Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan di balik kabut
Udara di dalam USJ mendadak terasa berat, seolah oksigen dihisap keluar oleh pusaran kabut ungu yang semakin membesar. Shota Aizawa, atau Eraser Head, sudah melompat turun ke arah plaza pusat. Gerakannya efisien; ia menghapus Quirk musuh-musuh kelas teri dan melumpuhkan mereka dalam hitungan detik.
Namun, di atas tangga, kabut ungu itu tiba-tiba mengecil dan muncul tepat di depan murid-murid Kelas 1-A, menghalangi jalan keluar mereka.
"Salam," suara berat dan sopan keluar dari balik kabut itu. "Kami adalah League of Villains. Maafkan kelancangan kami masuk ke dalam tempat suci ini, tapi tujuan kami adalah menghabisi Simbol Perdamaian. Namun, sepertinya ada perubahan rencana."
Kurogiri, sosok kabut itu, meluaskan tubuhnya. "Sebelum itu, biarkan saya memisahkan kalian agar kami bisa menyiksa kalian dengan lebih... tenang."
"Mundur!" teriak Iida.
Bakugo dan Kirishima tidak mendengarkan. Mereka melompat maju, melepaskan ledakan dan pukulan keras ke arah wajah Kurogiri. BOOM! Ledakan itu besar, namun kabut itu tidak terluka.
Mitsuki, yang berdiri beberapa langkah di belakang, menyipitkan mata. Ia melihat melalui kepulan asap. "Bodoh. Dia bukan makhluk fisik seutuhnya. Itu adalah gerbang ruang-waktu."
Sebelum Mitsuki bisa memperingatkan yang lain, Kurogiri sudah menyelimuti mereka semua. "Selamat jalan, anak-anak malang."
Zona Reruntuhan
Dalam sekejap, Mitsuki merasakan sensasi tarikan gravitasi yang aneh, lalu gravitasi itu hilang. Ia mendarat dengan sangat tenang di atas puing-puluh gedung yang hancur. Ia tidak sendirian. Beberapa meter darinya, Shoto Todoroki berdiri dengan waspada, tangannya sudah mengeluarkan uap dingin.
Di sekeliling mereka, puluhan penjahat mulai bermunculan dari balik bayang-bayang gedung.
"Hanya dua bocah?" salah satu penjahat dengan tangan yang berubah menjadi pisau tertawa. "Ini akan mudah!"
Todoroki bersiap melepaskan esnya, namun ia merasakan sebuah tangan pucat menyentuh bahunya.
"Jangan gunakan serangan area dulu," ucap Mitsuki pelan. "Ada tiga orang di antara mereka yang memiliki Quirk tipe penyerapan energi. Jika kau membekukan semuanya, mereka akan menyerap suhu dinginmu dan mengembalikannya padamu sebagai energi kinetik."
Todoroki tertegun. Ia memandang ke arah kerumunan penjahat itu. "Bagaimana kau tahu?"
"Detak jantung mereka," jawab Mitsuki. "Saat kau mengeluarkan uap dingin tadi, detak jantung tiga orang itu justru melambat dengan stabil, seolah mereka sedang bersiap untuk 'makan'. Itu adalah pola adaptasi."
Todoroki menarik kembali energinya. "Lalu, apa rencanamu?"
"Biar aku yang membuka jalan. Kau kunci mereka setelah titik serapnya lumpuh," ucap Mitsuki.
Tanpa menunggu jawaban, Mitsuki melesat. Ia tidak berlari, ia menghilang. Penjahat dengan tangan pisau tadi hanya melihat bayangan biru pucat sebelum merasakan sesuatu yang dingin melilit lehernya.
"Ular?" gumam penjahat itu ketakutan.
Mitsuki muncul di belakangnya, menendang tengkuknya dengan presisi yang mematikan namun terkontrol. Di saat yang sama, lengannya memanjang, melilit dua penjahat lain dan membenturkan kepala mereka satu sama lain.
"Efisiensi adalah tentang mengetahui mana yang harus dipukul lebih dulu," suara Mitsuki terdengar datar di tengah teriakan para penjahat.
Salah satu penjahat tipe penyerap mencoba menyentuh Mitsuki. "Sini kau, bocah!"
Mitsuki tidak menghindar. Ia justru menangkap tangan penjahat itu. "Kau ingin menyerap energi? Silakan."
Mitsuki melepaskan sedikit Senjutsu Chakra (Energi Alam) ke dalam sistem penjahat itu. Bagi mereka yang tidak terlatih mengendalikan energi alam, itu adalah racun murni. Penjahat itu mendadak mematung, tubuhnya terasa berat seperti batu, dan ia jatuh tersungkur dengan mata terbelalak.
"Todoroki-kun, sekarang!" teriak Mitsuki.
Todoroki tidak membuang waktu. Ia menghentakkan kakinya ke tanah. "ICE WALL!"
Gelombang es raksasa merambat dari kaki Todoroki, membekukan seluruh penjahat yang sudah kacau balau karena serangan cepat Mitsuki. Dalam kurang dari satu menit, seluruh Zona Reruntuhan telah dikuasai.
Percakapan di Tengah Keheningan
Todoroki berjalan melewati patung-patung es penjahat itu, menuju ke arah Mitsuki yang sedang mengusap kepalanya ular kecilnya.
"Kau... kau bertarung seolah-olah kau sudah melakukan ini ribuan kali," ucap Todoroki. Matanya yang berbeda warna menatap Mitsuki dengan rasa ingin tahu yang besar. "Teknikmu, cara kau menganalisis kemampuan lawan dalam hitungan detik... itu bukan sesuatu yang diajarkan di sekolah menengah."
Mitsuki menoleh. "Di tempat asalku, jika kau butuh satu menit untuk mengenali musuh, kau sudah dianggap gagal. Dan kegagalan berarti kematian bagi seluruh tim."
Todoroki terdiam. Ia mulai menyadari bahwa Mitsuki memiliki masa lalu yang mungkin lebih gelap dan lebih terstruktur daripada dirinya yang 'hanya' dilatih oleh Endeavor.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Todoroki.
Mitsuki menatap ke arah plaza pusat, tempat Aizawa sedang dikeroyok oleh Nomu. Dari kejauhan, ia bisa merasakan energi yang sangat jahat dan kosong terpancar dari makhluk itu.
"Kita harus ke plaza," ucap Mitsuki. "Guru kita dalam bahaya. Makhluk raksasa itu... dia tidak memiliki rasa sakit. Dia adalah boneka yang dirancang khusus untuk membunuh Simbol Perdamaian. Jika Aizawa-sensei terus bertarung sendirian, dia akan mati."
"Mati?" Todoroki sedikit tersentak. Di dunia Hero, kata "mati" jarang diucapkan dengan begitu santai oleh seorang murid.
"Ya," Mitsuki menarik pedang pendeknya dari punggung. Bilahnya berkilau tajam. "Dan ada satu hal lagi. Pria dengan tangan di wajahnya itu... dia adalah otak dari semua ini. Tapi dia tidak stabil. Dia seperti anak kecil yang diberi kekuatan dewa."
Mitsuki menatap Todoroki. "Todoroki-kun, kau punya kekuatan api di sisi kirimu, kan? Kau harus bersiap menggunakannya."
"Aku tidak akan menggunakan sisi itu," jawab Todoroki dengan nada benci.
Mitsuki mendekat, berdiri tepat di depan Todoroki. "Logikamu salah. Api itu milikmu, bukan milik ayahmu. Jika kau membiarkan teman-temanmu mati hanya karena ego dan kebencianmu, maka kau tidak lebih baik dari penjahat di bawah sana."
Kalimat itu menghantam Todoroki lebih keras daripada ledakan mana pun. Sebelum ia bisa membalas, Mitsuki sudah melompat turun dari reruntuhan gedung, menuju pusat pertempuran.
"Ayo, Matahari sedang menunggu bantuan," seru Mitsuki dari kejauhan.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen