NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 – Tuduhan Kejam

Tara tidak tidur malam itu.

Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang terlalu putih, terlalu bersih, seolah tidak tahu apa pun tentang kekacauan di kepalanya. Ponselnya tergeletak di samping bantal, layar mati, tapi pesan Kia tadi sore masih terngiang di benaknya.

Kamu yakin?

Pertanyaan sederhana.

Terlalu sederhana untuk sesuatu yang baru saja ia lihat.

Ia yakin. Terlalu yakin.

Dan justru karena itu dadanya terasa seperti diremas.

Pagi datang tanpa memberi jeda.

Tara bangun dengan mata sembab, kepala berat, dan satu keputusan yang terbentuk bukan dari logika—melainkan dari luka.

Ia akan mengatakannya.

Bukan pada Papa.

Bukan pada Mama.

Pada Kia.

Sekolah terasa berbeda hari itu.

Lorong-lorong yang biasanya bising terdengar terlalu keras. Tatapan orang-orang terasa lebih lama, lebih menilai—meski Tara tahu, mungkin itu hanya perasaannya sendiri.

Kia sudah kembali dari skors.

Ia berdiri di dekat loker, ransel disandarkan di kaki, wajahnya datar seperti biasa. Daffa berdiri tak jauh darinya, berbicara pelan, ekspresinya serius.

Tara melihat pemandangan itu dengan mata dingin.

Dia tetap terlihat tenang, pikir Tara getir.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Langkah Tara mantap saat mendekat.

Daffa melihatnya lebih dulu. Alisnya berkerut. “Kia—”

Kia menoleh.

Dan tatapan mereka bertabrakan.

Tidak ada salam.

Tidak ada basa-basi.

“Kita ngomong,” kata Tara.

Sekolah masih ramai. Beberapa siswa melirik.

Kia mengangguk singkat. “Di mana?”

“Di sini aja,” jawab Tara cepat. “Biar jelas.”

Daffa hendak bicara, tapi Kia mengangkat tangan. “Nggak apa-apa.”

Itu kesalahan pertama.

“Kamu tahu apa yang aku lihat kemarin?” tanya Tara.

Kia menatapnya tenang. Terlalu tenang. “Kamu bilang Papa kamu sama ibu aku.”

“Bukan ‘sama’,” potong Tara tajam. “Makan berdua. Di restoran. Ketawa. Dekat.”

Nada suaranya naik.

Beberapa orang mulai memperhatikan.

Kia menarik napas. “Dan?”

“Dan kamu masih berani kelihatan santai kayak gini?” suara Tara bergetar. “Atau ini memang sudah biasa buat kamu?”

Daffa melangkah maju. “Tar—”

“Diam,” bentak Tara tanpa menoleh.

Kia menyipitkan mata. “Maksud kamu apa?”

Tara tertawa pendek. Pahit. “Kamu tahu persis maksud aku.”

Kia mendekat satu langkah. “Aku nggak tahu.”

“Oh, kamu tahu,” balas Tara cepat. “Ibu kamu itu perebut suami orang.”

Kalimat itu jatuh seperti tamparan.

Sunyi sesaat.

Sekolah seolah berhenti bernapas.

Wajah Kia berubah.

Bukan marah.

Bukan terkejut.

Lebih seperti… runtuh.

“Apa?” suaranya pelan.

“Ibu kamu,” ulang Tara, lebih keras. “Datang ke kehidupan orang lain, duduk manis di restoran, dan pura-pura nggak merusak apa-apa.”

“Kamu jaga mulut kamu,” ucap Kia. Suaranya mulai bergetar.

“Kenyataan memang nggak selalu sopan,” sahut Tara. “Tapi itu tetap kenyataan.”

Beberapa siswa mulai berbisik.

Daffa maju dan berdiri di depan Kia. “Stop. Ini sudah keterlaluan.”

Tara menatapnya tajam. “Kamu tahu apa, Daffa? Kamu pikir Kia itu korban? Lihat ibunya. Lihat apa yang mereka lakukan ke keluarga aku.”

Kia mendorong Daffa ke samping. “Jangan libatkan dia.”

Lalu ia menatap Tara lurus-lurus.

“Kamu nggak tahu apa-apa,” katanya. “Dan kamu nggak punya hak ngomong begitu tentang ibu aku.”

“Hak?” Tara tertawa, kali ini hampir histeris. “Ibu kamu duduk berhadapan dengan ayah aku. Itu cukup jadi hak buat aku marah.”

“Marah ke aku,” balas Kia cepat. “Bukan ke ibu aku.”

“Oh, jadi kamu mengaku?” tanya Tara sinis. “Kamu tahu dan kamu diam?”

Kia mengepalkan tangan.

Dadanya naik turun.

“Aku tahu lebih banyak dari yang kamu bayangkan,” katanya pelan. “Dan justru karena itu aku nggak akan diam lihat kamu hina ibu aku.”

“Hina?” suara Tara meninggi. “Dia perempuan dewasa yang sadar ayah aku punya istri!”

“Dan ayah kamu pria dewasa yang bikin pilihan sendiri!” teriak Kia.

Itu ledakan pertama.

Lorong benar-benar sunyi.

Tara terdiam.

Kalimat itu menghantam terlalu tepat.

“Kamu selalu nyalahin perempuan,” lanjut Kia, suaranya bergetar tapi tegas. “Seolah laki-laki nggak punya kehendak. Seolah mereka korban rayuan.”

Air mata Tara jatuh.

“Kamu nggak berhak ngajarin aku tentang keluarga aku!” teriaknya.

“Dan kamu nggak berhak nyeret ibu aku ke kebencian kamu!” balas Kia.

Mereka berdiri saling berhadapan, napas terengah, emosi mentah terbuka di depan semua orang.

Guru BK muncul dari ujung lorong. “Ada apa ini?!”

Tidak ada yang menjawab.

Tara menyeka air matanya kasar, lalu menunjuk Kia.

“Kamu dan ibu kamu,” katanya dengan suara pecah, “nggak lebih dari perusak.”

Kalimat itu.

Kalimat itulah yang mematahkan Kia.

Bukan teriakan.

Bukan tuduhan.

Kata perusak.

Wajah Kia memucat.

Ia tidak menjawab.

Ia hanya berbalik.

Dan berjalan pergi.

Kia tidak ke kelas.

Ia keluar sekolah.

Daffa mengejarnya. “Kia!”

Kia berhenti di gerbang.

“Aku nggak apa-apa,” katanya cepat, meski suaranya jelas berbohong.

“Dia keterlaluan,” ujar Daffa marah. “Apa yang dia bilang—”

“Dia terluka,” potong Kia. “Dan dia nyerang apa pun yang bisa dia sentuh.”

“Itu bukan pembenaran.”

“Aku tahu.”

Kia menatap jalanan. “Tapi aku juga tahu rasanya kehilangan sesuatu yang kamu pikir milik kamu.”

Daffa terdiam.

“Aku cuma nggak nyangka,” lanjut Kia pelan, “dia akan nyerang ibu aku.”

Di rumah, ibu Kia duduk di dapur saat Kia masuk.

“Kamu kenapa pulang cepat?” tanyanya.

Kia berdiri kaku.

“Ibu…” suaranya serak. “Kalau suatu hari… orang-orang nyalahin Ibu atas sesuatu yang bukan sepenuhnya salah Ibu—apa yang Ibu rasakan?”

Ibunya terdiam lama.

Lalu tersenyum sedih. “Ibu sudah merasakannya sejak lama.”

Air mata Kia jatuh.

Untuk pertama kalinya, ia menangis bukan karena marah—tapi karena lelah.

Sementara itu, Tara dikurung di ruang BK.

Ia duduk dengan tangan terlipat, mata merah, rahang mengeras.

Guru BK berbicara panjang lebar tentang etika, tentang konflik, tentang kata-kata yang menyakiti.

Tara tidak mendengar.

Di kepalanya hanya ada satu wajah.

Wajah ibu Kia.

Dan satu pertanyaan yang semakin keras:

Kalau dia bukan perebut… lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Malam itu, dua gadis di dua rumah berbeda sama-sama tidak bisa tidur.

Kia membenci tuduhan itu—tapi lebih membenci fakta bahwa sebagian orang akan mempercayainya.

Tara membenci ibu Kia—tapi lebih membenci ketidakpastian yang kini mencengkeram dadanya.

Kebencian telah diucapkan.

Dan kata-kata itu tidak bisa ditarik kembali.

1
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!