NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Mandul!!

Dinikahi Duda Mandul!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis / Janda / Duda / Romansa / Chicklit
Popularitas:38.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Kirana menatap kedua anaknya dengan sedih. Arka, yang baru berusia delapan tahun, dan Tiara, yang berusia lima tahun. Setelah kematian suaminya, Arya, tiga tahun yang lalu, Kirana memilih untuk tidak menikah lagi. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, ia akan menjadi pelindung tunggal bagi dua harta yang ditinggalkan suaminya.

Meskipun hidup mereka pas-pasan, di mana Kirana bekerja sebagai karyawan di sebuah toko sembako dengan gaji yang hanya cukup untuk membayar kontrakan bulanan dan menyambung makan harian, ia berusaha menutupi kepahitan hidupnya dengan senyum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Di dalam mobil bukan hanya Kirana yang cemas tapi Yuda juga cemas setengah mati. Bagaimana tidak jika terjadi sesuatu pada Tiara maka dia akan menyalakan dirinya sendiri.

" Saya coba hubungi Laura dulu mbak, mana tau kita dapat petunjuk." Yuda mengambil ponselnya dari dasboard mobil dan menghubungi nomor yang akhir-akhir ini sering menghubunginya.

Bukan karena Yuda yang menyimpan nomor Laura tapi dia lah yang mengirim pesan terlebih dahulu pada Yuda.

Beberapa kali sambungan, tapi tidak diangkat. Padahal panggilan tersambung. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya tersambung.

"Halo. Akhirnya aku tahu kamu pasti telpon aku Yuda."

“Di mana Tiara, Laura?! Jangan main-main kamu!” bentak Yuda. Suaranya yang biasanya tenang kini berubah menjadi rendah dan mengancam. Tangannya mencengkeram setir mobil begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Di seberang sana, Laura terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar hambar dan memuakkan. “Galak sekali, Mas. Kalau kamu mau anak itu balik, aku kirim lokasinya sekarang. Datang sendirian, atau… yah, kamu tahu sendiri apa yang bisa aku lakukan.”

“Jangan berani menyentuhnya seujung kuku pun!” Yuda mematikan sambungan tepat setelah sebuah pesan masuk berisi titik lokasi sebuah rumah di pinggiran kota.

Mobil melaju membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Kirana di sampingnya hanya bisa mendekap dadanya yang terasa sesak, air mata terus mengalir dalam diam. Pikirannya kalut membayangkan Tiara yang pasti ketakutan.

Begitu sampai di lokasi sebuah rumah sewa bergaya minimalis yang tampak sepi Yuda langsung mengerem mendadak. Belum sempat Yuda keluar, Kirana sudah lebih dulu menghambur turun.

Di teras rumah, tampak Tiara duduk di sebuah kursi rotan. Wajahnya sembap, matanya merah karena terlalu lama menangis. Di sampingnya, Laura berdiri dengan santai sambil memegang segelas jus, seolah tidak ada hal gawat yang terjadi.

“Tiara!” pekik Kirana histeris.

“Bunda!” Tiara langsung melompat dari kursi dan berlari sekencang mungkin ke arah Kirana. Ia menabrakkan tubuh kecilnya ke pelukan ibunya, menangis sejadi-jadinya. “Bunda… Tiara takut… Tante itu jahat, Tiara mau pulang… hiks…”

Kirana jatuh terduduk di atas rumput, memeluk Tiara sangat erat seolah tak ingin melepaskannya lagi. “Iya sayang, Bunda di sini. Bunda di sini, Nak. Jangan takut lagi.”

Yuda melangkah maju. Tatapannya tajam seperti silet yang siap menyayat. Laura tersenyum sinis, hendak membuka suara, namun sebelum satu kata pun keluar dari bibirnya—

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Laura hingga wajah wanita itu tertoleh ke samping. Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara isakan Tiara.

“Kamu apa-apaan sih, Mas?!” teriak Laura sambil memegangi pipinya yang mulai memerah. Matanya berkilat marah.

“Itu untuk setiap tetes air mata yang jatuh dari anak-anak yang tidak berdosa!” desis Yuda dengan nada yang begitu dingin hingga membuat Laura menciut. “Dengar baik-baik, Laura. Ini peringatan terakhir saya. Jangan pernah, sedetik pun, muncul di hadapan saya, Kirana, atau anak-anak lagi. Kalau kamu berani menyentuh mereka lagi, saya pastikan kamu mendekam di penjara seumur hidupmu. Saya tidak main-main!”

Laura tertawa sumbang, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah dan obsesi yang tak sehat. Ia menunjuk ke arah Kirana yang masih memeluk Tiara di tanah.

“Kenapa kamu bela mereka sampai begini, Mas? Apa karena kamu mau menikahi perempuan itu?” Laura melangkah mendekat, suaranya merendah, terdengar putus asa dan gila di saat yang bersamaan.

“Kalau memang kamu sesuka itu sama dia, oke! Nikahi dia! Tapi biarkan aku tetap bersamamu, Mas. Aku rela… aku mau jadi istri keduamu, asal jangan buang aku seperti ini!”

"Kamu ngga ingat seberapa cinta kamu sama aku. Kamu udah lupa semua itu mas. Aku aja belum lupa bagaimana manisnya dirimu"

"Mimpi"

Yuda menatap Laura dengan pandangan jijik, seolah melihat sesuatu yang paling kotor di dunia ini.

“Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat dan harga diri, Laura! Kamu pikir setelah kamu menculik anak tak berdosa dan menyakiti hati ibunya, aku masih sudi melihat wajahmu? Kamu itu menjijikkan!” bentak Yuda tepat di depan wajah Laura.

Laura tersentak, matanya melebar tak percaya mendengar kata-kata kasar itu keluar dari mulut Yuda yang biasanya santun.

“Dengar baik-baik, perempuan gila!” Yuda menunjuk tepat ke arah hidung Laura dengan jari gemetar karena amarah. “Jangan pernah mimpi bisa kembali ke hidupku, apalagi dengan tawaran sampah seperti itu. Satu langkah saja kamu berani mendekati rumahku, rumah Kirana, atau sekolah anak-anak, aku tidak akan segan-segan menyeretmu ke penjara. Aku punya bukti, aku punya saksi, dan aku punya segalanya untuk menghancurkanmu!”

“Tapi Mas, aku melakukan ini karena aku cinta—”

“Cinta katamu? Itu bukan cinta, itu penyakit!” maki Yuda lagi, memotong ucapan Laura dengan tajam. “Urusan kita sudah mati sejak lama, dan hari ini kamu sendiri yang mengubur sisa-sisa rasa hormatku padamu. Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kendali dan benar-benar memanggil polisi sekarang juga!”

Yuda tidak sudi lagi mendengarkan rengekan Laura. Ia berbalik membelakangi wanita yang masih terpaku itu, lalu menghampiri Kirana yang masih memeluk Tiara dengan tubuh gemetar di atas rumput.

Seketika, tatapan tajam Yuda melunak saat melihat Kirana. Ia berlutut di samping mereka, menyentuh bahu Kirana dengan lembut.

Di dalam mobil, suasana perlahan mulai tenang meski sisa ketegangan masih terasa. Yuda menoleh ke arah Kirana yang masih mendekap Tiara erat-erat di kursi belakang.

“Maafkan saya, Mbak. Benar-benar maaf karena masa lalu saya menyeret Mbak dan Tiara ke dalam bahaya seperti ini,” ucap Yuda tulus, matanya memancarkan rasa bersalah yang mendalam.

1
Asyatun 1
lanjut
anita
waah bibi prnh jd pngantin baru
anita
kan dulu laura yg membuang yuda...knp skr mnjilat ludah sndr la suami dia yg kaya mn
checangel_
Begitulah kehidupan, terkadang ada kalanya kita harus mengalah walaupun itu salah 🤧
checangel_
Salut sama Kirana 👍
anita
knp laura maraah?
anita
nikah..ya..nikah lg aja
anita
sdh d anggap anak sndr mksudnya
anita
smngat kirana...nikah lg aja..demi anak2mu
anita
yudaaa yg ikhlas ya naasibmu kelak aka lbih bhagia dr mntan istimu
anita
crta yg sderhana q suka..lanjut thor
Erna Riyanto
lanjut pagi pertama Kirana dan Yuda
Asyatun 1
lanjut
Wanita Aries
bukannya rmh kontrakan di awal td gaji harus byr kontrakan.
Wanita Aries
si endang mah ngiri mending nganan deh
Wanita Aries
semoga bahagia yudha dan kirana
Wanita Aries
mnta di masukkan penjara aja biar kapok
Wanita Aries
berani jg kirana ini ninggalin anak tnp pengawasan, udh gtu rita yg jelas2 kluarga jg gk bs bntu jagain. memang dbuat kyk oon si kirana
Wanita Aries
nah lhooo cari masalah sih
Aidil Kenzie Zie
Yuda udah nggak tahan lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!