NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Rebirth For Love / Obsesi / Time Travel / Romansa / Tamat
Popularitas:16.1k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - Diam yang Memilih

Raka Mahardika selalu percaya bahwa diam adalah cara paling aman. Diam berarti tidak memperkeruh keadaan. Diam berarti menunggu waktu meredakan emosi. Diam berarti tidak perlu memilih pihak.

Selama ini, itu bekerja.

Pagi itu, Raka duduk di bangku panjang depan gedung fakultas. Menatap layar ponselnya tanpa benar-benar membaca. Ada notifikasi grup BEM yang terus bermunculan. Nama Nadira muncul berulang kali... bukan dalam pesan darinya, melainkan dalam pembicaraan orang lain.

[Kok laporannya telat terus?]

[Katanya Nadira yang pegang.]

[Dia emang masih aktif, ya?]

Raka menghela napas pelan.

Ini bukan pertama kalinya ada keluhan. Tapi biasanya, Nadira akan datang sendiri menjelaskan. Membela diri. Mengambil beban agar tidak melebar.

Kali ini, tidak.

Raka menggeser layar ke atas, membaca ulang pesan permintaan maaf yang dia kirim semalam. Tidak dibalas. Tidak ditolak. Hanya... dibiarkan.

Perasaan itu... kosong, menggantung... membuat dadanya tidak nyaman.

"Raka."

Dia menoleh. Aluna berdiri di hadapannya, wajahnya terlihat serius. "Kita perlu ngomong."

Raka bangkit. "Ada apa?"

Aluna mencondongkan tubuh sedikit, suaranya direndahkan. "Anak-anak mulai ribut soal Nadira. Aku takut ini jadi masalah besar."

Raka mengangguk pelan. "Aku urus."

Kalimat itu keluar otomatis. Tapi langkahnya ragu saat mereka masuk ke sekretariat.

Di dalam, suasana tidak seperti biasa. Beberapa orang berbicara setengah berbisik. Ketika Raka masuk, percakapan terhenti sesaat.

"Raka." Salah satu anggota mendekat. "Kita butuh kejelasan soal laporan. Sponsor nanya."

Raka mengangguk. "Datanya sudah masuk semalam."

"Tanpa penjelasan." Sambung yang lain. "Kesannya... ya, kurang tanggung jawab."

Kata itu... kurang tanggung jawab... membuat rahang Raka mengeras.

"Nadira bukan tipe yang lepas tangan." Katanya singkat.

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan. Tapi tidak cukup keras untuk menghentikan bisik-bisik.

Aluna memperhatikan dari samping. Matanya menyipit tipis.

"Teman-teman." Katanya akhirnya, nada suaranya menenangkan. "Mungkin kita jangan berprasangka dulu. Nadira lagi banyak urusan akademik."

Seseorang tertawa kecil. "Atau lagi sibuk sama urusan pribadi?"

Tawa kecil menyebar.

Raka menatap meja. Diam.

Di titik itu, dia seharusnya bicara. Seharusnya berkata bahwa Nadira selalu menyelesaikan tugasnya. Bahwa dia tidak pernah lalai. Bahwa keterlambatan satu kali bukan alasan untuk menghakimi.

Tapi Raka memilih diam. Dan diam itu terdengar seperti persetujuan.

Nadira mengetahui kabar itu dari orang lain.

Bukan dari Raka.

Bukan dari Aluna.

Dia sedang duduk di kantin ketika dua mahasiswa di meja sebelah berbicara tanpa sadar bahwa dia bisa mendengar.

"Katanya Nadira mulai nggak fokus sejak jadi tunangan Raka."

"Iya, makanya kerjaannya keteteran."

Nadira mengaduk minumnya pelan. Tangannya stabil. Wajahnya tenang.

Salsa yang duduk di depannya menegang. "Mereka ngomongin kamu."

"Aku tahu."

"Kamu nggak mau jelasin?"

Nadira menatap cairan kopi yang bergetar kecil.

"Aku udah capek menjelaskan hal yang seharusnya nggak perlu dijelaskan."

Dia berdiri, mengambil tasnya.

"Aku ke kelas."

Langkahnya mantap. Tidak ada air mata. Tidak ada konfrontasi. Justru itu yang membuatnya terlihat bersalah di mata orang-orang.

Di sore hari, Raka mendengar kabar yang lebih buruk. Seorang dosen pembimbing organisasi memanggilnya.

"Raka, ini soal profesionalisme timmu." Katanya datar. "Nama Nadira disebut beberapa kali."

Raka duduk tegak. "Dia sudah menyelesaikan tugasnya, Pak."

"Tanpa koordinasi yang baik." Potong sang dosen. "Kamu ketuanya. Kamu harus tegas."

Raka mengangguk. "Baik, Pak."

Keluar dari ruangan itu, Raka merasakan tekanan di dadanya. Ada dua pilihan yang berputar di kepalanya... membela Nadira secara terbuka atau menenangkan keadaan dengan cara aman.

Aluna muncul di ujung koridor, seperti sudah menunggu. "Gimana?"

"Kurang baik." Jawab Raka singkat.

Aluna menggigit bibirnya, terlihat khawatir.

"Mungkin... untuk sementara Nadira mundur dulu dari tim inti?"

Kalimat itu sederhana. Rasional. Aman.

Raka menatapnya. "Maksud kamu?"

"Bukan dikeluarkan." Cepat Aluna menambahkan. "Cuma dikurangi perannya. Biar suasana reda."

Raka terdiam lama.

Dia membayangkan wajah Nadira. Tatapan tenangnya. Jarak yang semakin lebar.

Keputusan ini akan melukainya.

Namun Raka berpikir... Ini sementara.

Ini demi kebaikan bersama.

"Oke." Katanya akhirnya. "Aku akan bicara sama dia."

Aluna tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, senyum itu terlihat terlalu lebar.

Raka menunggu Nadira di depan kelas. Ketika perempuan itu keluar, langkahnya terhenti melihat Raka berdiri di sana.

"Bisa ngomong sebentar?" Tanya Raka.

Nadira mengangguk. "Di sini saja."

Raka menelan ludah.

"Ada masalah di BEM. Aku... mutusin kamu sementara nggak ikut rapat inti."

Nadira menatapnya, lama.

"Alasannya?"

"Biar nggak jadi bahan omongan." Jawab Raka. "Aku nggak mau kamu makin kena."

Kata kena terdengar seperti beban yang harus disingkirkan.

Nadira tersenyum kecil... senyum yang tidak sampai ke mata.

"Jadi solusinya, aku yang disingkirkan."

"Ini bukan gitu." Raka menghela napas. "Aku cuma..."

"Kamu diam." Potong Nadira lembut. "Waktu mereka ngomongin aku, kamu diam."

Raka terdiam.

"Itu pilihan kamu." Lanjut Nadira. "Dan aku terima."

Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah pergi. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada teriakan.

Kesalahan kedua Raka terjadi justru karena itu... karena dia mengira ketenangan berarti tidak ada luka.

Aluna kehilangan kendali malam itu.

Di sekretariat yang hampir kosong, dia mondar-mandir, ponselnya di tangan.

"Kenapa dia nggak marah?" Gerutunya. "Kenapa dia nggak datang ribut?"

Raka yang duduk di kursi menoleh. "Maksud kamu apa?"

Aluna tersenyum cepat. "Nggak apa-apa. Aku cuma... takut kamu kepikiran."

Raka tidak menjawab. Dia justru memikirkan satu hal...

Nadira tidak membela diri. Tidak menuntut. Tidak memohon.

Dan itu menakutkan.

Aluna merasakan perubahan itu. Dia mendekat, suaranya sedikit meninggi. "Kamu kan tahu aku cuma mau bantu."

Raka menatapnya. "Iya." Jawaban itu tidak sehangat biasanya.

Aluna meremas ponselnya. Untuk pertama kalinya, dia merasa kehilangan pegangan. Rencananya berjalan, tapi hasilnya tidak memberi kepuasan.

Perempuan yang diserang seharusnya runtuh. Nadira justru menghilang dengan tenang.

Di kamar kos, Nadira duduk di lantai, punggung bersandar ke ranjang. Dia menatap dinding kosong.

Keputusan Raka tadi sore berputar ulang di kepalanya. Bukan kemarahan yang muncul... melainkan kepastian.

Dia mengambil kertas kosong, menulis satu kalimat...

Aku tidak akan membela diriku di tempat aku tidak dipilih.

Dia melipat kertas itu, menyimpannya di buku catatan.

Di luar, suara kampus masih ramai. Hidup terus berjalan. Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Nadira merasa satu hal dengan jelas...

Dia tidak akan kembali ke tempat yang memilih diam saat namanya dihancurkan.

Di sekretariat, Raka duduk sendirian setelah semua pulang. Kursi di seberangnya kosong. Ada rasa sesak yang tidak bisa ia jelaskan. Diamnya hari ini tidak membuat keadaan membaik.

Justru membuat jarak itu nyata.

Dan di sudut lain kampus, Aluna Prameswari menatap cermin dengan wajah yang mulai retak... karena untuk pertama kalinya, kendali tidak lagi sepenuhnya ada di tangannya.

1
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
Ridwan01
Terima kasih kak author, ceritanya menarik dan banyak pembelajaran juga dari cerita para tokoh di novel ini 👍🙏☺️
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
ini udah end emang?
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ibu juga ah
total 2 replies
Nada She Embun
makasih Thor... terbaikk.. 😭
Erchapram: Terima kasih, mampir baca yg on going lainnya Kak. 🙏
total 1 replies
Nada She Embun
nadira sudah mulai hidup... 😍... bagi org yg mungkin sedang kalut... tak perlu banyak bicara.. cukup diam dan selalu di sisi nya... itu lebih menenangkan dari sebuah saran... 💜
Nada She Embun
penuh makna novel author nihh. 👍
Kostum Unik
Aku bosan bacanya kk othor.. Maaf ya. Awalnya sangat menarik tapi ini kok kyk baca sajak. Karakter2 nya terlalu kaku.. Tp balik lg ke selera pembaca yaa. /Smile/
Ridwan01
hidup kamu memang milik kamu Nadira, tapi kalau kamu keras kepala, hidup kedua kamu akan sia sia.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
Winer Win: sama loo..aku juga greget..egois banget..keras kepala..sok kuat sok bisa sendiri..🤭🤭
total 2 replies
Dwi Setyaningrum
Nadira diberi kesempatan utk hdp lg tp malah rasanya hidupnya beban berat dan dlm otaknya ga mau mati lg tp langkahnya justru sukses menyiksa diri sndr berujung kematian kalau ego nya ttp dipertahankan..critanya ini saking beratnya smpe komenku juga berat thor🤭🤭
Erchapram: Trauma mati 🤣🤣
total 1 replies
Nada She Embun
trauma nadira😔...
Nada She Embun
terkadang jujur akan d anggap munafik.. 😔
Nada She Embun
cara penulisan novel yg berbeda.. alur cerita yg sulit d tebak... kamu bisa merasakan isi hati tokoh.. dialog yg sedikit tapi bermakna.. terbaik Thor.. 😍
Nada She Embun
novel author yg satu ini.. 👍... benar2 berani mengambil alur yg berbeda dari kebanyakan novel... novel yg sulit d tebak alur nya...

lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...

kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
Erchapram: Terima kasih.
total 1 replies
Winda Widiastuti
maaf Thor ni cerita soal apa ya ko muter2 Mulu
Erchapram: Soal di kampus
total 1 replies
Ita rahmawati
ini cerita apa sih jujur aku tuh gk mudeng yg begini² tuh 😂
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Dew666
🌹🌹💎
Faziana
Jujur sebagai seorang introvert menghadapi intrik2 semacam kisah Othor dalam kehidupan real benar2 menguras energi, itu yg pernah saya rasakan🤭
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍
Erchapram: Terima kasih jika cerita ini menginspirasi untuk tetap kuat. 🙏💪👍
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Soraya
salut dgn bahasanya lanjut thor
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!