NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan Semalam

Bunyi alarm itu tidak pernah berubah, dering digital standar bawaan pabrik yang terdengar seperti jeritan kecil yang sopan. Pukul 05.30.

Raka tidak langsung membuka mata. Dia membiarkan suara itu berdenging selama sepuluh detik, menikmati sisa-sisa mimpi yang mulai kabur seperti asap rokok yang ditiup angin. Udara di dalam kamar kosnya terasa lembap dan dingin, tanda bahwa hujan turun deras semalam suntuk dan menyisakan hawa dingin yang merayap dari celah ventilasi di atas jendela.

Tangan kanannya meraba-raba meja kecil di samping kasur, menepis gelas air yang untungnya kosong, sebelum akhirnya menemukan ponsel. Layar menyala terang, menyilaukan mata yang belum siap. Dia menggeser tombol *stop* dengan gerakan jempol yang sudah hafal di luar kepala.

Hening kembali.

Raka duduk di tepi kasur. Kasur busa itu sudah mulai cekung di bagian tengah, membentuk cetakan tubuhnya yang permanen. Dia menguap, merenggangkan punggung hingga terdengar bunyi *kretek* pelan dari tulang belakangnya. Aroma di kamar itu campuran antara pewangi pakaian *lavender* yang mulai pudar dan bau samar buku-buku tua yang bertumpuk di sudut ruangan.

Dia bangkit, menyeret kakinya ke arah dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah. Lantai keramik putih itu terasa sedingin es di telapak kakinya yang telanjang. Rutinitas pagi Raka adalah sebuah koreografi yang tidak pernah berubah selama tiga tahun terakhir: menyalakan kompor, menjerang air di panci kecil yang pantatnya sudah gosong, dan menuangkan satu sachet kopi instan ke dalam gelas mug bertuliskan "Semangat Pagi" yang catnya sudah terkelupas di huruf 'S' dan 'g'.

Suara desis air yang mulai panas menjadi satu-satunya musik di pagi itu. Raka menyandarkan pinggang ke meja dapur, menatap ke luar jendela nako yang buram. Langit di luar masih berwarna abu-abu pucat. Aspal jalanan di depan kosannya basah kuyup, memantulkan cahaya lampu jalan yang belum padam. Ada genangan air di lubang jalan yang belum ditambal dinas pekerjaan umum, tenang seperti cermin hitam.

"Hujan lagi nanti sore kayaknya," gumam Raka pada dirinya sendiri. Suaranya serak, khas orang yang belum bicara pada siapa pun sejak semalam.

Dia menyeduh kopinya. Aroma kafein sintetis dan gula yang terlalu banyak menguar, menusuk hidung. Itu bukan kopi terbaik—jauh dari *manual brew* mahal yang biasa dipesan anak-anak agensi di Jakarta Selatan—tapi cukup untuk menampar kesadarannya agar bangun sepenuhnya.

Setelah mandi dengan air yang membuatnya menggigil singkat, Raka berpakaian. Kemeja flanel kotak-kotak biru dongker dan celana bahan hitam. Dia berdiri di depan cermin lemari plastik, merapikan rambutnya yang mulai panjang di bagian poni. Wajah di cermin itu tampak biasa saja. Bukan wajah yang akan membuat orang menoleh dua kali di jalan, tapi juga bukan wajah yang mudah dilupakan jika kau sudah mengenalnya lama. Ada kantung mata tipis yang menggantung, saksi bisu dari maraton serial TV yang dia lakukan semalam untuk membunuh waktu.

Dia menyambar kunci motor dan helm *half-face* miliknya. Sebelum keluar, matanya tertumbuk pada kalender duduk di atas meja kerja.

Tanggal 14.

Raka terdiam sejenak. Tangannya yang memegang kunci motor menggantung di udara. Tanggal 14 tidak dilingkari, tidak ada catatan, tidak ada tanda merah. Tapi bagi Raka, angka itu memiliki berat jenis yang berbeda dibandingkan angka 13 atau 15.

Ada getaran halus di saku celananya. Pesan masuk dari grup WhatsApp kantor.

*Dimas (Admin): Woy, yang piket beli gorengan buat meeting pagi siapa? Jangan lupa sambelnya yang banyak.*

Raka menghela napas, memutus lamunannya tentang tanggal di kalender. Realitas kembali menariknya masuk. Dia membalas singkat: *Gue aja. Otw.*

Dia keluar kamar, mengunci pintu kayu yang catnya sudah mengelupas, dan melangkah ke dunia yang riuh.

***

Perjalanan ke kantor adalah ujian kesabaran yang berulang setiap hari. Jalanan kota sudah dipadati oleh armada motor yang merayap seperti semut yang panik. Asap knalpot bercampur dengan udara pagi yang basah, menciptakan aroma metalik yang menempel di jaket.

Raka menghentikan motornya di depan lampu merah perempatan besar. Di sampingnya, seorang bapak paruh baya dengan jaket ojek online tampak sibuk mengecek ponsel yang ditempel di *holder* stang, mungkin mencari titik jemput penumpang. Di sisi lain, sebuah angkot biru mengetem sembarangan, membuat klakson dari mobil di belakangnya bersahut-sahutan.

Bunyi klakson, deru mesin, teriakan pedagang asongan yang nekat berjualan di tengah macet—ini adalah simfoni kota yang kasar. Namun, di tengah kekacauan itu, pikiran Raka kembali melayang.

Dulu, dia tidak pernah melewati jalan ini sendirian.

Ada masa di mana jok belakang motornya tidak pernah kosong. Ada beban tambahan yang membuat suspensi motor terasa lebih empuk. Ada tangan yang kadang menyelip ke saku jaketnya jika udara terlalu dingin, atau sekadar menepuk pundaknya jika Raka terlalu nekat menyalip bus.

*"Pelan-pelan aja, Ka. Kita nggak lagi dikejar setan,"* suara itu seolah berbisik di telinganya, bersaing dengan suara knalpot bising motor *sport* di sebelahnya.

Raka menggelengkan kepala pelan di balik helm, mengusir hantu memori itu. Lampu berubah hijau. Dia memutar gas, membiarkan motor matic-nya melaju membelah kemacetan. Dia bukan lagi Raka yang itu. Dia hanyalah seorang staf administrasi logistik yang sedang ditunggu atasan untuk rapat bulanan. Dan yang lebih penting, dia harus membeli gorengan.

***

Kantor Raka terletak di ruko tiga lantai yang disewa oleh perusahaan distributor alat tulis. Bukan gedung pencakar langit kaca yang megah, tapi cukup nyaman dengan AC yang selalu disetel di suhu 18 derajat Celcius.

"Nah, ini dia penyelamat rapat kita!" seru Dimas begitu Raka masuk ke ruang rapat di lantai dua. Dimas, pria bertubuh gempal dengan kacamata tebal, sudah duduk dengan laptop terbuka.

Raka meletakkan kantong kresek berminyak di tengah meja oval. "Tahu isinya masih panas. Hati-hati."

"Lo emang terbaik, Ka. Muka lo doang lecek, tapi hati lo mulia," canda Dimas sambil menyambar satu tahu goreng.

Raka hanya tersenyum tipis, menarik kursi di sudut ruangan, tempat favoritnya. "Pak Bos belum dateng?"

"Biasa, macet di tol. Kita punya waktu sepuluh menit buat napas."

Raka mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen dari tas selempangnya. Dia menatap meja rapat yang terbuat dari kayu lapis *particle board*. Ada goresan pulpen di sana-sini, jejak dari rapat-rapat membosankan sebelumnya.

"Ka," panggil Dimas, mulutnya penuh. "Lo nanti siang kosong nggak?"

"Kenapa?"

"Anak-anak divisi *Sales* mau ngajak makan di Mie Ayam Pak Kumis yang baru buka di belakang. Katanya enak banget, tekstur mienya kenyal kayak..." Dimas mencari padanan kata yang tepat, "...kayak mie mahal lah pokoknya. Ikut ya?"

Mie ayam.

Satu lagi pemicu kecil. Raka ingat betul perdebatan konyol tentang mie ayam yamin manis versus yamin asin yang pernah dia lakukan bertahun-tahun lalu. Perdebatan yang tidak pernah ada pemenangnya, tapi selalu berakhir dengan tawa dan mangkuk yang licin tandas.

"Boleh," jawab Raka singkat. "Gue bawa motor tapi, males jalan kaki kalau panas."

"Sip! Eh, ngomong-ngomong, lo udah cek email dari HRD belum? Soal cuti tahunan yang mau hangus."

Raka mengernyit. "Emang punya gue sisa berapa?"

"Masih dua belas hari, Bro! Gila lo, setahun ini lo nggak ambil cuti sama sekali selain pas sakit gigi bulan Maret lalu. Lo mau ngejar penghargaan karyawan teladan atau gimana?"

Raka terdiam. Dia tidak sadar. Bekerja baginya bukan sekadar mencari uang, tapi cara paling efektif untuk membunuh waktu. Ketika dia sibuk mengecek inventaris gudang, mencocokkan faktur, atau mendengarkan keluhan klien, otaknya tidak punya ruang untuk memutar ulang film lama. Kesibukan adalah anestesi terbaik yang dia punya.

"Nanti gue cek," kata Raka pelan.

Pintu ruang rapat terbuka. Pak Burhan, manajer mereka, masuk dengan wajah merah padam dan kemeja yang sedikit basah di bagian ketiak. Aura tegang langsung mengisi ruangan. Dimas buru-buru menelan kunyahannya dan menutup mulut.

"Selamat pagi semuanya. Maaf terlambat, ada kecelakaan truk di jalan layang," kata Pak Burhan cepat, meletakkan tas kerjanya dengan bunyi *buk* yang keras. "Oke, kita mulai saja. Raka, bagaimana laporan stok opname gudang Cikarang? Ada selisih?"

Raka menegakkan punggung. Mode otomatisnya menyala. "Ada selisih nol koma dua persen, Pak. Sebagian besar karena barang rusak saat pengiriman, tapi sudah saya buatkan berita acaranya."

Raka mulai mempresentasikan data. Suaranya tenang, terukur, dan profesional. Dia menjelaskan angka-angka, grafik, dan proyeksi minggu depan. Di mata rekan-rekannya, Raka adalah mesin yang efisien. Tenang, dapat diandalkan, dan jarang mengeluh.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik kalimat-kalimat teknis tentang logistik itu, pikiran Raka sedang menghitung mundur.

Tanggal 14.

Lima tahun lalu.

Di sebuah stasiun kereta yang berisik.

Dia memaksakan diri untuk fokus pada layar proyektor. *Fokus, Raka. Fokus,* batinnya memerintah.

Namun, seperti noda tinta di kertas putih, satu detail kecil mengganggu pandangannya. Di pergelangan tangan Pak Burhan melingkar sebuah jam tangan kulit berwarna cokelat tua. Jam tangan model *vintage* yang sederhana.

Itu persis sama dengan jam tangan yang pernah Raka hadiahkan kepada seseorang. Seseorang yang kini tidak lagi ada di garis waktunya, namun jejaknya masih tertinggal di setiap sudut kota, di setiap mangkuk mie ayam, dan di setiap tanggal 14.

Raka menelan ludah yang terasa pahit. Dia terus berbicara tentang stok barang, tapi matanya tidak bisa lepas dari jam tangan itu. Detik jarum jam itu bergerak maju, konstan dan tak terelakkan, mengingatkannya bahwa waktu terus berjalan, tak peduli seberapa keras dia mencoba berhenti di masa lalu.

"Raka?" suara Pak Burhan memecah lamunannya. "Kamu melamun?"

Raka tersentak. "Maaf, Pak. Saya... saya sedang memikirkan solusi untuk rute pengiriman yang macet."

"Bagus. Lanjutkan."

Raka menarik napas panjang. Bau samar minyak angin dari Pak Burhan dan aroma gorengan dingin di meja bercampur menjadi satu. Ini adalah hidupnya sekarang. Potongan-potongan kejadian biasa yang datar. Dia bukan tokoh utama dalam drama romantis yang tragis. Dia hanya figuran yang mencoba bertahan hidup dari satu adegan ke adegan lain.

Tapi entah kenapa, hari ini, residu hujan semalam rasanya enggan menguap.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!