Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Langit yang gelap telah berganti. Sinar matahari perlahan naik. Bulan yang terlihat jelas saat malam, kini memudar perlahan. Di dalam kamar, Andra yang masih tertidur, menggeliat tak nyaman. Kakinya bergerak-gerak tak tenang. Menendang selimut sampai ke tepi dan menendang sebuah bantal sampai terjatuh ke lantai.
Sedangkan di ujung ranjang, balita perempuan berusia satu tahun tengah tersenyum bahagia. Tangannya yang gemuk berpegangan pada apapun yang mampu ia raih, berusaha untuk naik. Namun tak bisa. Kaki kecilnya hanya terangkat di udara lalu turun lagi. Berulang kali.
Bayi yang dulu sempat membuat semua orang khawatir itu, kini telah tumbuh dengan baik. Badannya sehat, sangat kuat dan sedikit berisi. Pipinya bulat kemerahan. Yang di bubuhi bedak bayi tipis, karena ia baru saja selesai mandi. Wangi, bulat dan lucu, ia terlihat seperti bakpao yang sedang dikukus. Pipi itulah yang selalu menjadi sasaran kegemasan orang-orang terhadapnya. Rambutnya hitam, lurus dan sangat halus. Bibirnya selalu tersenyum seperti matahari. Begitu cerah, begitu hangat dan begitu cantik seperti boneka.
Bayi itu diberi nama Lily. Sesuai dengan panggilannya sebelum ia lahir.
"Ndlaaaa...!!! Andlaaaa!!" Lily mencoba memanggil sang kakak. Dengan suara keras dan lantang. Meminta pertolongan. Harusnya seekor gorila pun akan terbangun saat mendengarnya. Namun anak laki-laki itu malah semakin lelap. Tubuhnya berganti posisi jadi membelakangi. Dengan badan miring sempurna. Sementara sebuah guling terperangkap erat dalam pelukannya.
Saat berusaha naik untuk yang kesekian kali, akhirnya satu kakinya berhasil menyangkut di selimut yang bergelung. Lily sangat bahagia, mengira bahwa usahanya telah berhasil. Tangan-tangan gemuknya terlepas dari pegangan untuk bertepuk tangan. Namun hal itu justru membuat keseimbangan tubuhnya terganggu, karena satu kakinya yang berpijak ke lantai menjadi tidak stabil.
"AAAAAAA!!!" Sarah yang tak sengaja lewat di depan kamar Andra, melihat itu dengan panik. Ia berteriak tanpa sadar. Ditangkapnya tubuh kecil putrinya yang hampir mencium lantai, lalu dibawanya ke pelukan.
Sembari berjongkok di bawah, Sarah mencoba menenangkan. Menepuk-nepuk punggung Lily dengan pelan. "Ussstt... Anak mama yang cantik, nggak papa kan? Nggak ada yang sakit kan? Kamu itu mau ngapain tadi?"
Tak ada balasan, tak ada tangisan, hanya celotehan tak jelas yang terdengar. Telunjuk Lily bergerak-gerak, memutar-mutar. Tak bisa diam. Memelintir rambut Sarah, lalu memasukkannya ke dalam mulut layaknya permen kapas. Sarah tak tahu, juga tak menyadari. Baru setelah rambutnya tertarik tanpa sengaja, ia segera memegangi jari-jemari kecil itu. Lantas memindahkan posisi Lily dalam gendongannya menjadi menghadap ke depan.
"Jangan dimainin rambut mama, itu bukan makanan sayang, jorok. Nanti kamu sakit."
Mata Lily mengerjap beberapa kali. Tak mengerti. Sementara matanya terus terarah pada seseorang diatas ranjang, pada tubuh sang kakak. Lily ingin membangunkannya dan mengajaknya bermain. Tapi sejak tadi kakaknya tak bangun-bangun.
Sementara itu, Andra yang terkejut, perlahan terjaga. Lalu duduk dengan tegak bersandarkan kepala ranjang. Matanya terbuka dan tertutup, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina.
Suara itu begitu keras, begitu mengagetkan. Seperti alarm bahaya yang selalu ia hindari setiap pagi. Tetapi saat mengingat hari ini hari apa, keningnya mengerut dalam. Bukankah harusnya ia bisa tidur dengan puas sekarang?
Saat penglihatannya semakin jelas, orang pertama yang ia lihat adalah wajah tak biasa sang ibu yang tengah menggendong Lily. Apa lagi kali ini?
"Mama lagi ngapain?" Tanyanya dengan suara serak. Sembari menggaruk kepala. Belum sepenuhnya sadar.
Sarah mendekat, lalu berdiri disisi ranjang. Wajahnya melembut. Ia mengelus kepala Andra pelan, penuh kasih sayang. "Bangun sayang, sekarang udah siang. Tolongin mama jagain Lily yah. Mama mau masak dulu buat kalian." Setelah mengatakan itu, ia bergegas keluar. Tanpa mendengar jawaban sang putra.
Pagi ini Lily bangun sangat awal. Tidak seperti biasanya. Jadi Sarah belum menyiapkan apapun. Saat ditanya apakah Lily mengalami mimpi buruk, gadis kecil itu menggeleng. Lalu berkata dengan suara tidak jelas. 'Andlaa lumah.'
Sarah tidak tahu bahwa selama ini Lily selalu mengamati. Selalu merekam hal sekecil apapun dalam otaknya. Bahkan anak itu tahu kapan sang kakak akan ada di rumah, dan kapan kakaknya harus pergi ke sekolah. Hal itu tidak pernah ia duga sebelumnya.
Kini Sarah harus berkejaran dengan waktu supaya anak-anak bisa sarapan tepat waktu.
Andra menghela nafas dengan berat. Bibirnya sedikit maju tapi tak bisa menolak. Rasa kantuk itu masih ada, masih terasa. Karena itu ia terdiam sebentar, menunggu hingga benar-benar sadar. Baru setelah itu berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.
Diruang keluarga, diatas sofa yang empuk, Lily tampak sangat tenang. Matanya berbinar cerah, mengarah ke depan, ke layar televisi yang dibiarkan menyala. Menampilkan sebuah kartun anak-anak yang tengah bernyanyi riang. Sementara diatas meja, berbagai macam cemilan tersedia. Jelly warna-warni, biskuit rendah gula dan potongan buah yang tersaji diatas piring plastik. Semua ada. Termasuk susu dalam dot bayinya.
Kepala kecilnya yang dihiasi bandana, bergoyang-goyang. Kadang ke kiri kadang ke kanan. Tak jarang mengangguk-angguk mengikuti irama. Sementara tangannya yang memegang remot, memukul-mukul udara.
Andra mendudukkan dirinya disamping Lily. Sofa empuk itu melesak ke bawah, menahan beban tubuhnya. Sementara tubuh kecil sang adik ikut tertarik hingga miring, lalu terjatuh perlahan, bersandar pada bahunya. Kehadiran Andra mencuri perhatian, tapi hanya sebentar. Karena sedetik kemudian fokus Lily kembali ke layar televisi. Ikut bernyanyi, meski tak jelas apa yang ia nyanyikan.
Untuk sesaat Sarah merasa tenang. Dari dapur, ia bisa melihat kedua anaknya tampak akur. Tanpa drama dan tampak normal. Hatinya senang, jiwanya terasa hangat. Kamera yang sebelumnya tersimpan di laci, ia ambil. Lalu mengarahkannya ke mereka. Sebuah potret kebersamaan anak-anaknya berhasil ia abadikan. Selanjutnya ia menyimpan kamera itu kembali. Tunggu sampai Chandra pulang, ia akan memperlihatkan foto-foto itu kepadanya.
Andra menatap malas pada layar televisi, merasa bosan. Ia sudah tidak suka menonton kartun. Karena menurutnya, serial robot lebih menarik. Lebih menantang. Ada penjahat, ada juga monster-monster besar dan seorang pahlawan yang akan menyelamatkan dunia. Andra ingin menjadi seperti mereka, menjadi superhero saat besar nanti dan menyelamatkan Lily. Lagipula lagu anak-anak itu sudah setiap hari dirinya dengar, bahkan sampai hafal. Sudah tidak menarik lagi.
"Dek ganti." Pintanya.
"No no." Lily menggeleng. Dengan telunjuk yang bergoyang-goyang. Tanda ketidaksetujuan. Sementara tangannya yang lain, menggenggam remot semakin erat. Menyimpannya dalam pelukan. Takut direbut paksa.
"Yaelah, pelit banget." Andra mendengus keras, lalu bangkit. Membiarkan tubuh sang adik terjatuh dan menabrak bantalan sofa. Sedikit memantul. Kemudian kembali ke kamar. Netranya dengan cepat memindai sekeliling, mencari sesuatu. Tetapi tak menemukan apapun. Andra beralih pada tas sekolahnya. Dan ia menemukannya disana. Terselip diantara buku-bukunya. Lalu sebuah kotak pensil dan krayon ia ambil.
Saat Andra kembali, lagu telah berganti. Di layar, Seorang anak perempuan tengah bermain ikan di dalam ember. Senyum sang adik semakin lebar. Namun ia tidak peduli. Andra duduk tepat di depan Lily. Beralaskan karpet bulu yang tebal. Sementara barang-barang yang ia bawa diletakkan diatas meja.
Tentu saja gadis kecil itu merasa tak senang. Ia merasa terganggu. Tak ada apapun yang bisa ia lihat, kecuali kepala sang kakak yang seperti brokoli. Dengan kesal ia mendekat, berusaha mengusir badan yang menghalangi pandangan. "Wass Ndlaaa... Mo liat..."
Andra tak bergeming. Tetap duduk tenang seolah tak terjadi apa-apa. Sengaja menggoda. Namun hal tak terduga justru terjadi. Lily yang kesal, mengangkat remot ditangannya tinggi-tinggi dan menghantamkannya ke badan sang kakak.
Bukk...
Bukkk
"Nakal!! pukul - pukul."
Andra berteriak kesakitan. Ia tak pernah menduga akan menerima hal seperti ini. Dengan tangan yang terangkat sebatas kepala, ia berusaha melindungi wajahnya, lalu bergeser perlahan. "Udahh Lily. Sakitt, ampun! Ini udah geser. Jangan dipukul lagi." Mohonnya.
Lily terdiam, lalu mengangguk. "Oh." Tubuhnya mundur perlahan. Kembali bersandar dengan nyaman. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Lalu menggumam. Seolah tak pernah terjadi apa-apa.
"Jangan berantem. Mas, tolong ngalah dulu sama adiknya."
Di balik meja dapur, Sarah mendengar keributan yang terjadi. Lalu mengelus dada. Tak ada hari tenang. Mereka selalu ribut setiap hari. Nilai positifnya, rumah jadi semakin ramai, semakin hidup. Meski terkadang membuatnya sakit kepala.
Tak lama, suara-suara itu berhenti. Diliriknya lagi anak-anak , Andra tengah duduk dengan tenang, sibuk dengan pekerjaannya. Lily juga tak kalah tenangnya, sembari bernyanyi. Baru saat itu ia dapat bernafas lega.
Perlahan tubuh Sarah kembali ke tempatnya. Melakukan pekerjaan yang sempat tertunda. Mengiris dan memotong sayur. Lalu menjadikannya sebuah sup.
Harum masakan tercium samar, sampai ke ruang tengah. Andra melirik sang ibu sebentar, lalu kembali ke pekerjaan rumahnya. Perutnya berbunyi. Tetapi disana ibunya masih sibuk, pertanda apa yang ia buat belum selesai.
Dipandanginya gambar yang telah ia buat dengan puas. Lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Sudut-sudut bibirnya terangkat lebar. Kini ia hanya perlu memberi warna dan semuanya selesai. Setelah itu ia bisa bermain sepuasnya. Andra tertawa di dalam hati. Menanggapi rencana yang telah ia buat untuk hari ini.
Di belakangnya, Lily tak berminat lagi menatap televisi. Matanya yang jernih, menatap sang kakak, lalu menatap gambar di tangannya. Senyumnya sangat lebar, penuh arti. Perlahan tubuhnya bergeser semakin ke tepi. Lalu turun dan duduk disamping Andra. Remot televisi ia lempar entah kemana.
Andra tak menyadari. Ia masih sibuk mewarnai. Saat tangan Lily mengambil pewarna lain, ia juga tak melihat. Terlalu serius, terlalu fokus. Baru setelah ia melihat ada tangan lain disebelah tangannya dan goresan lain di kertas gambarnya, Andra segara menarik diri. Menyelamatkan tugas sekolahnya yang hampir dirusak Lily.
"Kenapa gambar Mas Andra kamu coret-coret?!!" Nadanya meninggi tanpa ia sadari.
Lily yang terkejut, mundur satu jengkal. Tangannya bergetar. Matanya berkaca-kaca. Sementara bibirnya turun ke bawah. Dalam hitungan detik suara melengking akan keluar, seperti biasa.
Andra buru-buru mendekat sebelum hal itu terjadi, sebelum ibunya melihat apa yang telah diperbuatnya. Dipeluknya tubuh kecil Lily hingga tenang. "Maafin aku karena udah bentak kamu. Habis kamu nakal. Jangan gitu lagi yaaa."
Entah mengerti, entah tidak, Lily mengangguk. Namun tangan gemuknya tak tinggal diam. Matanya masih terus terarah pada gambar Andra diatas sofa, yang menarik perhatiannya. Lalu tangan itu merayap kesana.
Andra tak tahu, juga tak menyadari. Baru setelah pelukan itu terlepas, ia bisa melihat adiknya yang jahil sedang mencoret-coret gambarnya lagi. Hampir saja ia mendorong Lily keras. Untungnya tak jadi.
"Mama! Ini Lily gangguin aku terus." Adunya. Berharap sang ibu akan segera datang untuk membantu.
"Dia mau main sama kamu itu mas. Tolong jagain dulu, mama lagi masak ini, takut gosong." Ujar Sarah lantang dari arah dapur.
Andra mendengus. Bermain apanya? Lily dari tadi malah sibuk merusak gambar yang telah susah payah ia buat.
Tak ada pilihan lain selain menyelematkan diri. Andra berlari mengitari sofa. Sementara Lily berusaha mengejar dengan kaki kecilnya. Sebuah pewarna tak pernah lepas dari genggaman. Sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk berpegangan pada benda apa saja di sekelilingnya untuk menjaga keseimbangan tubuh.
Melihat sang adik merangkak menaiki sofa, Andra perlahan mundur. Mencoba menjauh sejauh mungkin. Hingga punggungnya menabrak dinding.
"Ndlaaa Auuu..." Tangan kecilnya berusaha menggapai, namun tak sampai. Tak mengerti akan bahaya di depannya, tubuh kecil itu terus menekan dan menekan pada sandaran. Hingga tangannya salah meraih pegangan.
Dan...