Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Panggung Persaingan dan Jari Tengah
SMA Garuda Kencana sedang bersolek. Umbul-umbul warna-warni menghiasi setiap sudut koridor dalam rangka merayakan ulang tahun sekolah yang ke-40. Suasana yang seharusnya penuh tawa itu justru terasa mencekam di barisan kelas XI-IPA 2. Teman-teman sekelas Karline kompak menjaga rahasia tentang kejadian malam itu dari pihak sekolah agar Karline tidak perlu terus-menerus berurusan dengan ruang BK, namun mereka menunjukkan solidaritas dengan cara lain, boikot total terhadap senioritas kelas dua belas.
Pagi itu, acara dibuka dengan pertandingan persahabatan bola voli. Saat nama Deandra dan gengnya dipanggil untuk masuk ke lapangan, sorak-sorai penonton pecah. Gadis-gadis dari kelas lain menjerit histeris memanggil nama Dean.
"Kak Dean! Semangat!"
"Aduh, aura kaptennya nggak ada lawan!"
Dean melangkah masuk ke lapangan dengan gaya angkuhnya yang biasa. Namun, saat matanya menyapu tribun, ia menemukan satu blok penonton yang duduk dalam diam yang memekakkan telinga. Seluruh siswa kelas XI-IPA 2 menatap Dean, Raka, dan Rio dengan tatapan memusuhi yang sangat tajam. Dean sempat menatap mereka balik, namun segera membuang muka dengan gusar saat merasakan tekanan dari arah sana.
Raka dan Rio tampak tidak senyaman Dean. Rio yang hidungnya masih diperban berkali-kali membetulkan letak pelindung wajahnya, sementara Raka tampak gemetar saat melihat ke arah tengah tribun. Di sana, duduk Karline Dharmajaya.
Karline hari ini tidak memakai jaket. Ia mengenakan kaos olahraga sekolah yang pas di tubuh, memperlihatkan kecantikan yang membuat banyak orang gagal fokus. Saat matanya bertemu dengan mata Raka dan Rio, Karline menyunggingkan senyum miring senyum mengejek yang membuat nyali dua senior itu menciut.
Terakhir, mata Karline bertemu dengan mata Dean. Dean berhenti melakukan pemanasan. Ia menatap Karline cukup lama. Namun, kali ini tatapan Dean tidak sedingin biasanya. Ada binar hangat, mungkin rasa bersalah atau kekaguman yang terlambat, yang tersirat di sana.
Karline menyadari perubahan tatapan itu, tapi ia tidak sudi menerimanya. Dari kejauhan, di tengah riuhnya penonton, Karline menggerakkan mulutnya perlahan agar Dean bisa membaca gerak bibirnya.
"Fuck u," ucap Karline tanpa suara.
Tak cukup sampai di situ, dengan gerakan yang sangat berani namun tertutup oleh badannya sendiri dari pandangan guru, Karline menunjukkan jari tengahnya tepat ke arah Dean.
Dean tersentak. Ia mengepalkan tangannya di samping paha, dadanya bergemuruh. Bukan karena marah, tapi karena ia sadar bahwa gadis itu benar-benar sudah menutup pintu maaf untuknya.
"Selanjutnya, pengumuman untuk perwakilan lomba akademik tingkat provinsi!" Suara pembawa acara melalui pengeras suara memecah ketegangan di lapangan.
Dean masih berdiri di tengah lapangan, namun fokusnya terpecah. Ia terus menatap ke arah tribun, memperhatikan Karline yang kini tampak asyik mengobrol dengan teman-teman sekelasnya. Karline sekarang adalah primadona kelas, semua teman cowoknya tampak sangat protektif menjaganya.
"Untuk kategori Fisika dan Kimia, perwakilan sekolah kita adalah... Karline Dharmajaya dari kelas XI-IPA 2!"
Seluruh lapangan mendadak hening sejenak, lalu riuh rendah. Nama itu sudah menjadi legenda dalam semalam.
"Karline? Karline!" Bimo, teman sekelasnya yang duduk di sebelah, menyenggol lengan Karline dengan keras. "Woi, nama lo dipanggil! Maju!"
Karline tersentak dari lamunannya. Ia baru saja asyik beradu tatap penuh kebencian dengan Dean sampai tidak mendengar pengumuman tersebut. "Hah? Apa? Nggak mau, ah!" bisik Karline panik. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian seperti ini.
"Maju, Karline!Ayo Jangan malu-malu demi kita, IPA 2!" seru teman-temannya yang lain.
Karline melihat ke arah panggung utama. Di sana, Wali Kelasnya menatapnya dengan pandangan intimidasi, seolah berkata, Kalau kamu tidak maju, nilai kimiamu taruhannya.
Mau tidak mau, Karline berdiri. Saat ia melangkah turun dari tribun menuju panggung, suara siulan dan godaan dari siswa laki-laki lintas angkatan memenuhi udara.
"Gila, itu beneran gadis berjaket kemarin?"
"Cantik banget, sumpah! Kayak artis Korea!"
"Pinter Kimia lagi, idaman banget!"
Karline berjalan melewati lapangan voli, tepat beberapa meter di depan Dean. Ia tidak menoleh sedikit pun, kepalanya tegak dengan raut wajah yang kembali dingin. Dean memperhatikan setiap langkah Karline. Ia melihat bagaimana cahaya matahari pagi memantul di kulit putih Karline, membuat rona merah di pipinya terlihat semakin jelas.
Saat Karline sampai di atas panggung dan menerima piagam penghargaan sementara, seluruh mata terpaku padanya. Clarissa yang berada di barisan OSIS pinggir panggung hanya bisa menggigit bibir bawahnya karena iri, posisi primadona sekolah yang selama ini ia pegang telah direbut secara paksa oleh adik kelas yang kemarin ia siram dengan air keruh.
Karline menerima mikrofon untuk memberikan sepatah kata sambutan singkat sebagai perwakilan siswa berprestasi. Ia menarik napas panjang, matanya menyapu seluruh lapangan, dan kembali berhenti tepat pada sosok Dean yang masih berdiri diam di tengah lapangan voli.
"Terima kasih atas kepercayaannya," ucap Karline dengan suara yang jernih dan tegas. "Saya hanya ingin membuktikan satu hal, bahwa kecerdasan dan harga diri tidak bisa diukur dari apa yang seseorang kenakan, tapi dari bagaimana mereka menghargai orang lain."
Kalimat itu telak menghantam Dean. Ia menundukkan kepalanya, menyadari bahwa acara pemilihan perlombaan volinya hari ini terasa sangat hambar dibandingkan dengan martabat yang dimiliki Karline di atas panggung itu.