Mengalami masa sulit di saat hamil hingga berakhir dengan kehilangan nyawa membuat Rebecca tidak terima akan kematiannya. Namun, siapa sangka Tuhan masih memberikan kesempatan kedua dengan jiwanya yang berpindah ke tubuh Stephanie.
Stephanie yang notabene seorang pelayan asing di sebuah kediaman harus berakhir dengan mengalami nasib buruk bertubi-tubi. Bukan hanya di siksa, dia bahkan diperkaos oleh orang yang tidak di kenal, hingga berharap agar Tuhan mengambil nyawanya.
Akankah Rebecca memanfaatkan kesempatan keduanya ini dengan baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rissa audy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Valencia yang tangannya hanya terluka sedikit memang meminta Robert untuk menemaninya ke rumah sakit. Padahal lukanya juga tidak seberapa, tetapi wanita tersebut terus saja mengeluh dan berceloteh ria sejak tadi.
Semenjak menjadi satu-satunya wanita yang tinggal di samping Robert, meskipun tanpa status. Valen semakin agresif. Tidak jarang dia menyingkirkan setiap wanita yang berniat mendekati Robert, tentu saja hal itu sangat mudah dia lakukan karena memang basicnya yang berasal dari keluarga kaya.
Setibanya di apartement, wanita tersebut langsung saja menutup pintu dan mendorong tubuh Robert hingga menempel di dinding. Valen hendak mencium Robert, tetapi dengan cepat pria tersebut menghindar dengan membuang wajah ke samping.
“Kenapa?” tanya Valen seolah tidak terima dengan penolakan Robert.
“Valen, kau tahu pekerjaanku di kantor masih banyak. Bahkan aku sampai harus menunda pembahasanku dengan klien besar tadi, hanya untuk menemuimu dan mengantarmu ke rumah sakit. Tidak bisakah kau membiarkan aku bekerja dengan tenang meski untuk hari ini saja?” kata Robert.
“Ayolah, Sayang. Aku hanya ingin memberikanmu relaksasi. Apa salahnya membolos untuk bekerja sesekali. Toh, Kak Brandon tidak mungkin akan menyingkirkanmu hanya karena tidak bekerja sehari saja.” Valen membujuk sambil tangannya bergerilya membuka satu per satu kancing pakaian Robert.
Namanya kucing, di pancing menggunakan ikan asin. Seberapa keras Robert mencoba menahan godaan yang di lakukan Valen, tetap saja gairah seorang pria akan dengan mudahnya terpancing. Apalagi oleh seorang wanita yang menggunakan aroma penggoda dan mengendus lekuk lehernya. Ke mana dia akan melampiaskan hawa napsunya tanpa adanya sang istri di sisi, sedangkan Valen saja terus melekat tanpa jarak setiap harinya.
Tanpa sadar Robert memejamkan mata menikmati sensasi panas bercampur dengan gairah yang semakin bergelora di dalam dirinya. Tidak bisa di pungkiri, sebagai seorang pria yang sendiri sejak istrinya meninggal, tentu saja dia sangat mendambakan sentuhan wanita setiap harinya. Hanya dengan memejamkan mata, Robert dapat membayangkan jika wajah Valen adalah sang istri yang telah tiada dan dia pun bisa menikmati permaianan panas itu sebagai mana mestinya.
Valen yang melihat hal itu, tentu saja tersenyum penuh kemenangan. Tanpa di minta tangan Robert mulai memberikan pembalasan atas apa yang dia lakukan. Jangan sebut dia Valen jika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Apalagi Robert sudah menjadi boneka percobaan atas penelitian kakak sepupunya itu selama ini. Tanpa seorang istri, ke mana Robert akan melampiaskan hasratnya, sedangkan para wanita yang berusaha mendekatinya dengan mudah di singkirkan oleh Valen. Dan kian hari efek samping dari obat yang selalu mereka suntikkan semakin besar, hingga menyebabkan Robert menjadi seorang hyper yang memang tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukankannya setiap hari.
Pancingan yang dilakukan oleh Valen sudah berhasil, mereka pun melanjutkan kegiatan panas mereka hingga entah berapa jam durasinya, yang jelas bukan waktu seorang pria normal pada umumnya.
Valen yang melihat lawannya kini sudah terkapar tidak berdaya setelah permainan panas mereka perlahan mengusap pipi Robert yang terlelap. Tanpa sadar hari sudah gelap dan wanita tersebut tampak tersenyum puas. “Tidak ada pria lain yang lebih baik dalam permainannya kecuali dirimu, karena itulah kau hanya akan jadi milikku selamanya. Meskipun mungkin usiamu tidak akan lama,” bisik Valen di telinga Robet dengan senyum licik yang terukir mengerikan di wajahnya.
Valen lantas beranjak dari posisinya. Wanita tersebut mengisap sebuah barang haram dan menikmati sensasi yang di hadirkan, hingga tidak lama kemudian, ponsel di atas nakasnya berdering menunjukkan sebuah nama yang paling dia takuti selama. “Astaga mati aku,” gumamnya sebelum mengangkat panggilan tersebut.
Sudah cukup lama, orang tersebut tidak menghubunginya. Pasti ada sesuatu yang penting sampai-sampai dia menghubungi di waktu seperti ini.
Valen berdeham terlebih dahulu dan menghirup napas panjang. Baru setelahnya dia menarik ke atas bulatan hijau di layar ponselnya dan mulai berbicara, “Hallo, Kakak.”
“Apa kau sudah menemukannya?” suara bariton seorang pria di seberang sana terdengar cukup jelas di telinga Valen. Pertanyaan horor yang selalu dia dapatkan selama lima tahun terakhir. Bukan hanya menghantuinya, tetapi juga mengganggu ketentraman hidupnya.
“Emth belum.”
“Kau tahu, Valen? Aku paling tidak suka menunggu dan kau mengulur waktuku terlalu lama. Jika anak itu sampai tidak juga kau temukan, maka aku sendiri yang akan menukarnya dengan nyawamu.” Peringatan tegas sekaligus menakutkan membuat Valen kesulitan menelan ludahnya sendiri. Dia sangat paham jika apa yang dikatakan pria di seberang sana bukanlah sebuah omong kosong belaka.
“Aku paham, Kak.”
Sambungan telepon tersebut akhirnya terputus. Valen pun bisa kembali bernapas lega, sembari mengumpat kesal. “Sial, kenapa juga aku harus memiliki Kakak yang mengerikan seperti dia. Datang tidak jemput, pulang tidak sambut. Menghilang ke sana ke mari sesuka hatinya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, harus aku akui dia adalah orang yang sangat mengerikan.”
Di sisi lain, di kediaman Light, Becca yang kini terbiasa terpisah kamar dengan putranya hendak melihat kondisi sang putra. Lengkung di bibirnya terlukis indah di kala membuka pintu kamar yang lima kali lipat lebih luas dari kamar rumah sebelumnya itu. Perlahan langkah kaki Becca semakin dalam, mendekati sang putra yang tampak terlelap di bawah temaram cahaya.
Tangan Becca bergerak meraih selimut yang kini berada di kaki Ace, dan menaikkannya sampai ke dada. Perlahan wanita tersebut lantas mengusap wajah sang putra. Akan tetapi, alangkah terkejutnya dia ketika mendapati kulit Ace sudah penuh dengan peluh, serta tubuh yang terasa panas seperti terbakar. “Astaga, Sayang. Ace, demam lagi?” gumam Becca dengan rait wajah yang berubah menjadi khawatir.
Tanpa membuang waktu, Becca lantas membangunkan Joe dan meminta sang suami untuk mengantarnya ke rumah sakit. Entah sudah kali ke berapa Ace keluar masuk rumah sakit karena demam. Namun, rasanya kali ini semakin sering saja.
Setelah dilakukan pemeriksaan, dan dokter juga memeriksa riwayat medis Ace. Akhirnya dokter tersebut pun bertanya, “Apa Ace sebelumnya memiliki riwayat penyakit?”
Becca perlahan menggelengkan kepalanya. Karena memang sejak kecil Ace sangat jarang sakit, meskipun hanya sekedar batuk, pilek atau pun demam. Namun, entah mengapa setahun terakhir ini terasa berbeda.
“Kalau begitu sebaiknya kita lakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Jadi, kita bisa mengetahui apakah Ace memiliki gejala penyakit yang serius atau memang hanya demam biasa,” usul sang dokter.
“Lakukan saja, apa yang terbaik untuk putraku,” jawab Joe.
“Baiklah kalau begitu. Joe, kau bisa ikut ke ruanganku sebentar?” ajak dokter yang memang sudah terbiasa menjadi dokter pribadi keluarga mereka.
Joe mengangguk, dan kedua pria itu lantas ke luar dari ruangan, meninggalkan Becca dan Ace. Setibanya di luar, Joe tanpa basa-basi bertanya, “Apa ada sesuatu yang serius?”
dan aku setia menunggumu up lagi
thor , ,meskipun ga tau kamu updateny kapan , , ,😁😁😁
semangat😘😘😘😘💪💪💪💪💪💪
semangat ya aq nunggu up berikutnya