Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Setelah rangkaian materi Pramuka yang cukup melelahkan berakhir, suasana sekolah mulai sedikit melonggar. Para siswa kelas 11 mulai membubarkan diri dari regu masing-masing. Ayra dan Sinta masih berdiri di koridor dekat aula, mereka berdua tampak sangat kontras dengan siswi lain; seragam Ambalan Paris yang pas di badan, baret cokelat yang terpasang miring dengan gagah, serta tali koor yang menjuntai di bahu membuat mereka terlihat sangat karismatik.
"Sin, foto yuk! Jarang-jarang nih kita full team pake atribut Ambalan lengkap," ajak Ayra sambil mengeluarkan ponselnya.
"Ayo! Mumpung lighting sorenya lagi bagus banget nih di sini," sahut Sinta semangat.
Mereka berdua berpose di depan cermin besar aula. Ayra dengan gaya formalnya—berdiri tegap dengan tangan di belakang—dan Sinta yang sedikit lebih santai dengan pose dua jari. Jepret! Hasilnya sempurna. Wajah lelah mereka tertutup oleh aura ketegasan khas anggota Ambalan.
Ayra segera membuka aplikasi Instagram. Ia mengunggah foto tersebut dengan caption singkat namun penuh kebanggaan:
@ayrania_johan: Paris pride! 😁🤣 @shinta_
Hanya dalam hitungan menit, ponsel di saku rok Pramuka Ayra bergetar tanpa henti. Notifikasi menyembur masuk bagaikan air bah.
Serbuan Kolom Komentar
Ayra dan Sinta duduk di bangku panjang koridor untuk melihat reaksi teman-temannya.
@bima_sakti: Waduh, dua polwan sekolah lagi patroli nih. Kabur gais, tar ditangkep gara-gara nggak pake hasduk!
@shinta_: Bener! Terutama lo Bim, besok-besok hasduknya dijadiin kalung aja biar nggak lupa!
@rendy_ketos: Keren, Ay. Semangat terus buat kedisiplinannya. Ambalan Paris emang nggak pernah mengecewakan.
Ayra tersenyum membaca komentar Rendy, namun senyumnya mendadak berubah menjadi tawa kecil saat melihat komentar dari sebuah akun yang sangat ia kenali.
@alano.dirgantara: Galak-galak amat fotonya. Itu yang sebelah kiri (Ayra) mukanya tolong dikondisikan, jangan kayak mau ngajak berantem satu batalyon. Tapi gapapa, tetep Ayang-able kok. 😗✌️
Seketika, komentar Alano langsung "digoreng" oleh warga sekolah lainnya.
@siska_cheers: Lho, Alano? Ayang-able? Kok bau-baunya ada yang go publik nih?
@fans.ayrania_: ADMIIIINNNN!! LIAT INI!! KAPAL KITA BERLAYAR!! 🚢💨
@anak_ips2: Lan, baru juga tadi disuruh push-up sama dia, sekarang udah ngegombal lagi. Definisi bucin tingkat dewa.
Ayra menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Alano. Ia menoleh ke arah Sinta yang sudah tertawa terpingkal-pingkal.
"Ay, bales dong! Tuh si Alano udah terang-terangan banget di kolom komentar," goda Sinta.
Ayra, dengan keberanian yang muncul entah dari mana, mengetik balasan di bawah komentar Alano.
@ayrania_johan: @alano.dirgantara Berisik kamu. Mau ditambahin push-up nya jadi 50 kali?
Tak butuh waktu satu menit, Alano membalas lagi.
@alano.dirgantara: @ayrania_johan 100 kali juga gue jabanin, asal yang ngitungin lo sambil senyum, bukan sambil melotot kayak tadi di lapangan. 😉
"GILA! Alano bener-bener nggak punya urat malu ya!" seru Sinta sambil memukul bahu Ayra. "Ini mah se-sekolah langsung tau kalian ada 'apa-apa'!"
Ayra memutuskan untuk mematikan ponselnya karena notifikasinya mulai membuatnya pusing. Ia mengajak Sinta untuk segera menuju parkiran. Saat mereka sampai di gerbang, Alano sudah bersandar di motornya, masih mengenakan hasduk merah putih pemberian Ayra tadi.
Ia melambaikan ponselnya ke arah Ayra dengan cengiran lebar. "Gimana fotonya? Banyak yang suka kan? Terutama komentar paling atas dari cowok paling ganteng di sekolah ini."
Ayra berjalan mendekat, mencoba tetap terlihat galak meskipun hatinya sangat senang. "Lano! Kamu tuh apa-apaan sih komen kayak gitu? Malu tau diliatin Kak Rendy sama yang lain!"
Alano mengambil tas Ayra dan menaruhnya di depan. "Malu kenapa? Emang kenyataan kan kalau lo itu 'Ayang-able'? Lagian, biar si Rendy tau kalau sekretaris kesayangannya ini udah punya pawang yang siap sedia dipakein hasduk kapan aja."
"Pawang apanya! Kamu aja tadi dihukum!" bantah Ayra.
Sinta pamit pulang duluan karena dijemput ayahnya, meninggalkan Ayra dan Alano di depan gerbang yang mulai sepi. Alano tidak langsung menyalakan motornya. Ia memperhatikan Ayra yang masih memakai baret cokelatnya.
"Ay," panggil Alano lembut.
"Apa?"
"Baret lo miring," Alano mengulurkan tangannya, merapikan baret di kepala Ayra. "Nah, kalau gini kan makin keliatan berwibawa. Calon ibu Ambalan yang sangat disiplin."
Ayra menatap mata Alano. Ada ketulusan yang sangat dalam di sana, jauh dari kesan jahil yang biasanya ia tunjukkan. "Makasih ya, Lan. Makasih udah mau nurut tadi pas aku hukum. Aku beneran nggak enak sebenernya..."
Alano mengusap pipi Ayra sekilas dengan punggung tangannya. "Jangan pernah ngerasa nggak enak buat ngelakuin hal yang bener, Ay. Gue justru makin suka sama lo karena lo nggak pilih kasih. Itu artinya, gue bisa percaya kalau suatu saat nanti lo bakal jaga 'aturan' di hubungan kita dengan hebat juga."
Ayra tertegun. Kata-kata Alano terkadang bisa sangat dewasa di saat yang tak terduga. Ia perlahan naik ke boncengan motor Alano.
"Ayo pulang. Aku laper," ucap Ayra pelan.
"Siap! Kita cari makan dulu ya? Mau sate depan kompleks?" tanya Alano sambil menyalakan mesin motor.
"Boleh. Tapi kamu yang bayar ya, sebagai denda karena tadi nggak bawa hasduk!" canda Ayra.
"Hahaha! Siap, Ibu Komandan!"
Motor sport itu pun melesat meninggalkan sekolah. Di sepanjang jalan, Ayra tidak lagi merasa perlu menyembunyikan tangannya. Ia memegang erat pinggang Alano, membiarkan angin sore menerpa seragam Pramuka mereka.
Malam itu, postingan Instagram Ayra menjadi trending topic di grup WhatsApp angkatan. Bukan karena foto cantiknya dengan Sinta, tapi karena interaksi "panas-manis" antara sang Ambalan Paris dan sang Kapten Basket yang membuktikan bahwa aturan sekeras apa pun bisa luluh dengan perhatian yang tulus.