Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaman, Tapi di Gantung!
Pagi itu Fira bangun dengan perasaan berat. Malem tadi dia janji sama Ditya bakal ngobrol hari ini, tapi sekarang dia malah tambah bingung. Ngobrolnya gimana? Nanyanya kayak gimana? Terus kalau Ditya jawab sesuatu yang dia nggak mau denger, gimana?
Ponselnya bunyi, terlihat sebuah pesan dari Rania.
...📩...
Rania: Fir, kamu sudah bangun? Aku mau main ke kost kamu siang ini boleh? Kangen nih sudah lama kita nggak ngobrol.
Fira langsung membalasnya.
^^^Fira: Boleh banget, Ran. Aku juga lagi butuh banget ngobrol sama kamu.^^^
Rania: Oke, aku kesana jam sebelas, ya. Sambil bawa gorengan.
***
Jam sebelas tepat, Rania datang sambil membawa gorengan sekantong, kumplit dengan es teh manis dua cup. Mereka duduk di kasur Fira sambil nyemil.
"Jadi, ada apa nih? Muka kamu keliatan kusut banget," kata Rania sambil mengunyah tahu isi.
Fira menghela nafas panjang, lalu menaruh gorengan yang belum dimakan.
"Ran, aku bingung banget."
Rania menatap Fira, "Bingung soal Ditya lagi kan?"
"Iya, kenapa sih kamu tau terus masalah aku?"
"Ya iyalah, muka kamu tuh gampang banget kebaca Fir. Kalau lagi mikirin Ditya, pasti kayak gitu. Kenapa emang, ada apa lagi?"
Fira cerita panjang lebar. Cerita soal satu bulan terakhir dia bersama Ditya, yang kayak pacaran tapi nggak ada status. Cerita soal Anna yang nanya "udah jadian belum?", cerita soal telpon malem tadi bersama Ditya yang bilang pengen ngobrol langsung hari ini.
"Dan, aku takut banget, Ran," ucap Fira sambil menunduk.
"Takut kenapa? Apa yang kamu takutkan?"
"Takut kalau ternyata Ditya bilang kita cuma temen dan HTS selamanya. Dan aku takut, kalau dia bilang dia belum siap buat hubungan yang serius. Atau lebih parah lagi, dia bilang dia belum bisa move on dari mantannya."
Rania menaruh gorengannya, dan melihat Fira dengan tatapan yang serius.
"Fir, dengerin aku baik-baik ya. Kamu harus tegas nanya sama dia, jangan jadi cewek yang menunggu terus."
"Tapi Ran."
"Nggak ada tapi-tapi, Fir. Kamu sudah satu bulan kayak gini. Satu bulan kamu menggantung dalam hubungan yang nggak jelas. Dan itu nggak sehat buat kamu, buat dia, buat kalian berdua."
"Tapi aku takut merusak yang sudah ada sekarang. Maksud aku, sekarang kita nyaman, kita bahagia, kenapa harus dikasih label sih?"
Rania menggelengkan kepala.
"Fir, nyaman itu penting. Tapi kepastian juga penting. Kamu nggak bisa terus-terusan dalam zona abu-abu. Soalnya nanti kamu bakal overthinking sendiri, curiga sendiri, baper sendiri, dan itu bakal bikin hubungan kalian hancur secara perlahan."
Fira diem, merenungkan kata-kata Rania.
"Terus, aku harus nanya kayak gimana?"
"Ya tanya aja langsung. 'Dit, kita ini sebenernya apa?' Atau 'hubungan kita ini mau di bawa kemana,' Simple kok. Jangan dipikirin terlalu rumit."
"Tapi kalau dia bilang..."
"Kalau dia bilang apa? Kalau dia bilang 'kita cuma temen' terus kamu mau gimana? Ya kamu tinggalin aja. Dari pada kamu buang waktu sama orang yang nggak jelas. Tapi kalau dia bilang 'iya aku pengen kita pacaran', nah itu baru enak kan? jadi punya kepastian."
"Tapi aku takut kehilangan dia Ran."
"Fira," Rania menggenggam tangan Fira. "Kalau dia beneran sayang sama kamu, dia nggak akan pergi cuma gara-gara kamu nanya kepastian. Justru kalau dia pergi gara-gara itu, berarti dia emang nggak worth it buat kamu perjuangkan."
Air mata Fira mulai berkumpul. "Kenapa sih cinta itu susah banget, Ran?"
"Soalnya cinta itu butuh keberanian Fir. Keberanian buat jujur, keberanian buat nanya, keberanian buat ambil risiko, dan kamu harus berani."
Fira mengangguk pelan sambil mengusap air mata yang mulai jatuh.
"Oke, Ran. Aku bakal nanya sama dia, hari ini, pas aku ketemu sama dia."
"Nah gitu dong. Apapun hasilnya nanti, aku pasti dukung kamu kok."
***
Sore harinya, setelah Rania pulang, Fira lagi rebahan sambil scroll Instagram. Iseng-iseng aja buat ngilangin nervous sebelum ketemu sama Ditya nanti malam.
Tiba-tiba dia ngeliat story dari temen SMA nya, Dina. Foto cincin di jari manis dengan caption "She said yes! Engaged to my soulmate."
Fira berhenti scroll, tunangan. Dina tunangan. Padahal mereka seumuran, malah Dina yang lebih muda satu tahun dari Fira.
Fira ngeliat story selanjutnya. Foto Dina sama cowoknya yang lagi pelukan, senyum lebar, keliatan bahagia banget. Caption nya "Finally found my certainty. No more confusion, no more doubt. Just pure love and commitment."
Certainty. Kepastian.
No more confusion. Nggak bingung lagi.
Kata-kata itu begitu menusuk dalem banget ke dada Fira. Sementara Dina sudah dapet kepastian, sudah mau nikah, sedangkan Fira, dia masih tergantung dalam hubungan tanpa nama.
Fira nutup Instagram, lalu menaruh ponselnya di dada sambil ngeliatin langit-langit kamar. Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan.
Kenapa dia nggak bisa punya kepastian kayak Dina?
Kenapa dia harus dalam hubungan yang nggak jelas kayak gini?
Apa dia salah milih orang lagi?
"Ya Allah," bisiknya pelan sambil nangis. "Aku capek nggak punya kepastian. Capek nggantung kayak gini. Kapan aku bisa punya kepastian juga?"
Fira nangis sampe matanya sembab, sampe tenggorokannya perih. Nangis karena iri sama Dina yang udah dapet kepastian. Nangis karena sedih sama diri sendiri yang masih nggantung.
Ponselnya bunyi, sebuah pesan dari Ditya.
...📩...
Ditya: Fir, aku jemput jam tujuh ya. Kita makan malam dulu terus ngobrol. Oke?
Fira melihat pesan itu lama, jam tujuh. Berarti tiga jam lagi dia bakal ketemu sama Ditya. Tiga jam lagi dia bakal nanya. Tiga jam lagi dia bakal dapat jawaban. Entah jawaban yang bikin dia seneng, atau jawaban yang bikin dia lebih hancur lagi.
Fira mengelap air matanya, duduk di pinggir kasur sambil tarik nafas dalam-dalam. Dia inget kata-kata Rania tadi.
"Kamu harus tegas nanya. Jangan jadi cewek yang menunggu terus."
Iya, dia harus tegas, dan harus berani.
Fira membalas pesan dari Ditya.
^^^Fira: Oke, Dit. Aku tunggu.^^^
Fira menaruh ponselnya, jalan ke kamar mandi buat cuci muka. Ngeliatin pantulan dirinya di cermin. Mata sembab, muka kusut, tapi tatapannya beda. Ada tekad di sana.
"Besok," gumamnya sambil ngeliatin pantulannya sendiri. "Besok aku janji sama diri sendiri bakal nanya langsung. Nggak peduli takut, nggak peduli hasilnya gimana. Karena aku butuh kepastian."
Fira mengusap muka pake air dingin, nyoba ngilangin sembab di mata. Terus balik ke kamar, pilih pilih baju buat nanti malem.
Hatinya deg degan. Takut. Tapi juga lega gitu. Lega karena akhirnya dia ambil keputusan. Akhirnya dia mau nanya, mau tegas, mau memperjuangkan diri sendiri.
Soalnya Fira sudah capek di gantung, capek bingung sendiri, dan capek nggak punya kepastian. Dan malam ini, dia bakal akhiri semua kebingungan itu.
Entah dengan jawaban yang dia mau, atau dengan jawaban yang bakal membuat dia harus melepas Ditya. Apapun itu, setidaknya dia bakal tau. Dan kepastian itu, walau menyakitkan, lebih baik dari pada terus terusan di gantung dalam kegelapan.
***
Jam setengah tujuh, Fira sudah siap. Pake kaos putih simpel, celana jeans, rambut diikat setengah. Nggak terlalu menor, tapi tetep keliatan rapi.
Dia duduk di pinggir kasur sambil ngeliatin hape. Lima belas menit lagi Ditya dateng. Jantungnya berdetak kenceng banget. Tangannya dingin. Mulutnya kering.
Dia ambil botol minum, teguk dalem dalem. Terus tarik nafas berkali kali buat menenangkan diri.
"Kamu bisa Fira, kamu pasti bisa," gumamnya sendiri sambil menutup mata. "Kamu cuma perlu bertanya, bertanya tentang hubungan ini, simple kok nggak susah."
Tapi deep inside, dia tau ini nggak simple. Soalnya, jawaban yang bakal dia dapat, bisa mengubah semuanya. Bisa membuat mereka jadi lebih dekat. Atau malah, membuat mereka jadi lebih jauh.
Dan Fira nggak tau, dia siap atau nggak buat jawaban apapun, yang bakal keluar dari mulut Ditya nanti. Tapi satu hal yang Fira tahu, dia nggak bisa terus kayak gini, dia butuh kepastian. Dan malam ini, dia bakal mendapatkan jawabannya.
jadilah wanita teges jng terlalu bucin ma laki. fira Cinta sendirian 🤣