NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Asal Usul Wicaksono

Desa Sumberagung, Banyuwangi, Rumah Ibu Surti, Pukul 08.00

Cahaya pagi menyirami halaman rumah panggung kayu sederhana yang dikelilingi pohon pisang dan pepohonan jambu. Ayam berkokok bersahutan, udara terasa segar dan murni, jauh dari polusi dan kebisingan Jakarta.

Ferdy berdiri di beranda, menyeruput kopi tubruk panas yang dibuat ibunya. Ia memakai kaos oblong lusuh dan celana pendek, merasakan kenyamanan yang hanya bisa diberikan oleh rumah masa kecil.

Ibu Surti sedang menyapu halaman, sesekali melirik anaknya dengan mata penuh kebanggaan. "Masih betah di sini, Nak? Nggak bosen? Di Jakarta kan seru."

"Justru di sini yang bikin tenang, Bu," jawab Ferdy sambil tersenyum. "Kadang di Jakarta, di tengah keramaian, malah merasa paling sepi."

Ibu Surti mengangguk paham. "Iya, Ibu juga dulu waktu muda merantau ke Surabaya, rasanya begitu. Tapi akhirnya memilih pulang, nikah sama bapakmu, urus sawah. Hidup sederhana tapi hati tenang."

---

Pukul 10.00 - Pemakaman Desa

Setelah sarapan, Ferdy mengajak ibunya berziarah ke makam ayahnya yang terletak di bukit kecil di pinggir desa, dikelilingi pohon-pohon asam. Jalan setapak berbatu naik perlahan. Ferdy membantu ibunya yang sudah mulai lambat berjalan.

Makam ayahnya sederhana, batu nisan berwarna putih dengan tulisan: ALMARHUM SUKARDI WICAKSONO 1965-2010. Bunga kamboja segar masih tergeletak di atasnya, tanda bahwa Ibu Surti rajin membersihkannya.

Mereka duduk di batu di samping makam. Ferdy menatap nama ayahnya, perasaan campur aduk. Ayahnya meninggal karena sakit ketika ia masih SMP.

Kenangannya samar-samar: sosok pria pendiam, tangannya kasar oleh cangkul dan tanah, namun selalu ada senyuman saat melihat Ferdy membawa pulang nilai bagus.

"Ibu," ucap Ferdy pelan, setelah beberapa saat hening. "Ayah… dulu pernah cerita tentang keluarganya nggak? Asal-usul kita? Kakek-nenek dari mana?"

Ibu Surti tampak sedikit terkejut oleh pertanyaan itu. "Kenapa tanya-tanya begitu, Nak? Biasanya kamu nggak pernah peduli soal silsilah."

Ferdy mencari alasan. "Semakin tua, pengen tau aja, Bu. Apalagi sekarang udah lulus, rasanya pengen lebih kenal sama akar sendiri."

Ibu Surti menghela napas, matanya menerawang ke kejauhan sawah.

"Ayahmu itu orangnya tertutup soal keluarga. Dulu dia datang ke desa ini sendirian, waktu masih muda banget. Nggak bawa apa-apa, cuma baju di badan. Katanya mau cari kerja.

Asalnya dari mana… dia cuma bilang dari arah barat. Mungkin dari Jember atau Lumajang."

"Barat?" gumam Ferdy. Bukan petunjuk yang spesifik.

"Iya. Waktu Ibu tanya detail, dia cuma geleng-geleng. 'Masa lalu biarlah jadi masa lalu,' katanya. Tapi yang Ibu ingat…" Ibu Surti berhenti, seolah mengingat sesuatu yang penting.

"Dia punya sebuah benda. Disimpan rapat-rapat di dalam peti kayu kecil. Nggak pernah diperlihatkan ke siapa-siapa, bahkan ke Ibu."

Ferdy bersemangat. "Benda apa, Bu?"

"Sebuah… keris. Tapi bukan keris sembarangan. Gagangnya dari kayu tua yang diukir, bilahnya ber-pamor. Ayahmu bilang, itu pusaka turun-temurun. Tapi dia nggak mau cerita turunan dari siapa."

"Dulu sekali, waktu kamu masih bayi dan sakit keras, dia pernah mengeluarkan keris itu, menancapkannya di tanah dekat kepala tempat tidurmu, dan berdoa dengan bahasa yang Ibu nggak mengerti. Keesokan harinya, kamu sembuh."

Cerita itu membuat bulu kuduk Ferdy berdiri. Keris. Pamor. Bahasa yang tidak dimengerti. Itu terlalu mirip dengan… dengan benda-benda di museum dan foto-fotonya.

"Kerisnya sekarang di mana, Bu?" tanyanya, berusaha tenang.

Ibu Surti menggeleng, sedih. "Hilang. Setelah ayahmu meninggal, Ibu cari-cari di petinya. Nggak ada. Mungkin dijual sama dia waktu butuh uang buat berobat, atau… mungkin disembunyikan di suatu tempat. Ibu nggak tahu."

Harapan yang baru muncul, langsung pupus. Tapi setidaknya ini petunjuk. Ada darah dan pusaka dalam keluarganya.

"Ada lagi yang Ibu ingat?" desak Ferdy.

"Mungkin tentang kebiasaan ayah, atau sesuatu yang aneh?"

Ibu Surti berpikir lagi. "Ayahmu itu… punya kepekaan sama alam. Dia tahu kapan hujan akan turun, tahu tanaman mana yang bisa buat obat. Dan dia sering mimpi aneh-aneh.

Pernah suatu kali, waktu kamu masih kecil, dia terbangun tengah malam teriak, 'Dasima! Jangan!' Lalu nangis sesenggukan. Ibu tanya siapa Dasima, dia cuma bilang, 'Lupa, cuma mimpi.'"

Dasima.

Nama itu seperti petir di siang bolong. Ferdy menahan napas. Jantungnya berdebar kencang. Jadi ayahnya… juga tahu nama itu? Atau hanya kebetulan mimpi?

"Ibu ingat persis nama itu? Dasima?" tanyanya, suara bergetar.

"Ingat. Soalnya nama itu indah, dan jarang. Kenapa? Kamu kenal nama itu juga?"

Ferdy bungkam. Dia tidak bisa menjawab. Kebenaran itu terlalu besar, terlalu gila untuk diceritakan pada ibunya yang hidupnya sederhana dan nyata.

"Nggak, Bu. Cuma… terdengar familiar aja," akhirnya ia berbohong.

Mereka duduk lebih lama di makam, dalam keheningan yang kini dipenuhi oleh teka-teki. Burung-burung berkicau di pohon asam, angin sepoi-sepoi berhembus. Ferdy merasakan kehadiran Dasima di dekatnya, energinya terasa gelisah mendengar cerita tadi.

---

Sore Hari, Di Bawah Pohon Jambu

Mereka pulang, dan menghabiskan sore dengan membersihkan rumah dan kebun. Ibu Surti bercerita tentang kehidupan desa, tentang tetangga yang sudah punya cucu, tentang harapannya agar Ferdy cepat menikah.

Nama Kirana disebut lagi, dengan senyum penuh harap.

"Mbak Kirana itu, Ibu suka sekali. Dia baik, dan kayaknya sayang banget sama kamu," kata Ibu Surti sambil menyiangi gulma.

"Bu, kita udah bahas ini. Dia teman aja."

"Teman yang jauh-jauh dari Jakarta nelpon Ibu kemarin, tanya kabar Ibu habis wisuda."

Ferdy terkejut. "Kirana nelpon Ibu?"

"Iya. Bilang mau pastikan Ibu pulang dengan selamat. Ibu kaget dapat telpon dari nomor tidak dikenal. Pas dengar suaranya, Ibu langsung tahu. Dia tanya juga kamu di sana sehat apa nggak. Ibu bilang kamu baik-baik aja."

Ferdy menghela napas. Kirana… sampai segitunya. Dia merasa terjepit antara rasa terima kasih dan rasa bersalah.

---

Malam Hari, Kamar Ferdy, Pukul 21.30

Kamar Ferdy masih seperti dulu: kecil, dengan tempat tidur kayu, meja belajar penuh coretan masa SMP, dan poster-poster band lawas. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang gelap.

Pikirannya berputar-putar pada keris yang hilang, nama Dasima yang disebut ayahnya, dan darah 'kebangsawanan' yang disebut Saras.

"Dasima," panggilnya dalam hati.

"Aku di sini," jawabnya, wangi melati mengisi kamar kecil itu.

"Ayahku… dia tahu namamu. Dan dia punya keris pusaka.…Artinya Ayahku keturunan Raden Wijaya juga? Aku bingung Dasima"

Keheningan panjang. Lalu, sebuah gelombang perasaan yang sangat sedih dan rindu menyergapnya.

"Mungkin. Ikatan darah… kadang menurun. Jiwa yang sama bisa kembali dalam garis keturunan yang sama. Tapi keris itu… jika itu benar keris Raden Wijaya… itu akan menjadi kunci."

"Tapi kerisnya hilang."

"Mungkin tidak hilang. Mungkin hanya… menunggu waktunya."

Percakapan batin mereka terputus oleh getar ponsel di atas meja. Ferdy mengambilnya.

Chat dari Kirana.

Kirana (21.28): Ferdy, kamu sudah sampai di Banyuwangi dengan selamat kan? Ibumu bilang kamu baik-baik aja. Semoga perjalanannya menyenangkan.

Ferdy melihat chat itu lama. Lalu, dengan perasaan kompleks, ia membalas.

Ferdy (21.35): Iya, sampai dengan selamat. Makasih udah tanya kabar ibu gue. Lo baik banget.

Hampir langsung, balasan masuk.

Kirana (21.36): Aku cuma khawatir. Kamu biasanya jarang pulang, jadi takut ibumu kesepian atau apa. Lagipula, dia wanita yang hebat. Senang bisa ngobrol sama dia. 😊

Ferdy (21.37): Iya, ibu gue juga bilang lo nelpon. Thank you, seriously. Tapi Kir… jangan terlalu repot. Gue nggak mau lo capek. Kirana

(21.38): Repot? Ini bukan repot, Ferdy. Ini… bagian dari caraku peduli. Aku tahu batasanmu. Aku cuma ingin memastikan orang-orang yang kamu cintai baik-baik saja.

Itu membuatku merasa… masih terhubung dengan duniamu, meski hanya dari pinggiran.

Kata-kata itu jujur, dan melukai. Ferdy tidak tahu harus membalas apa. Kirana kemudian mengirim foto dokumentasi progress editing project heritage yang sedang dikerjakan Andika dan Roni, mengalihkan topik ke hal profesional. Ferdy lega, dan mereka pun berdiskusi singkat tentang warna dan komposisi.

Setelah chat berakhir, Ferdy kembali berbaring. Hidupnya kini seperti anyaman yang rumit: benang merah masa lalu dengan Dasima, benang emas perhatian Kirana di masa kini, dan benang perak misteri keluarganya yang tersembunyi.

Ibu Surti mengetuk pintu, membawakan segelas susu hangat. "Masih melek, Nak? Ini susu, biar tidur nyenyak."

"Makasih, Bu." Ferdy menerimanya.

"Ibu lihat kamu dari tadi mikir melulu. Soal keris dan masa lalu ayahmu ya?"

"Iya, Bu."

Ibu Surti duduk di pinggir tempat tidur.

"Nak, Ibu nggak tahu apa yang sedang kamu cari. Tapi Ibu mau kasih tau satu hal: ayahmu, meski penuh rahasia, adalah orang baik. Dia mencintai kita. Dan dia pasti ingin kamu hidup bahagia, di masa sekarang. Jangan terlalu tenggelam sama masa lalu sampai lupa sama yang ada di depan mata."

Nasihat itu sederhana, namun dalam. Ferdy memegang tangan ibunya yang kasar.

"Ibu, apa Ibu percaya ada kehidupan sebelum kehidupan ini? Atau ada ikatan yang bisa nembus waktu?"

Ibu Surti tersenyum, matanya berbinar kebijaksanaan.

"Ibu petani, Nak. Ibu percaya sama tanah yang kita tanami, sama hujan yang turun, sama matahari yang terbit. Tapi Ibu juga percaya, cinta itu nggak ada matinya. Kalau memang kamu punya ikatan sama seseorang dari… mana pun, ya jalani aja dengan baik. Tapi jangan sampai menyakiti orang."

Ibunya keluar, meninggalkan Ferdy dengan segelas susu hangat dan pikiran yang semakin dalam. Malam di desa begitu sunyi, hanya suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing jauh.

Di balik kesunyian itu, ia merasakan Dasima berjaga, dan jauh di Jakarta, mungkin Kirana juga sedang memandangi langit yang sama, dengan hati yang sama-sama penuh pertanyaan.

Esok hari, ia akan berangkat ke Bali. Tapi malam ini, di kamar masa kecilnya, dengan petunjuk baru tentang ayah dan keris yang hilang, Ferdy merasa semakin dekat dengan sebuah kebenaran besar—sebuah kebenaran yang mungkin akan mengubah segalanya, termasuk cara ia memandang Kirana, Dasima, dan dirinya sendiri.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!