Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari weekend
Sinar matahari pagi Sabtu menyusup masuk melalui celah gorden, namun Raia masih enggan beranjak dari tempat tidur. Setelah seminggu penuh menenggelamkan diri dalam pekerjaan kantor demi melupakan absennya kabar dari Arlan, akhir pekan justru menjadi tantangan terberat.
Tanpa tumpukan laporan atau dering telepon rekan kerja, pikiran Raia kembali liar. Ia teringat bagaimana dulu Sabtu pagi biasanya diisi dengan suara klakson motor Arlan di depan pagar, mengajaknya mencari sarapan bubur ayam atau sekadar jalan-jalan tak tentu arah.
Raia bangun, menyeduh kopi, dan duduk di teras rumah. Ia menatap ke arah rumah Arlan yang letaknya hanya terpaut beberapa blok. Rumah itu tampak sepi. Ibu Arlan mungkin sedang di dalam, juga sedang merindukan anaknya yang katanya "sibuk kuliah" itu.
"Apa kamu juga sedang libur di sana, Lan?" gumam Raia sambil mengaduk kopinya yang mulai mendingin.
Ponselnya tergeletak di meja kayu. Raia sempat tergoda untuk membuka media sosial, mencari tahu apakah ada teman kuliah Arlan yang mengunggah foto kelulusan atau sekadar kegiatan akhir pekan. Namun, ia segera mengurungkan niatnya. Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk berhenti menjadi "detektif" bagi seseorang yang sengaja menutup pintu.
Raia memutuskan untuk tidak membiarkan akhir pekannya mati rasa. Ia mengambil kunci motor, berniat pergi ke toko buku atau galeri seni—tempat-tempat yang dulu ingin ia kunjungi bersama Arlan, namun kini harus ia jelajahi sendiri.
Saat ia hendak mengunci pagar, seorang tukang pos berhenti di depan rumahnya. "Mbak Raia? Ada surat kilat, harus ditandatangani."
Jantung Raia berdegup kencang. Amplopnya berwarna cokelat tua, tebal, dan memiliki stempel pos internasional yang sangat jelas.
Raia memegang amplop itu dengan tangan gemetar di tengah suasana pagi yang tenang.
Raia menatap amplop cokelat tebal itu selama beberapa menit di ambang pagar. Jemarinya merasakan tekstur kertasnya yang kaku, seolah bisa merasakan beratnya kata-kata yang tersembunyi di dalam sana. Namun, alih-alih merobeknya dengan tergesa-gesa, ia justru menarik napas panjang dan memasukkan surat itu ke dalam tas kerjanya.
"Belum saatnya," bisik Raia pada semilir angin Sabtu pagi.
Ia tidak ingin merusak ketenangan akhir pekan yang sudah ia bangun susah payah dengan luapan emosi yang mungkin tersimpan di balik segel prangko itu. Raia takut jika ia membukanya sekarang, ia akan kembali terjebak dalam labirin kenangan tentang Arlan—tentang janji-janji masa kecil yang mungkin sudah kedaluwarsa oleh alasan "sibuk kuliah".
Raia memilih untuk menjalani harinya seperti biasa. Ia pergi ke pasar swalayan, membeli bahan makanan, dan mencuci pakaiannya yang menumpuk. Surat itu tetap tersimpan rapi di dalam tasnya, seperti sebuah rahasia yang ia simpan dari dirinya sendiri. Setiap kali matanya melirik ke arah tas itu, dadanya berdegup kencang, namun ia tetap bersikeras menunda.
Malam harinya, saat suasana rumah benar-benar sunyi dan hanya terdengar detak jam dinding, Raia duduk di meja makannya. Ia mengeluarkan amplop itu dan meletakkannya di atas meja, tepat di samping segelas air putih.
Raia tahu, surat ini adalah titik terang pertama setelah bertahun-tahun Arlan tidak ada kabar. Ia hanya ingin memastikan hatinya sudah cukup kuat untuk menerima kenyataan apa pun yang tertulis di sana—apakah itu permintaan maaf, undangan pernikahan, atau sekadar kabar kelulusan yang dingin.
Raia kini menatap amplop itu dengan tatapan yang lebih tenang.
Hari Minggu tiba, namun amplop cokelat itu masih tergeletak bisu di atas meja rias Raia. Ia sengaja menyimpannya di sana, di bawah tumpukan buku, seolah-olah dengan menyembunyikannya, ia bisa menunda kenyataan yang mungkin menyakitkan.
Raia menghabiskan sisa akhir pekannya dengan sangat sibuk. Ia membersihkan seluruh sudut rumah, menyiram tanaman, hingga menata ulang rak bukunya. Ia melakukan segala hal agar tangannya tetap bergerak dan pikirannya tidak melayang pada Arlan yang katanya "sibuk kuliah" itu.
Setiap kali ia melewati meja rias, detak jantungnya meningkat. Ada dorongan kuat untuk segera merobek amplop itu, namun ketakutan akan "tidak adanya kabar" yang lebih buruk membuatnya tertahan. Ia takut isi surat itu hanya berisi salam perpisahan formal atau pengumuman bahwa Arlan tidak akan pernah kembali lagi ke Indonesia.
Sore harinya, Raia duduk di kursi teras sambil memperhatikan anak-anak tetangga bermain pesawat kertas. Ia teringat janjinya dengan Arlan dulu.
"Weekend ini seharusnya kita nonton film baru itu, Lan," bisiknya pelan pada angin sore.
Matahari mulai terbenam, memberikan warna jingga yang hangat sekaligus sendu pada langit. Raia menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus menyimpan surat itu tanpa membacanya. Akhir pekan akan segera usai, dan besok ia harus kembali bekerja. Ia ingin menghadapi hari Senin dengan perasaan yang sudah tuntas, apa pun jawabannya.
Raia akhirnya masuk ke dalam kamar, mengambil amplop cokelat itu, dan membawanya ke balkon. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai menyobek ujung amplopnya tepat saat lampu-lampu jalan mulai menyala.
Raia akhirnya memutuskan untuk menghadapi surat dari Arlan.
Tepat saat ujung amplop itu sedikit robek, sebuah getaran panjang muncul dari ponsel di saku daster Raia. Ia tertegun. Jarang sekali ada notifikasi media sosial di jam sesepi ini.
Dengan tangan gemetar, Raia meletakkan kembali surat itu di pangkuannya dan meraih ponselnya. Layar itu menyala terang, menampilkan ikon Instagram.
"Arlan_Pradana baru saja membagikan foto."
Napas Raia tercekat. Jantungnya berdegup dua kali lebih kencang daripada saat ia memegang surat tadi. Setelah bertahun-tahun menghilang dengan alasan "sibuk kuliah" dan memutuskan kontak bahkan dengan ibunya sendiri, Arlan tiba-tiba muncul di dunia maya.
Raia menyentuh layar itu. Gambar pun terbuka.
Di sana, di bawah latar belakang menara jam yang megah dan langit Eropa yang biru, berdiri Arlan. Ia tampak lebih dewasa, badannya lebih tegap, dan senyumnya... senyum itu masih sama, namun tidak lagi ditujukan untuk Raia. Arlan merangkul bahu seorang wanita berambut pirang yang tersenyum manis ke arah kamera.
Keterangan fotonya singkat, namun menghantam ulu hati Raia:
"Akhirnya lulus. Terima kasih sudah menemaniku melewati masa-masa tersulit di sini. My support system ❤️"
Raia terpaku. Rasa sesak yang sejak hari Sabtu ia tahan, kini meledak menjadi rasa panas di matanya. Jadi, ini alasan "sibuk kuliah" itu? Ini alasan mengapa ia tidak pernah membalas pesan Raia dan meminta ibunya untuk bilang "jangan dicari dulu"?
Surat cokelat di pangkuannya tiba-tiba terasa sangat berat. Raia menatap bergantian antara foto bahagia di layar ponselnya dan amplop misterius yang belum ia buka itu. Apakah isi surat ini adalah penjelasan, atau justru undangan yang akan menghancurkan sisa-sisa harapannya di hari weekend ini?
Dunia Raia seolah berhenti berputar melihat unggahan itu.
Pandangan Raia mendadak kabur oleh air mata yang panas. Foto di layar ponsel itu—Arlan yang tersenyum lebar merangkul wanita lain—terasa seperti tamparan keras yang menyadarkannya dari mimpi panjang. Alasan "sibuk kuliah" yang selama ini ia maklumi, ternyata hanyalah topeng untuk sebuah pengkhianatan halus.
Tanpa pikir panjang, jemari Raia mencengkeram amplop cokelat tebal itu. Rasa sesak di dadanya berubah menjadi amarah yang dingin. Ia tidak butuh lagi penjelasan tertulis, tidak butuh kata-kata manis dalam surat yang terlambat datang bertahun-tahun.
Sret!
Raia merobek surat itu menjadi dua bagian. Ia tidak berhenti di situ. Dengan napas yang memburu, ia terus merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil. Kertas putih di dalamnya—yang mungkin berisi untaian kalimat penyesalan atau sekadar kabar kelulusan—kini hancur tak berbentuk di pangkuannya.
"Cukup, Lan," bisik Raia parau.
Ia melemparkan serpihan kertas itu ke tempat sampah di sudut balkon. Angin malam weekend yang dingin menerbangkan beberapa carikan kecil yang tak sempat mendarat. Raia kemudian beralih ke ponselnya. Dengan gerakan tegas, ia menekan tombol unfollow pada akun Arlan, lalu menghapus nomor telepon yang selama ini ia simpan dengan harapan kosong.
Raia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon rapat-rapat. Ia tidak ingin lagi mendengar deru pesawat atau melihat langit yang sama dengan Arlan. Malam itu, di penghujung akhir pekannya, Raia memutuskan bahwa bab tentang sahabat kecilnya telah benar-benar mati.
Besok adalah hari Senin. Ia akan berangkat kerja bukan lagi sebagai wanita yang menunggu kabar, melainkan sebagai Raia yang baru—yang telah membuang masa lalunya ke tempat sampah, tepat di mana seharusnya alasan-alasan palsu itu berada.
Raia akhirnya mengambil keputusan drastis untuk memutus semua ikatan.