***++++++++
" Brengsek, benar benar Bajingan kalian ." teriak seorang gadis cantik saat memergoki suaminya sedang bergulat panas dengan pelayan di rumah nya.
Mari nantikan kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup Dan Mati
Dokter itu berjalan mendekati mereka dengan langkah cepat namun pasti, wajah nya tampak lelah, keringat masih menetes di pelipis nya setelah Berjam jam berada di ruang operasi, Willie segera menghampiri nya dengan ekspresi cemas.
" Bagaimana keadaan gadis itu dok." tanya Willie dengan penuh harap.
Dokter itu menatap mereka bergantian, lalu menarik nafas pelan sebelum berkata. " untuk saat ini kondisi pasien, sudah mulai stabil, pendarahan di kepala nya berhasil kami hentikan dan transfusi darah nya berhasil tapi." kalimat itu menggantung membuat dada Willie dan ibu nya berdetak kencang.
" Tapi apa dok,." tanya mama Lina cepat, suara nya gemetar.
Dokter menatap mereka dengan tatapan serius. " Kami belum bisa memastikan kapan mereka sadar, benturan di kepala nya cukup keras dan kemungkinan dia mengalami trauma otak ringan, kita harus menunggu perkembangan selama 24 jam ke depan, kalau dalam waktu itu dia belum sadar kembali, kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan."
Sella yang sedari tadi diam di pelukan neneknya kembali menangis. " Dok, kakak itu gak apa apa kan?? Kakak itu baik baik aja kan??." tanya nya polos dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Dokter tersenyum tipis, berusaha menenangkan. " Tenang ya sayang, kakak itu sedang berjuang, yang penting kita doakan bersama agar kakak itu cepat sadar ya sayang."
Willie hanya bisa mengangguk, seperti nya dia belum bisa bernafas dengan lega. " Terimakasih dok, sudah berusaha semaksimal mungkin." ucap nya lirih.
" Pasien akan di pindah kan ke ruang insentif, jika kondisi nya terus membaik mungkin besok sore sudah bisa di pindah kan ke ruang rawat biasa." jelas dokter itu sebelum berpamitan kembali ke ruangan nya.
Setelah dokter pergi, Willie terdiam cukup lama dia menatap ruang IGD dengan tatapan sendu.
" Bertahan lah nona, kamu tidak sendirian." ucap nya pelan, hampir tak terdengar.
Sang ibu menepuk bahu nya pelan. " Ayo nak, kita tunggu di depan ruang ICU, biar gadis itu tau kalo ada orang yang perduli pada nya."
Willie mengangguk dan menggenggam tangan sella erat, mereka bertiga lalu menuju ruang perawatan, membawa harapan besar bahwa gadis yang baru saja berjuang antara hidup dan mati itu segera membuka mata nya.
Rea kini sudah di pindah kan ke ruang ICU, tubuh mungil nya terbaring lemah di ranjang pasien, dengan berbagai alat medis menempel di sekujur tubuh nya.
Suara monitor detak jantung terdengar teratur namun membuat suasana semakin hening dan tegang.
Willie, mama Lina dan sella berdiri di sisi tempat tidur, sella menatap Rea dengan mata berkaca kaca, gadis kecil itu tak sanggup menahan tangis nya.
" Pa, kakak itu gak apa apa kan, sella takut kakak itu gak bangun lagi." tangis nya pecah.
Willie menatap putri nya dengan iba, dia tau gadis kecil itu masih terguncang setelah menyaksikan kejadian tadi.
" Mama seperti nya mama harus bawa sella pulang dulu, kalian pulang ke rumah biar Willie yang jaga di sini." ucap Willie lembut.
Mama Lina mengangguk pelan. " Iya memang tidak baik anak kecil berlama lama di rumah sakit, mama bawa sella pulang dulu, nanti mama akan ke sini lagi setelah keadaan Rea membaik, biar sella di rumah Sama mbak ya."
Namun Willie menggeleng. " tidak usah mah, biar aku saja di sini sendiri, kalau nanti kondisinya sudah membaik dan di pindah ke ruang perawatan biasa, mamah baru datang lagi."
Dia lalu memeluk ibu nya dan mencium keningnya dengan lembut. " Hati hati di jalan ma."
Sella masih menatap Rea dengan mata sembab. " Sella gak mau pulang pa, sella mau menunggu kakak bangun." rengek nya pelan.
Willie menunduk menatap putri nya dengan sabar. " Sayang, kamu harus nurut sama papa, kalau kamu tidak istirahat nanti kamu sakit, dan kakak pasti sedih kamu gak tidur karena dia, kamu gak mau kan ada orang celaka lagi gara gara kamu gak dengar nasehat papa dan nenek."
Mendengar itu, sella terdiam, air mata nya masih mengalir, tapi dia akhir nya mengangguk pelan, mama Lina mengusap kepala cucu nya, lalu mengajak nya pergi. " Ayok sayang, kita pulang dulu."
Setelah kedua nya pergi Willie kembali menatap Rea yang terbaring tak berdaya, dia menarik nafas panjang, menahan perasaan yang bergejolak di dada nya.
" Bertahan lah Rea, kamu sudah menyelamatkan putri ku, sekarang giliran aku yang akan menjaga mu." ucap nya lirih.
Beberapa saat kemudian, Willie teringat motor sport milik Rea yang masih tertinggal di depan supermarket, dia membuka tas ransel Rea dan menemukan kunci nya di sana, segera dia menghubungi anak buah nya.
" Tolong ambil kan motor Rea di depan minimarket tempat kecelakaan tadi, jangan sampai hilang." pesan nya tegas.
Setelah menutup teleponnya, Willie kembali melangkah ke dekat kaca transparan ruangan ICU, di ruangan yang sunyi hanya suara mesin medis yang terdengar, sementara mata nya tak lepas dari wajah pucat Rea yang masih tertidur dalam perjuangan antara sadar dan tidak.
walau kau menjauh dari jule itupun kau tak akan pernah mendapatkan rea. tidak sekarang juga tidak nanti. karena hati rea saat ini sudah terpaut sama duda beranak satu.
jadi nikmatilah penyesalanmu itu.
jule itu cuma memanfaatkan hartamu saja. kau dijadikan mesin ATM berjalan. kau harus ingat semua kekayaanmu itu bukanlah milikmu. itu semua milik rea. harus kau ingat itu.
ayo dong thor up lagi yang banyak hari ini?