Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Baiklah, aku akan membangun rumah dulu, kurang lebih tiga bulan kita akan pindah dari rumah ini Luna," Ilham mengalah, daripada pusing mendengar Luna membahas itu terus.
"Tiga bulan? Lama sekali Mas, makanya kita tinggal di rumah mantan istri kamu saja," Luna sudah tidak sabar menunggu selama itu.
"Jangan ungkit-ungkit rumah itu, karena sudah menjadi milik Sekar."
"Untuk Sekar? Berarti kamu masih komunikasi sama dia Mas?" Potong Luna, lagi-lagi emosi lalu bangun dengan cepat. Ia duduk di tempat tidur memandangi Ilham dengan mata merah.
Ilham tidak menjawab, ia tidak akan membuka mulut bahwa Suster Sekar itulah mantan istrinya. Jika Luna sampai tahu, pasti akan mengusir Sekar dari rumah ini.
"Kan, ditanya malah diam saja!" Sungut Luna.
"Kamu ini kenapa, Luna? Dulu aku ajak tinggal di rumah itu tidak mau kan?" Ilham mengalihkan. Dia bingung dibuatnya. Alasan Luna tidak mau tinggal di rumah lama karena tidak mau ada bayang-bayang Sekar, tapi sekarang justru ngotot ingin tinggal di rumah itu.
"Bukan begitu Mas, aku hanya tidak ingin kehilangan kamu dan Arka," Luna kembali merebahkan tubuhnya di sebelah Ilham. Sepi di kamar itu, tidak ada lagi yang bicara. Tidak lama kemudian Luna mendengar dengkur lembut dari Ilham.
Perlahan Luna turun dari tempat tidur lalu naik ke atas rooftop. Dia aktifkan handphone mencari nama seseorang, lalu menekan tombol telepon.
"Hallo..." suara pria yang jauh di sana.
"Hallo, cari wanita yang bernama Sekar, jika sudah kamu temukan, laporkan pada saya."
"Baik, Non."
************
Di tempat lain Sekar baru selesai makan, ia menggendong Arka keluar dari restoran diikuti Rayyan. Sekar menarik jaket tipisnya untuk menyelimuti tubuh Arka karena udara malam sudah mulai dingin. Dokter Rayyan yang berdiri di sebelahnya mengangkat tangan sedikit, menunjukkan arah mobil yang terparkir tidak jauh dari situ.
"Maaf ya kalau makan malamnya agak singkat, ada pesan dari rumah sakit bahwa ada pasien yang perlu diperiksa ulang nanti malam," ujar Rayyan sambil membuka pintu mobil untuk Sekar.
Sekar mengangguk, tersenyuman hangat. "Saya juga tidak bisa terlalu malam Dokter, kasihan Arka," Sekar menatap anaknya dalam gendongan.
Setelah keduanya memasuki mobil dan mesin menyala dengan suara halus, Rayyan mengendara hati-hati karena kabut mulai menyelimuti jalan raya. Jalanan malam di kota Tangerang masih cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang, meskipun tidak sesibuk jam siang hari.
"Bagaimana tanggapan Luna setelah tahu kamu mantan istri Ilham?" Rayyan sampai lupa menanyakan ini.
"Saya rasa Luna belum tahu siapa saya, Dok,"Sekar sengaja tidak memberi tahu Luna, kecuali Ilham sendiri yang bercerita. Lagi pula ia masih menunggu nyonya Pratiwi pulang.
"Oh iya, kapan Nyonya Pratiwi kembali ke Indonesia?" Rayyan sebenarnya ingin masalah Sekar cepat selesai.
"Kemarin saya telepon, beliu belum bisa pulang karena kesehatan Tuan Kaniago belum pulih, Dok," Sekar sebenarnya sudah menghubungi nyonya Pratiwi.
"Sekar, kapan kamu mau menerima aku untuk menjadi suami? Aku mencintaimu Sekar," ucap Rayyan sungguh-sungguh.
Sekar menoleh cepat, menatap Rayyan yang fokus dengan stir. "Maaf Dokter, jika memang kita berjodoh suatu saat nanti akan ada jalan untuk kita menuju ke sana, tapi maaf, untuk saat ini saya belum bisa menerima Dokter." Tegas Sekar.
Rayyan hanya mengangguk, ia akan bersabar. Dokter itu tahu apa yang Sekar risaukan, tidak mudah bagi Sekar untuk cepat mempercayai pria lain termasuk dirinya setelah sakit hati yang Sekar terima.
Mobil melaju dengan stabil, Sekar melihat pemandangan jalanan di luar jendela, cahaya lampu jalan yang berderet menerangi pedagang kaki lima yang masih berjualan makanan hangat, dan juga beberapa keluarga yang sedang berjalan santai di trotoar. Rayyan pun sesekali berbagi cerita ringan tentang pengalaman bekerja di rumah sakit, sementara Sekar mendengarkan dengan penuh perhatian, terkadang memberikan tanggapan yang hangat.
Tak lama kemudian, mobil mulai memasuki perumahan tempat Sekar tinggal. Rayyan menghentikan mobil tepat di depan gerbang pintu rumah besar itu. "Sampai bertemu besok Sekar, jangan lupa minum vitamin ya supaya badan kamu sehat," ujar Rayyan dengan nada khawatir.
"Terima kasih sudah mengantar dan memperhatikan saya, Dokter." jawab Sekar sambil membuka pintu mobil. Setelah berpisah dengan senyuman, Rayyan mengemudikan mobilnya pergi, sementara Sekar memasuki rumah dengan hati sedikit tenang. Dokter Rayyan rupanya bukan hanya dokter anak, tapi juga bisa menenangkan hati Sekar.
Setelah membuka pintu rumah dengan hati-hati agar tidak membuat suara keras, Sekar menggendong Arka yang masih pulas tidak terganggu sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah. Kakinya melangkah perlahan melewati lorong menuju kamar anaknya, tapi tiba-tiba lampu ruang tamu menyala, membuat Sekar sedikit terkejut.
Di sana, Luna berdiri dengan mata yang mendelik tajam ke arah Sekar, tangannya menyilang di dada.
"Sekar! Kok tega kamu mengajak Arka keluar malam-malam begini?! Dia baru saja sembuh dari kekecelakaan, bukan kamu tahu itu!" ucap Luna dengan suara tinggi tapi tetap ditekan agar tidak membangunkan Arka.
Sekar mengernyitkan dahi, segera menjemput kata Luna sambil menyejajarkan badan agar Arka tidak terganggu. Bisa-bisanya wanita itu berkata demikian, tapi pernahkah ia peduli ketika Arka kecelakaan hingga masuk rumah sakit? "Ibu Luna, tenang dulu... Saya memang membawa dia keluar, tapi hanya sebentar kok, Bu. Dokter Rayyan bilang Arka sudah sembuh," Sekar menjawab dengan kata-kata yang lembut, tidak ingin Luna curiga bahwa dia ibu kandung Arka.
"Seharusnya kamu izin padaku dulu sebelum mengambil keputusan sembarangan!" ujar Luna semakin naik pitam, menginjakkan kaki ke depan. "Aku sudah capek mengurus dia hingga umur tiga tahun lebih, lalu kamu bawa keluar begitu saja tanpa kabar, kamu pikir siapa kamu? Ibu kandung Arka?"
Sekar menahan tawa. "Saya memang ibu kandungnya, Bu," batin Sekar menatap Luna pura-pura merasa bersalah. "Maaf, saya seharusnya memberitahu Ibu, Tapi waktu itu Arka menangis ingin ikut, dan saya pikir tidak apa-apa karena ada Dokter Rayyan yang menyertainya. Sekaligus menghibur Arka karena pahanya bekas ada yang mencubit, khawatir trauma Bu," Sindir Sekar.
Luna semakin marah. "Awas kamu kalau sampai Arka sakit lagi saya tidak main-main, akan mengusir kamu!" Luna menghentakkan kaki meninggalkan Sekar.
"Tidak usah kamu usir, saya tahu apa yang harus saya lakukan, Luna," Sekar bergumam, tapi sudah tidak ada Luna. Sekar melanjutkan perjalanan ke kamar. Namun, ketika melewati kamar Luna dan Ilham, telinga Sekar menangkap kemarahan Luna dari dalam sana.
"Aku sudah tidak tahan lagi Mas, pokoknya kita harus membawa Arka pergi! Kalau kamu tidak mau, aku yang akan mengajaknya pergi sendiri!"
Sekar melanjutkan perjalanan ke kamar lalu menidurkan Arka di kasur. Setelah ganti baju daster yang paling nyaman untuk tidur, ia mengunci pintu kamar lalu merebahkan tubuhnya sambil memeluk Arka.
Waktu berganti pagi, panggilan shalat subuh menggema dari masjid yang berdiri di sekitar komplek. Sekar segera bangun, mandi, lalu menjalankan kewajiban shalat. Namun, betapa kagetnya Sekar ketika Arka tidak ada di kasur.
"Arka!" Pekik Sekar, tanpa melepas mukena ia panik mencari Arka.
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....