NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: SARANG GHOUL

Batu merah di tangan Aldric bersinar semakin terang.

Cahayanya tidak hanya menerangi jalan, tapi juga menciptakan sensasi aneh di kulit—seperti ribuan semut merayap, menuntunnya ke arah yang benar. Aldric sudah berjalan selama berjam-jam meninggalkan Kota Tulang, melewati ladang jamur bercahaya yang membentang sejauh mata memandang, menyeberangi sungai bawah tanah yang airnya hitam pekat, dan kini ia berdiri di tepi sebuah jurang.

Di seberang jurang, di dinding batu yang menjulang, terlihat lubang-lubang gelap. Puluhan lubang. Mungkin ratusan. Beberapa berukuran kecil, beberapa sebesar rumah. Dan dari lubang-lubang itu, bau busuk menyengat—bau bangkai, bau kotoran, bau sesuatu yang sudah lama mati tapi tidak pernah dikubur.

Sarang Ghoul.

Aldric memasukkan batu merah ke dalam sakunya. Cahayanya tetap menembus kain, tapi setidaknya tidak terlalu mencolok. Ia mengamati sekeliling, mencari cara menyeberang.

Jurang ini lebarnya sekitar lima puluh meter. Terlalu jauh untuk dilompati. Di bawah, hanya kegelapan pekat yang tidak terlihat dasarnya. Satu-satunya cara adalah jembatan—jembatan alami dari batu yang menghubungkan kedua sisi, tapi jembatan itu dijaga.

Dua makhluk berdiri di ujung jembatan. Ghoul.

Aldric baru pertama kali melihat Ghoul secara langsung, dan penampilan mereka persis seperti yang dideskripsikan Varyn. Tinggi sekitar dua meter, kurus kering dengan kulit abu-abu kehijauan yang merekat erat ke tulang. Mereka tidak memakai baju, hanya cawat kotor dari kulit. Tangan mereka panjang—sampai ke lutut—dengan cakar hitam kotor. Wajah mereka seperti perpaduan manusia dan serigala yang kelaparan: moncong panjang, taring menjulur keluar dari mulut, dan mata merah kecil yang terus bergerak waspada.

Ghoul adalah pemakan bangkai yang cerdas. Mereka hidup dalam koloni, punya hierarki, dan paling berbahaya saat lapar atau saat wilayahnya diganggu.

Varyn bilang begitu.

Aldric mengamati kedua penjaga itu. Mereka berjaga dengan posisi agak santai—tidak terlalu waspada. Mungkin karena sudah lama tidak ada yang berani mendekati sarang mereka. Mungkin karena mereka merasa aman di sini.

Cara masuk tanpa ketahuan?

Aldric memeriksa sekeliling. Di kiri dan kanan jurang, dinding batu terjal. Tidak ada jalan lain selain jembatan. Tapi...

Ia melihat ke bawah jurang. Gelap. Tapi di kegelapan itu, samar-samar, ia melihat sesuatu. Tonjolan-tonjolan batu. Mungkin cukup untuk dijadikan pijakan.

Berbahaya. Jatuh berarti mati.

Tapi ia sudah mati di dalam.

Tanpa berpikir dua kali, Aldric mulai menuruni tebing.

Dinding batu terasa dingin dan licin. Jamur-jamur kecil tumbuh di celah-celah, membuat pijakan tidak stabil. Aldric merayap perlahan, jari-jarinya mencari pegangan di setiap tonjolan batu. Di bawahnya, hanya kegelapan.

Ia tidak berani melihat ke bawah. Fokus pada satu pegangan, lalu berikutnya, lalu berikutnya.

Tiga meter. Lima meter. Sepuluh meter.

Tangannya mulai lelah. Kekuatan iblis yang diberikan Varyn memang membuatnya lebih kuat, tapi tetap ada batasnya. Otot-ototnya berteriak, tapi ia paksakan.

Lima belas meter.

Ia mencapai tonjolan pertama—batu besar selebar setengah meter, cukup untuk berdiri. Aldric beristirahat sejenak, mengatur napas. Dari sini, ia bisa melihat jembatan di atas. Para penjaga Ghoul tidak menyadarinya.

Bagus.

Ia melanjutkan perjalanan. Merayap di sepanjang tonjolan-tonjolan batu yang seperti tangga alami. Perlahan, ia mendekati sisi lain jurang.

Dua puluh menit kemudian, ia mencapai dasar tebing di sisi sarang Ghoul. Di sini, baunya lebih menyengat. Jauh lebih menyengat. Aldric harus menahan muntah.

Bangkit dari kebiasaan manusia, pikirnya. Kau bukan manusia lagi.

Ia menarik napas dalam-dalam melalui mulut, mencoba membiasakan diri. Lalu mulai mendaki tebing di sisi ini menuju lubang-lubang sarang.

Lubang yang ia pilih adalah yang paling kecil—mungkin bukan lubang utama, mungkin hanya ventilasi atau pintu belakang. Ia merayap masuk, merasakan dinding batu berganti dengan dinding tanah liat yang dipadatkan. Bau di dalam lebih pekat, tapi setidaknya tidak ada angin.

Aldric merangkak di lorong sempit itu selama beberapa menit. Gelap total, tapi matanya yang sudah beradaptasi bisa melihat samar-samar. Lorong ini buatan—bukan alami. Dindingnya rata, ada bekas cakaran di sana-sini.

Ghoul menggali ini.

Lorong mulai melebar. Aldric memperlambat gerakan, lebih waspada. Dari depan, terdengar suara—suara cakaran, suara dengusan, suara percakapan dalam bahasa aneh yang tidak ia mengerti.

Ia mencapai ujung lorong. Di depannya, sebuah ruangan besar terbentang.

Aldric mengintip dari balik batu.

Ruangan itu seperti gua raksasa, dengan langit-langit tinggi menjulang. Di tengah, api unggun menyala—api aneh berwarna biru yang tidak mengeluarkan asap, hanya cahaya dingin. Di sekeliling api, puluhan Ghoul duduk melingkar. Mereka sedang makan.

Aldric melihat apa yang mereka makan, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia merasakan sesuatu.

Bukan jijik. Bukan takut. Tapi... marah.

Yang mereka makan adalah manusia.

Tubuh-tubuh manusia—pria, wanita, bahkan anak-anak—tergeletak di samping mereka. Beberapa sudah tinggal tulang. Beberapa masih utuh. Dan Ghoul-Ghoul itu memakannya dengan lahap, seperti manusia memakan daging panggang.

Di sudut ruangan, kurungan-kurungan dari tulang berjejer. Di dalamnya, puluhan manusia—mungkin seratus—duduk berdesakan. Mata mereka kosong. Beberapa menangis pelan. Beberapa hanya terdiam, sudah kehilangan harapan.

Budak. Ternak.

Aldric mengepalkan tangan. Urat hitam di tangannya berdenyut lebih cepat.

Ini bukan urusanku, pikirnya. Aku di sini hanya untuk mengambil kalung. Bukan menyelamatkan siapa pun.

Tapi di dalam—di sudut yang paling dalam—sesuatu berbisik. Sesuatu yang mengingatkannya pada Liana. Pada ibunya. Pada semua yang tidak bisa ia selamatkan.

Kau tidak bisa menyelamatkan mereka. Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan keluargamu sendiri.

Aldric memejamkan mata. Menarik napas panjang. Menenangkan diri.

Fokus. Kalung. Mora. Informasi. Dendam.

Ia membuka mata. Rasa marah itu sudah hilang. Berganti dengan dingin.

Bukan urusanku.

Aldric mulai bergerak di sepanjang pinggiran ruangan, memanfaatkan bayang-bayang untuk bersembunyi. Ghoul-Ghoul itu terlalu sibuk makan dan tidak memperhatikan sekeliling. Mereka merasa aman di sarang mereka sendiri.

Ia melewati tumpukan tulang belulang, melewati kurungan-kurungan manusia. Beberapa manusia menatapnya dengan mata kosong. Seorang wanita—masih muda, mungkin dua puluhan—mengulurkan tangan melalui jeruji tulang.

"Tolong..." bisiknya. "Tolong aku..."

Aldric tidak menoleh. Terus berjalan.

"Tolong..." bisik wanita itu lagi. "Aku... aku punya anak. Di dalam. Dia baru lima tahun. Tolong selamatkan dia..."

Lima tahun.

Seusia Liana.

Langkah Aldric terhenti.

Ia berdiri di sana, membelakangi wanita itu, selama beberapa detik. Hanya beberapa detik. Tapi rasanya seperti selamanya.

Lalu ia melanjutkan langkah. Meninggalkan wanita itu.

Bukan urusanku.

Di ujung ruangan, ada lorong lain yang lebih besar. Aldric memasukinya, berharap ini jalan menuju tempat penyimpanan barang berharga. Mora bilang kalung itu dicuri—berarti mungkin disimpan di tempat khusus, bukan di ruang makan.

Lorong ini bercabang-cabang. Aldric memilih berdasarkan naluri, mengikuti arah yang terasa paling "berharga". Mungkin kekuatan barunya memberinya intuisi. Mungkin hanya keberuntungan.

Di lorong ketiga, ia menemukannya.

Sebuah ruangan yang berbeda dari yang lain. Di sini, dindingnya dihiasi ukiran-ukiran rumit—tulang-belulang ditata seperti mozaik, membentuk gambar-gambar mengerikan. Di tengah ruangan, di atas tumpukan tengkorak, duduk sesosok Ghoul yang lebih besar dari yang lain.

Pemimpin.

Di lehernya, tergantung sebuah kalung. Kalung dengan liontin mata kucing hitam.

Itu dia.

Aldric mengamati situasi. Pemimpin Ghoul itu sedang tidur—atau setidaknya terlihat tidur. Napasnya berat, teratur. Di sekelilingnya, tidak ada penjaga lain. Mungkin karena merasa aman di sarang sendiri. Mungkin karena semua Ghoul sedang pesta di ruang utama.

Kesempatan.

Aldric merayap mendekat. Perlahan. Hati-hati. Setiap langkah dihitung, menghindari tulang-tulang yang berserakan di lantai.

Ia semakin dekat. Sepuluh langkah. Lima langkah. Tiga langkah.

Ia bisa melihat kalung itu dengan jelas sekarang. Liontin mata kucing hitam itu tampak berkilauan meskipun hanya diterangi cahaya jamur dari dinding. Ada ukiran aneh di permukaannya—simbol yang tidak dikenal Aldric.

Ia mengulurkan tangan.

Cret!

Sebuah tulang patah di bawah kakinya.

Pemimpin Ghoul membuka mata.

Mata itu—merah seperti api—langsung menatap Aldric. Untuk sesaat, mereka berdua diam. Lalu Ghoul itu tersenyum. Senyum lebar yang memperlihatkan deretan taring kuning.

"Makanan datang sendiri," desisnya dalam bahasa manusia—terbata-bata, tapi bisa dimengerti. "Malam yang baik."

Ia bergerak cepat—sangat cepat. Cakar panjangnya menyambar ke arah wajah Aldric.

Aldric menghindar, merosot ke bawah, dan menendang kaki Ghoul itu. Tendangannya keras—cukup keras untuk membuat manusia biasa patah tulang. Tapi Ghoul itu hanya terhuyung sedikit.

"Kuat," komentarnya, masih tersenyum. "Tapi tidak cukup kuat."

Ia menyerang lagi. Kali ini dengan kedua cakar. Gerakannya seperti badai—cepat, ganas, mematikan.

Aldric bertahan. Menghindar, memblok dengan lengan, menendang balik. Tubuhnya bergerak dengan insting yang masih baru—masih asing. Tapi cukup untuk tetap hidup.

Cakar Ghoul menggores dadanya. Daging terbelah. Darah muncrat—merah bercampur hitam.

Tapi lukanya cepat menutup. Regenerasi bekerja.

Ghoul itu mengerutkan dahi. "Kau... bukan manusia biasa. Kau seperti... seperti..." Matanya melebar. "Kau setengah iblis!"

Aldric tidak menjawab. Ia terus menyerang.

Pertarungan berlangsung sengit. Mereka bertarung di ruangan sempit itu, menghancurkan tumpukan tengkorak, merusak ukiran-ukiran di dinding. Ghoul pemimpin itu kuat—lebih kuat dari Vermok mana pun. Tapi Aldric punya sesuatu yang tidak dimiliki Ghoul: dendam.

Setiap kali ia lelah, ia memikirkan Darius.

Setiap kali ia sakit, ia memikirkan Elara.

Setiap kali ia ingin menyerah, ia memikirkan Liana.

Dan ia terus maju.

"Kau... kau aneh," desis Ghoul itu, mulai terengah-engah. "Kau tidak takut mati?"

"Sudah mati," jawab Aldric datar, sambil meninju wajah Ghoul itu dengan sekuat tenaga.

Tinju itu menghantam moncong Ghoul dengan suara memuaskan. Tulang hidungnya hancur. Ghoul itu menjerit kesakitan, mundur terhuyung.

Aldric tidak memberinya waktu. Ia terus memukul. Dan memukul. Dan memukul.

Thud! Thud! Thud!

Wajah Ghoul itu berubah jadi bubur berdarah. Tubuhnya roboh, tidak bergerak lagi.

Aldric berhenti. Napasnya tersengal—bukan karena lelah, tapi karena adrenalin. Ia menatap tangannya yang berlumuran darah hitam. Luka-luka di tubuhnya sudah sembuh total.

Aku membunuhnya.

Untuk pertama kalinya, ia membunuh makhluk cerdas. Bukan binatang buas seperti Vermok. Tapi makhluk yang bisa berpikir, bisa bicara, bisa merasakan.

Ia tidak merasa apa-apa.

Bagus.

Aldric membungkuk, mengambil kalung dari leher Ghoul yang mati. Liontin mata kucing itu hangat di tangannya—seperti masih hidup.

Tiba-tiba, suara gemuruh dari luar. Suara langkah kaki—banyak. Suara teriakan marah.

Mereka tahu.

Aldric berbalik dan berlari. Keluar dari ruangan, melewati lorong-lorong, menuju ke mana pun yang penting menjauh. Di belakangnya, raungan Ghoul menggema—raungan kemarahan, raungan kematian.

Ia mencapai ruangan utama. Ghoul-Ghoul di sana sudah bangkit, sudah tahu ada penyusup. Mereka mencarinya dengan mata merah menyala.

Aldric tidak berhenti. Ia berlari melewati mereka, menerobos kerumunan. Cakar-cakar menyambarnya, tapi ia menghindari yang fatal. Luka-luka baru terus muncul dan terus sembuh.

Keluar. Harus keluar.

Ia melihat lorong sempit tempat ia masuk. Di sana! Tapi di depan lorong itu, lima Ghoul sudah berjaga.

Tidak ada pilihan.

Aldric berlari ke arah mereka, siap bertarung. Tapi tiba-tiba—

"Kesini!"

Tangan seseorang menariknya ke samping. Aldric terhuyung masuk ke celah sempit di antara dua batu besar. Sebuah jeruji—mungkin bekas kurungan—menutup celah itu dari dalam.

Aldric menoleh. Wanita yang tadi memohon padanya—wanita muda dengan mata penuh harap—berdiri di sampingnya. Di belakangnya, seorang anak laki-laki kecil bersembunyi, wajahnya pucat ketakutan.

"Aku..." Aldric tidak tahu harus berkata apa.

"Diam," bisik wanita itu. "Mereka akan lewat."

Di luar, Ghoul-Ghoul berlarian, mencari. Raungan mereka menggema. Tapi mereka tidak melihat celah ini—tersembunyi di balik bayangan dan tumpukan tulang.

Beberapa menit berlalu. Raungan mulai menjauh.

Wanita itu menghela napas lega. "Kau... kau ambil sesuatu dari mereka?"

Aldric mengangguk, memperlihatkan kalung itu.

Wanita itu menatap kalung dengan mata melebar. "Itu... itu kalung Mora."

"Kau tahu Mora?"

"Siapa pun di kota bawah tahu Mora." Wanita itu menatap Aldric dengan rasa ingin tahu. "Kau... kau manusia. Tapi kau berbeda. Aku bisa merasakannya. Ada sesuatu yang... gelap di dalam dirimu."

Aldric tidak menjawab. Ia malah menatap anak laki-laki itu. "Anakmu?"

Wanita itu mengangguk, merangkul anaknya erat. "Namanya Ren. Aku... namaku Sera. Kami dari kota atas. Jatuh ke sini dua bulan lalu, ditangkap Ghoul seminggu kemudian."

Kota atas.

Informasi.

"Apa kau tahu tentang keluarga kerajaan Veynheart?" tanya Aldric tiba-tiba.

Sera mengerutkan dahi. "Veynheart? Tentu. Semua orang tahu. Tapi... kenapa?"

"Aku butuh informasi. Tentang kudeta sepuluh hari lalu. Tentang Darius Veynheart. Tentang..." Ia berhenti. "...Elara."

Sera menatapnya lama. Lalu matanya melebar. "Kau... kau Aldric Veynheart? Pangeran kedua yang—" Ia menutup mulut sendiri.

"Aku bukan pangeran lagi."

Hening untuk beberapa saat. Di luar, suara Ghoul mulai menjauh.

"Aku bisa membawamu keluar dari sini," kata Sera akhirnya. "Ada jalan rahasia. Aku menemukannya saat mencoba kabur. Tapi..." Ia ragu. "Kau harus membawa kami juga. Aku dan Ren."

Aldric menatap wanita itu. Menatap anak itu.

Bukan urusanku.

Tapi anak itu—Ren—menatapnya dengan mata besar penuh harap. Mata yang sama seperti Liana saat meminta tolong.

"Kak, temenin Liana..."

Aldric memejamkan mata. Menarik napas panjang.

"Ayo," katanya akhirnya. "Tunjukkan jalannya."

Mereka bertiga merayap di lorong sempit. Sera di depan, tahu jalannya. Aldric di belakang, dengan Ren di antaranya. Anak itu tidak menangis, tidak bersuara—hanya terus berjalan dengan kaki mungilnya.

Kuat, pikir Aldric. Seperti Liana.

Lorong itu berkelok-kelok, kadang naik, kadang turun. Setelah sekitar setengah jam, mereka mencapai ujung—sebuah lubang kecil yang tertutup semak jamur bercahaya.

Sera mendorong semak itu. Udara segar—lebih segar—masuk. "Di luar sana, dekat Kota Tulang. Kita hampir sampai."

Mereka keluar satu per satu. Aldric menarik napas lega. Di belakang mereka, sarang Ghoul masih bergemuruh marah, tapi suaranya mulai memudar.

Sera menatapnya. "Terima kasih."

Aldric hanya mengangguk. Ia mengeluarkan batu merah dari sakunya. Batu itu masih bersinar, menuntunnya kembali ke Mora.

"Aku harus pergi."

"Tunggu." Sera meraih lengannya. "Kau... kau cari informasi tentang keluarga Veynheart? Aku bisa bantu. Aku dari kota atas. Aku tahu banyak."

Aldric menatapnya.

"Aku butuh tempat tinggal di Kota Tulang," lanjut Sera. "Dan perlindungan. Untuk Ren. Jika kau beri kami itu... aku akan cerita semua yang aku tahu."

Tawar-menawar. Di dunia bawah, ini bahasa universal.

Aldric memikirkannya sejenak. Lalu mengangguk.

"Ikut."

Mereka berjalan menuju Kota Tulang. Di belakang, sarang Ghoul bergemuruh marah. Di depan, lampu-lampu kota mulai terlihat.

Ren menggenggam erat jari Aldric. Tangan kecil itu hangat.

Aldric ingin melepaskannya. Tapi tidak bisa.

Lemah, pikirnya. Masih lemah.

Tapi ia biarkan saja.

Untuk sekarang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!