Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenunan restu
Pagi di Pesantren Salsabila diawali dengan kabar yang membuat seisi ndalem terasa lebih hangat. Azka, pria yang biasanya hanya bisa serius saat membicarakan strategi hukum atau menjahili Ghibran, datang menemui Ghibran di ruang kerja pribadinya dengan langkah yang sangat rapi—hampir menyerupai langkah seorang santri yang hendak menempuh ujian kelulusan.
"Ghib," Azka memulai, ia duduk di hadapan sahabatnya tanpa gaya santai yang biasanya. "Aku sudah bicara dengan Zivanna semalam. Dan aku juga sudah meminta restu pada Umi Intan di tempat penahanannya lewat kunjungan singkat."
Ghibran meletakkan pena bulunya, ia menatap Azka dengan sorot mata yang penuh arti. "Lalu?"
"Aku ingin melamarnya secara resmi, Ghib. Aku ingin membawa orang tuaku dari Surabaya minggu depan. Aku ingin menjadikannya bagian dari hidupku sepenuhnya," ujar Azka dengan nada yang sangat stabil dan dewasa.
Ghibran terdiam sejenak, lalu sebuah senyuman bangga terukir di wajahnya. Ia bangkit, menghampiri Azka, dan menepuk bahu sahabatnya itu dengan keras. "Akhirnya, kepalamu tidak hanya berisi rencana menjahiliku. Aku sangat mendukungmu, Ka. Zivanna telah melalui malam yang sangat panjang, dan dia butuh fajar seperti kamu untuk menemaninya."
Benang-Benang Kebahagiaan
Kabar itu segera sampai ke telinga Aira. Tanpa menunggu waktu lama, Aira langsung menarik Zivanna ke ruang kerjanya di butik. Ruangan itu kini dipenuhi dengan gulungan kain sutra berwarna broken white dan satin yang lembut.
"Mbak, ini terlalu cepat..." Zivanna tampak malu-malu, jemarinya memilin ujung jilbabnya saat Aira mulai mengukur bahunya.
"Tidak ada kata terlalu cepat untuk sebuah niat baik, Ziva," sahut Aira dengan mata berbinar. "Mas Azka sudah membuktikannya. Sekarang, biarkan aku yang membuktikannya padamu. Aku akan merancang gaun pengantin yang paling indah untukmu. Gaun yang tidak hanya akan menutupi tubuhmu, tapi juga merayakan keberanianmu untuk mencintai lagi."
Aira mulai membuat sketsa dengan gerakan tangan yang sangat luwes. Ia menambahkan detail bordir bunga melati dan mutiara kecil di bagian dada. "Aku ingin gaun ini memiliki filosofi seperti mawar di gurun pasir. Tetap mekar meski pernah diterjang badai."
Zivanna tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk Aira dengan erat. "Terima kasih, Mbak Aira. Terima kasih karena sudah menerimaku kembali sebagai adik, meski ibuku pernah berbuat jahat pada Mbak."
"Masa lalu itu milik mereka yang sudah pergi, Ziva. Masa depan adalah milik kita yang masih berdiri di sini," bisik Aira sambil mengelus punggung Zivanna.
Manisnya Persiapan
Sore harinya, pemandangan unik terlihat di halaman pesantren. Ghibran dan Azka sedang mengecek persiapan pembangunan aula kecil yang akan digunakan untuk acara lamaran minggu depan.
"Ghib, kau pikir bunganya harus mawar merah atau putih?" tanya Azka dengan wajah bingung, ia memegang katalog dekorasi seolah itu adalah dokumen rahasia negara.
Ghibran mengerutkan kening. "Tanya Aira. Aku tidak tahu urusan kelopak bunga."
"Ah, kau ini! Kau kan sudah berpengalaman jadi 'pelayan payung' bunga-bunga, masa tidak tahu seleranya?" ejek Azka, mulai kembali ke sifat aslinya.
Ghibran hanya mendengus, namun ia tidak marah. "Pilih yang disukai Zivanna, bukan yang menurutmu bagus. Dan tolong, jangan pasang balon berwarna-warni di pesantren ini. Ini tempat pendidikan, bukan taman bermain anak-anak."
"Pelit sekali!" balas Azka sambil tertawa.
Malam di Ambang Perubahan
Malam harinya, setelah kesibukan merancang gaun dan mengurus persiapan lamaran Azka, Aira merasa tubuhnya sangat lelah. Namun, kebahagiaan yang ia rasakan mengalahkan rasa pegalnya. Saat ia masuk ke kamar, ia menemukan Ghibran sedang duduk di balkon, menatap bintang-bintang.
Aira menghampirinya, lalu memeluk leher Ghibran dari belakang. "Kakak sedang memikirkan apa?"
Ghibran menarik tangan Aira, mencium punggung tangannya dengan lembut. "Aku sedang berpikir betapa cepatnya waktu berlalu. Dulu, tempat ini penuh dengan kebencian dan rahasia. Sekarang, kita sedang merencanakan pernikahan sahabat terbaikku dan adik angkatmu."
Ghibran memutar tubuhnya, menarik Aira hingga duduk di pangkuannya. Ia menatap wajah istrinya yang tampak sedikit pucat namun bercahaya di bawah sinar rembulan.
"Aira, setelah urusan Azka selesai, aku ingin membawa kamu berlibur sejenak. Hanya kita berdua," bisik Ghibran, jemarinya mengusap helai rambut Aira yang jatuh di wajahnya.
"Ke mana, Kak?"
"Ke mana pun yang kamu mau. Ke pantai, ke pegunungan, atau hanya di rumah tanpa ada yang mengganggu," jawab Ghibran. Ia merapatkan pelukannya, merasakan kehangatan tubuh Aira yang menjadi candunya setiap malam.
Ciuman lembut Ghibran mendarat di kening Aira, lalu turun ke kelopak mata, dan berakhir di bibir dalam sebuah ciuman yang lambat dan penuh perasaan. Malam itu, di ambang perubahan besar yang akan dialami oleh Azka dan Zivanna, Ghibran dan Aira semakin meneguhkan bahwa cinta mereka adalah fondasi dari semua kebahagiaan yang kini ada di Salsabila.
Setiap sentuhan adalah janji, dan setiap desah napas adalah doa agar kedamaian ini tetap abadi di bawah naungan langit pesantren mereka.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂