NovelToon NovelToon
CINTA BEDA KASTA

CINTA BEDA KASTA

Status: tamat
Genre:Tamat / Nikahmuda / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu Pengganti
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Five Vee

Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.

Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.

Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.

Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁

Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Jangan Menolakku, Rea.

Malam pun kini telah datang. Seperti ucapannya kepada sang mama kemarin, hari ini Arthur kembali pulang lebih cepat,—menurut pria itu.

Arthur pulang tepat di jam makan malam. Langkah pria itu terhenti di ujung tangga, saat melihat sang mama sedang makan malam bersama Andrea.

Senyum pun tersungging di wajah tampan pria itu. Akhirnya ia bertemu dengan gadis nakalnya.

“Mari kita mulai.” Ia pun memutar langkah menuju ruang makan.

“Hai, Arth.” Mama Daisy tersenyum senang melihat putranya benar-benar pulang di lebih cepat, walau menurut kebanyakan orang ini waktu yang sudah terlambat untuk pulang kantor.

Arthur meraih tangan sang mama, kemudian menciumnya. Pria itu lalu duduk di salah satu kursi.

“Kamu mau makan sekarang? Apa mau mandi dulu?” Tanya sang mama.

“Aku mau makan dulu, ma.” Arthur berbicara dengan sang mama, namun pandangan pria itu tertuju pada gadis yang sedang menikmati makan malamnya dengan diam.

‘Apa dia tidak melihatku?’

“Aku mau, Rea yang mengambilkan makanan untukku, ma.” Ucap Arthur saat sang mama mengambil sebuah piring kosong.

Gadis yang sedari tadi sibuk mengunyah makanannnya pun, menatap tak percaya.

Mama Daisy tersenyum cerah. Ia sepertinya telah melewatkan sesuatu.

“Ah, ya. Rea, ini tolong ambilkan untuk Arthur.” Piring keramik berbentuk oval itu pun di sodorkan pada Andrea yang duduk di seberang meja.

Dengan malas Andrea menerimanya. Ingin menolak, namun ia tak mau ada banyak drama. Apalagi itu di meja makan.

“Aku tidak suka pedas.” Ucap Arthur saat Andrea akan menyendok sambal ulek.

Gadis itu hanya mengangguk. Setelah piring terisi penuh, Andrea memberikan kepada Arthur.

“Terima kasih, Rea.”

Lagi, gadis itu tak menanggapi. Karena, sungguh ia malas berada dekat dengan pria itu.

‘Sepertinya terjadi sesuatu diantara mereka. Aku harus mencari tau. Jangan sampai ada yang terlewatkan lagi.’

Mama Daisy sibuk mengamati interaksi kedua muda mudi itu.

“Oh ya, Arth. Rea mendapat panggilan wawancara dari hotel kita. Apa kamu sudah tau?”

Mendengar ucapan mama Daisy, Andrea seketika tersedak. Dengan sigap, Arthur menyodorkan gelas air yang ada di hadapannya.

Gadis itu menerima, meminum setengah isi gelas, kemudian mengembalikan lagi pada pemiliknya.

“Sudah tidak apa-apa?” Tanya Arthur dengan lembut.

“Iya, tuan.”

“Jadi kamu menerima panggilan wawancara itu? Bukannya, dulu kamu bilang menolaknya?”

Arthur begitu tenang dalam berbicara, sehingga tidak ada tau, jika sebenarnya ia sudah lebih dulu tau tentang wawancara itu.

“Tidak ada salahnya mencoba, kan. Lagipula, nona kecil sudah ada yang mengurus. Tetapi, bukan berarti aku melepaskan tugasku. Hanya saja, aku ingin mengembangkan keahlianku, tuan.” Akhirnya gadis itu berbicara juga.

“Tidak masalah. Kamu masih muda. Memang seharusnya menempa diri. Aku akan selalu mendukungmu. Apa hasil wawancara sudah keluar? Kamu diterima? Atau perlu aku turun tangan?”

Mama Daisy menganga mendengar rangkaian kata yang terlontar dari bibir sang putra. Baru kali ini ia melihat Arthur banyak bicara pada orang lain.

“Terima kasih, tuan. Tetapi, aku ingin bekerja karena usahaku sendiri.”

Arthur mengangguk mendengar jawaban gadis itu. Ia meraih gelas yang di berikan pada Andrea tadi, kemudian meminum sisa air bekas gadis itu.

‘Apa maksudnya pria ini?’

“Jika ada masalah, jangan ragu untuk mengatakan padaku.” Ucapnya kemudian.

Mereka pun kembali menikmati maka malamnya dengan tenang.

🍃🍃🍃

Dengan perlahan, Andrea membaringkan tubuh Audrey kecil di dalam box bayi. Sudah beberapa hari ini, bayi mungil itu di biasakan tidur pada tempatnya. Agar ia bisa belajar bergerak dengan leluasa, tanpa takut terjatuh. Walau di atas ranjang mustahil bayi yang baru berusia satu bulan itu akan terjatuh.

Setelah dirasa posisi bayi itu nyaman, Andrea pun memutar tubuhnya, untuk pergi ke kamar mandi.

Gadis itu terlonjak, mendapati Arthur berdiri di belakangnya dengan bersedekap dada. Pria itu kini terlihat lebih segar, dengan baju kaos dan celana kain selutut.

“T-tuan?”

“Hmm, apa kamu kira aku ini hantu?”

Kepala Andrea menggeleng. Gadis itu kemudian berlalu melewati Arthur.

“Tunggu, Rea.” Lengannya pun di tarik pria itu. Membuat mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.

“Lepaskan aku, tuan.” Namun cengkeraman tangan Arthur pada pergelangan tangannya semakin kuat.

“Kamu berhutang penjelasan padaku.”

“Penjelasan apa?” Andrea berusaha melepaskan diri dari jerat pria itu.

“Apa maksudmu meminta petugas kasir restoran memasukkan tagihanmu pada milikku?”

Andrea menghela nafasnya pelan. Ia berhenti memberontak. Cengkeraman Arthur pun melemah.

“Tuan, aku hanya makan seharga seratus ribu. Aku yakin, tuan tidak akan jatuh miskin hanya karena membayar tagihan ku.” Ucap gadis itu kemudian.

“Aku memang tidak akan jatuh miskin, tetapi aku jatuh—.” Arthur menjeda ucapannya. Ia sendiri belum yakin akan sesuatu yang ia rasakan akhir-akhir ini kepada Andrea.

“Lagi pula, itu hitung-hitung sebagai traktiran untuk aku karena mendapat panggilan wawancara.” Sambung gadis itu lagi.

Dahi Arthur berkerut. “Bukannya kamu yang harusnya mentraktirku?” Tanya pria itu.

“Aku kan belum pasti mendapat pekerjaan. Nanti jika aku lulus dan mendapat gaji, aku akan mentraktir mu.” Tukas Andrea. Merasa pegangan tangan Arthur melemah, gadis itu pun mengambil kesempatan untuk meloloskan diri.

“Tetapi, aku mau traktiranku sekarang, Rea.” Pria itu kembali menarik lengan gadis itu. Bahkan tubuh mereka kini menempel.

“Aku tidak punya uang tuan.”

“Aku tidak memerlukan uangmu.”

“Lalu?”

Arthur menyeringai. Tatapan pria itu jatuh pada bibir tipis Andrea. Entah kenapa, semenjak mereka berciuman tempo hari, Arthur tak dapat melupakan bibir gadis itu.

“Aku mau ini.”

Mata Andrea membulat sempurna. Kala satu tangan Arthur menarik tengkuknya.

Ia kecolongan untuk kedua kalinya. Gadis itu pun memberontak. Menghujami pukulan bertubi pada tubuh pria tampan itu. Namun bukannya melepaskan, Arthur justru memperdalam ciumannya.

Perlahan, tubuh mereka bergerak dan terhempas ke atas tempat tidur.

Andrea terus memberontak, ia hampir kehabisan nafas.

“Jangan menolakku, Rea.” Ucap Arthur terengah. Pria itu kembali menyatukan bibir mereka.

“ARTHUR, REA!!”

Suara mama Daisy tiba-tiba menggema di ambang pintu. Membuat kedua muda mudi yang sedang tumpang tindih di atas peraduan itu tersentak. Begitu pula dengan Audrey kecil, tidurnya terganggu. Ia pun menjerit dengan kencang.

Seketika Andrea mendorong tubuh pria yang berada di atasnya. Kemudian berlari menuju box bayi.

“Sayang.” Gadis itu mengangkat tubuh mungil itu. Kemudian menimangnya.

“Apa yang kalian lakukan?” Tanya mama Daisy dengan mata membulat sempurna.

“Ma, ini tidak seperti yang mama pikirkan.” Ucap Arthur mendekati sang mama.

“Apanya yang tidak? Mata mama masih sehat. Belum rabun. Jelas-jelas kalian— mama Daisy memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut. Ia datang ingin melihat keadaan cucunya, justru mendapat kejutan yang sangat besar.

“Astaga, apa kalian lupa di kamar ini ada seorang bayi? Kalian mau mengotori pikiran sucinya?”

Andrea hanya mampu menunduk menahan malu. Ia merasa seperti di grebek saat sedang berselingkuh.

“Ma, aku—

“Kalian harus menikah secepatnya.” Putus mama Daisy.

Membuat Andrea dan Arthur saling pandang. Gadis itu menggeleng lemah.

“Ma. Aku dan Rea tidak melakukan hal itu.”

“Karena itu, sebelum kalian melakukan lebih jauh, maka kalian harus menikah dulu. Mama sudah melihat dengan jelas, baru bibir kalian yang menempel. Coba jika mama tidak datang, kamar ini pasti sudah ternoda.”

“Astaga, apa salahku Tuhan?” Wanita paruh baya itu kemudian pergi dari kamar itu. Meninggalkan dua orang yang kini mematung di tempatnya.

.

.

.

Bersambung.

1
Denny Srivina Barus
Luar biasa
Rina Arie
bagus, thanks thor
Ervina T
Luar biasa
Alini Maudia
.
Nining Chili
Luar biasa
Nining Chili
Lumayan
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
uughhh top mommy mertua 👍👍
Niechenie Cwekgemini Clalud'hti
mantap lawan teroos pelakor
Meri Meri
Luar biasa
Ayachi
kok selalu bisa pas gitu yah, mama Daisy KLO grebekin org😭🤣
Ayachi
keren jga yah namanya thorr, jarang² loh🤣
Ayachi
sok²an ngambek lgi kmu turrr🤣
Ayachi
udah bener honeydew aja, ini malah melon😭 nona melon, vulgar bngett njirr😭🤣
Ayachi
sudut dapur?😭 Arthur arthurrr🤦
Ayachi
ini termasuk dosa kedua org tuakah? bukannya jelas Audrey korban pemerkosaan?
@arieyy
Dady,papi,papa,ayah🤣🤣🤣🦭
@arieyy
jenny ...coba bilang sama kaka author nya...daftar dulu 🤣🤣
andrana maula
Luar biasa
Ita Putri
Halah
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an
Ita Putri
apa mungkin yg perkosa Audrey si bryan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!