NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Jarak sepuluh meter yang memisahkan Han Feng dan Li Jian lenyap dalam sekejap mata.

Han Feng menerjang maju seperti banteng gila yang terlepas dari rantainya. Lantai batu di bawah kaki Han Feng retak setiap kali tumitnya mendarat, menciptakan dentuman ritmis yang menyerupai detak jantung kematian. Pedang Meteor Hitam di tangan kanan Han Feng diseret di atas tanah, menciptakan percikan bunga api yang panjang sebelum diayunkan ke atas.

Li Jian, yang baru saja kehabisan sebagian besar Qi-nya untuk melepaskan serangan Pedang Api Surgawi, mundur dengan panik. Wajah tampan Tuan Muda Sekte itu kini terpelintir oleh teror murni. Li Jian mencoba mencabut pedang cadangan dari pinggangnya, tapi tangannya gemetar begitu hebat hingga gagang pedang itu terasa licin.

"J-Jangan bunuh aku!" jerit Li Jian, suaranya pecah. "Ayahku adalah Tetua Kehormatan Sekte Pedang Langit! Jika kau membunuhku, Sekte tidak akan melepaskanmu! Seluruh keluargamu akan dibantai! Sembilan keturunanmu akan dimusnahkan!"

Ancaman klise. Han Feng sudah mendengarnya ribuan kali dalam kehidupan sebelumnya saat membaca sejarah para tiran yang jatuh.

"Ayahmu tidak ada di sini," jawab Han Feng dingin. "Dan kalaupun dia ada di sini, aku akan mengirimnya menyusulmu agar kalian bisa reuni di neraka."

Han Feng tidak berhenti. Pedang Meteor Hitam diayunkan secara horizontal.

Li Jian, dalam keputusasaan terakhir, melemparkan sebuah perisai perunggu kecil—sebuah artefak pertahanan tingkat rendah—ke depan dadanya. Perisai itu membesar seukuran pintu dalam sekejap, memancarkan cahaya kuning pelindung.

TRANG!

Suara logam beradu yang memekakkan telinga menggema di gua sempit itu.

Perisai perunggu itu memang kuat, mampu menahan serangan kultivator Pengumpulan Qi biasa. Namun, perisai itu tidak dirancang untuk menahan hantaman benda padat seberat 150 kilogram yang diayunkan dengan Kekuatan Delapan Belas Banteng.

KRAK!

Retakan muncul di tengah perisai. Detik berikutnya, perisai itu hancur berkeping-keping.

Pedang Meteor Hitam terus melaju tanpa hambatan, menghantam tubuh Li Jian yang berada di balik perisai.

"Tidak—"

SPLAT!

Suara itu basah dan menjijikkan. Seperti suara tomat matang yang diinjak sepatu bot tentara.

Tubuh Li Jian terlempar menabrak dinding gua, lalu meluncur turun perlahan. Dada pemuda itu sudah tidak berbentuk lagi. Tulang rusuk, paru-paru, dan jantungnya telah menjadi bubur yang menyatu. Pedang besar Han Feng tidak memotongnya, melainkan meremukkannya hingga gepeng.

Han Feng menurunkan pedangnya. Napasnya berat, uap panas keluar dari mulutnya. Luka bakar di tubuh Han Feng akibat ledakan api tadi terasa perih, tapi rasa sakit itu justru membuat kesadaran Han Feng semakin tajam.

Kini, di ruangan gua yang luas itu, hanya tersisa satu orang yang masih hidup selain Han Feng.

Liu Mei.

Wanita cantik itu meringkuk di sudut ruangan, di balik batu stalagmit. Wajahnya pucat pasi, air mata melunturkan bedak tebal di pipinya, membuatnya terlihat seperti badut yang menyedihkan. Seluruh arogansi dan kekejaman yang ditunjukkannya saat memasuki gua tadi telah menguap tanpa sisa.

Saat Han Feng menoleh ke arahnya, Liu Mei menjerit pelan.

Han Feng berjalan mendekatinya. Langkah kaki Han Feng pelan, disengaja, dan menakutkan. Pedang Meteor Hitam di tangannya meneteskan darah Li Jian ke lantai batu. Tes... tes... tes...

"Tuan... Tuan Muda..." Liu Mei merangkak maju, bersujud di kaki Han Feng. Tubuhnya gemetar hebat seperti daun ditiup angin badai. "Ampuni saya... Saya... Saya buta! Saya tidak tahu Tuan adalah ahli yang menyembunyikan kekuatan! Saya dipaksa oleh Li Jian! Semua ini ide dia!"

Liu Mei mengangkat wajahnya. Dia berusaha memasang ekspresi paling menyedihkan dan menggoda yang dia bisa. Dia menarik kerah jubahnya sedikit ke bawah, memperlihatkan kulit putih leher dan sebagian dadanya.

"Saya... saya masih perawan, Tuan," bisik Liu Mei dengan suara serak basah. "Jika Tuan mengampuni nyawa anjing ini... saya bersedia menjadi budak Tuan. Saya bisa melayani Tuan di tempat tidur... Saya bisa melakukan apa saja yang Tuan minta... Tolong... jangan bunuh saya..."

Han Feng menatap wanita itu dari atas ke bawah. Tatapannya kosong, tidak ada nafsu, tidak ada belas kasihan.

Di mata Han Feng, Liu Mei bukan wanita cantik. Dia hanyalah seonggok daging yang busuk hatinya. Han Feng ingat dengan jelas bagaimana wanita ini tadi dengan santainya memerintahkan pengawalnya untuk membunuh Han Feng dan mengambil hartanya.

"Kau bersedia melakukan apa saja?" tanya Han Feng datar.

Mata Liu Mei berbinar penuh harap. Dia mengira kecantikannya berhasil meluluhkan hati pemuda ini. "Ya! Ya! Apa saja! Saya akan menjadi pelayan setia Tuan selamanya!"

"Bagus," kata Han Feng. "Kalau begitu, matilah."

Senyum di wajah Liu Mei membeku.

Sebelum Liu Mei sempat bereaksi, Han Feng menggerakkan kakinya.

Krak!

Tendangan Han Feng menghantam leher Liu Mei dengan presisi mematikan. Tulang leher wanita itu patah seketika. Tubuhnya terkulai lemas ke lantai, matanya masih terbuka lebar menatap kosong, menyimpan sisa harapan yang tak pernah terwujud.

"Saksi mata adalah sumber bencana," gumam Han Feng sambil meludah ke samping mayat Liu Mei. "Aku tidak butuh pelayan yang setia pada siapa pun yang lebih kuat. Dan aku tidak butuh wanita yang akan menusukku dari belakang saat aku tidur."

Han Feng tidak merasakan penyesalan sedikit pun. Di dunia kultivasi yang kejam ini, kebaikan hati terhadap musuh adalah kekejaman terhadap diri sendiri.

Han Feng segera bergerak cepat. Dia menggeledah mayat keempat murid Sekte Pedang Langit itu.

Hasil panen kali ini luar biasa.

Dari tubuh Li Jian, Han Feng menemukan sebuah Kantong Penyimpanan (Storage Pouch)—benda langka yang memiliki ruang dimensi kecil di dalamnya. Han Feng belum memiliki Qi yang cukup untuk membuka segel jiwanya sekarang, tapi dia menyimpannya untuk nanti. Selain itu, Han Feng menemukan uang tunai 200 koin emas, beberapa botol pil pemulihan Qi tingkat menengah, dan pedang Li Jian yang merupakan Senjata Roh Tingkat Rendah.

"Pedang ini terlalu ringan untukku, tapi bisa dijual mahal," pikir Han Feng.

Setelah membersihkan medan pertempuran dan memastikan tidak ada barang berharga yang tertinggal, pandangan Han Feng akhirnya tertuju pada hadiah utama di tengah kolam.

Teratai Api Inti Bumi.

Tanaman itu masih berdiri tegak di tengah uap panas, seolah tidak peduli dengan pembantaian yang baru saja terjadi di sekitarnya. Buah merah di tengah kelopaknya bersinar menggoda, memancarkan gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya berdistorsi.

1
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!