NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / TKP / Komedi
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.6

Posko KKN itu berdiri sedikit menjorok ke dalam, tidak persis menghadap jalan utama desa. Bangunannya tua, bukan lapuk, tapi jelas sudah melewati lebih dari satu generasi tangan yang tinggal dan pergi. Dindingnya tebal, kayunya gelap, dan bau lembap bercampur debu tua terasa seperti sesuatu yang sudah lama menetap, bukan sekadar bangunan yang menunggu penghuni sementara.

Sore mulai turun perlahan. Bukan sore yang hangat, melainkan sore yang terasa terlalu cepat kehilangan suara. Cahaya matahari masih ada, tapi seperti enggan masuk sepenuhnya ke dalam rumah. Seolah ada jarak tak kasat mata antara dunia luar dan ruang tempat mereka berkumpul. Beberapa dari mereka duduk melingkar, sebagian bersandar ke dinding, sebagian lain mondar-mandir tanpa tujuan jelas. Tidak ada yang benar-benar sibuk, tapi tidak ada juga yang sepenuhnya santai. Hari pertama KKN selalu canggung, itu mereka tahu. Tapi ada sesuatu yang terasa berbeda sejak mereka menurunkan tas terakhir.

Bukan takut, akan tetapi lebih ke rasa tidak nyaman yang tidak tahu sumbernya. Angin tiba-tiba masuk dari celah jendela, membuat tirai tipis bergerak pelan. Gerakannya halus. Tidak kasar. Tidak terburu-buru. Tirai itu bergoyang seperti sedang bernapas, masuk, keluar, pelan, teratur, seolah ada tangan tak terlihat yang sengaja mengaturnya. Beberapa helai kain menyentuh dinding, lalu kembali menjauh. Suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk menarik perhatian siapa pun yang sudah terlalu lama waspada. Pergerakan itu tidak dramatis. Justru itulah yang membuatnya mengganggu. Kalau tirai itu berkibar keras, mungkin bisa langsung ditertawakan. Tapi gerakan seperti ini, terkontrol, konsisten, terasa terlalu sadar untuk sekadar angin lewat.

“Hah?” Aluh menoleh. “Tadi jendelanya kebuka?”

Ia mengucapkannya sambil menunjuk jendela, alisnya mengernyit. Nada suaranya bukan panik, tapi jelas tidak santai. Ada jeda singkat setelah ucapannya, seperti semua orang membutuhkan satu detik tambahan untuk memastikan bahwa mereka melihat hal yang sama.

“Enggak,” jawab Udin. “Aku inget nutup.”

Jawaban itu keluar cepat, terlalu yakin untuk ukuran situasi yang makin aneh. Tapi Udin memang tipe yang berpegang pada ingatan sebagai pegangan terakhir kewarasan. Ia selalu percaya bahwa selama sesuatu masih bisa dijelaskan lewat logika—atau setidaknya lewat keyakinan pribadi—maka dunia belum benar-benar melenceng.

“Tapi anginnya masuk.”

Kalimat Aluh tidak menuduh. Hanya menyatakan fakta. Dan fakta itu menggantung di udara, seperti tirai yang masih bergerak pelan. Beberapa pasang mata kembali menatap jendela. Kacanya buram, memantulkan bayangan samar ruang dalam, tapi tidak cukup jujur untuk menunjukkan apa yang ada di luar.

“Tenang,” kata Udin cepat. “Itu… ventilasi.”

Ia mengucapkannya sambil menoleh ke atas, ke dinding, ke sudut-sudut ruangan, mencari pembenaran yang bisa dikejar mata. Padahal tidak ada ventilasi, Semua orang tahu itu. Tidak ada lubang udara. Tidak ada kisi-kisi. Tidak ada celah resmi selain jendela yang seharusnya tertutup. Tidak ada yang langsung menyanggah. Karena menyangkal berarti membuka ruang diskusi yang tidak siap mereka hadapi. Kadang, membiarkan kebohongan kecil hidup lebih nyaman daripada menghadapi kemungkinan yang lebih besar.

Ani mendekat ke jendela, mengintip keluar. Langkahnya pelan, hampir berjingkat, seolah takut lantai akan bereaksi kalau diinjak terlalu keras. Tangannya menyentuh kusen jendela, dingin dan sedikit lembap. Kayunya terasa tua, seperti menyimpan air hujan dari musim-musim yang lalu.

“Eh,” katanya pelan. “Kenapa nggak ada orang lewat, ya?”

Nada suaranya lebih bingung daripada takut. Ia benar-benar penasaran. Semua ikut menoleh. Seolah baru sadar bahwa sejak tadi, dunia di luar posko terlalu diam. Jalan desa di depan posko kosong. Tidak ada satu pun warga. Tidak ada suara. Tidak ada aktivitas sore hari yang seharusnya ada. Tidak ada ibu-ibu menyapu, lanak kecil berlari, motor yang lewat. juga tidak ada radio dari rumah tetangga. Bahkan se ekor ayam pun tidak terlihat.

Kesunyian itu bukan kesunyian malam. Ini sore, waktu di mana desa biasanya hidup. Orang pulang dari ladang, anak-anak bermain sebelum dimarahi pulang, suara piring, suara sandal, suara kehidupan kecil yang tidak pernah benar-benar hilang. Langit mulai condong ke warna jingga pucat, tanda sore yang seharusnya ramai oleh kehidupan pulang ke rumah. Tapi jalan itu tetap kosong. Terlalu rapi. Terlalu bersih dari kehadiran manusia.

“Desanya… lagi istirahat?” tanya Paijo ragu.

Ia mencoba tersenyum, meski senyum itu lebih mirip refleks daripada keyakinan. Paijo selalu berusaha mencari alasan paling baik, bahkan ketika situasi jelas-jelas tidak ramah.

“Atau kita yang datang di jam salah,” sahut Juned.

Ia mengangkat kamera, lalu menurunkannya lagi, seperti sudah lelah melihat dunia lewat layar. Biasanya, hal-hal aneh justru membuatnya semangat merekam. Tapi kali ini, ada rasa enggan—seperti kamera pun tahu ada hal yang tidak ingin dilihat.

“Atau…” Moren berhenti bicara.

Kalimatnya terputus di tengah, seperti pikirannya sendiri tiba-tiba memutuskan untuk tidak lanjut. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tidak ada suara keluar. Matanya tidak fokus ke siapa pun secara spesifik.

“Atau apa?”

Beberapa suara muncul bersamaan. Tidak mendesak, tapi cukup menunjukkan bahwa semua orang menyadari jeda itu.

Moren menelan ludah.

“…kita yang kelihatan.”

Kalimat itu menggantung. Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada tawa. Tidak ada bantahan refleks. Hanya keheningan yang terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya. Seolah kata kelihatan barusan bukan sekadar kata. Udin menepuk tangan keras-keras. BUNYI itu memantul ke dinding, lantai, dan langit-langit kayu, terdengar terlalu keras di ruangan yang sejak tadi dipenuhi bisik dan gumaman.

“OKE,” katanya sedikit terlalu keras. “Cukup. Ini cuma hari pertama. Wajar kalau sepi. Nanti juga rame.”

Nada suaranya tegas. Terlalu tegas. Seperti seseorang yang sedang meyakinkan orang lain dan dirinya sendiri secara bersamaan. Beberapa orang mengangguk. Bukan karena yakin, tapi karena ingin berhenti berpikir. Tidak ada yang menjawab, bukan karena tidak setuju. Tapi karena tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar yakin dengan kalimat itu. Karena semakin lama mereka di situ, semakin jelas satu hal, Rumah itu tidak kosong. Ia hanya tidak ingin terlihat ramai.

Bunyi lantai yang berderak pelan, tirai yang bergerak tanpa sebab jelas, udara yang terasa lebih dingin di sudut tertentu, semuanya bukan tanda ketiadaan. Justru sebaliknya. Dan sunyi, bukan karena tidak ada apa-apa. Tapi karena ada yang sedang menunggu. Menunggu mereka berhenti bercanda. Menunggu mereka lengah. Atau mungkin, Menunggu mereka merasa nyaman.

...🍃🍃🍃...

BERSAMBUNG....

1
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!