill
kalo ketemu Wirda mimik wajahnya seperti mau perang kalo ketemu Lena mimik wajahnya berubah seperti mau berak🤣🤣🤣🤣
.
karna tamu yg tidak di harapkan jadi bawaannya males
Hearty💕💕
Suka dengan gambar²nya
Heni Mulyani
lanjut
Nar Sih
karena tamu yg ngk di undang yg dtg jls mas dokter mls😂😂
Hearty💕💕
Menarik..... semoga ada pelajaran yang besar untuk ke 2 nya
Hearty💕💕
Makanya jangan keras kepala..... empati
Naufal Affiq
tamu nya mas krisna gak sesuai ke inginan raisa,makanya wajah nya mau perang,
Hearty💕💕
Raisa bilang dong kesempatan kerja saya jadi gagal.....
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Kar Genjreng
Tau saja Rai Dirimu ya itu karena tamunya tidak amanah 😇 jadi gae sebel Mas Dokter mu Rai makanya di kasih jangan keluar karena Wirda akan melihat Mu dan akan cemburu. padahal Raisa nya cuek abis bodo amir ya Rai,,,,persisnya gini diam bukan berarti ga tau cuma masa bodo saja lah seandainya Dokter nya cinta dengan Gadis kampung apa salah nya coba,, tapi bagi Krisna justru kesederhanaan dan apa adanya tidak jaim dan sandiwara pura pura pinter tapi bodo
dan ga merasa paling hebat tetapi survey membuktikan bisa jaga Anak ,,,bisa bikin kopi enak dan nasgor nya enak cocok di lidah penikmat nya,,, kenapa orang pada iri
sama Raisa karena ga muluk,,,Mas sabar ngadepi calon ular betina belum tentu sayang sama putramu seperti itu,,,jadi tukang ngepel,,,
Hearty💕💕
Hai ini pertama kali mampir di karya Kak Ghina
Engkar Sukarsih
waduh... saingan lenong dah nongol ini🤔🤔bisa gaswat deh,duo lampir berebutan nyari perhatian pak dokter Krisna ini😇😇😇😇
RiriChiew🌺
karena tamu nya gak diundang makanya agak sebell si Krisna nyaa 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!