Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.
Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.
Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.
Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.
Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Naik Tingkat
Susan akhirnya melangkah masuk ke wilayah yang sejak awal memang disiapkan untuknya.
Dara sudah tahu itu akan terjadi.
Pagi itu, Danu meletakkan sebuah map tipis di atas meja kerja Dara.
“Dia resmi mengajukan permintaan kerja sama lintas divisi. Alasannya: efisiensi data antara perusahaan Arman dan Valencia Group.”
Dara tersenyum tipis.
“Alasan yang rapi.”
“Dan terlalu rapi untuk seseorang yang sebenarnya sedang menyelidiki.”
Dara membuka map itu tanpa terburu-buru. Nama Susan tercetak di sana, lengkap dengan tanda tangan dan rekomendasi dari Arman.
Dia memang tidak pernah bergerak sendiri.
“Dia ingin masuk,” kata Dara. “Maka biarkan.”
Danu mengerutkan kening.
“Kau yakin? Kalau dia cukup dekat, dia bisa...”
“...menemukan masa laluku?” Dara menyela, suaranya dingin.
“Tidak, Dan. Dia justru harus masuk agar melihat apa yang ingin kita perlihatkan.”
Dara berdiri dan berjalan ke jendela. Kota terhampar di bawahnya seperti papan catur.
Susan hanyalah satu bidak. Arman… bidak lain yang jauh lebih rapuh.
“Kita beri Susan akses terbatas,” lanjut Dara.
“Dokumen lama yang sudah disterilkan. Data palsu tentang Dara Valencia. Riwayat pendidikan luar negeri. Nama orang tua. Semua harus konsisten.”
“Dan tentang Zizi?”
Dara terdiam sesaat.
“Biarkan Zizi tetap menjadi bayangan. Jangan hapus sepenuhnya. Sisakan celah kecil.”
“Kenapa?”
“Karena manusia tidak tertarik pada jawaban. Mereka tertarik pada hal yang tidak selesai.”
Sore harinya, Susan berdiri di lobi Valencia Group.
Wajahnya tenang, tapi matanya memindai setiap detail.
Ketika lift terbuka, ia tidak tahu bahwa setiap langkahnya sudah berada di dalam jalur yang digambar Dara sejak awal.
Di lantai atas, Dara menerima notifikasi di tabletnya:
Susan Hartono — akses sementara aktif.
Dara tersenyum kecil.
“Masuklah,” bisiknya pelan.
“Dan tenggelamlah perlahan.”
Di tempat lain, Arman sedang menatap layar ponselnya, melihat email Susan tentang kerja sama itu.
Ia merasa lega—tanpa tahu bahwa dua perempuan yang paling penting dalam hidupnya kini sedang berdiri di sisi berlawanan sebuah perang yang akan menyeretnya ke tengah-tengahnya.
Dan Dara…
Dara tidak berniat menang cepat.
Ia berniat menang bersih.
.
Susan bergerak cepat.
Dalam dua hari saja, ia sudah memiliki meja kecil di sudut lantai data Valencia Group. Aksesnya terbatas, tapi cukup untuk membuatnya merasa “di dalam”. Ia menyapa karyawan, tersenyum profesional, dan menyimpan setiap potongan informasi seperti pecahan puzzle.
Di layar komputernya:
Dara Valencia — Riwayat Singkat.
Lahir di luar negeri. Dibesarkan oleh keluarga Valencia. Pendidikan elit. Karier bersih.
Terlalu bersih.
Susan mencondongkan tubuh, matanya menyipit.
Tak ada foto masa kecil. Tak ada catatan sekolah dasar. Seolah Dara baru “muncul” saat remaja.
“Orang tidak muncul dari udara,” gumamnya.
Di ruangan atas, Dara sedang membaca laporan yang sama—versi asli.
“Dia mulai curiga,” kata Danu.
“Bagus,” jawab Dara.
“Curiga membuat orang ceroboh.”
Ia menutup tablet.
“Sekarang giliran Arman.”
Malam itu, Arman menerima pesan dari Dara.
Dara: Terima kasih atas pujianmu di rapat kemarin.
Aku tidak biasa diundang makan oleh rekan bisnis yang terlalu tertarik.
Arman tersenyum menatap layar.
Arman: Mungkin aku hanya menghargai kecerdasan.
Atau mungkin aku ingin mengenalmu lebih dari sekadar CEO.
Beberapa detik hening.
Dara: Kalau begitu, kenalilah aku sebagai mitra.
Bukan sebagai perempuan.
Arman menghela napas.
Semakin ia ditolak, semakin ia ingin mendekat.
Dan jauh di dalam diri Arman, satu perasaan mulai tumbuh semakin jelas: perempuan bernama Dara Valencia itu
bukan hanya misterius.
Ia berbahaya bagi hatinya.
Dan justru itu yang membuatnya tidak bisa menjauh.
Sementara itu, Susan berdiri di lorong arsip lama. Ia menemukan satu folder yang tidak sepenuhnya terkunci.
Z. S
Jantungnya berdebar.
Ia baru hendak menariknya ketika suara langkah kaki terdengar.
“Nyari sesuatu?”
Susan menoleh.
Dara berdiri di ujung lorong, tenang, anggun, tak menunjukkan rasa curiga.
Susan memaksa tersenyum.
“Hanya memastikan data lama tidak salah tempat.”
Dara berjalan mendekat, tumitnya berdetak pelan di lantai.
“Di Valencia Group,” katanya lembut, “yang salah tempat biasanya bukan dokumennya… tapi orangnya.”
Tatapan mereka bertemu.
Dan Susan, untuk pertama kalinya, merasa sedang tidak menyelidiki melainkan sedang diobservasi.
Tatapan itu hanya berlangsung satu tarikan napas, cukup singkat untuk disebut sopan,
cukup lama untuk terasa seperti ancaman.
Susan menegakkan punggung.
“Kalau begitu, aku pamit. Ada rapat internal.”
“Tentu,” ujar Dara. “Valencia Group selalu menghargai orang yang… tahu kapan harus pergi.”
Susan melangkah pergi dengan senyum profesional yang nyaris retak.
Begitu pintu lift menutup, dadanya turun-naik cepat.
Dia tahu. Atau setidaknya… dia mencium sesuatu.
Dara tidak langsung bergerak.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca lift yang menutup.
“Danu,” katanya pelan melalui earpiece kecil di telinganya.
“Ya.”
“Dia sudah masuk terlalu dalam.”
“Dan?”
“Biarkan dia berpikir masih aman.”
Sementara itu, Susan sudah berada di parkiran bawah tanah.
Tangannya gemetar saat ia membuka ponsel.
Ia mengetik cepat: Aku perlu semua arsip hukum atas nama Zizi. Pernikahan. Perceraian. Segalanya.
Pesan itu terkirim.
Dan di detik yang sama, notifikasi lain masuk ke ponselnya, nomor tidak dikenal.
Hati-hati pada orang yang terlihat paling tenang.
Susan membeku.
Di lantai atas, Arman sedang berdiri di depan jendela panjang ruang rapat kosong.
Pikirannya masih tertinggal pada tatapan Dara yang dingin, terkendali, dan… terlalu familier.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Susan:
Aku hampir yakin. Tapi ada yang aneh.
Dia bukan sekadar mirip Zizi. Dia seperti… versi yang lebih berbahaya.
Arman menatap kota di bawahnya. Ia tidak membalas.
Karena jauh di dalam dirinya, satu kebenaran mulai terasa mengerikan: kalau Dara memang Zizi, maka perempuan yang dulu ia hancurkan
kini sedang berdiri di posisi untuk menghancurkannya kembali, tanpa perlu mengangkat suara.
Dan di ruang kerja Dara, sebuah folder baru terbuka di layar:
SUSAN — LEVEL: TARGET AKTIF
Dara tersenyum kecil.
Permainan baru saja naik tingkat.
Di luar gedung, hujan mulai turun pelan, memburamkan lampu-lampu kota seperti lukisan yang dilapisi air. Susan duduk di dalam mobilnya tanpa menyalakan mesin. Tangannya masih memegang ponsel, layar menyala pada pesan misterius yang tak ia pahami asalnya.
Untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan menyelidiki Dara, rasa takut menyusup ke dalam perhitungannya.
Bukan takut tertangkap.
Takut salah membaca lawan.
Sementara itu, di lantai tertinggi Valencia Group, Dara berdiri memandang hujan dari balik kaca besar. Di balik wajah tenangnya, pikirannya bergerak cepat. Susan bukan ancaman besar—belum. Tapi perempuan itu cukup licik untuk menjadi alat, atau korban, tergantung bagaimana papan catur ini dimainkan.
Danu masuk tanpa mengetuk.
“Kau sedang mengundang badai,” katanya ringan.
Dara tidak menoleh. “Tidak. Badai sudah ada. Aku hanya menentukan ke mana arahnya.”
Di benaknya, satu nama terus berdenyut: Arman.
Dan setiap langkah Susan, setiap kegelisahan Arman, hanyalah gema dari masa lalu yang sebentar lagi akan ia paksa menghadapi cerminnya sendiri.