Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gue Bukan Memey yg Dulu
Gue baru saja selesai mencatat target glow up gue di buku tulis—mulai dari rutin minum air putih sampai jadwal olahraga subuh di Tanah Deli ini—ketika HP di atas kasur bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang belum gue simpan, tapi gue hafal di luar kepala.
Gavin: “Tadi lo buru-buru banget, Mey. Belum sempat gue tanya, itu poni baru ya? Lucu, cocok sama muka lo yang gemesin.”
Gue menatap layar itu dengan tatapan datar. Dia nggak memanggil gue Odelyn. Dia nggak peduli nama asli gue. Bagi dia, gue cuma si "Memey Poni Rata" yang bisa dia atur sesuka hati.
Gue mengetik balasan dengan jari yang tenang.
Odelyn: “Odelyn. Nama gue Odelyn, Vin. Dan soal tugas tadi, lo udah kerjain bagian lo belum?”
Satu menit. Dua menit. Gavin pasti lagi bingung di seberang sana. Dia nggak terbiasa dikoreksi, apalagi dengan gaya bicara yang sesingkat itu.
Gavin: “Waduh, galak amat, Tuan Putri. Haha. Oke, oke, Odelyn. Galak-galak gini makin bikin penasaran ya. Belum nih, bagian gue susah. Bantuin dong, besok gue jemput ya? Kita kerjain di perpus sebelum kelas.”
Gue menatap layar ponsel dengan tatapan dingin. Jemput? Di kehidupan sebelumnya, momen dijemput Gavin adalah puncak kebahagiaan gue. Gue bakal bangun dua jam lebih awal, dandan habis-habisan, hanya untuk berakhir jadi asisten yang ngerjain tugas-tugasnya sementara dia sibuk tebar pesona.
Nggak lagi.
Odelyn: “Nggak perlu, Vin. Gue ada urusan lain pagi-pagi. Ketemu langsung di perpus jam 8. Jangan telat, atau nama lo gue coret dari cover tugas.”
Gue langsung mematikan layar ponsel tanpa menunggu balasannya. Gue bisa membayangkan wajah Gavin yang tadinya penuh percaya diri, sekarang pasti lagi melongo natap layar HP-nya. Cowok kayak dia nggak terbiasa dikasih instruksi—apalagi diancam soal tugas.
Gue berjalan menuju cermin, menyisir poni rata yang dia bilang "lucu" itu. Besok, dia nggak akan ketemu Memey si gadis penurut. Dia akan ketemu Odelyn, cewek yang bakal bikin dia ngerasa kalau kecerdasannya selama ini cuma seujung kuku dibanding gue.
...
Siang itu, di Perpustakaan Pusat Kampus, Odelyn datang dengan penampilan yang sama "sederhananya." Kemeja flanel longgar, celana denim usang, dan kacamata kotak tebal masih bertengger di hidungnya. Tapi ada yang berbeda. Rambutnya tergerai rapi, sedikit bergelombang di ujung, dan aromanya bukan lagi bau buku lama, melainkan wangi baby powder yang samar—segar dan bersih. Entah kenapa, aura di sekelilingnya terasa berbeda; lebih tenang, namun juga lebih tajam.
Gavin sudah duduk di meja paling pojok, menatap jam tangannya dengan ekspresi kesal. Wajahnya yang tampan terlihat sedikit kusut, tak terbiasa menunggu. Begitu Odelyn muncul dari balik rak buku, tatapan Gavin terpaku. Bukan karena penampilannya yang tiba-tiba "wow," tapi karena ada sesuatu di mata Odelyn yang membuat naluri playboy-nya tergelitik. Sebuah tantangan baru.
"Tepat waktu," sapa Odelyn datar, menarik kursi di hadapan Gavin. Dia mengeluarkan laptop dan setumpuk buku tebal.
Gavin mencoba tersenyum sok ramah. "Lo beneran datang sendiri, Mey? Padahal gue udah mau jemput."
Odelyn mengangkat alisnya, tak mengindahkan panggilan itu. "Waktu gue terlalu berharga buat nunggu cowok yang suka telat."
Gavin terdiam, sedikit salah tingkah. Cewek ini benar-benar berubah.
"Oke, kita bahas bagian lo. Presentasi tugas kelompok kita besok," Odelyn langsung mengalihkan topik. Dia membuka file Gavin di laptopnya. Baru beberapa menit, keningnya sudah berkerut.
"Vin, ini rumus yang lo pakai salah semua. Analisis data lo juga nggak nyambung sama bab dua. Kalau kayak gini, kita bisa dapat nilai F." Suara Odelyn terdengar tenang, tapi kalimatnya seperti palu godam yang menghantam ego Gavin.
Wajah Gavin memerah. "Maksud lo gue salah semua? Gue udah begadang ngerjain ini!"
"Kalau begadang cuma buat nulis sampah, ya percuma," balas Odelyn dingin. Dia mulai mengetik cepat, merevisi bagian-bagian krusial dengan penjelasan yang ringkas dan lugas. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya adalah pukulan telak yang membuat Gavin bungkam. Dia menyadari, Odelyn yang ini jauh lebih pintar—bahkan lebih unggul dari yang dia ingat.
Tepat saat Odelyn menjelaskan algoritma kompleks dengan gamblang, tiba-tiba seorang mahasiswa senior yang tinggi dan berwajah ramah menghampiri meja mereka. Namanya Rizky, Ketua Senat mahasiswa yang cerdas dan berwibawa—sosok yang di masa depan akan menjadi salah satu CEO perusahaan teknologi terkemuka.
"Odelyn? Lo di sini juga? Kirain udah balik." Rizky tersenyum hangat. "Gue mau bahas soal proyek smart city yang kemaren lo presentasiin. Gue butuh masukan lo lagi."
Gavin yang sedari tadi sudah merasa terpojok, kini semakin terasingkan. Cewek "udik" yang dia remehkan ini ternyata kenal dekat dengan Ketua Senat yang dihormati semua orang.
Tiba-tiba, dada Odelyn terasa sesak. Aroma parfum Rizky yang terlalu kuat, ditambah AC perpustakaan yang dingin, membuat napasnya tiba-tiba memburu. Ia merasakan gelombang nyeri tajam di ulu hati, disusul tenggorokannya yang terasa panas. Sial, GERD-nya kambuh. Udara dingin ini juga memicu asmanya.
"Odelyn, lo kenapa?" Rizky segera menyadari perubahan pada wajah Odelyn yang memucat. Ia menopang bahu Odelyn saat gadis itu terbatuk-batuk, berusaha mengambil napas.
Gavin hanya bisa terdiam mematung, pandangannya cemas. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya melihat Odelyn kesulitan bernapas. Khawatir? Ya, dia khawatir. Melihat Odelyn yang selalu tegar dan dingin tiba-tiba selemah ini membuat sesuatu di hatinya berdesir. Perasaan yang dia tolak mentah-mentah, tapi itu nyata.
"A-air..." Odelyn memegang dadanya, batuknya makin menjadi.
Rizky tanpa ragu langsung menyerahkan botol air mineral dari tasnya. "Ambil napas pelan-pelan, Odelyn. Lo bawa inhaler?"
Gavin, yang masih tertegun, baru tersadar. Dia melihat Rizky membantu Odelyn dengan sigap, sementara dia hanya berdiri seperti patung. Ada rasa kesal sekaligus cemburu yang tiba-tiba menyeruak. Kenapa bukan dia yang bergerak lebih dulu.
Napas gue mulai berangsur normal, meski dada masih terasa sedikit nyeri akibat GERD yang baru saja menyerang. Rizky masih berdiri sigap di samping gue, memegang botol air dengan tatapan khawatir yang tulus.
Gue melirik ke arah jendela besar perpustakaan. Di luar, langit Medan mendadak tumpah. Hujan deras mengguyur, menciptakan tirai air yang tebal. Dinginnya mulai menusuk tulang, dan gue tahu ini bukan cuaca yang bagus untuk paru-paru gue yang sensitif.
Gavin tiba-tiba bergerak mendekat. Wajahnya yang tadi kaku sekarang terlihat tegang, rahangnya mengeras saat melihat tangan Rizky yang masih sempat menyentuh bahu gue.
"Mey—maksud gue, Odelyn. Lo balik sama gue aja," suara Gavin terdengar lebih berat dari biasanya. "Hujan deras, lo nggak bakal dapet ojek atau angkot dalam cuaca kayak gini. Kondisi lo lagi nggak oke."
Gue menggeleng pelan, berusaha menstabilkan suara. "Nggak usah, Vin. Gue udah janji mau diskusi bentar lagi sama Kak Rizky soal proyek itu."
Gue bisa liat urat di leher Gavin menegang. Dia bener-bener nggak suka ditolak, apalagi di depan Rizky. Dia benci melihat gimana gue lebih percaya sama Rizky daripada sama dia.
"Jangan keras kepala," potong Gavin cepat. Tanpa aba-aba, dia melepas jaket jeans-nya yang beraroma parfum mahal—aroma yang dulu pernah sangat gue puja. Dia langsung menyampirkan jaket itu ke bahu gue, sedikit memaksa sampai gue nggak bisa menolaknya. Jaketnya masih terasa hangat karena suhu tubuhnya.
"Pake. Gue nggak mau lo pingsan di jalan karena kedinginan," katanya dingin, tapi matanya nggak bisa bohong; ada rasa takut kehilangan yang terselip di sana.
Gavin kemudian menoleh ke arah Rizky. Tatapannya tajam, penuh persaingan, tapi dia nggak punya pilihan lain karena gue yang menolak pulangnya.
"Ky, tolong jagain dia," ucap Gavin dengan nada yang sangat terpaksa. "Jangan sampe dia telat minum obat atau kehujanan lagi. Gue percayain Odelyn sama lo... untuk sekarang."
Setelah itu, Gavin langsung berbalik dan berjalan cepat menembus lorong perpustakaan menuju pintu keluar. Gue cuma bisa menatap punggungnya, menyadari satu hal: Gavin sedang denial. Dia cemburu, dia khawatir, tapi dia nggak mau ngakuin kalau cewek 'udik' ini mulai punya kendali penuh atas perasaannya.
Rizky menatap gue sambil tersenyum tipis. "Gavin kayaknya peduli banget sama lo, Odelyn. Tapi tenang aja, gue bakal pastiin lo sampai rumah dengan selamat."
Gue memegang ujung jaket jeans Gavin, lalu tersenyum miring dalam hati. Bagus, Gavin. Teruslah cemburu sampai lo sadar kalau lo udah kalah sebelum perang dimulai.