Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 - Diam yang Memilih
Raka Mahardika selalu percaya bahwa diam adalah cara paling aman. Diam berarti tidak memperkeruh keadaan. Diam berarti menunggu waktu meredakan emosi. Diam berarti tidak perlu memilih pihak.
Selama ini, itu bekerja.
Pagi itu, Raka duduk di bangku panjang depan gedung fakultas. Menatap layar ponselnya tanpa benar-benar membaca. Ada notifikasi grup BEM yang terus bermunculan. Nama Nadira muncul berulang kali... bukan dalam pesan darinya, melainkan dalam pembicaraan orang lain.
[Kok laporannya telat terus?]
[Katanya Nadira yang pegang.]
[Dia emang masih aktif, ya?]
Raka menghela napas pelan.
Ini bukan pertama kalinya ada keluhan. Tapi biasanya, Nadira akan datang sendiri menjelaskan. Membela diri. Mengambil beban agar tidak melebar.
Kali ini, tidak.
Raka menggeser layar ke atas, membaca ulang pesan permintaan maaf yang dia kirim semalam. Tidak dibalas. Tidak ditolak. Hanya... dibiarkan.
Perasaan itu... kosong, menggantung... membuat dadanya tidak nyaman.
"Raka."
Dia menoleh. Aluna berdiri di hadapannya, wajahnya terlihat serius. "Kita perlu ngomong."
Raka bangkit. "Ada apa?"
Aluna mencondongkan tubuh sedikit, suaranya direndahkan. "Anak-anak mulai ribut soal Nadira. Aku takut ini jadi masalah besar."
Raka mengangguk pelan. "Aku urus."
Kalimat itu keluar otomatis. Tapi langkahnya ragu saat mereka masuk ke sekretariat.
Di dalam, suasana tidak seperti biasa. Beberapa orang berbicara setengah berbisik. Ketika Raka masuk, percakapan terhenti sesaat.
"Raka." Salah satu anggota mendekat. "Kita butuh kejelasan soal laporan. Sponsor nanya."
Raka mengangguk. "Datanya sudah masuk semalam."
"Tanpa penjelasan." Sambung yang lain. "Kesannya... ya, kurang tanggung jawab."
Kata itu... kurang tanggung jawab... membuat rahang Raka mengeras.
"Nadira bukan tipe yang lepas tangan." Katanya singkat.
Kalimat itu terdengar seperti pembelaan. Tapi tidak cukup keras untuk menghentikan bisik-bisik.
Aluna memperhatikan dari samping. Matanya menyipit tipis.
"Teman-teman." Katanya akhirnya, nada suaranya menenangkan. "Mungkin kita jangan berprasangka dulu. Nadira lagi banyak urusan akademik."
Seseorang tertawa kecil. "Atau lagi sibuk sama urusan pribadi?"
Tawa kecil menyebar.
Raka menatap meja. Diam.
Di titik itu, dia seharusnya bicara. Seharusnya berkata bahwa Nadira selalu menyelesaikan tugasnya. Bahwa dia tidak pernah lalai. Bahwa keterlambatan satu kali bukan alasan untuk menghakimi.
Tapi Raka memilih diam. Dan diam itu terdengar seperti persetujuan.
Nadira mengetahui kabar itu dari orang lain.
Bukan dari Raka.
Bukan dari Aluna.
Dia sedang duduk di kantin ketika dua mahasiswa di meja sebelah berbicara tanpa sadar bahwa dia bisa mendengar.
"Katanya Nadira mulai nggak fokus sejak jadi tunangan Raka."
"Iya, makanya kerjaannya keteteran."
Nadira mengaduk minumnya pelan. Tangannya stabil. Wajahnya tenang.
Salsa yang duduk di depannya menegang. "Mereka ngomongin kamu."
"Aku tahu."
"Kamu nggak mau jelasin?"
Nadira menatap cairan kopi yang bergetar kecil.
"Aku udah capek menjelaskan hal yang seharusnya nggak perlu dijelaskan."
Dia berdiri, mengambil tasnya.
"Aku ke kelas."
Langkahnya mantap. Tidak ada air mata. Tidak ada konfrontasi. Justru itu yang membuatnya terlihat bersalah di mata orang-orang.
Di sore hari, Raka mendengar kabar yang lebih buruk. Seorang dosen pembimbing organisasi memanggilnya.
"Raka, ini soal profesionalisme timmu." Katanya datar. "Nama Nadira disebut beberapa kali."
Raka duduk tegak. "Dia sudah menyelesaikan tugasnya, Pak."
"Tanpa koordinasi yang baik." Potong sang dosen. "Kamu ketuanya. Kamu harus tegas."
Raka mengangguk. "Baik, Pak."
Keluar dari ruangan itu, Raka merasakan tekanan di dadanya. Ada dua pilihan yang berputar di kepalanya... membela Nadira secara terbuka atau menenangkan keadaan dengan cara aman.
Aluna muncul di ujung koridor, seperti sudah menunggu. "Gimana?"
"Kurang baik." Jawab Raka singkat.
Aluna menggigit bibirnya, terlihat khawatir.
"Mungkin... untuk sementara Nadira mundur dulu dari tim inti?"
Kalimat itu sederhana. Rasional. Aman.
Raka menatapnya. "Maksud kamu?"
"Bukan dikeluarkan." Cepat Aluna menambahkan. "Cuma dikurangi perannya. Biar suasana reda."
Raka terdiam lama.
Dia membayangkan wajah Nadira. Tatapan tenangnya. Jarak yang semakin lebar.
Keputusan ini akan melukainya.
Namun Raka berpikir... Ini sementara.
Ini demi kebaikan bersama.
"Oke." Katanya akhirnya. "Aku akan bicara sama dia."
Aluna tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, senyum itu terlihat terlalu lebar.
Raka menunggu Nadira di depan kelas. Ketika perempuan itu keluar, langkahnya terhenti melihat Raka berdiri di sana.
"Bisa ngomong sebentar?" Tanya Raka.
Nadira mengangguk. "Di sini saja."
Raka menelan ludah.
"Ada masalah di BEM. Aku... mutusin kamu sementara nggak ikut rapat inti."
Nadira menatapnya, lama.
"Alasannya?"
"Biar nggak jadi bahan omongan." Jawab Raka. "Aku nggak mau kamu makin kena."
Kata kena terdengar seperti beban yang harus disingkirkan.
Nadira tersenyum kecil... senyum yang tidak sampai ke mata.
"Jadi solusinya, aku yang disingkirkan."
"Ini bukan gitu." Raka menghela napas. "Aku cuma..."
"Kamu diam." Potong Nadira lembut. "Waktu mereka ngomongin aku, kamu diam."
Raka terdiam.
"Itu pilihan kamu." Lanjut Nadira. "Dan aku terima."
Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah pergi. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada teriakan.
Kesalahan kedua Raka terjadi justru karena itu... karena dia mengira ketenangan berarti tidak ada luka.
Aluna kehilangan kendali malam itu.
Di sekretariat yang hampir kosong, dia mondar-mandir, ponselnya di tangan.
"Kenapa dia nggak marah?" Gerutunya. "Kenapa dia nggak datang ribut?"
Raka yang duduk di kursi menoleh. "Maksud kamu apa?"
Aluna tersenyum cepat. "Nggak apa-apa. Aku cuma... takut kamu kepikiran."
Raka tidak menjawab. Dia justru memikirkan satu hal...
Nadira tidak membela diri. Tidak menuntut. Tidak memohon.
Dan itu menakutkan.
Aluna merasakan perubahan itu. Dia mendekat, suaranya sedikit meninggi. "Kamu kan tahu aku cuma mau bantu."
Raka menatapnya. "Iya." Jawaban itu tidak sehangat biasanya.
Aluna meremas ponselnya. Untuk pertama kalinya, dia merasa kehilangan pegangan. Rencananya berjalan, tapi hasilnya tidak memberi kepuasan.
Perempuan yang diserang seharusnya runtuh. Nadira justru menghilang dengan tenang.
Di kamar kos, Nadira duduk di lantai, punggung bersandar ke ranjang. Dia menatap dinding kosong.
Keputusan Raka tadi sore berputar ulang di kepalanya. Bukan kemarahan yang muncul... melainkan kepastian.
Dia mengambil kertas kosong, menulis satu kalimat...
Aku tidak akan membela diriku di tempat aku tidak dipilih.
Dia melipat kertas itu, menyimpannya di buku catatan.
Di luar, suara kampus masih ramai. Hidup terus berjalan. Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Nadira merasa satu hal dengan jelas...
Dia tidak akan kembali ke tempat yang memilih diam saat namanya dihancurkan.
Di sekretariat, Raka duduk sendirian setelah semua pulang. Kursi di seberangnya kosong. Ada rasa sesak yang tidak bisa ia jelaskan. Diamnya hari ini tidak membuat keadaan membaik.
Justru membuat jarak itu nyata.
Dan di sudut lain kampus, Aluna Prameswari menatap cermin dengan wajah yang mulai retak... karena untuk pertama kalinya, kendali tidak lagi sepenuhnya ada di tangannya.
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚
𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁
𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠